Begin again

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2016
Begin again

4

 Dalam buku nya The Little Prince atau dalam bahasa Perancis Le Petit Prince, Antoine De Saint Exupery menceritakan tentang petualangan seorang anak kecil yang di panggil Pangeran Cilik, seorang Pangeran Cilik yang memiliki mimpi yang begitu besar, khayalan yang tinggi, dan mengeliling isi dunia hingga bertemu dengan beberapa Negara dengan para Raja nya. Pada halaman 47 saat Pangeran Cilik bertemu dengan seorang Raja yang sudah tua, ada sebuah percakapan yang membuat aku berfikir. Raja tua itu berkata pada Pangeran Cilik ‘Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarrti kamu benar-benar orang yang bijaksana’. Kadang atau bahkan sering nya, saat terjadi sesuatu yang salah, sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan keingingan kita, kita selalu menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan yang seperti nya tidak mendukung kita, padahal yang patut kita tunjuk adalah diri kita sendiri. Dan aku, selama 2 tahun ini terus berfikir dan menyalahkan sikap si Rizal yang tidak sesuai harapan ku, atau kenapa si Rizal terlalu ego karena tidak mau mengalah padaku yang kata nya mencintai ku atau kami yang selalu menyalahkan satu sama lain atas kekurangan diri kami masing-masing. Wait… aku memikirkan semua ini bukan berarti aku akan berlari berbalik pada nya, pulang langsung ke bandung, dan memohon pada nya supaya aku menggantikan mempelai perempuan. Aku tidak segila itu. Hanya saja, selama ini aku sadar, aku terlalu menyalahkannya, membuat aku jatuh cinta, membuat aku bodoh, hingga lupa diri dan saat sadar sudah banyak yang hilang dalam diri ku, dan selama 2 tahun ini aku berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan diri yang hilang namun terus menyalahkanya.

Ya, aku lha yang mengijinkan dia untuk mengambil hati ku dan membuat hati ini jatuh kedalam genggamannya.

Ya, aku lha yang bersedia dengan sadar jatuh ke dalam pelukannya, dan mengobrak-ngabrik diri ini sesuka hati nya.

Ya, aku lha yang memutuskan pembatalan pernikahan ini, karena aku dengan sangat yakin ini lha keputusan yang terbaik bagi kami.

Lalu kenapa aku masih begitu kesal pada nya??

Lalu kenapa aku merasa kalah dengan pernikahannya??

Lalu kenapa aku masih enggan berkomunikasi pada nya??

Bukan kah detik ini, aku baik-baik saja, bahagia, menikmati setiap detik yang aku punya.

Bukan kah Tuhan sudah memberikan jatah kebahagian pada setiap umatNya? Hanya saja kita terlalu serakah dan melirik kebahagian orang lain, hingga lupa atas segala nikmat dan kebahagian yang sudah di berikanNya pada kita?

Ini baru yang nama nya bodoh.

Teringat Rini pernah berkata padaku, “Ju, iklas sama sabar itu kata kerja, jadi ya harus di kerjakan, bukan dengan diam perasaan iklas dan sabar itu datang. Kamu tahu kan iklas dan sabar itu adalah pekerjaan seumur hidup. Dan ujian datang itu bukan untuk melemahkan, tapi menguatkan. Karena Tuhan sayang sama kita, kalau kita di kasih seneng terus, ntar lama-lama kita lupa lagi sama Tuhan, sifat dasar manusia kan lupa dan khilaf” engga nyangka deh, preman kayak Rini bisa mengluarkan kalimat sakti se baik itu, dulu pas Rini bilang gitu aku boro-boro mikir, yang ada malah bilang “engga ada saran lain selain sabar dan iklas” saat kita di hadapi suatu masalah yang mengubah suasana hati dan pikiran kita jadi buruk, hal-hal yang baik engga akan ada yang bisa masuk dan kita cerna, dan hanya bisa berfikir, engga ada satu orang pun di dunia ini yang ngerti keadaan kita, bahwa kita tuh paling menderita. Aku rasa, semua pasti mengalami posisi seprti itu, mungkin orang yang paling bijaksana sekalipun, dan aku pun mengalami nya.

Dan sekarang, saat situasi hati dan pikiran ku membaik, kalimat ampuh dari Rini, terngiang kembali, sekarang aku dapat mencerna nya dengan baik, kini aku tersenyum.

Fall in love with a perfect man, made me a fool, hilang akal. Dan biarkan semua kebodohoan ku, aku simpan dengan baik dalam ruang paling bawah di alam sadar ku. Jatuh cinta adalah hal paling wajar yang pasti dan bakal di rasakan manusia, menjadi buta dan bodoh, tapi bukan hal yang harus membuat diri ini malu atau terhina. Malah tersenyum bangga, karena kita menjadi lebih pintar dari sebuah kebodohan. Cinta itu baik, suci, anugrah yang di berikan Tuhan pada kita, selanjutnya saat merasakan itu lagi, tetapkan menjadi baik, karena kita lha manusia yang menjadikan cinta buruk dan menyakitkan, saat cinta sudah bercampur dengan nafsu dan emosi. Aahh… aku merasa sangat pintar sekarang.

