Begin again

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Mei 2016
Begin again

6

Kedua mata ini berlahan terbuka, setengah sadar, kabur, gelap, langit-langit. Di mana ya? Sesaat aku lupa keberadaan ku, Oh di hostel! Terasa getaran dari handphone yang tersimpan di bawah bantal tidur ini, dengan nyawa yang belum terkumpul, dengan kedua mata yang begitu berat untuk membuka kedua mata ini lebar-lebar, aku merogeh bawah bantal mencari handphone ku. Siapa sih yang nelepon? Jam berapa ini? Terasa kepala sedikit pening karena harus bangun.

“Faldi??” terlihat nama di layar handphone ku, dan langsung melihat angka jam di bagian atas layar “Hah?? Jam enam!” aku sontak terbangun dari tidur ku dan langsung mengangkat telepon dari nya “Salammualaikum??” sapaku yang terdengar parau, kerongkongan ini terasa kering.

“Walaikumsalam” jawab nya “masih tidur lu?”

aku menggaruk-garuk kepala ini, “Baru bangun gw”

“enak banget yang lagi liburan, jam segini baru bangun” sindir nya sirik

“Kapan lagi bisa bangun jam segini?! Kenape? Udah kayak alarm aja lu nelepon jam segini” aku berusaha mengumpulkan nyawa ini, sedikit kesal, tidur nyenyak ku sudah di ganggu gugat.

Terdengar suara riuh dari sebrang sana, “Gw lagi pingin ngobrol nih, gw baru beres ots di pasar baru”

“Lu lagi galau habis deh nih kayaknya, subuh-subuh gini ngajak ngobrol”

“Hehehe .. siapa lagi kalau bukan lu mau gw gangguin subuh-subuh gini”

“Iye ye, but wait yak, gw belum subuh nih, habis subuh gw call back, okay?”pinta ku

“Ya ampun nih anak, ya ude, gw tunggu”

“Thank you, bro”

telepon tertutup..

 

dan dengan hati-hati aku turun dari ranjang di lantai dua nih, harus hati-hati banget ini, kamar yang gelap, kesadaran yang masih 50%, yang 50% nya masih begitu merindukan kasur empuk di atas sana, hanya dapat berimijinasi bahwa aku tengah tertidur di atas kasur, dan tangga satu dengan yang lainnya berjarak cukup jauh jadi aku mau menggapai tangga lainnya, kaki harus bener-bener ngangkang, di akhirnya aku harus meloncat dengan memegang gagang tangga sekuat tenaga.

 

Pelan-pelan aku membuka pintu kamar, takut membangunkan yang lain, keluar kamar dan menutupnya dengan sangat pelaaan.

“Morning, Juni” sapaan yang mengejutkan, langsung melihat siapa yang menyapa ku, Wildan tengah berdiri di meja resepsionist.

“Morning, Wil…dan” balas ku loading beberapa detik melihat nya, ia tersenyum kecil dan kembali sibuk tengah membereskan sesuatu di ata meja. “Pagi-pagi udah sibuk ya, dan?” Tanya ku

Wildan tersenyum simpul, “Ya, aku harus beresin kerjaan di sini sebelum aku pergi”

“Pergi?” aku menatapnya bingung, Wildan masih memakai pakaian santai, celana pendek se lutut dan kaos, walaupun wajahnya sudah segar.

Wildan melihat ku, “Minggu ini terkakhir aku di sini”

Aku langsung on 100%, menatapnya kaget, “Seriusan?? Kenapa?”

“KKn, skripshit, aku harus focus”

aku hanya menganggukan kepala, bingung mau berkata apa, “Okay. Aku mau shalat dulu” pamit ku

“Okay”

aku melangkah bingung meninggalkannya, masih belum bisa mikir, dan masih linglung. Sayang sekali kalau benaran Wildan mau keluar dari hostel ini, dia itu udah kayak icon nya, I think.

