Ijinkan Aku Berjumpa Kembali

Bentar Wirayudha
Karya Bentar Wirayudha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juni 2017
Ijinkan Aku Berjumpa Kembali

Ijinkan Aku Berjumpa Kembali


Kala itu aku duduk termenung di atas lantai keramik dingin teras masjid, sambil kulihat langit malam dengan hamparan cahaya indah dari sang pasangan malam; bulan dan bintang. Malam itu hati terasa amat pilu sambil ku dengar suara Takbir yang begitu merdu dari berbagai penjuru.


Terdengar sorak canda tawa membuat mata ku berpaling sejenak dari langit malam, ya sorak canda tawa anak-anak di halaman masjid pun seakan menghiasi malam itu, aku pun tersenyum seakan melihat kenangan dahulu dikala saat seusianya canda tawa ku begitu lepas dan bahagia menyambut datangnya hari raya, oh sungguh begitu bahagianya kala itu, ah sudahlah berhenti melihat masalalu dikala keadaan sedang pilu.


Malam itu malam penghujung dari malam-malam yang indah serta hidup bagai tanah kering bersedih yang kemudian tersenyum kembali setelah diguyur sang hujan. Sambil menoleh kebelakang ku lihat hamba-hamba yang mungkin jarang membangkang, ada sebagian yang bertakbir, ada sebagian yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ada yang merendahakan diri dengan bersujud, ada pula yang duduk dengan mengangkat kedua tangan sambil menengadahkan kepalanya, dan lagi aku masih terduduk diatas lantai keramik dingin teras mesjid sambil termenung.


Malam semakin larut suara-suara pun kini makin melembut terkecuali suara teruntuk sang maha agung sedikit jeda kemudian menyambung, aku pun masih merenung dengan resah yang kurasa dan pilu yang melumat jiwa, tak lama tubuhku pun berkeringat namun bukan karena terasa hangat, mungkin inilah yang terjadi pada sang pembangkang seruan tuhan yang berkamuflase diantara orang-orang beriman.


Kemudian di tepuknya pahaku oleh seorang lelaki yang akupun tidak menyadari..


“assalamualaikum” salam darinya, sambil duduk disampingku


“waalaikumsalam” jawabku


“di malam terakhir yang beberapa jam lagi fajar mulai menyingsing kuperhatikan kau masih saja terduduk di teras, apakah yang membuat mu terus terdiam disini di tengah kumandang takbir dan lantunan ayat suci yang kian memanggil?” tanya nya

Aku sedikit ternyum malu dan tertunduk dengan rasa salah yang membuat resah
“entahlah, aku seperti merasa sangat terasing oleh dosa-dosa..” kataku dengan suara pilu


“ segera masuklah dan hapus dosa mu dengan panjatkan doa..” suruhnya


“entahlah, terasa berat langkahku untuk menghadap-Nya, jujur saja aku ini sang pendosa! Dan tempat ini tempat yang mulia” kataku dengan sedikit keras


“apakah kau tak mengerti? Tempat ini tempat yang mulia namun sungguh terbuka bagi para sang pendosa, kau bisa berharap dengan memanjatkan doa-doa, dan barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ampunan itu nyata baginya!” balasnya dengan keras pula


Aku hanya diam tertunduk dengan rasa kecewa, kecewa yang terlahir dari berbagai dosa, mengotori jiwa dan membuat hati gelap gulita.
“sudahlah kau tak akan mengerti, inilah aku seorang yang sangat merugi, kata-katamu tak akan cukup untuk menerangi, aku sudah terlanjur tenggelam jiwaku sudah kelam! Tak cukup waktu untuk memohon ampunan!”


“ketahulilah rasul kita nabi kita Muhammad saw. Bersabda : semua anak adam juru salah (dosa).. dan sebaik-baiknya orang bersalah adalah dia yang cepat bertaubat, tidak kah kau mengerti?” jawabnya dengan lembut


Namun masih saja diri ini terdiam, mulut ini terbungkam walau dilantunkan ayat-ayat kebenaran, jiwaku tersesat teramat sesat, selalu dijalan yang sesat hingga melumat habis cahaya dalam jiwa, semua ini karena aku aku berbahagia dengan cara berdosa, herannya aku sadar namun aku tetaplah liar!


Kemudian sambil tangannya memegang dadaku sebelah kiri, seakan dia memahami apa yang tersirat dalam hati sambil berkata..
“janganlah berputus asa, aku tau apa yang kau rasa, kau hidup penuh ke khawatiran akan dunia, kau berbahagia di antara dosa-dosa, namun ingat kau adalah manusia begitupun juga aku, bahkan sang kekasih Allah manusia yang paling muliapun pernah berdosa, namun tiada henti ia berdoa tiada henti ia berusaha, sungguh Allah maha melihat lagi maha bijaksana” dengan lembut ia berkata berusaha membangkitkan jiwa yang sedang terluka


Akupun hanya membalasnya dengan senyuman, kemudan ku tatap wajahnya sedang tersenyum lebar sambil sambil kemudian ia berkata


“senyum mu kali ini berbeda, aku yakin didalam sana yang tadinya gelap gulita kini mulai ada cahaya, ketahuilah bahwa  Allah maha pengasih lagi maha penyayang [Al-Fatihah, 3] maka jangan lah berputus asa, kau punya tuhan yang maha kuasa” sambil tersenyum lepas ia berkata mengajakku untuk kembali berdoa, nampaknya ia seperti bisa membaca apa yang tersirat dalam jiwa


“mengapa kau begitu peduli? Mengapa tak kau sibukan dirimu sendiri untuk menghadap-Nya? Aku terlalu remeh untuk kau pedulikan” aku bertanya


“ketahuilah bahwa ini termasuk dalam perintah-Nya, ini merupakan sebuah kebaikan dan kebenaran untuk mengajak orang melepaskan kekecewaan, andai kau tahu bahwa di balik kecewa ada harapan, dibalik kesedihan ada kebaagiaan, maka janganlah terus berputus asa, mari bangkit agar Dia tunjukan jalan yang lurus [Al-Fatihah, 6]


“istirahatlah ini sudah larut malam, sudah cukup  kau menyerukan kebenaran, aku mulai mengerti sekerang.. aku akan bersuci kemudian mengejar cahaya ilahi”


Sungguh akulah manusia yang sangat merugi, ku sesali detik-detik kala ia pergi, ia datang bersama kenangan dan segenap harapan, menemani jiwa yang kesepian, ku ucap kembali dua kalimat syahadat agar merontokan jiwa yang berkarat. Sungguh kala itu aku dilanda kesedihan yang tak lama akan menghadapi kenyataan akan kehilangan, andaikan aku sedikit beriman mungkin tak sebesar ini menghadapi kekecewaan.


Malam itu malam yang panjang, namun sang fajar pastilah datang
Fajar esok adalah tanda kemenangan, tentulah bagi hamba yang beriman
Sang Ramadhan akan pergi dan kini hanya bisa aku sesali
Ya Rabbi aku hanyalah manusia merugi, kala detik-detik ia akan pergi aku sungguh menyesali
Ya Rabbi jika engkau meridhai, maka ijinkan aku berjumpa kembali..

Bentar Wirayudha
Pandeglang, 24 juni 2017

  • view 72