Tapi siapa ya calon nya si Rizal?? Kepo juga deh gw!

Why am I over thinking about this? Bodo amat deh, mau siapa juga, dan Thanks God is it not me.

Tapi kedua mata bengkak udah kayak ikan mas koki engga bisa di bohongin kalau se malaman aku mewek. Wait…teman-teman se kamar pada ngeh engga yah!? Aaahh .. semoga tidak mengurangi kecantikan ku. Lol.

Mau udah dandan se kece apapun tetap aja aku ngerasa engga percaya diri, kedua mata ini masih bengkak, dan sangat mengganggu, jadi aku memutuskan memakai kaca mata mines ku yang biasa nya aku pakai saat berhadapan dengan layar computer dan membaca buku, dan kali ini mau engga mau aku pakai untuk menyamarkan kedua mata ikan mas koki ku.

Ruang makan di pagi hari benar-benar terlihat indah, cahaya sinar matahari masuk dari jendela yang di biarkan terbuka, hingga ruangan ini terang secara alami, di tambah dengan suhu yang hangat, rugi sekali kalau aku masih berdiam diri, bersembunyi di balik selimut untuk meretapi segala kesedihan sialan ini. Dan Juni, Tolong! Berhenti untuk bilang bodoh diri kamu sendiri, berhenti menyalahkan kebodohanmu, dan seharusnya kamu berterima kasih pada dirimu sendiri karena sudah melewatkan ini dengan baik, mengambil keputusan yang tepat untuk hidupmu, dan masih menjaga diri kamu dengan baik. Ya, kamu banyak kehilangan, tapi yakin, Tuhan akan mengganti nya dengan yang jauh lebih baik karena Tuhan tidak pernah meninggalkanmu selangkah pun.

Hi, I’m more than smart now! Feel free, rasa nya begitu menyenangkan, hati ini terasa luas hingga rasa nya aku ingin melompat-lompat seperti seorang anak, dan berteriak riang. Andai aku bisa lakukan itu, lupa akan tubuh yang tidak mungil ini.

Oh iya, saat ada seseorang yang bilang, I love you, tapi setelah itu dia mengubah kamu seperti yang dia inginkan, Trus me, his not really love you, leave him. Karena seseorang yang benar-benar mencintaimu, dia akan memperbaiki atau bahkan membuat diri kamu lebih baik, saling memperbaiki dan membuat diri lebih baik. Lagu My little Brother Justin bieber yang love your self langsung terngiang dalam kku,

‘oh Baby you should go and love yourself, and if you think that I’m still holdin’on to something you should go and love yourself. For all the times that you made me feel small. I fell in love now I fear nothing at all. I never felt so low when I was vulnerable was I a fool to let you break down my walls’ … ini lagu gw banget deh.

Meja makan sudah tersedia sarapan pagi, bubur, tumis tempe bunci, dan beberapa kue basah khas Jogyakarta, dan tumpukan mangkok untuk di gunakan, aku terus melantunkan lagu my little bro dalam benakku dengan riang.

“Halo Jun” sapa Jack melintas di hadapanku, wajah yang masih mengantuk dengan rambut tebal hitam yang kusut. Jack selalu memakai celana pendek sepaha dan kaos tanpa lengan, bangga dengan kulit coklat gelap nya dan badan nya yang bidang, he’s handsome, I think, type laki-laki kesukaan bule-bule cewek, kulit coklat eksotic, cool, good looking, good English.

“Halo” balasku tersenyum lebar, aku bahkan ingin tersenyum pada siapapun.

Jack mengambil gelas dalam lemari kuno, dan kemudian terduduk di hadapanku, wajah nya terlihat sekali masih mengantuk terlihat jelas di kedua mata sipit nya.

“Where are you going today, Juni?” Tanya nya mengambil air minum dalam botol air minum bening dan menumpahkan air ke dalam gelas. Suara nya terdengar khas, ada aksen melayu dalam nada suara yang berat dan bahasa inggris nya begitu pasif.

“I don’t know. Don’t have any plan yet” jawab ku tersenyum kecil, mengambil cangkir dan menumpahkan kopi kedalam cangkir, coffe in the morning selalu memberikan aku kekuatan untuk memulai hari, more power.

“Di sini tuh deket sama tempat-tempat wisata nya” Jack menyimpan gelas “wait” Jack mengambil smartphone dari saku celana pendeknya “aku send location tempat wisata dekat-dekat sini ya” ucap nya mengotak-ngatik smartphone nya, “whats your email ?” Jack memberikan smartphone nya

aku sedikit terkejut dengan sikap nya, ramah juga, masksudku pertama aku ke sini, Jack diam, seperti menjaga image, type-type laki cool dengan sikap yang terjaga, kaku dengan senyum seadaanya and keep calm apapun yang terjadi dengan sekeliling nya.

Aku menulis alamat email ku,setelah itu mengembalikan smartphone milik nya.

