Begin again

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
Begin again

5

 Aku teringat Film The Choice, Film yang di adaptasi dari Novel berjudul sama, karangan Nicholas Sparks, seorang penulis romance yang beberapa novel nya sudah di jadikan Film, The Notebook, Safe haven, kalau Film penyuka drama, like me, pasti udah nonton Film-film adapatsi dari novel nya Mr. Sparks ini. So, dalam The Choice, waktu Gabby Holland ( Teresa Palmer) menulis surat untuk Travis Shaw ( Benjamin Walker), Gabby Holland bilang dalam surat nya,

“Got thinking that life is held together by choice, one after the other. All shapes and size, right or wrong doesn’t matter, because life just keeps unfolding. It won’t wait around for you, if you sit still, it could pas you by altogher” yang intinya si Gabby memilih menyudahi perselingkuhannya sama si Travis, dan Travis untuk move on jangan kebanyakan mikir karenan doi udah kehilangan banya waktu hanya untuk berfikir, mau salah atau bener ya engga perlu di pikirin, karena pada akhirnya salah atatu bener itu waktu yang jawab.

 When I choice for cancel my married, aku tahu bahwa itu adalah hal yang salah, mungkin sebagaian berfikir bahwa aku di gerakan oleh ego, cuman gara-gara engga mau di kekang dengan aturan-aturan yang ada, masih pingin bebas lha, masih pingin seneng-seneng lha, masih pingin main, dan bla bla bla. People just can be judge what for we choice. Ya whatever lha dengan apa yang mereka pikirkan, this is my life, seneng, sedih, bahagia, sakit yang gw yang rasain, gw yang jalanin.

Dan kalau aku tetap melaksanakan pernikahan dengan penuh keraguan, mungkin aku engga akan pernah merasakan kebahagian ini, tertawa lepas bersama dengan teman-teman yang sebelumnya engga pernah aku bayangkan untuk bertemu.

Duduk di angkringan sambil menikmati kopi arang di tanah jawa, bersama-sama dengan orang-orang yang berbeda Negara, budaya, dan agama. Terduduk bersama tanpa melihat apa yang kami kenakan, menceritakan dengan bahasa Inggris semampu dan sebisa kami, bukan karena engga bangga dengan bahasa sendiri, karena hanya bahasa Inggris penyatu kami disini.

 Ada Justine berkebangsaan Kuala Lumpur, tanah melayu, chines. Dari Justine aku belajar untuk menikmati setiap waktu yang terlewat, melakukan apa yang disuka, pergi ke manapun yang kamu mau. Mengisi waktu single nya dengan berlibur, sendirian, engga takut dengan apapun yang mungkin bisa terjadi, ramah dan terbuka. Saat kita sendiri di entah berantah, kita belajar untuk survive, untuk beradaptasi, dan untuk menerima dan mengikuti seperti apa lingkungan yang kita pinjak tanpa sedikit pun kita kehilangan jati diri kita.

Tanti dan Daris, dua pasangan dari kota yang sama dengan ku, Bandung. Tanti menggunakan kerudung dan Daris berpenampilan seperti laki-laki yang taat beragama, kalem, tenang, dan rapih. Namun mereka mau berbaur dengan kami, tertawa dan bercanda dengan kami, tanpa mempedulikan apa yang kami pakai, berasa dari mana, atau agama. Kata nya sih mereka engga pacaran hanya berteman baik, dan Tanti menambahkan mereka tengah saling mengenal dengan niat menuju hubungan yang lebih suci, pernikahan. Jadi, status itu engga penting, pacaran atau bukan, namun yang penting adalah komitment.

Tonya, perempuan asal Mexico dengan pembawan yang santai dan cuek, sendirian, sudah 6 bulan berkelana keliling Negara asia. Di liat dari penampilanya yang riang, wajah mungil, senyum lebar seperti anak kecil dan kedua mata bulat bersinar engga akan nyangka kalau dia udah berumur 38 tahun. Wow. Awet muda nya yang ini engga pake detox atau oprasi plastic deh. Dia engga memikirkan hal-hal yang berat, kalau kamu suka ya just do it. Terdengar egois mungkin tapi itu lha pilihannya. Dan Tonya belum menikah, karena dia engga percaya pernikahan walaupun dia ingin sekali memiliki anak.