Pernah engga ngerasain di mana kamu engga yakin kalau yang baru terjadi itu mimpi apa nyata? Aku berusaha menyakinkan diri ku bahwa semalam kedatangan Tommy ke Jogya itu bukan mimpi, tapi emang tuh orang datang ke sini. Perasaan yang baik dan menyenangkan itu emang perasaan yang nyata bukan perasaan yang aku buat sendiri hingga membuat aku detik ini udah kayak orang gila, senyam senyum sendiri dengan perasaan yang meluap-luap, but don’t too much ya Ju, control yourself. Selalu kalimat itu aku tanamkan dalam benak ini saat aku bersiap untuk terbang tinggi. Siapa tahu gw tengah ke geer an? Eh wajar kali ya, kalau gw ke geer an?! Gebetan di masa lampau, gebetan yang udah lu iklasin hanya sebagai temen, gebetan yang udah berubah jadi temen, kini tuh gebetan bersikap, berkata, dan bertindak lebih dari temen. Datang nyamperin lu, dengan berbagai kejutan, yang berhasil melambungkan perasaan lu. Aku bukan orang yang naïf, polos, atau apapun yang engga peka sama sikap lawan jenis terhadap ku. Tapi, kadang yang terlihat itu bukan suata kebenaran. Aku percaya dengan apa yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, jadi kalau semua itu belum terpenuhi, aku akan berusaha menganggap sikapnya ini wajar, ya wajar, engga berlebihan jadi engga perlu kebawa perasaan terlalu dalam. Entar jadi nya baper deh, galau-galau engga jelas dan engga menikmati hidup, menyedihkan. Lagipula, aku pikir ini belum waktu ku untuk memikirkan hal-hal berbau perasaan seperti. Yes, I know, umur ku udah cukup untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi untuk membuat semua ini terlalu serius, aku pikir terlalu dini, aku tidak ingin buru-buru lagi, takut salah lagi. Tommy gentlemen, teman yang baik, dan aku bisa menjadi aku di hadapannya. Tapi siapa tahu semua berubah saat kami memiliki perasaan? Siapa tahu saat hubungan kami berubah menjadi lebih dari temen semua tidak se-nyaman seperti sekarang. Think hard banget ju! Skip okay! Tapi….

 

“By the why, Tom, si Rizal mau nikah” ungkap ku saat kami terduduk di ruang tunggu sebelum Tommy masuk ke dalam pintu masuk stasiun, terduduk di kursi panjang dekat pintu masuk.

Tommy melihatku, memindahkan posisi duduknya mengarah pada ku, aku bisa merasakan ia tengah menyedik atau menerka mimic wajah ini.

“Kaget, tapi I’m okay” senyum ku melihat nya “gw bersyukur akhirnya dia menemukan perempuan yang baik menurutnya, perempuan yang mau mengikutinya, engga kayak gw yang pemberontak” aku menatap jemari-jemari ku yang tengah aku mainkan satu sama lain, entah kenapa aku merasa baru saja berbohong, seperti orang mengeluarkan kaimat yang munafik. Sebenar nya ada rasa ingin memaki-maki, mencemooh, atau kata-kata kasar, bukan untuk apa-apa, hanya untuk mengeluarka emosi saja. Apalagi setelah aku tahu siapa calo istri nya? Seriusan, nih cewek kan yang pernah dia… ah sudahlha, namanya juga jodoh, engga ada yang tahu. Tapi apa yang aku dapat? Buang-buang energik. Aku sudah lelah menggunakan emosi dalam segala hal, bukan menuntungkan namun merugikan ku. Jadi aku belajar untuk baik, menjadi baik, agar mendapatkan hal yang baik.

 

“Dan lu tahu sekarang dia bukan yang terbaik buat lu” ucapnya tersenyum kecil

aku menganggukan kepala, tersenyum kecil

“Berhenti nyalahin diri lu ya Ju, itu engga baik, sayang sama diri lu sendiri”

“I know it” sahut ku, melihat nya, menyembunyikan perasaan yang tidak nyaman ini.

“Terus lu kapan dong nikah nya?” sindir Tommy

“Hahaha pertanyaan lu basi deh udah kayak bu ibu aja kayak mau ngasih gw laki aja” lirikku sebal, aku menghela nafas lega.

“Kalau ada pasti gw kasih deh Ju” senyum nya simpul

aku menatap pada jajaran rel kereta api yang lengang tertutup pagar-pagar terlalis, belum ada kereta api satu pun yang datang, dan hanya beberapa orang menunggu, begitu sunyi dan sepi, sedikit dingin.