“Sip, aku udah kirim” senyum nya “I want to take shower” Jack berdiri dari duduknya “Oh Jun, jangan lupa cuci piring nya yap. The rules” pinta nya tegas seperti petugas kebersihan dan kemudia dia menghilang di balik pintu keluar.

“Okay Jack!” aku tertawa kecil.

Sambil menikmati kopi, aku melihat email yang tadi di kirim Jack, lumayan banyak ternyata tempat wisata disini, dan lokasi nya tidak terlalu jauh, kemudian aku mengecek pesan-pesan yang masuk di Whats app ku, pesan-pesan yang sengaja aku abaikan karena lebih memilih menikmati kesedihan ku. Konyol gak sih?

 My Preman

Udah bobo cantik ya, nyet? Sorry baru beres melayani bojo gw hahaha… bagus dong lu masih bisa mikir waras, siapa tahu kan lu ilang akal. Have a Fun ya dear, eh si Tommy balik tuh dia chat gw kasih tahu dia di bandung… sayang laki se cakep chico jerico lu abaikan, engga ada perempuan yang lebih oon dari lu deh.

Ini anak satu bahasa nya minta gw tampol deh, tapi ini lha cara dia menghibur ku, menyemangati ku, dan betapa dia peduli pada ku.

 Mama Sayang

 Pagi Juni, udah sarapan? Jaga kesehatan dan jangan lupa shalat

 Hal yang paling Mamah tekankan pada ku, satu-satu nya yang selalu beliau minta padaku, “Nduk, ke mana pun kamu pergi, apapun yang kamu lakukan, dan dengan siapapun kamu berteman Mamah engga akan larang, tapi jangan pernah ninggalin shalat lima waktu. Okay?! Cuman itu yang Mamah minta” pinta nya dengan suara lembut.

Tommy

Sorry Juminten, kan ceritan nya kejutan. Emmm… berapa lama di Jogya? U don’t miss me yap setelah 2 tahun engga ketemu

Tentu aja aku kangen sama dia, bohong kalau aku bilang engga, 2 tahun aku engga ketemu sama dia, laki-laki yang selalu memberikan kesan yang baik dan menyenangkan setiap kali kami bertemu. Laki-laki yang selalu berhasil membuat aku tersenyum, laki-laki yang hobi memainkan rambut panjang ku, laki-laki yang selalu memutar otak nya untuk menjaili ku, laki-laki yang selalu memanggil ku Juminten seolah tuh nama udah bawan aku dari lahir, jadi mana mungkin aku tidak merindukannya tapi…

Terakhir kami bertemu, setelah beberapa minggu aku putus dengan si Rizal, pertemuan yang tidak menyenangkan, karena aku begitu kusut, dan terus nyerocos betapa sedih nya diri ini. Perempuan itu aneh ya, aku yang memutuskan membatalkan pernikahan tapi aku juga yang sakit hati nya ampun-ampunan, mengingat saat itu aku benar-benar merasa malu, padahal dulu aku sempat menyukai Tommy dan aku sendiri menjatuhkan diri ini di depannya. Dan aku belum siap bertemu dengannya lagi, apa yang dia pikirkan sekarang tentang ku?

“Morning?” sapa teman se kamar ku yang dari KL, wajah nya yang putih bersih tampak segar dengan rambut lurus terikat asal, kali ini tanpa kaca mata, mempertegas kedua mata sipit nya, bergaya santai dengan celana pendek dan kaos polos.

“Morning” balasku menyimpan smartphone setelah membalas satu per satu pesan.

Dia kemudian duduk di hadapan ku.

“Breakfast apa??” Tanya nya menatap ku, tersenyum kecil

“Bubur and tumis tempe” jawab ku

“Tumis tempe??”

what’s in English ya “soy cake”

“soy cake”

“Try it, enak”

“Oh ok” tanpa ragu dia mengambil mangkok, menumpahkan bubur dalam mangkok dan menyimpan tumis tempe di atas bubur “ayo makan” ajak nya sudah bersiap dengan sendok di genggaman tangan kanan nya.

“Ok” senyum ku mengambil piring, menumpahkan bubur dalam mangkok, dan menyimpan tumis tempe, baru kali ini sih makan bubur pake tumis tempe, biasa nya sewiran ayam, cakue, dan telur. but let’s try it. … emmm… enak, bubur nya lembut, pas. Like it.

“Are you alone?” Tanya nya sambil menikmati sarapannya.

“Ya I’m alone. You?”

“Same” senyum nya “Where are you going today?” Tanya nya kemudian mengambil gelas dan menuangkan teh dari tekko berisi penuh teh.

“Emm I don’t know, I don’t have any plan” jawabku setelah menelan bubur lembut ini dari mulut ku.

“How If we go together, sama-sama?” tawarnya tersenyum ramah padaku

“Why not?! Okay” aku menganggukan kepala setuju tanpa banyak mikir.

“Okay??” senyum nya merekah

“Ok”

“Great”

aku tersenyum senang, di luar dugaan, aku punya teman untuk trip bareng selama di sini. See, kadang kita engga butuh perencanaan, biarkan semua mengalir, mengikuti keadaan dan waktu, dengan nikmat, aku melahap bubur enak ini.