 Respect each other, engga peduli apa yang kamu pakai, engga peduli kamu berasal dari sebelah mana dunia, engga peduli agama yang kamu yakini, engga peduli pilihan hidup kamu yang membuat kamu berada di posisi detik ini, dari semua itu yang terpenting adalah respect each other dan bukannya islam guru toleransi, seperti yang di ajarkan Nabi kita, Muhammad Saw

Ya, kalau akhirnya aku menikah, aku tidak akan bertemu dengan mereka, mengenal mereka, berada di sini di kota Jogyakarta dengan segalan kejutan di dalamnya, dengan perasaan yang menyenangkan seperti ini.

Saat semua nya sudah terjawab, saat sudah menemukan hikmah dari semua yang terjadi, dan saat sebuah senyuman kebahagia terpancar di wajah mu saat itu lha kamu masih memiliki harapan.

 Dan satu lagi, hasil dari pilihan ku adalah menemukan kembali sosok yang diam-diam aku rindukan, berharap dapat bertemu kembali, walaupun hanya sekali, menunjukan pada nya aku sudah baik, jauh lebih baik. Walaupun pertemuan kali ini tidak aku rencanakan, tak apah, asal dapat bertemu.

 Menemukan sosoknya kembali berhasil membuat jantung ini berdetup kencang, dia berdiri di hadapanku, dari kejauhan dalam kegelapan malam yang hanya diterangi lampu jalan yang terang, aku bisa melihat kedua mata nya berbinar menatapku, melambaikan tangannya padaku, tersenyum lebar, berjalan menghampiri ku yang tengah menunggunya di pintu masuk stasiun Tugu.

Kedua tangannya meraih ku saat kami berhadapan, menangkap pundak ini, menariknya dalam dekapannya, sedikit terkejut, namun perasaan lega mengampiri relung hati ini hingga membuat aku tersenyum, membuat menghela nafas lega, seolah menemukan apa yang aku butuhkan, aku membalas pelukannya, memeluk punggung nya yang lebar.

“Hi, Juminten” bisiknya mengejekku dengan suara berat nya.

“Hi, tomyam” balas ku balik mengejeknya.

aku menghela nafas lega, statsiun Tugu menjadi tempat dimana kami bertemu kembali, tidak peduli orang-orang yang berlalu lalang melihat kami dengan tatapan yang aneh-aneh, kami hanya berpelukan, hanya itu. Bukannya di film-film stasiun atau Bandar udara selalu ada adegan seperti ini kan jadi seharusnya sudah biasa.

Kedua kaki kami berjalan bersama di bahu jalan kota Jogya, memutuskan untuk berjalan kaki ke Malioboro, cukup dekat kata nya.

Banyak berubah dari Tommy, rambut nya yang dulu cepak rapih kini telah gondrong se-leher terikat acak, wajah tegas nya yang mulus kini di tumbuhin jambang alus hingga kumis di atas bibir dan dagu nya. Tidak ada lagi gaya maskulin di tubuh nya yang tinggi dan tegap, gaya nya kini terlihat cuek dan santai, kaos yang di tutupi jaket parasut, blue jeans belel dan sepatu boat coklat, ditambah di pundaknya terpangku tas ransel yang cukup besar.

Setelah pelukan penuh drama itu keadaa kami menjadi kiku, wajah ini terasa panas karena malu, padahal udara malam cukup dingin, namun aku merasa kepanasan. Dan kenapa aku bisa memeluknya penuh emosi sperti itu? Kenapa aku selalu menunjukan emosi ku pada nya? Apa yang akan Tommy pikirkan sekarang tentang ku? Si Juni sekarang mulai goda-goda gw ini gara-gara gagal nikah jadi kecentilan liat laki?! Atau agresif banget sih si Juni keliatan banget kekurang kasih sayang nya? Atau iih si Juni kok jadi kecentilan gini sih sama gw, risih deh? Aahhh… memikirkan saja sudah membuat aku seperti kebakaran jenggot.

“Kata nya kamu sama teman-teman kamu, ke mana mereka?” Tanya Tommy, akhirnya bersuara setelah kami berjalan 5 menit.

“Ya, tadi bareng sama mereka, tapi pisah, terus janjian di malioboro” jawabku kikuk, aku tidak berani melihat nya walaupun ingin, ada laki-laki cakep di sebelah kamu, mana mungkin kamu engga mau lihat pemandang indah itu kan? Ini udara beneran jadi panas ya, gerah deh, ku kipas-kipas wajah ini dengan telapak tangan ku.