Aku terduduk menghadap Tommy, menatapnya , “Sejak semua nya, gw jadi sadar kalau pernikahan bukan sesuatu yang bisa kita gampangkan atau bukan sesuatu yang sulit juga. Dulu gw mau nikah karena lagi cinta-cinta nya sama dia, mau nya ketemu tiap hari, engga mau ada jarak, sama-sama, dan menjadi halal, apapun bisa kita lakuin sama-sama, tapi itu salah” ungkapku menatap Tommy lekat-lekat “tapi masalah yakin engga yakin, bahkan saat lu lagi engga cinta-cinta nya sama dia, saat lu tahu setidaknya kekurangan dia, dan mengerti perbedaan yang ada, lu mau tetap nikah sama dia, mau tetap sama-sama ama dia” aku menggigit bibir bawahku, menghilangkan keraguan dalam ucapan ku “apa gw salah, Tom, berfikir seperti itu?” aku menarik nafas dalam-dalam “Gw cuman engga mau kayak mamah sama papah, menikah cuman bermodal cinta, karena hasrat cinta yang kuat, namun akhirnya berakhir, dan anak menjadi korban” entah kenapa dada ini terasa sesak, aku bisa rasakan kedua mata ini basah, luka atas perpisahaan mamah dan papah memang sudah kering, namun luka nya masih ada, luka yang selalu mengingatkan ku untuk tidak memiliki luka yang sama. “bahka gw engga tahu gimana rasa nya di gendong kaya gitu sama seorang ayah? Tapi terlihat nyaman” mata ini tertuju pada suatu pandangan yang ada di hadapanku, melihat seorang anak kecil tengah tertidur dalam pangkuan ayah nya, kepala nya tertidur pulas dalam dekapan sang ayah yang menepuk-nepuk punggung kecil nya. Kedua mata ku basah, berusaha menahan air mata yang mengenang dalam kelopak mata ini, sakit. Kata nya, satu-satu nya laki-laki yang tidak akan menyakiti hati perempuan adalah ayah nya, namun itu tidak berlaku untuk ku, laki-laki pertama yang mematahkan hati ini adalah ayah ku sendiri.

Aku membuang wajah ini, menyembunyikan air mata yang menetes, cepat-cepat menghapus nya. Hi Ju, kamu sudah janji sama diri kamu sendiri untuk melupakan semua, maka lupakan lha.

 

Terasa punggung ini tersentuh, tangan Tommy menepuk-nepuk punggung ini, aku melihat Tommy dengan kedua mata yang basah, menahan tangis ku, ia tersenyum lembut menatapku teduh, ia mengambil pundakku dan menarik tubuh ini dalam dekapannya.

“Lu akan jadi Ibu yang baik buat anak-anak lu, sayang lu udah segede ini jadi gw engga bisa gendong lu kayak anak kecil jadi gw cuman bisa meluk lu gini” bisik Tommy dengan nada suara yang jail.

“Hahaha” lucu saat mendengar ucapannya namun entah kenapa air mata ini terus mengalir, aku menundukkan wajah ini tenggalam dalam pelukannya dan menangis dalam dekapannya, punggung ku di tepuk-tepuk oleh nya, aneh nya aku malah terus menangis, seperti seorang anak kecil yang cengeng.

 

Sudah sekuat tenaga aku berdiri dengan kedua kaki ini

Sudah ribuan nafas berat aku hembuskan

Sudah milyaran detik aku memasang wajah senyum ini

Sudah ratusan topeng aku pakai dalam tiap jam yang aku lalui dalam dunia ini

Sudah puluhan kali mengumpulkan tenaga untuk bangkit saat terjatuh

Seorang diri…

Namun detik ini, ijinikan aku untuk melepaskan segala nya, ijinkan aku untuk lemah, karena lelah menyembunyikannya sendiri.

Di saat Tuhan hanya merangkul dalam tiap doa yang terlantukan

Ada kedua tangan manusia yang merangkul mu dalam nyata.

Dan membiarkan kamu menangis dalam dekapannya

Sungguh, itu lebih dari cukup.

 

“Tom, lu tahu kenapa gw masih berdiri kuat di sini?” Tanya ku

“apa?”

“Ibu gw, mamah, rasa sakit nya gw ini engga sebanding sama rasa sakit mamah yang hidup sendiri di dunia ini, ngebesarin, ngejaga gw, ngebiayain gw dari kecil sampai sekarang seorang diri, hanya seorang diri, engga ada siapa pun tempat dia bersandar hanya ada tempat dia bersujud. Jadi malu rasa nya, kalau gw terus terpuruk kayak gini, gw mau ngebahagian mamah dulu, Tom”

Tommy menatapku tersenyum simpul menatapku dengan teduh, menenangkan hati ini.

Tumbuh hanya dengan seorang Ibu, seorang single parent, bukan lha hal mudah, cacat, hanya menompang pada satu kaki untuk berdiri tegak dan kokoh, belajar berjalan dengan satu kaki. Percerain nya dengan suami nya, yaitu ayah ku, memaksa Mamah menanggung semua nya sendiri, bukanlha hal yang mudah. Pada tahun 90an, di mana status janda begitu aib, dan memalukan keluarga, dan perempuan lha yang paling di salahkan atas semua itu, tidak becus menjadi istri, mencoreng nama keluarga.