“Hi what’s your name??” Tanya nya

oh iya, kita kan belum saling kenalan.

“Juni. you?”

“Justine”

“Kamu sudah pergi ke mana ??”

“EMm… I have visited Makam Raje” jawab nya berusaha menyebutkan nama tempat dengan benar.

“Makam raja??” teringat Wildan mengatakan tempat yang sama. By the way, aku belum liat dia pagi ini. Ke mana dia?

“Kamu sudah ke sana??”

aku menggelengkan, “Belum”

“Do you want to go to Makam Raja?

“Yes, I want to. But I don’t know how to get there

“It’s okay, saya temani” senyum nya simpul

“Really??” senang ku

“Ya. Why not?!” Justine tersenyum kecil mengangkat kedua bahu nya.

“Thank you” senyum ku

“You’re welcome”

Sambil menunggu Justine siap-siap, aku mencuci mangkok-mangkok dan gelas-gelas bekas kami tadi pakai, tepat di depan tempat cuci piring ini memiliki sebuah jendela yang terbuka, jendela dengan pemandangan sebuah kebun kecil, ada sebuah mushola di sana, selama aku di sini, aku shalat di sana, bangun kecil dan cukup bersih.

Masih pagi, tapi langit begitu cerah, matahari begitu terang berada di atas sana, dan hawa nya begitu panas.

“Kamu mau jalan, Juni?” Tanya Wildan saat aku tengah menyimpan mangkok-mangkok dan gelas-gelas pada rak piring.Wildan berjalan santai menuju lemari gelas, terlihat rapih dengan kemeja kotak-kotak yang tersembunyi di balik jaket nya membuat tubuh terlihat berisi, celana jeans hitam, rambut tipis nya yang tertata dengan gel, sepertinya dia mau pergi entah ke mana.

“Iya” jawab ku tersenyum kecil mengelap tangan yang basah dengan lap yang sudah tersedia

wildan membuka kulkas mengambil botol air “Mau ke mana?” Tanyanya melirik ku sambil menuangkan air dingin dari dalam botol kedalam gelas kosong yang di bawa nya.

“Makam raja mataram” jawab ku berjalan menghampiri meja perpustakan kecil,

“Nice, deket kok dari sini” ucap nya setelah meneguk air dalam gelas. “sendiri?” Tanya nya melihat ku kemudian terduduk di kursi panjang.

“Sama Justine” jawabku melirik nya kemudian melihat-lihat kumpulan buku di meja perpustakaan ini, siapa tahu ada yang menarik perhatian ku lagi setelah aku meminjan The Little Prince dan melahapnya selama 2 jam sebelum tidur.

“Bagus lha jadi kamu engga sendiri, ada temen” senyum nya kecil

“Kamu mau pergi?” Tanya ku terduduk di kursi panjang, di hadapannya, dia benar-benar tampak rapih, terlihat maskulin dan dewasa.

“Iya, aku mau ke kampus, ngurusin kkn dan skripshit ku” jawab nya dengan wajah ya memelas, raut muka nya benar-benar menunjukan suasan hati nya, keliatan sekali dia cukup terbebani dengan skripshit nya. “oh ya, kamu udah dapat lokasi tempat wisata dekat sini?”

“Udah, aku dapat dari jack” jawab ku “sent by email”

“Juni, I’m ready” Justine muncul begitu saja, sudah rapih dengan celana katun sepanjang pangkal paha, kaos biru dengan tas ransel kecil tergendong di punggung nya “I have to wear long pants. Yesterday I wore shorts so I cannot get in” cerita nya menatapku dari balik kaca mata mines nya.

“at Makam Raja you’re not allowed to wear shorts in order to respect the mosque” jelas Wildan.

Justine mengangguk kepala mengerti.

“So shall we go now?!” Tanya Justine

“Sure” aku berdiri dari dudukku, mengambil tas ransel ku yang sejak tadi aku simpan di atas meja makan.

“Pergi dulu dan, good luck for your skripshit nya”

“Haha ok thank you, Juni”

 Jogyakarta, kota yang terik dan panas, membuat kulit ini terasa tersengat, tapi tidak memudarkan semangat ku dan Justine untuk berjalan melewati jalanan yang cukup sunyi dan begitu tenang.

Kami menyelusuri perkampungan daerah kotagede, perkampungan disini bukan perkampungan yang kumuh, bukan jalanan yang penuh dengan kerikil-kerikil batu, tapi seperti pemukiman, hanya saja penduduk di sini menyebutnya kampung. Aku suka menyesuluri perkampungan di sini, jalan aspal yang bagus, engga ada bolong-bolong nya, bahkan tidak ada jalan yang rusak, kalah dengan komplek di rumah ku, sudah lha jangan di bahas, bahkan di sini tidak ada sampah yang terbuang di pinggir jalan, suasana jalan pun tenang dengan jajaran rumah-rumah penduduk dengan gaya rumah-rumah sederhana jaman dulu yang di rawat dengan baik dan beberapa bangunan adat yang terhalang tembok-tembok besar berwarna putih, rata-rata rumah-rumah di daerah kota gede ini memiliki halaman yang luas dengan pohon-pohon besar.