“Panas ya Ju?!” Tanya Tommy dengan nada menyindir.

aku melirikkan kaku mata ini, Tommy melihat ku dengan tatapan mengejek, aku langsung membuang tatapanku, melihat sekeliling, bahu jalan yang tidak terlalu ramai, langit malam yang kelam tanpa bintang, lampu-lampu jalan yang remang-remang, dan beberapa gerobak angkringan yang di penuhi dengan pengunjung.

“Kita makan yuk?! Lapar gw” ajak Tommy menarik kain baju lengan ku, membawa ku ke salah satu gerobak angkringan “Kamu udah makan?” Tanya Tommy yang tengah mengantri untuk mengambil piring

Kamu?? Sejak kapan?? Aneh banget deh

“are you okay, Ju?” Tanya Tommy menundukan kepala nya melihat wajah ku.

Aku menghela nafas kecil, mencoba mengendalikan diri ini, melihat nya, selalu merasa pendek saat aku berdiri di samping nya, karena aku harus mendongkrakan kepalaku untuk melihat wajah nya.

“Gw engga okay, Tom” jawab ku menatapnya putus asa.

Tommy bingung melihatku, kemudian dia tertawa kecil, “Lu cuman lapar” ia kemudian mengambil piring dan memberikan nya pada “makan” ia menarik lengan ku, memasukan aku ke barisan dan berdiri mengantri di depannya “mening sekarang kita makan dulu, tadi tuh harus nya lu nanyain gw udah makan atau belum, bukannya nyosor meluk gw” ucap Tommy dengan nada jail nya.

Nyosor? Perasaan yang peluk duluan si Tomyam satu ini deh?

“excuse me! Engga salah tuh? Nyosor duluan? Gw??” aku menghadapnya kesal, merasa telah menjadi pelaku atas tindakan yang tidak pernah aku lakukan.

Tommy memegang kedua pundakku, memutarkan tubuh ini ke posisi semula, membelangkainya, “Kebiasa deh nih cewe, gampang banget di buat kesel! Udah mening lu ambil makanan, makan yang banyak biar ini badan ada daging nya, sakit tahu meluk lu, engga ada empuk-empuk nya!” sindir Tommy terus memegang kedua pundak ini, menahan tubuh ini dengan kuat agar aku tak mampu membalikan tubuh ini pada nya, dan ngamuk-ngamuk lagi.

Namun aku tak menyerah, ku lepaskan kedua tangannya dari kedua pundak membalikan tubuh ini, menatapnya kesal dengan rasa malu yang tersembunyi, mencubit lengannya dengan keras.

“aaaaawwwww!!”jerit nya kesakitan berhasil menari perhatian pengunjung di sini, menatapu kesal “sakit tahu!!”

“Ini hukuman buat lu yang datang sesuka jidad lu!” ungkapku kesal dengan rasa senang yang tersembunyi, membalikan tubuh ku kembali, menyembunyikan senyum lega ini, Tommy masih sama, masih laki-laki yang aku kenal dulu, selalu tahu bagaiman memperlakukan aku di saat situasi kikuk seperti ini.

Dan sekarang aku bisa menikmati makan malam dengan lahap, nasi ikan teri, 4 tusuk sate kerang, satu tempe mendoan, dan satu bala-bala, es teh manis sebagai minumannya, setelah mengeluarkan energic untuk memeluk Tommy begitu kuat, berjalan cukup jauh, memendam emosi, kini aku merasa sangar lapar.

Kami terduduk di lesehan salah satu meja ini, di bahu jalan, dengan keramain jalan utama yang di penuhi kendaraan, bahu jalan yang terang nya remang-remang dari kampu-lampu jalan, kami menikmati makan malam kami dengan diam, terduduk saling berhadapan.

Aku tersenyum menatap Tommy yang makan dengan lahapnya namun tetap dengan gaya cool nya, tenang dan begitu menikmati setiap gigitan dalam mulut nya. Dan aku tersenyum untuk diri ku sendiri, karena kali ini aku tidak diam dan menunggu sedangkan waktu terus bergerak. Kali ini aku berhasil untuk mendobrak kebiasaan ku, melangkahi garis merah ku, berjalan keluar dari dunia lama ku, berhenti banyak berfikir, dan disinilh aku sekarang dengan sejuta perasaan rasa syukur yang membuat ku bahagia, bersyukur terlebih dahulu maka kebahagain akan menyusul dengan segera.

