Sekejam Inikah Cinta

Hamim Jauhari
Karya Hamim Jauhari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Januari 2016
Sekejam Inikah Cinta

Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir...

Itu kata temanku, sehari yang lalu. Ketika tengah cerita akan satu mitologi cinta. Seraya ia sadari telah pahami sesuatu. Tampak dahi cantiknya mengernyit, seperti daun tumbuhan hias gelombang cinta. Terlebih ketika sedang dirasakan alangkah ngerinya Ngayahi Jejibahan ketergantungan seseorang, yang tiba-tiba saja masuk dalam diri begitu rapi, terencana, sedikit lagi dan lagi. Seseorang istimewa yang serta merta mengambil alih semesta perasaan yang ada. Ketika kekasih dirundung kesedihan maka terbawalah suasana. Mungkin saja seketika akan mengkaji kamus besar bahasa tertentu di dalam benaknya. Memilih kosa kata yang mungkin sesuai untuk mengubah hati terkasihnya.

 Namun bila saja ternyata cinta telah mengambil segenap waktu dan tenaga, ketergantungan ini akan semakin seperti arah mata angin yang tiada menentu. Layaknya mengelilingi taman kahyangan yang sulit dimengerti panca indera. Aku mulai teringat ketika sedang jatuh cinta. Maka telah memasuki wilayah yang sama sekali baru. Wilayah tertentu yang mendekati ambang batas sedih dan gembira. Lalu seperti mengemuka satu pertanyaan, akankah lebih bahagia bila bergantung ketergantungan? Mungkin ketika bercinta akan segera sadari terlampau tidak kemandiriannya. Satu ilmu baru terungkap, ternyata perasaan adalah seperti peristiwa alam yang hendaknya diterima di lapang dada. Lalu, temanku yang kemarin itu seperti akan tersenyum. Ketika mulai teringat akan pertanyaan berbeda, di tempat yang sama. Akankah lebih bahagia bila menolak natural rasa?

Sementara cinta telah mulai bersemi, mengakar dengan kuat di penjuru perasaan. Cinta mulai mengambil kendali hidup, melaju untuk teguhkan janji. Ketika ini terjadi, tiba-tiba saja teryakinkan bahwa cinta itu tujuan mulia. Satu arah yang selaras dengan harkat dan martabat manusia. Seutuhnya. Cinta, seperti wilayah yang membentang diambang dua batas pencapaian. Kegembiraan dan kepedihan. Adalah pencapaian seperti jalan panjang. Mungkin saja sampai di seberang dengan segar berseri, atau mungkin tidak sampai dengan perih tak terperi. Dan ketika itu suasana hati jadi kian tak menentu. Keteduhan taman kahyangan kini tinggal angan-angan. Pecinta telah terjatuh kembali. Mungkin akan sangat terasa saat itu, pengorbanan masa lalu yang mengharukan, hari ini terasa hampa dalam ingatan. Karena pengingkaran telah saling meniadakan. Ketika menyadari bahwa ketergantungan telah lepaskan tali pengikatnya, menghempaskan cinta sekuat-kuatnya. Menyiksa kekasih sedalam dan sepedih mungkin. Menjadikan cinta sebagai pijakan yang menyakitkan.

Sekejam inikah cinta?

Rindu dendam. Pengendalian keinginan memiliki yang tak tertahankan. Keinginan meluapkan cemburu di kesunyian. Sementara teguh keinginan berjiwa besar, agar hati tetap berbangga, di hancur lebur megah perasaan sejarah lama. Ketika bersama menunjuk arah tujuan. Perasaan sedih dan gembira sehari-hari tengah memudar dalam arti yang sebenarnya. Jiwa perkasa yang tegar itu, hari ini telah menemukan kembali gairah terlemahnya. Teperdaya di kepedihan asmara yang bersiap siaga ditingkahi gamelan, diiringi tembang cinta tak memiliki. Kebanggaan yang terpendam jauh dalam sebentuk rahasia. Seperti senyum di wajah yang tersekat-sekat kepedihan. Mungkin hanyalah dia yang akan sanggup membaca kesan di keriput pelupuk mata. Mungkin ini satu pertanda, masa telah berganti. Seandainya belahan jiwa tak juga mengerti, maka biarkan senja pahami peristiwa di sepanjang hari ini.

Dan matahari terbenam segera menjadi peristiwa yang menakutkan. Malam menjadi pekat dan lebih panjang dari yang pernah terasakan. Mencekam. Malam, fajar dan siang telah membawa pergi. Terasa makin jauh dari jangkauan. Perasaan yang tak terlupakan, semakin jauh semakin melekat erat dalam ingatan. Cinta mungkin sungguh telah memiliki dua karakter yang sama kuat. Cukup untuk menyemai biji padi juga memantik kayu bakar, mengubah air dingin jadi bergejolak. Cinta mungkin telah diciptakan untuk memperpanjang masa. Cinta mungkin akan menuju satu titik keabadian.