 “Juni, your face merah-merah? are you ok? you’re not sick, aren’t you??” Tanya Justine menatapku cemas, saat kami berjalan menyelusuri setapak jalan perkampungan ini.

“It’s okay. My skin is sensitive, panas dikit, merah” senyum ku, aku bisa merasakan kulit wajah panas.

“Oh ok” senyum nya lega “Jun, how old are you?”

“Emm twenty nine, why??”

“You know in melayu perempuan berumur dua puluh tahun sudeh menikeh”

“Oh iya? you married?”

“No, not yet, saye kulit putih so itu tidak di suruh menikeh mude. How about in Indonesia?”

“In Indonesian Family rata-rata menikah di umur dua puluh lima, dan lewat dari itu, more questions like “why you’re not married yet? You’re getting older, and bla bla” tawa ku kecil.

“Hahaha really? So suck yap?”

“Yap, very suck” senyumku “how old are you Justin?”

“Thirty one

“are you serious??” kejut ku

“Yap, dan di kulit putih santai saja, enjoy,because married is important to us, but financial and mentality are more essential”

“agree”senyum ku “you know, you doesn’t look like you’re thirty one. I thought that we’re at the same age. You look so young”

“Hahaha really?! Maybe I like vacation, enjoy my world, don’t think hard about anything, it is good for us, right?”

“Yes, right” senyum ku “you like solo trip?”

“Yes, I’ve been to mentawai, aceh, Bangkok, Korean” Justin meningat-ingat memutar kedua bola matanya.

“Wow you have visited Mentawai? Alone?

“Ya, alone, is so fun, beautiful, saye suka pantai Indonesia, I like snorkeling. And when I’m in mentawai I can not used short pants, rules”

aku mengangguk, “Ya, I know it”

“Kulit putih in mean is Chinese Right?

“Chinese?”

“Called name in Indonesian from people keturunan China”

“Oh yaya, like that”

“Okay, I get it”

Perjalanan kami cukup jauh ternyata, dan jauh nya semakin terasa karena suhu di sini begitu panas, matahari begitu terik, dan aku merasa tubuh ini lengket, keringet mulai mengucur dari kepala ku, seharusnya aku menggunakan topi.

Justine menjadi petunjuk jalan menuju makam Raja Mataram, kebalik ya, seharus nya aku yang jadi tour guide nya, tapi Justine benar-benar baik, dia terus menanyakan keadaan ku, khawatir dengan kulit ku yang terus memerah, takut aku akan jatuh pingsan.

Setelah berjalan setengah jam, kami akhir nya sampai di komplek Makam Raja Mataram, dekat pintu masuk ada jajaran toko-toko kecil dengan bangunan kayu, toko-toko yang menjual barang-barang antic dan sarang burung, di sebelah kiri terdapat lapangan yang cukup luas, terpakir beberapa mobil dan ada sebuah pohon yang begitu besar di sana, cukup sepi, tidak ramai seperti yang aku bayangkan.

Kami di sambut dengan gapura yang berdidi kokoh dengan rangkaian anak tangga yang terbuat dari batu sebagai pintu masuk ke komplek Makam Raja Mataram. Dengan santai kami menaiki anak tangga, kedua mata ini menjelajahi Gapura dengan pintu kusen yang terbuka lebar, bangunan bersejarah ini di jaga dengan baik.

Kedua kaki kami bersamaan menuruni anak tangga, sudah memasuki perkomplekan Makam Raja Mataram, tapi aku belum melihat makam, yang terlihat sebuah lahan luas dengan beberapa rumah adat seperti pendopo yang terbuat dari kayu dan sebuah pohon yang cukup besar, melihat nya cukup meneduhkan dalam suhu yang begitu panas ini.

Sebuah masjid besar terlihat, hanya ada beberapa orang di dalam sana, kami terus menyelusuri komplek pemakaman ini, melewati beberapa gapura berpintu kayu kusen, dan bertemu beberapa abdi dalam dengan pakai khas nya, batik lurik berwarna gelap dan kain batik terlilit di pinggang mereka, tersenyum ramah menyapa kami.

“Kita duduk yuk?!” ajak ku, cukup lelah dan sangat panas.

“Ya”

aku dan Justine terduduk di salah satu pendopo dengan pohon besar di samping nya, cukup adem walaupun terasa panas, anak-anak kecil terduduk bersama kami, seperti nya mereka juga kelelahan karena panas.