 “Gimana Jogya, Ju?” Tanya Tommy setelah tangannya ia cuci di mangkok kecil berisi air bening untuk mencuci tangan.

Aku menyimpan gelas berisi air jeruk yang baru saja aku minum, “Menyenangkan, ketemu sama orang-orang yang baik, dan mungkin gw jatuh cinta sama Jogya” ungkap tersenyum menatapnya, aku benar-benar kini Tommy ada di hadapanku. “lu tahu, gw nyobain teh kambocha. Lu tahu teh kambucha?”

“Tahu, teh dari jamur sama teh hitam kan?!” Tommy mengambil gelas kopi arang nya, menikmati nya

“Oh … kirain lu engga tahu”

“Beli di mana?” Tanya Tommy menyimpan gelas kopi arang nya

“Di kasih gw”

“WIih baik bener yang ngasih”

aku mengangguk sambil tersenyum seneng, “Nama nya wildan, staf hostel yang aku inepin, he’s nice, ramah, orang yang menyenangkan”

“Terus lu suka gitu?!”

aku terdiam berfikir, memutar kedua mata ini, “I think, I like him. Siapa yang engga suka sama orang yang udah baik sama kita? Yang udah ramah sama kita” jawabku yakin tersenyum kecil

Tommy menganggukan kepala nya

Aku menatap Tommy, menyidiknya, “Dan lu, kenapa lu tiba-tiba ada di sini? Saking kangen nya gitu sama gw?” senyumku mengejek nya.

Ia balik menatapku, menyempitkan kedua mata nya yang tajam, menatapku dengan tatapan yang tidak ku mengerti.

“Mungkin” jawabnya singkat tersenyum kecil.

aku terdiam geer, menyembunyikan rasa geer ku, aku berdehem untuk menghilangkan ke-kaku-an keringkongan ku.

“Serius deh, lu ntar ke solo gimana?” aku menyimpan kedua tangan di atas meja, menyilangkan kedua nya, seperti seorang anak SD yang siap mendengarkan guru nya.

“Ya tinggal ke solo, deket kok dari sini, cuman sejam kalau engga salah, naik kereta malam” jawa Tommy menyimpan kedua tangannya di atas meja, membuka kedua nya.

“Oh deket ya ternyata kirain gw di sebelah mana ujung nya Jogya gitu” aku mengangguk mengerti.

Tommy tertawa kecil, “Gw emang kepikiran pingin nyusul lu ke jogya Ju, sekalian gw ke solo, itu selintas awalnya, engga gw niatin. Pas naik kereta, sepanjang jalan gw pikir, apa gw turun aja gitu di Jogya mumpung lu ada di sini dan udah lama juga engga ke sini, dan setelah mikir lama, baru deh gw mutusin ke sini” jelas nya menatanpu beberapa detik kemudian melihat ke muka jalan kembali.

Aku tersenyum kecil mendengar penjelasnnya, bilang mau ketemu aja kudu muter-muter dulu.

“Ju, are you okay?” Tanyanya menatap ku sendu

aku menatap kedua mata nya yang lekat-lekat menatapku, mencari arti dari pertanyaannya, beberapa detik aku terdiam, dan kemudian tersenyum kecil.

“Baik, sangat baik” jawabku yakin menatapny

Tommy tampak tak percaya, mengamati raut wajah ini

Aku menghela nafas panjang, menarik kedua tangan ini dari atas meja, terduduk tegap.

“awal nya gw engga okay, walapun keputusan itu dari gw, berat, frustasi, dan kacau…” jelas ku menahan senyum dengan nafas yang tertahan “pernikahan yang gw impikan udah ada di depan mata gw, menjadi Ratu sehari, finaly akhir nya gw nikah tapi itu pupus”lanjutku kemudian menatapnya “tapi semuanya membaik, saat gw mengingat kenapa gw mengambil keputusan ini, ya pernikahan impian gw pudar, entah kapan gw bakal menyandang ratu sehari, tapi semua itu engga penting ketika gw akhirnya sadar, keputusan yang gw pilih itu engga salah, ini yang terbaik sekalipun berakhir tidak indah” senyumku menatapnya

Tommy sedikit menyampingkan kepalanya, menatapku teduh “are you sure?”