Di antara keluarga biru Mamah, hanya mamah yang menjadi janda, dan hanya aku yang tanpa ayah. Bukan hal yang mudah, ketika sekeliling ku merendahkan kami tanpa ada sosok laki-laki yang menjaga dan melindungi kami. Namun Mamah berusaha berdiri kokoh dengan kekuatan yang masih tersisa, mencari pekerjaan, dan menjadi pelayan di toko, sebagai kasir. Aku anak yang tumbuh dengan Ibu yang bekerja, yang harus mampu dan bisa membagi waktu antara pekerjan dan anak. Aku kecil begitu egois dan pemarah karena menyalahkan semua pada kedua orang tua ku, gara-gara ke egois an mereka aku menjadi korban.

Mamah berhasil membuktikan, sedikit pun ia tidak menjadi beban bagi orangtuanya, malah berhasil menginspirasi sekeliling nya. Pelayan toko berubah menjadi orang terpercaya, berhasil membangun rumah dengan jerih payah nya, menyekolahkan ku hingga universitas tanpa meminta, dan mengajarkan ku untuk berjuang, jangan kalah dengan keadaan, jujur dan bertanggung jawa atas setiap keputusan dan tindakan yang aku ambil. Namun tetap berlembut hati pada sekelilingku, memberi, tidak boleh membenci siapapun yang sudah menghina kami, karena Tuhan tidak suka orang yang pembenci dan pendendam, dunia ini terlalu luas hanya untuk mengingat hal-hal buruk, itu lha yang di ajarkannya padaku.

 

Hingga, saat aku tumbuh, saat aku mengerti betapa berat nya posisi Mamah, saat aku mengerti kesakitan hati nya, saat aku mengerti banyak yang sudah ia korban untuk kebahagianku, agar aku tumbuh tanpa sedikit pun kekurangan, aku berhenti menyalahkan semua nya.

Dan berjanji aku akan menjadi perisai bagi keluarga kecil ini, walaupun aku tak bisa pungkiri, aku menutupi segala nya dengan sikap tidak peduli ku, dengan prinsip-prinsip yang terbangun sejak kecil. Aku hanya ingin melindungi dan menjaga keluarga kecil, tidak boleh ada 1 orang pun yang melukai Ibu ku, tidak satu orang pun.

Aku lelah memiliki rasa benci terhadap seseorang bernama ayah, cukup, dan aku tidak ingin lagi membenci siapapun lagi di dunia ini, karena rasa benci lha yang akan menghalangi kebahagian ku.

Kadang kita melihat seseorang hanya dari kulit luar nya saja, apapun warna kulit nya ya itu lha diri nya, namun kulit hanya sebagai penutup untuk melindungi bagian dalam. Beberapa orang menampakan berbagai wajah, berbagai tawa dan senyum, berbagai sifat, hanya untuk menutupi kelemahan diri nya, sebagai perisai untuk menjaga diri nya tetap aman, hidup di dunia tidak se indah film-film drama dan tidak se bijak kalimat orang-orang, karena butuh proses yang panjang untuk mengeluarkan se kalimat kata-kata bijak.

 

A heart of steel starts to grow

When you’ve been fighting

For it all your life

You’ve been struggling to

Make things right

That’s how a superhero learns to fly – superheroes, The script

 

“Lu shalat subuh apa hatam Quran sih? Lama amat!” suara nya terdengar kesal, menunggu ku untuk menelepon kembali. Setelah cukup lama melamun dan merenungkan setiap kejadian tadi malam bersama Tommy, untuk sekian lama nya menangis kembali di depan orang, tangisan yang selama ini aku sembunyikan dalam malam-malamku. Sebuah kelegaan menghampiriku, di sertai dengan rasa takut, kedua nya berdampingan terasa di hati ini. Tommy … apa yang harus aku lakukan? Perasaan ini ! I don’t wanna play drama, aku engga mau berlebihan dalam menanggapi segala rasa, segala sikapnya, tapi… aaahhhh…bohong kalau aku engga ngerasain apapun. Tapi sekarang, aku lebih memilih untuk mengabaikannya dulu. Mengingatkan ku, siapa yang seharus nya aku pikirkan saat ini? Siapa yang akan merasas sedih kalau aku terus terpuruk seperti ini? Mamah, dia yang harus nya aku pikirkan melebihi siapapun. Dia yang seharus nya aku bahagiakan, bukan siapapun.