Beberapa menit kami mengambil nafas, mengistirahatkan sejenak kedua kaki yang lelah ini, menikmati kesunyian dan ketenangan tempat ini, rasa nya tenang sekali, udara di sini juga cukup bersih walaupun panas yang begitu menyengat, dan aku menikmati detik ini, bersyukur aku berada disini, dan tidak pernah menyangka aku berada di sini dengan seorang teman asing yang baru aku kenal. Sebelumnya, aku hanya pergi ke tempat yang sama di tiap hari nya, bertemu dengan orang yang sama, kalaupun orang baru ya itu nasabah yang pembahasnya seputar pinjaman di bank kami dan menghitung bunga. Namun sekarang, berbeda, aku seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang tidak pernah ku sentuh sebelumnya, dunia yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, dan sadar, dunia begitu luas ternyata, aku nya saja yang terlalu betah dalam dunia ku yang sempit.

Perasaan ini sungguh menyenangkan, rasa syukur, Tuhan tidak meninggalkan ku, Tuhan memberikan aku waktu untuk merasakan perasaan-perasaan hebat ini. Apakah ini hikmah dari semua nya? Atau sudah ada, hanya saja aku tidak peka akan KuasaNya?

Dan aku memotret moment ini, tempat ini, mengingatkan aku bahwa aku pernah berada di tempat se-tenang ini.

“Can We go??” Tanya Justine sesaat aku mengambil foto.

“Ok” aku menyimpan kembali smartphone ku.

kami kembali memutari kawasan komplek makam raja Mataram, memutari komplek dengan tembok-tembok dari batu alam hingga kami memutuskan untuk keluar dari komplek ini, perut kami lapar..

“Kita makan yuk?” ajak saat kamu menyelusir menuruni anak tangga keluar dari komplek ini.

“Hah??”

“eating. Ok?”

“Oh ok. Where??”

“Jawi, Jack gave me the location by email, so we can follow the directions” aku membuka email di smartphone ku

“Ok”

Dengan yakin kami keluar dari komplek pemakanan ini dan berjalan untuk makan siang, mengikuti jalur lokasi dan jauuuhhhh, kami harus jalan memutar, melewati pasar legi kota gede yang masih cukup ramai. dan beristirah sejenak untuk menikmati es dawet yang berdiam di pinggir pasar.

“Juni you want?” Tanya Justine menyodorkan mangkok berisi penuh es dawet, terlihat serutan es yang terbentuk seperti gunung, cairan gula aren mengitari es gunung ini, cendol dan kelapa di pinggirannya, tampak segar. “Try juni”

“Is it okay?” Tanya ku memastikan takut Justine hanya basa basi

“Iya, santai lha” senyum nya yakin

“Ok” aku menerima mangkok kecil ini, mengambi sesendok es serut nya dan nyessss, dingin nya es begitu terasa di mulut ku, lumer di lidah ku dan rasa nya begitu maniiissss, kesegeran yang membasahi kerongkongan ini, adem.

Clik .. terdengar suara kamera, ternyata Justine mengambil foto ku dari kamera poket Fujifilm nya.

“You shoot me?”

“Haha yes, you look so nice”

“Thank you” senyum ku kecil, aku menyodorkan mangkok es dawet nya, Justine menerima nya.

“Enak ya?”

“Iya”

“Whats it is name?”

“Es dawet”

“Eess daweet?”

“Yup”

Justine mengangguk kepala, dan kembali memakanannya, menyodorkan kembali pada ku.

“no, no, thank you” aku tidak ingin menganggu kenikmatan Justine.

“are you sure?

“yes”

“In Malaysia ade es bandung, from bandung” ungkapnya sambil menikmati es dawet nya.

“Es bandung. Like what??”

“Emm like this, tapi banyek isi nya”

aku memutar otakku, es bandung?? Aku bahkan baru denger, bandung punya es. Wait… kayaknya aku tahu “Oh I see… es campur”

“Ess campure??!”

“Ya, like this, but it has more topping”

“Oh ok, I see” Justine mengangguk kepala nya mengerti.

Setelah selesai dengan es dawet, kami melanjutkan langkah kami, mengikuti peta lokasi, sengaja berjalan di bahu jalan dengan jajaran pertokoan biar kepala kami terlindung dari sinar matahari yang menyengat. Dan setelah 15 menit perjalanan kami sampai pada sebuah rumah makan, sebuah pendopo besar dan luas, sepi, kami langsung memasuki dan duduk lesehan di salah satu meja.

Aku menghela nafas panjang, menjatuhkan tubuh ini ke lantai kayu, melepaskan segala kelelahan ku. Sungguh, rasa nya capek dan lelah, namun entah kenapa aku merasa begitu semangat, hati ini rasa nya senang sekali, dan pikiranku terasa bebas.

“You know Justine, I like being a tourist now” ucapku bangkit dari rebahanku, tersenyum pada Justine yang terduduk di hadapanku, sibuk melihat menu.

“Why you feel like that??” Tanya Justine yang sama sekali tidak terlihat lelah, wajah putih nya masih segar.

“Going around so far, backpack in my back, sneaker, kulit meghitam. Like tourist, right? So happy hahaha” seru ku senang

“Hahaha”

“So kita pesan apa??”

“Let’s see

kami melihat menu sama-sama, “What do you think?” tunjuk Justine pada salah satu menu.

“Nasi rawon?”

“Nasi Rawon??”