Aku menganggukan kepala, “Ÿes, I’m sure. Sekarang gini, kalau kita uda tua sebagai suami istri untuk melakukan sex di ranjang aja udah susah, terus apa sih yang kita lakuin? Ngobrol. Bukannya berumah tangga itu bukan tentang sex aja, bukan tentang ini tugas lu sebagai suami, ini tugas lu sebagai istri, ini kewajiban gw, ini kewajiban lu, gw rasa bukan cuman itu. Tapi lebih dari itu, lu bisa ngobrol asyik sama pasangan lu, berbagi pikiran, shareing about everthing, like a partner, sahabat. Dan gw tidak menemukan hubungan itu” jelasku yakin menatapnya “sama dia gw tuh engga boleh mikir, ya gw harus ikutin segala aturan dia, pikiran dia, mau gw suka atau engga, salah atau bener, ya gw ikut” lanjutku entah kenapa aku merasa kesal sendiri “dia baik sih, romantis, everything I do, do it for you, gw tinggal duduk manis, tapi bukan untuk itu gw di lahirkan, sebagai perempuan” lanjutku menatapnya.

Tommy tersenyum simpul, menatap ku dengan raut wajah tenangnya, “terus untuk apa lu di lahirkan?”

Aku menghela nafas kecil, menatap Tommy lekat-lekat, “Mimpi terbesar ku adalah menjadi seorang istri dan Ibu, dan menjadi sahabat bagi suami dan anak ku kelak, that’s it”

Berlahan senyuman mengemang terpancar di wajah Tommy, menatapku lega, “Finaly, lu balik ke diri lu”

Aku menatapnya bingung, “Maksudnya?”

“Gw sempet kehilangan lu, sejak lu sama dia. Lu jadi iya ya aja, ya lu bahagia, keliatannya, tapi ada yang hilang dalam diri lu, dan sekarang lu kembali. Juni yang punya prinsip, Juni yang semangat optimis, dan nyebelin” seuntai senyum singgung terlihat di wajah nya.

“Engga enak banget deh ujung nya” kesalku

“Hahahaha”

setelah mengobrol banyak lebar, suasan kami mencair, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami.

“Ciie tumben baik, pake traktir gw segala” sindir ku setelah Tommy membayar, dan kami melanjutkan perjalanan kami

“Siapa bilang ini gratis? Lu harus gantian traktir gw, gw catat nih”

“perhitungan”

Tommy tertawa kecil

Hening beberapa saat, kami menikmati tiap langkah menyelusuri bahu jalan yang cukup ramai dengan penggunannya, lampu-lampu jalan yang menghiasi jalanan, membuat jalanan cukup terang, dan terasa aman.

“Lu tahu engga hidup kita tuh semua mengenai pilihan dan hidup yang sekarang kita jalanin itu adalah hasil dari pilihan, kebetulan itu engga ada, semua udah direncanakan dengan baik” ucapku menatap pada jalan yang lengang “kalau gw memilih meneruskan pernikahan gw, engga tahu deh gw bakal kayak apa coba, yang pasti gw engga akan ada di sini dengan perasaan-perasaan yang baik dan bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. dan kita engga akan disini Tom, jalan, makan bareng, dan gw bersyukur karena memilih jalan ini” aku menatapnya, tersenyum “makasih ya udah milih ke jogya, melengkapi rasa syukur gw, selain Tuhan menggerakan hati lu untuk ke sini” senyumku menatapnya “gw seneng lu ada disini”

Tommy menghentinkan langkahnya, membuat aku menghentinkan langkahku, “kenapa Tom?” Tanya ku heran menatapnya.

Tommy berdiri menghadapku, menatapku dengan keputus asaan di wajah nya, ada arti lain dalam sorot mata nya yang tertuju padaku, sorot mata yang tidak aku mengerti, namun membuat jantung ini berdetup keras, membuat sekujur tubuh ku kaku, menghipnotis ku untuk kembali menatapnya. Beberapa detik, dunia terasa hening, semua berhenti bergerak, tidak terdengar apapun, hening, tatapannya yang dalam langsung menyentuh hati ini.

“Lu tahu kenapa tugu itu di namain Jogya kembali?” Tanya Tommy menyadarkan aku, menunjuk sebuah Tugu yang berdiri kokoh di tengah jalan dengan lampu-lampu sorot yang mengelilinginya.

Aku berfikir sesaat, “engga tahu”

“Siapapun yang melihat dan melewati ini bakal kembali ke jogya, ada rasa untuk ke sini lagi dan akan kembali lagi ke sini” jelas nya dengan raut santai

“Iya… terus??”

