Menanam Benih Kesombongan

Bahtera Muhammad Adi
Karya Bahtera Muhammad Adi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juni 2016
Menanam Benih Kesombongan

Kita mungkin memang butuh diingatkan, selalu diingatkan, bahwa hakikat hidup di dunia ini adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.
 
Lantas kenapa kita sering mengeluh ketika kita berkorban jauh lebih banyak daripada orang lain?
 
Lantas kenapa kita mudah sakit hati ketika apa yang kita berikan lebih banyak dari apa yang kita terima?
 
Hai, Fulan...
 
Siapa yang kau tiru? Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam? Yang katamu uswatun hasanah? Yang kau bilang panutan terbaikmu itu?
 
Asal kau tahu, malaikat penjaga gunung pernah meminta ijin untuk menimpakan Uhud ke salah satu kaum yang tidak mengikuti nasihat beliau, tapi beliau menolaknya.
 
Asal kau tahu, setiap beliau pergi ke masjid, setiap kali itu pula beliau diludahi, yang entah suatu ketika si peludah yang biasa meludahi beliau tidak ada lantas beliau merindukannya, "Kemana perginya orang yang biasa meludahiku?".
 
Bahkan di akhir hayatnya, beliau masih sempat mengingat kita, menahan rasa sakit sakaratul maut yang lebih hebat demi meringankan rasa sakit ummatnya.
 
Tidak cukupkah keikhlasan beliau membuat kita merenung lantas berpikir?
 
Cek kembali komitmenmu, sudah benarkah visi misimu untuk menjadikan hidup ini sebagai investasi bekal akhiratmu.
 
Cek kembali niatmu, sudah luruskah ia hanya mengharap ridho dari-Nya atau masihkah berharap pamrih dari sesama makhluk-Nya.
 
Cek kembali hatimu, jangan-jangan di dalamnya sudah dipenuhi kesombongan meski ia sebiji zarah, yang akhirnya mengakar dan tumbuh subur karena kau pupuk melalui sifat ujub dan pujian dari orang lain.
 
Kau bukan siapa-siapa, kau hanya seonggok daging yang terbungkus kulit ari, yang jika kulit ari itu terkelupas maka sudah tidak tampak lagi bentuk dan rupamu.
 
Kau berasal dari tanah, pada akhirnya akan kembali ke tanah, mengapa masih mempunyai sifat seperti langit?

  • view 159