“Emm… rice with diced-meat soup”

“Spicy? I don’t like spicy food”

“a little. But the taste is so good. The food was originally came from Surabaya, which one city in Indonesia”

Justine menganggu kepala “Ok, let’s try it, we shared ok”

“Ok”

“Mbak, nasi rawon dua sama es ketan dan teh panas”

Si Mbak’é pun mencatat pesanan kami.

Sambil menunggu kami saling tukar cerita, Justine bekerja di bidang jasa pengiriman barang internasional sebagai staf, dan dia mencerita pengalamannya saat mengunjungi korea, dia benar-benar menikmti hidup nya, membuat nya terlihat begitu menyenangkan. Karena sebelum dia menikah, dia punya banyak waktu untuk menikmati apa yang dia mau dan suka, sudah menikah dia harus memikirkan keluarga nya, suami, dan anak-anaknya, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan diri nya sendiri. Jadi saat ini lha, dia focus sama dirinya, do what you love . Where have I been ya? Ternyata aku selama ini terlalu larut dalam kesendirian ku, menghabiskan waktu dengan berfikir betapa menyedihkan diri ini? Bertemu dan jatuh cinta dengan laki-laki yang salah. Ckckck…sedangkan dunia begitu luas, sangat luas, banyak hal yang bisa aku lihat, banyak hal yang bisa aku nikmati, aku tinggal keluar dan melangkah.

“How about your job, Jun?” Tanya sambil melihat-lihat nasi rawon yang sudah di hadapan kami “what is this??” Tanya dengan garpu memegang telur asin

“Telur asin, salted egg”

“Salted egg?”

“Yap, enak

“Ok” Justine mencomot dengan garpu daging putih telur asin “Emm…enak”

“Ya”

“So how about your job?” Tanya nya lagi

aku mengambil sebuah gelas bening berisi air putih keruh dengan di bawah nya Tape hijau, di pinggiran gelas terdapat potongan kecil gula merah. Sedikit bingung, karena ini pertama kali nya aku meminum es tape dan sepotong gula merah. Aku mencelupkan potongan gula merah ke dalam gelas, seperti anak kecil yang baru melihat sesuatu yang baru, terpukau dan memperhatikan apa yang akan terjadi paa sepotong gula merah, yang pasti sih larut..

“I work at bank. Marketing department. I like my job. But there’s time when I hate it” jelas ku menatap Justine kemudian melirik sepotong gula merah yang sudah mulai larut, penasaran rasa nya kayak apa coban.

“Hahaha why?” Justin menikmati nasi rawon “this soup is so good, I like it” seru nya puas,

“must try this too” aku menyodorkan gelas air ketan “but wait yap”

“Hahaha ok”

aku meminum es tape ini dan rasa nya…. Manissssss , ada asem dari tape, seger sih tapi rasa nya asing di lidah ku.

dan kami saling mencoba menu pesanan kami, Justine tidak menyukai rasa es tape, terlalu manis kata nya. Kami seperti dua orang teman yang sudah mengenal lama, bukan dua orang yang baru bertemu, bukan dua orang yang berasal dari beda Negara, ini benar-benar menyenangkan, ini pengalaman baru untukku. Aku bakal mengingat detik ini dengan baik, tersimpan rapih dalam memori otakku.

 

Sambil kami menikmati makanan, kami saling menceritakan pekerjaan kami, aku menceritakan kenapa aku tidak suka dengan pekerjaan ku namun aku bertahan karena gaji yang cukup gede untuk seorang single seperti ku, setelah kami selesai makan dan matahari sudah semakin panas, kami memutuskan untuk pulang ke hostel, dan perjalanan pulang benar-benar perjuangan karenan panas nya lebih dari saat kami berangkat tadi, aku benar-benar ingin membajur seluruh tubuh ini dengan kucuran air, seperti nya seger.

 

Dan setelah perjuangan akhir nya kami sampai ke hostel dengan wajah berkeringat dan seluruh badan terasa lengket, rasa lelah menghinggapi seluruh tubuh ini bukan karena jauh nya langkah yang di tempuh tapi terik nya panas matahari yang seolah mengambil banyak energy dari tubuh ini.

“Finaly,we’re done” seru ku tersenyum lega sesampainya di teras hostel

“yeayy” sorak Justine “I want to take a shower…aahhh so hot!” Justine langsung membuka sepatu nya dan berjalan cepat masuk ke hostel.

Ternyata ada tamu baru sedang terduduk di ruang tamu, satu orang perempuan berjilbab dengan kaca mata nya dan seorang laki-laki, bertubuh tinggi dengan kemeja rapih, wajah lonjongnya dengan jenggot meningatkan ku dengan Teuku Wisnu, mereka tersenyum ramah pada ku, aku membalas senyum mereka.

Sejuk nya ac langsung menyapa seluruh tubuh ini, lantai yang dingin terasa adem di kedua telapak kaki ini yang terasa kaku setelah beberapa jam berjalan dengan sepatu kets.

