Kepala-kepala yang Keras Kepala

Belly Rismona Putri
Karya Belly Rismona Putri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
Kepala-kepala yang Keras Kepala

Matahari menyembul di antara dua gunung di ufuk Timur, membawa hari pada senja yang akan dijemput malam, dan malam yang akan dihampiri pagi. Suara itu, nyanyian itu, membawa jiwaku terbang pada suatu masa, saat aku masih berdua, dengan dia.

Sekarang, di antara senja dan awan yang mendung, kau datang menghampiriku sebagai seorang yang asing, sebagai seorang yang selalu kupertanyakan kehadirannya, kamu mengungkapkan semua rasamu, semua tentang gundahmu, dan semua tentang cintamu. Aku paham dan aku mengerti, hati itu tak ingin teraniaya, sehingga kegelisahanmu membawa ragamu datang padaku, seseorang yang kamu anggap dapat menyembuhkan itu.

Aku tahu kau pasti paham tentang ini, cinta bukan hanya soal membahagiakan yang sedih dan menyembuhkan yang terluka, tapi cinta ini soal kesiapan seorang wanita untuk membunuh cinta lamanya dengan ikhlas. Kamu mencintai orang yang salah. Itu persepsiku. Aku tidak peduli dengan egomu yang mengatakan bahwa kamu adalah sesorang yang hadir untuk menghapus masalaluku, aku tidak percaya itu, yang aku percaya, kamu ada hanya sebagai seorang yang menguji rasaku, untuk dia.

Bagaimana mungkin kamu akan mencintai seorang wanita yang masih mencintai masalalunya? Aku tidak yakin kamu sekuat itu. Bagiku tidak ada yang lebih mampu membuat sudut bibir ini merekah selain dia. Aku buta. Itu persepsimu. Kamu menganggap aku salah mencintai seorang lelaki yang dengan bodohnya meninggalkanku, kamu menganggapku terlalu fanatik mencintai dia, kamu menganggap bahwa aku harus bisa beranjak.

Kepala-kepala kita adalah kepala-kepala yang keras, kamu mencintaiku, aku mencintainya, dan dia entah mencintai siapa. Aku berada di batas rasa bernama ?enggan? dan kamu berada di batas rasa bernama ?ingin.?

Kamu akan memperjuangkanku, begitu ujarmu. Namun aku tak akan pernah merasakan cinta yang kau beri, karena hati ini mati rasa. Kamu harus bisa beranjak seperti kamu mengingatkanku untuk beranjak. Kamu harus bisa bahagia seperti kamu menginginkan aku bahagia. Kamu harus bisa tersenyum dengan tegas seperti kamu menginginkan aku tersenyum dengan sempurna.

Kamu masih bisa bahagia, dengan atau tanpa aku, ada atau tiada aku, jika kamu akan tersenyum saat melihatku tersenyum, aku akan selalu tersenyum untukmu jikalau kamu mau.

Kita akan mengakhiri kita saat malam kembali menjemput senja dan waktu itu telah tiba. Kamu harus mengerti bahwa jalan kita memang berbeda. Jangan lagi tangis itu, aku hanya perlu senyum itu ada di wajahmu.


  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    2 tahun yang lalu.
    Wew. Bacanya jadi baper. Hehe. Keren mbak kata-katanya yang lembut...

  • Damar Hardyan Adi
    Damar Hardyan Adi
    2 tahun yang lalu.
    Ini kak Sebuah Paragraf yang keren Kepala-kepala kita adalah kepala-kepala yang keras, kamu mencintaiku, aku mencintainya, dan dia entah mencintai siapa. Aku berada di batas rasa bernama ?enggan? dan kamu berada di batas rasa bernama ?ingin.?