Lagipula, biarka aku dan Tommy berjalan seperti ini dulu, sebaik ini, sampai benar-benar yakin, sampai alam semesta memberikan jalan, karena ada Tuhan yang Maha Tahu Segala nya, dan Dia akan mendekat kami dengan cara paling baik di waktu yang tepat.

 

Aku terduduk di kursi teras depan, menyimpan gelas berisi air putih, terduduk menatap hamparan kebun hijau yang membuat adem mata ini, matahari siap-siap menampakan sinar nya di langit pagi yang cerah, udara di sini sungguh segar membuat aku merasakan perasaan yang baik.

 

“Hahaha ya kali Quran setipis majalah” sahut ku memindahkan handphone ini dari telinga kanan ke telinga kiri, dan tangan kanan ini kemudian mengambil gelas berisi air putih “Maap yak, gw sekalian mandi tadi, terus mempercantik diri siapa tahu kan ada bule yang nyantol sama gw” ya siapa tahu kan, aku tersenyum kecil kemudian meneguk air putih dari dalam gelas.

“Iye kalau pun ada, tuh bule mata nya burem” ejek Faldi yang kayaknya minta di tampol sama gw.

“Sialan lu” aku menyimpan gelas di ata meja, menatap hamparan kebun di depan ku “jadi kenape subuh-subuh udah nelepon gw? Segitu nya ya lu kangen sama suara gw?!

“Iye, kangen, suara lu yang kayak tikus kejepit”

“Gw tutup deh nih teleponnya!”

“Pundangan udah kayak pembantu”

“Rese. Kenape kenape?”

Terdengar helaan nafas kecil dari suara nya, “Kok bini gw belum hamil juga ya Ju?”

“Hah??” entah kenapa aku terkejut dengan keluhannya ini, maksud ku, emang gw dokter kandungan? “Lu baru nikah berapa lama sih? Setahun juga belum kan?!”

“Ya emang belum, baru empat bulan sih”

aku menghela nafas panjang, memain-mainkan gelas yang ada di hadapannku, “Indonesian people banget sih”

“Masksud lu?”

“Ya, Indonesian people. Belum punya pacar jadi nanya kapan ya gw punya pacar, udah punya pacar, di Tanya atau nanya, kapan nikah nya, udah nikah, baru, di Tanya atau nanya kok belum hamil juga” jelasku “engga capek apa? Engga bisa menikmati dan mensyukuri apa yang udah Tuhan kasih, dan berhenti untuk mengeluhkan atau mempertanyakan sesuatu yang belum pasti”

“Jadi maksud lu, gw belum pasti punya anak? Dan gw engga perlu mengkhawatirkan itu?!” terdengar Faldi sedikit kesal, perlu ice breaking nih orang, otak nya udah ngebul.

“Bukan itu…” salah ngomong kan jadi nya “ok maaf kalau gw salah, gw gak ngerti posisi lu” sesal ku “lu pernah nanya kan sama gw, penting gak punya keturunan, dan gw jawab penting, dan itu salah”

beberapa detik, Faldi terdiam, mungkin tengah mencerna ucapanku yang terdengar frontal.

“Tolong jelaskan dengan baik maksdu lu apa?” minta nya dengan deru nafas yang tertahan.

“Sebelum gw jelasin, gw mau nanya, untuk apa lu nikah? Kenapa lu mau nikah?”

“Ya karena gw mencintai pasangan gw, gw pingin menghalalkan hubungan kami, hidup sama-sama dan punya keturunan”

aku menganggukan mengerti, “Lu tahu, jodoh, rejeki, dan anak itu Tuhan yang ngatur, kita cuman bisa berdoa dan berusaha. Apakah saat menikah Tuhan menjanjikan umatNya untuk mendapatkan keturunan? Apa hadist atau ayat dalam Quran yang menyatakan itu?! Setau gw engga ada” aku berusaha menjelaskan dengan baik “kalau tujuan menikah memiliki anak adalah hal yang paling penting, tapi ternyata Tuhan memberikan ujian kita engga dapat anak, amit-amit nauzubillahmindalik ya ini. Lu mau apa?”

Hening … hanya terdengar nafas yang terhembus.