Ku jatuh kan tubuh ini, terduduk di lantai, merebahkan punggung di tembok, meluruskan kedua kaki, dan menikmati sejuk nya ac, mendinginkan tubuh ini, Jsutine seperti nya langsung ngibrit ke kamar mandi untuk mandi. Rasa nya ingin membuka semua baju ku dan guling-gulingan di lantai dingin ini namun setelah itu aku akan di bilang gila.

Pintu kamar terbuka, kedua kaki ku lurus menghalangi pintu, membuat aku menariknya dan melipatkan kedua kaki.

Perempuan berhijab tadi masuk ke kamar dengan ragu, melihatku, dan aku melemparkan senyum pada nya.

“Hi” sapa ku tersenyum, seperti nya aku sudah mulai terbiasa menyapa orang asing, wow.

“Hi” senyum nya ragu dan kemudian wajah nya menggeladah kamar ini, seuntai senyum puas menghias wajah putih nya yang cantik

“Kamu kasur yang mana?” Tanya ku

“Di atas” ia menunjuk kasur di atas yang bersebrangan dengan ku “peer banget ya harus naik ke atas”

“Hahaha ya, sama kok, aku juga di atas”

Ia menyimpan tas ransel dan tas baju di lantai, “Kamu udah lama nginep di sini?”

“Dari kemarin”

Ia mengangguk kepala nya, “Dari mana?”

“Bandung. Kamu?”

“Bandung”

“Hi kita sama, Juni” aku menyodorkan tangan ku pada nya

“Tanti” ia menyambut tangan ku tersenyum ramah

Tanti terduduk di hadapanku, wajah kecil nya terlihat agak lelah, ia menyenderkan punggung nya pada tiang tempat tidur, menikmati dingin nya ac.

“Tadi dari mana?”

“Ke makam raja mataram”

“Oh deket dari sini?”

“Lumayan, karena panas jadi berasa banget capek nya”

“Wow”

“Kalau kamu mau kesana dan engga kuat jalan, kata nya hostel ini sewain motor”

“Oh iya, bagus kalau gitu”

Pintu kamar terbuka, Justine memasuki kamar dengan rambut yang sudah basah dan handuk tergantung di leher nya, melihat nya tampak segar, seperti nya aku juga harus mandi.

“Hi Juni, do you want to go to malioboro? Tadi saye ketemu sama Tonya, she asked me to join with her. How about you?”

“Wow Nice, I’m in”

“Great” senyum Justin “hi are you new here?” Tanya Justin tersenyum rama pada tanti

“Yes I’ve just arrived” jawab Tanti tersenyum kecil

“Ok”

“Tanti, malam kalau mau join ke malioboro hayu” ajakku

“Boleh”

“Great”senyum ku “she’s joining with us to Malioboro” ucap ku pada Justine.

“Wow cool, let’s go together”

aku menghlea nafas lega, senang rasa nya, ini benar-benar menyenangkan.

Terdengar suara dering dari handphone ku, “Wait ya” pinta ku pada mereka dan kemudian aku langsung merogeh tas ransel ku, mencari-cari handphone, “Ketemu juga” aku mengambil nya dan melihat siapa yang menelepon, nomor yang tidak di kenal. Jangan-jangan si Rizal… bodo ah…tapi…engga boleh menghindar Jun, Cukup.

Aku menghela nafas panjang, menyiapkan diri ku, termasuk suara ku, agar terdengar biasa.

“Ya??” sapa ku kaku aku bisa merasakan wajah ini tegang dan nafas terasa berat.

“Ju, di mana??”

wait .. sejak kapan suara si Rizal kayak laki gini? Maksudku, seingatku, suara si Rizal tuh ringan, ini terdengar berat.

“Tommy??” tebakku ragu

“Iya, gw”

aku menghela nafas lega, “Kok nomor nya beda? Kenapa Tom? Lu wa gw ya? Sorry baru liat handphone. Kenapa napa Tom?” tanyaku beruntun, kaget dan bingung, sekaligus lega karena bukan si Rizal yang nelepon.

“Nanya nya satu-satu Neng” ucap nya datar, terdengar bising.

“Hehe sorry, kirain siapa. Lu ganti nomor ya?”

“Handphone gw lowbat lagi di cas, ini lagi pinjem ke orang yang sekursi sama gw”

aku mengangguk mengerti, “Sekursi? Emang lu di mana?”

“Lagi di jalan mau ke solo”

“Oh jenguk nenek lu ya?! Salam ya Tom”

“Ya, ntar gw salamin. Lu di mana, Juminten?”

“Di hostel Tom” aku melirik Justine dan Tanti yang tengah terduduk di bawah sambil mengobrol.

“Jam delapan malam jemput gw di stasiun Tugu ya?!”pinta nya yang terdengar seperti perintah.

Aku terdiam beberapa saat, “Gw kan lagi di Jogya Tom” bingung ku kenapa juga gw harus jemput dia

“Lha emang stasiun tugu ada di mana lagi selain di Jogya?!”

“Lu mau ke jogya??!!??” kejut ku

“Jemput gw jam delapan, see u Ju”

“Tom…” telepon terputus dan aku masih diam bingung sekaligus kaget.

 

 

 

 

  • view 128