Seperti satu perjalanan, cinta telah menempuh jalan panjang. Mungkinkah cinta hanya akan membawa pada batas semu kehidupan? Cinta kadang layaknya kupu-kupu hinggap dan melayang. Seperti rahasia besar yang mengemuka di bumi namun tersembunyi jauh di lubuk hati. Selalu saja merasa terlalu muda untuk mengernyitkan dahi, segera menyimpulkan apa yang tengah terjadi. Karena mungkin ternyata cinta, lebih luas dari angan-angan. Lebih jauh dari kearifan yang masih tumbuh dan berkembang. Cinta seperti kupu-kupu rahasia yang melayang di awang-awang. Lalu bila saja cinta seperti kupu-kupu, di mana letak kekejamannya? Keindahan tidak selalu seperti mawar berduri. Ketegasan tidak harus selincah kumbang berbisa. Dan kira-kira apakah kekejaman juga telah melalui berlikunya jalan panjang?

Aku hanya tidak tahu.

Pada dangkal pengetahuanku, kekejaman mengemuka di saat cinta menghadapi persimpangan. Kegelisahan yang tiada juga menentu. Mungkin kupu-kupu itu sedemikian rahasianya. Mungkin mawar itu begitu tajam duri-durinya. Mungkin kumbang berbisa itu teramat lincah terbang kesanakemarinya. Cinta kadang tampak seperti perbandingan yang tidak setimpal dari kepedihan dan kebanggaan. Bahkan kepedihan lambat laun tersembunyi ditimpa kebanggaan. Karena mungkin jalan panjangnya tunaikan pengorbanan tak bisa lepas dari ingatan sepanjang jaman, meski jejaknya telah dihapuskan. Pengorbanan kadang tampak seperti temaram fajar dini hari yang semakin tertimpa terang matahari di pagi berikutnya. Namun ternyata fajar telah menanklukkan gelap malam. Kegagahannya tak mungkin lepas dari ingatan malam-malam panjang.

Mengharukan.

Terharu adalah mungkin peristiwa kepedihan, kegembiraan, kebanggaan, kecemasan dan mungkin juga harapan. Semua seperti tersimpul dalam satu pengorbanan. Aku masih menerka bahwa pengorbanan yang sesungguhnya mungkin adalah pengorbanan yang jejaknya telah dihapuskan. Pengorbanan yang karena satu alasan tertentu harus dilupakan. Lalu seperti tertusuk duri-duri mawar, ingatanku terbangkitkan. Jadi apakah pengorbanan yang terlupakan adalah pasal penting dari jalan panjang berlikunya sebentuk kekejaman? Apakah kupu-kupu rahasia makin nampak berbeda ketika tertusuk duri-duri mawar? Apakah kumbang yang lincah itu makin menjadi ketika melihat mawar yang jauh di sana tengah ditanggalkan kelopak-kelopaknya oleh bersikerasnya nafsu dunia? Seekor kumbang ganas hanyalah seekor kumbang juga. Seberapa jauhkah terbang kesanakemarinya? Mungkin ia bergegas ingin tunjukkan pada dunia, bagaimana menjadi muda dan berbisa. Bahwa mawar harus terjaga harum semerbaknya. Namun sayang, ketika kumbang ingin menunjuk diri, ternyata terlupa filosofi mawar. Bahwa mawar adalah mawar meski tengah tertanggalkan kelopak - kelopaknya. Mungkin gejolak kumbang tak lagi bisa redam oleh cerita kupu-kupu hinggap dan melayang. Bahwa kupu-kupu hinggap adalah cobaan dan kupu-kupu melayang adalah juga ujian. Maka dengan amarah, kumbang mulai hancurkan alam sekitarnya. Karena mungkin betapapun lincahnya kumbang, seberapa jauhkah kesanakemarinya?

Betapapun dengan amarahnya semakin menjaga mawar, membalas kekejaman di satu belahan dunia dengan kekejaman di belahan lainnya, maka mawar akan tampak surut harum semerbaknya. Mungkin bila saja cinta adalah perbandingan tak adil dari kepedihan dan kebanggaan, perilaku kumbang ini, di manakah keadilan dan kebanggaannya?

Kepedihan dan kebanggaan.

Kebanggaan dalam kepedihan hanya mungkin dicapai oleh para pecinta terpilih. Para pecinta yang pahami sedalam-dalam filosofi mawar. Bahwa mawar tetaplah mawar meski tengah tertanggalkan kelopak-kelopaknya. Meski hari ini dunia tengah tak mampu lagi mencium dengan baik harum semerbaknya. Pasti bukan karena mawar yang tengah layu, namun lebih karena dunia telah demikian tuanya. Dan bahwa sesungguhnya, mawar tertanggalkan tidak akan pernah meninggalkan para pecinta. Corak dan harumnya tetap tinggal dalam hati.

Selamanya.

 

 

 

 

 

 

Sekejam Inikah Cinta.

Saya catat di sepanjang Jl. Legian Kuta Bali 2007, lalu Banyuwangi 2008.

  • view 326