“Maaf ya, mungkin di sini gw engga ngerti posisi lu, gw engga ngerti kekhawtiran lu. Tapi, nikmatin apa yang Tuhan kasih, jangan berhenti berusaha, kalau memang belum, lu sama bini lu lagi di siapkan untuk menjadi lebih siap dan lebih baik, dan ini masih belum waktu nya” aku menggigit bibir ku, mencari kata-kata yang baik, lagi “gw percaya semua ada waktu nya, semua ada masanya, alam semesta sudah menyiapkan dengan baik. Gw engga lagi mau mengkhawatirkan, why am not married yet? Di saat perempuan sesuai gw udah nikah, udah punya anak, karena kalau memikirkan sesatu yang belum Tuhan kasih, gw akan melupakan apa yang udah Tuhan kasih dan gw engga akan bersyukur dengan apa yang gw punya sekarang” lanjutku “kalau kata paolo Coelho when you want something, the universe conspire to make it happen, tapi inget ya semua yang terjadi sama kita itu bukan kebetulan dan keberuntungan, tapi hasil dari usaha, niat yang kuat, dan doa tentu nya, dan di saat waktu nya tepat semua akan terwujud bahkan lebih indah dari bayangan kita” jelas ku yakin, tersenyum mengembang seolah Faldi ada di hadapanku. “lu check up ke dokter, apapun, hindari stress ,lu dan bini lu, beberapa bulan sekali liburan, berdua, bikin rileks, bikin santai”

“Gw engga bisa berkata apa-apa”

“Itu lu bisa ngomong?!” sindiri ku

“Ga bisa koment, logika lu kepake deh kali ini”

“Tapi beda-beda orang soal yang gini, ada beberapa point of view pasti nya, ya lu tinggal pilih mana yang bisa bikin lu tenang” ucap ku “ya engga enak juga kan memikirkan pendapat orang yang bikin hati lu resah sepanjang waktu”

“Ya Ju, nah bini gw juga risau, dia mpe nangis gitu kenapa dia belum juga hamil, gw ikut bingung”

aku terdiam beberapa saat, memutar kedua mata ini, “Istri lu itu ketakutan sama lu”

“Sama gw?”Tanya nya terdengar heran

“Ya, dia takut lu bakal gimana kalau dia belum hamil juga takut lu berubah gara-gara doi belum hamil juga. Lagian ya, kalau ada pasangan suami istri yang belum punya anak yang pertama di salahkan itu perempuan, beban nya di perempuan” jelas ku

“Ya sih Ju, dia takut gw jadi gimana padahal gw sih sebenarnya biasa, sebenar nya gw engga perlu terlalu merisaukan ini, hanya karena liat bini gw aja kayak begitu jadi kepikiran terus”

aku tersenyum kecil, “tenangin dong, cuman lu yang bisa nenangin”

“Cara nya?”

“Ih gw uda kayak consultant pernikahan ya?! Lu harus nya bayar gw?!”

“Gw bayar lu, gw beliin es krim cone kesukaan lu”

“Boleh deh”

Hahahaha” kami tertawa bersama “jadi gimana Ju?”

“Lu bilang ke dia apa yang tadi gw bilang, dalam agama juga kan jelas ke utaman menikah apa, dan lu tenangin ke dia, lu baik-baik aja, yang penting itu kalian, lu sama dia, hubungan kalian. Punya anak atau belum, enggan akan mempengaruhi semua nya. Kuatin dulu hubungan di dalamnya, jadi kalau dari luar ada omongan yang engga enak, udah aman” ucapku

“Lu emang harus nya jadi consultant pernikahan Ju?!”

“Ya dengan status gw yang masih belum menikah”

“Hahahaha akan ada laki-laki yang tepat buat lu di waktu yang tepat”

“aamiin” aku tersenyum senang.

 

Aku sangat yakin, semua pasangan di dunia ini ingin memilik anak, memiliki keturunan, begitu juga dengan ku, maka nya, salah satu mimpi terbesar ku adalah menjadi sahabat bagi anak ku kelak. Mimpi nya sederhana banget ya, tapi bagi ku menjadi Ibu yang baik memang sudah tugas seorang Ibu, merawat, menjaga, dan mendidiknya. Tapi menjadi sahabat bagi anak adalah pilihan, karena benar-benar harus menanggalkan ego sebagai orangtua, jangan sampai, langkah anak, tumbuh kembang anak itu di pengaruhi ego kita. Aku belum pernah menjadi seorang Ibu, dan seorang Ibu sudah pasti pernah menjadi anak, dan seharus nya bisa lebih menegrti seorang anak, imajinasi mereka, bagaiman bersikap pada anak, bagaimana berkata. Anak adalah duplicate terbaik karena di mana memori otak nya masih polos, kosong dan orangtua berserta seisi keluarga nya ada role model paling utama, mereka anak merekam dengan baik setiap kata yang terucap, sikap yang terlihat, tindakan yang tercermin, dan semua itu cukup banyak mempengaruhi akan menjadi apa dan siapa di masa depannya. Anak, seiring waktu akan mengerti dan memahami posisi orantuanya, semua ada waktu dan prosi nya. Orangtua berkorban untuk anak, apapun, bahkan nyawa, dan ada waktu di mana anak berkorban untuk orangtua, hukum alam yang akan terus berputar sampai dunia ini punah. Kepintaran dan kecerdasaan seorang wanita cukup mempengaruhi kondisi dan situasi keluarga nya kelak dan bagaimana tumbuh kembang nya. Seperti sebuah kalimat, jika ingin melihat bagaimana sebuah Negara, maka lihat lha para wanita-wanita nya.