Tommy memberikan lengannya, “Kita bakal nyembrang kesana sama-sama, dan kita akan kembali ke sini sama-sama juga” ucapnya santai melirikku melemparkan senyum menggoda nya

Aku terpaku menatapnya, memperhatikan raut wajah santainya yang terpancar, kalimat nya biasa tapi entah kenapa menyentuh hati ini. Dia lagi godain aku? Lagi bercanda? Atau serius?

Aku menatap lengannya yang dia berikan untuk aku rangkul, apapun maksdunya, aku hanya ingin menikmati detik ini, bersama nya, meraihnya, tidak ingin merasa takut lagi, berhenti banyak berfikir.

“Setuju, terdengar menyenangkan” senyumku simpul.

Tommy tersenyum simpul menatapku dengan binaran di mata nya, “Ya”

Aku merangkul lengannya, ia mendekap tanganku dalam lengannya, kami melangkah bersama, menunggu jalanan lengang oleh kendaraa-kendaraan yang berlalu lalang dan kemudian menyebrangi Tugu kokoh ini.

Aku menatap Tugu ini dengen penuh harap, kamu akan membawa kami kesini, kembali, sama-sama. Senyum ku menatapnya kemudian menatap laki-laki tampan berkulit coklat yang berjalan disampingku, berkali-kali mengucapkan rasa syukur atas kehadirannya, entah sebagai apa, tapi untuk saat ini, cukup seperti ini, aku bersyukur dengan dia ada di sini dan aku ingin menikmati setiap detik yang terlewati malam ini tanpa bertanya lagi. Karena terlalu banyak bertanya akan menghentinkan langkah mu.

Akhirnya kami sampai di Jalan Malioboro, sepertinya Malioboro tidak pernah tidur, semakin malam semakin ramai. Ini pertama kalinya lagi aku sini setelah sekian lama aku tidak ke sini, bersama Tommy, berjalan di sampingku, kali ini aku sudah melepaskan tangan ini dari lengannya.

Kami memilih jalan di bahu jalan sebelah kanan Malioboro, banyak yang bisa di liat, karena banyak pedagang kaki lima yang menjual barang khas Jogya walaupun sebelah kanan lebih padat dari sebelah kiri.

“Hi tom, I like you pic in your Instagram, gw engga nyangka seorang Tommy yang elegant punya jiwa seni juga” puji ke menatapnya yang berjalan di sampingku, kami berjalan agak pelan dan sedikit mengeraskan suara karena di sini cukup bising dengan suara-suara riuh para pejalan kaki dan pedagang yang menawarkan dagangan mereka.

“Thank you” senyum Tommy kecil “itu kesenangan untuk gw, take a picture, banyak hal-hal indah di sekeliling kita yang sering kita lewatkan gitu aja” ungkap Tommy mengeraskan suara nya dan mendekatkan kepala nya pada kuping ku “dan rasa syukur gw atas ciptanNya, mengabadikan dengan lensa gw, karena kalau di simpen di memori itu bakal hilang lambat laun dan di gantikan dengan memori yang baru. So memotret akan mengingatkan gw hal-hal indah apa yang uda gw temukan”lanjutnya

“Nice” sahut ku “jadi lu bakal mengabadikan moment ini enggak??”

Tommy terdiam dengan wajah jailnya, “Tergantung, apa gw menemukan hal indah dari lu apa enggak?! Kalau engga sih ngapain juga”

“Ih nyebelin banget”

“Hahaha” Tommy merangkul pundakku “Take a easy, lu pikir di dalam tas ransel gw apa? Gw pasti ambil moment ini” senyumnnya menengokan kepalanya kearahnya, aku balas melihatnya, tersenyum senang.

“Lu masih suka nulis Ju?” Tanya Tommy melepaskan rangkulannya dari pundakku

“Masih, tapi udah lama banget engga” jawabku

“Kenapa? Gw suka tulisan lu, maka nya gw terima jadi actor gratisan waktu itu”

“Hahaha actor gratisan, kita bayar lu pake kopi dan rokok juga”

“Iye ye”

“Hubungan gw kemarin berhasil menguras energik gw, jadi boro-boro ada ide buat nulis, mau nafas aja susah” jawab ku asal

“Laga lu Juuu…susah nafas”

“Tapi setelah trip ini beres, gw bakal nulis lagi deh, menceritakan semua yang gw lalui di sini”

“Great. Ada gw dong pastinya?!”