Dan semua itu harus di dukung oleh suami, ayah, entar kalau beda, kasian anak bakal bingung, dan ngerasa serba salah.

 

“Jadi kapan mulai Kkn nya?” Tanya ku pada Wildan yang tengah anteng duduk di kursi panjang ruang makan dengan laptop di hadapannya, aku dengan hati-hati memotong jeruk lemon utuk aku bekal trip hari ini. Cahaya matahari masuk dengan bebas nya di ruang makan ini, agak panas memang.

“Dua minggu lagi” jawab nya

aku menganggukan kepala, memasujkan irisan lemon ke dalam botol minum ku yang sudah aku isi air , harus nya sih malam aku siapin ini tapi karena terlalu capek jadi pagi ini, lumayan ada satu jam an buat di simpen di kulkas.

 

“Ini lagi buat program untuk kkn nya” lanjut Wildan terhenti beberapa detik

“Program kkn?” aku menutup botol minum dan memasukannya kedalam kulkas, setelah itu terduduk di hadapannya.

Wildan melirik ku dari balik layar laptop, “Ngajarin anak-anak di tempat kkn, jadi kaya sekolah non formal lagi”

“Oh ya? Seru kayaknya” seru ku terdengar menarik, aku mengambil piring, menumpahkan sedikit nasi, tumis bunci dan tempe goreng. “sarapan dan?!

“Ya” senyum nya “sama temen kelompokku

aku mengambil sesendok nasi dengan tumis bunci dan memasukannya kedalam mulut ku.

“aku seneng lho dan di sini, betah” ungkapku menatapnya sambil mengunyah nasi dalam mulut ini.

“Oh ya? Apa yang bikin kamu betah?” Tanya Wildan melirikku, menahan senyum nya.

Aku menelan remukan makanan di mulut ku “Feel like home, aku tuh orang nya kurang pede, dan di sini kayak ngajarin aku tuh lebih pede, ketemu orang-orang baru, orang-orang asing, dan bahasa inggris engga bagus-bagus banget kayak kamu atau jack, tapi di sini kayak aku di tuntut untuk bisa, untuk belajar, dan bagi ku itu hal yang baik”

“Ya, di sini emang gitu, dulu aku juga orang yang kurang percaya diri, tapi pas pindah jogya, tinggal sendiri, aku belajar untuk surivive, untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, kerja sambil kuliah” cerita nya penuh semangat sesekali tersenyum kecil dan menatapku dengan binaran di mata nya.

“Wah… jadi kamu bukan asli jogya ya?”

“Bukan, aku dari riau”

aku menganngguk mengerti, pantas ada aksen penekaan dalam setiap ucapannya dengan suara yang terdengar agak berat.

“Dulu waktu SD, aku engga suka matematika karena guru nya galak, marahin aku di depan kelas sampai aku nangis. Dari situ aku engga berani tampil di depan umum, memori yang buruk itu lebih kuat aku mnempel nya, jadi saat sama anak-anak itu emang harus hati-hati” cerita ku, dan entah kenapa aku menceritakan ini, mungkin karena aku merasa bahwa Wildan orang yang open dan pendengar yang baik.

Wildan melihat ku, “Ya. Aku juga dulu pernah kayak gitu, di marahin guru matematika, dan dari situ aku engga suka matematika”

“Semoga semua guru engga gitu deh ya”

“Ya” senyum nya kecil “ini juga telat sebenarnya, harus nya lulus tahun kemarin, tapi baru sekarang ngurusin kkn, hahahaha” tawa nya ringan “keasyikan kerja, orangtua udah nagih aja kapan lulus”

“Hahaha, ada beberapa hal yag harus kita lakukan untuk membuat orangtua bangga, berkorban sebelum melakukan atau mengejar sesuatu yang kita suka. Setelah itu kita bisa bebas meminta ridho mereka untuk mengejar cita-cita dan mimpi kita” ucapku, kok gw jadi ngelantur ya?!