“Ntar gw pikirin deh perlu engga ada lu nya” godaku

Tommy tersenyum, “Okay”

“Hahaha”

“Ju, ada blanko” tunjuk nya menarik lenganku ke salah satu pedagang yang menjual baju batik dan tumpukan blankon “pilih satu buat gw!”

“are you serious ?” Tanya ku menatapnya

“Yap. Pilih”

“Emmm okok”

aku memilih blankon yang menumpuk, dan mencoba satu per satu dari pilihanku di kepala Tommy, dia benar-benarn cocok memakai blankon.

“Wait” aku mengambil handphone ku “gw ambil foto lu pake blankon”

“Okay” Tommy bergaya dengan senyum lebar mengembang hingga membuat kedua mata nya menyempit da aku langsung mengambil foto nya … clik

“Sama lu dong” Tommy menarik pundakku “ayo foto”

dengan kikuk aku menyenderkan diri pada pundak Tommy yang membungkuk, dan kami pun melakukan wefie

“Nice” senyumnya puas

setelah selesai membeli blankon, kami melanjutkan perjalanan kami

“Tom, kita ke toko batik terang bulan ya?! Kata nya agak jauh setelah plaza malioboro” pintaku sambil melihat layar handphone ku

“Lu mau beli batik?”

“Engga, janjian nih sama temen-temen gw di sana, mereka lagi makan gudeg di depan toko terang bulan”

“Okay” Tommy mengangguk setuju

setelah berjalan cukup jauh dari muka jalan Malioboro, akhirnya kami sampai di depan toko terang bulan, terlihat Justine, Tonya, Tanti dan Daris tengah terduduk di salah satu meja lesehan.

“Hi!” sapaku mendekati mereka, tersenyum lebar.

“Hi Juniiii” mereka melembaikan tangan padaku

“Here, sit down” Justine menepuk sebelahannya yang lowong

“Okay, thank you” aku dan Tommy terduduk di samping Justine

“Dari mana Jun? udah makan?” Tanya Tanti yang terduduk di hadapanku, didepanya piring kosong.

“Udah kok, tadi” senyumku

“Gudeg nya enak” ungkap Daris yang terduduk di samping Tanti

“Your boyfriend?” Tanya Tonya yang terduduk di ujung sesudah ia meminum segelas teh hangat, melirik Tommy

“No no, he is not my boyfriend. He is my….”

“We are partner” jawab Tommy sebelum aku menyelesaikan ucapanku, tersenyum simpul menatap Tonya “Tommy” Tommy memberikan tangannya pada mereka, memperkenalkan diri dan mereka menyambut tangan Tommy, menyebutkan nama masing-masing.

Aku melirik Tommy heran, memohon penjelasaan dari nya

“Yes, partner, we are have a goal relationship” Tommy tersenyum singgung memberikan kepalan tangannya padaku

aku tidak mengerti maksudnya, tapi terdengar menyenangkan, ku kepalkan tangan ini, dan memukul kepalan tangannya dengan kepalan tanganku, kami saling melempar senyum penuh arti

“Ouw so sweet” senyum Justine menatap kami

“So what I mist?” Tanya ku menatap mereka satu per satu

“Okay, before that, we told, if we go to alun-alun?! How about that?” Tanya Justine melihat aku dan Tommy

“Okay” senyumku

“Okay?”

“Okay”

“Great”

aku menghela nafas lega, menatap Tommy yang terduduk di sampingku, aku ingin menikmati mala mini, bersama mereka sampai puas, ya ingin menikmati detik ini tanpa memikirkan apapun, atau bertanya tentang apapun, hanya menikmati, lepaskan.

Seseorang pernah berkata pada ku, Tuhan selalu memberikan kita banyak kesempatan, bukan cuman sekali atau dua kali, tapi banyak. Hanya saja kita sering mengabaikan kesempatan itu begitu saja, karena menginginkan hal lain atau terlalu takut untuk mengambil kesempatan yang ada. Kali ini aku tidak ingin mengabaikan kesempatan ku, kesempatan untuk aku bahagia, bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan saat ini, dan bahagia sudah terasa di sini, bersama mereka, menghabiskan malam dan biarkan waktu terlewat, kali ini waktu tidak terlewat begitu saja, tidak lagi sendiri, tidak lagi dipenuhi dengan ketakutan.

Besok? Make me surprise

  • view 138