“Iya”

aku kembali menikmati sarapan ku, dan entah aku merasa aneh sendiri, sebelumnya aku bukan orang yang terbuka seperti ini, menceritakan hal-hal kecil tentang diri ku pada orang yang baru aku kenal. Baru beberapa hari di sini tapi kenapa aku merasa banyak yang berubah dalam diri ku ya?

“Gimana kerjaan kamu?” Tanya Wildan

“Kerjaan ku?! Baik, berusaha menikmati” jawab ku singkat, tidak ada yang hebat dari pekerjaan, sebagai pegawai bank, hampir semua orang mungkin sudah tahu apa pekerjaan pegawai bank, duduk manis di belakang computer menghitung bunga, mencari nasabah agar sampai target bulanan.

Wildan menganggukan kepala nya

“Habis lulus mau ke mana? Kerja atau meraih cita-cita?”

“aku mau kerja di bidang hospitality, suka aja, berhubungan juga sama banyak orang, komunikasi”

“Good luck, yap

“Ya, you too

aku menga”ngguk tersenyum, cukup lama kami mengobrol di ruang makan, mengenal sosoknya dengan baik. lagi-lagi aku merasakan, bahwa aku sudah mengenalnya lama, dia seperti bukan orang asing bagi ku, mungkin karena dia orang yang mudah dekat, mudah beradaptasi dan terbuka. He’s good friend, dia punya empaty yang baik, walaupun umur nya masih jauh di umur ku tapi dia lebih dewasa dari umurnya, di antara anak-anak seumuranya masih suka main, nongkrong, dia udah memahami bagaimana bekerja dan sudah memiliki tujuan. Bukan berarti ia totally perfect person, karena engga satu orang di dunia ini yang perfect, aku hanya melihat sisi kelebihannya. Aku tersenyum karena mengenalnya, dan lagi-lagi aku tertegun dengan kejutan ini. Maskduku, setelah pertemanan ku dengan Justine, aku dapat mengenal sosok wildan yang sebelumnya belum pernah aku bayangkan untuk bertemu, berbagi cerita, dan aku merasakan perasaan yang menyenangkan terhadapnya, perasaan yang baik.

Ya setelah, semua terjadi, aku memiliki krisis kepercayaan diri terhadap orang-orang sekelilingku, butuh aku untuk membuka diri kembali, kembali percaya bahwa engga semua orang bakal mengecewakan kamu, bakal nyakitin kamu dan memiliki teman yang baru, pengalaman yang baru, membuat aku merasa sangat baik.

“Hi Juni!” sapa Justine menhhampiri kami

“Yap??”

“Ready??” Tanya nya menatapku dari balik kacamata nya

“Yes, Im ready”senyum ku

“Where you go?” Tanya Wildan bingung

“Beach”

“Gunung kidul beach”senyum ku senang

“Wow…nice”

aku menatap Justine melempar senyum pada nya, kita akhirnya ke pantai, pantai, pantaiiiiiii!!!

Aku langsung berdiri dari duduk ku, mencuci piring yang baru aku gunakana, dan menghampiri Justine, Tanti, Haris yang sudah menunggu ku di depan teras. But wait how he is? Seorang laki-laki dengan rambut cepak membawa kamera poket.

“Hi ju” sapa Tanti “Mobil jemputan kita udang datang” ucapnya tersenyum tampak cantik dengan baju dab hijab yang cerah.

“Ya, sorry tadi ngobrol sambil sarapan dulu”

“Is okay”

“Ju, ini arief, dia temen sekamar saya, mau join sama kita ke pantai” Haris memperkenalkan arif padaku.

“Juni” aku memberi tangan ini

“arif” arif menjabat tangan ini, kami saling melempar senyum

“Kita berangkat skearang?!” ajak Tanti

“Ya”

kami melangkah bersama keluar hostel menuju sebuah mobil yang sudah terpakir manis didepan

“Suka motret ya?” Tanya ku saat aku dan arif berjalan berdampingan

“Ya”

“Sama kayak temenku” entah kenapa aku merasa rindu dengan Tommy, merindukan sosoknya, bahkan aku masih bisa merasakan dekapan Tommy, wangi tubuh nya yang maskulin. Kenapa aku begitu merindukannya? Rindu yang begitu kuat terasa.

Ah sudahlha, aku belum punya waktu untuk itu.

 

  • view 122