Begin again

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
Begin again

3

aku tidah tahu apa yang terasa di hati ini, ada sebuah kesedihan menghampiri relung hati, sebuah ketidak iklasan menerima kenyataan bahwa si mantan calon suami ku akan menikah. Menikah?! Menikah?! Menikah?! Kenapa harus dia dulu? Kenapa bukan aku dulu?! Ya, sedangkan aku masih duduk sendiri di teras sebuah hostel tanpa seorang teman, tanpa seorang pendamping, seorang diri berlibur dan detik ini tersadar betapa menyedihkan diri ini. Dengan se-yakin yakin nya, aku yakin tidak memiliki perasaan apapun pada nya, sedikit membenci nya tapi perasaan ini bukan hal yang benar-benar menjadi alasan utama kenapa aku masih memilih sendiri. Laki-laki yang dulu pernah berniat menikahi kamu, laki-laki yang dulu pernah kamu bayangkan menjadi suami mu, ayah dari anak-anak mu, dan kini mau menikah dengan perempuan lain, dan itu bukan kamu?! Lalu buat apa Tuhan mempertemukan kami dan membuat kami saling jatuh cinta kalau pada akhir kami tidak berjodoh? Pertanyaan klasik.

Dan aku terlalu lama menghabiskan waktu seorang diri, bukan berarti aku belum move on, tapi hubungan kemarin sungguh membuat aku berfikir, membuat aku lebih hati-hati, engga mau lagi mudah jatuh cinta, engga mau percaya dengan mudah nya sama laki-laki, bagaimana kalau aku jatuh cinta dengan laki-laki yang salah lagi? Dan laki-laki itu nyakitin aku, Only someone your love can make you hurt, right? Yes, I’m loser because I’m not ready for that. Dan saat aku mengutarkan ini pada Faldi, he’s my second preman setelah Rini, my partner in crime, tong sampah nya aku, teman debat, ya berhubung udah beda unit kerja kami lebih sering komunikasi via chat, tapi tidak pernah menjadi jarak bagi kami. So Faldi told me kalau aku sebenar nya belum move on. Suck banget deh pas dia bilang gitu, secara aku engga punya secuil perasaan apapun sama si Bustred Rizal itu, bahkan mengharapkan kembali pada nya pun tidak. Tapi menurut nya belum move on ini bukan tentang perasaan ku pada nya, atau aku masih memiliki harapa pada nya.

Waktu Faldi main ke unit kerja ku, dengan bangga nya dia bilang target bulan ini sudah goal, it mean dia punya banyak waktu untuk ‘hang-out’di jam kantor dengan pamit ke si bos nya, OTS (On the spot, tinjau lapangan calon kreditur), dan jadi kami makan siang bareng, mungkin dia sekalian nge-cek apa partner in crime nya ini udah sembuh dari ke gilaan nya, akibat keseringan hangover sama tumpukan berkas-berkas nasabah.

“Lu belum move on dari dia, sama sekali belum. Bukti nya, lu belum bisa buka hati sepenuh nya, dan lu masih ingat dengan baik apa-apa yang pernah dia lakuin sama lu dan hal itu ngebuat lu menyamakan laki-laki lain sama dia. Inget engga lu pernah cerita sama gw ada laki yang deketin lu dan lu berlahan mundur gara-gara cara pedekate dia sama lu mirip si Rizal. Masih bilang udah move on? Atau lu mundur lagi saat ada laki-laki lain bersikap romantis sama lu, terus lu bilang, awal aja kayak gini buat ambil hati gw, kalau udah dapat bhay. Lu inget?? Masih bilang udah move on?!” jelas nya dengan wajah datar, sedikit menyudutkan ku, tapi ya itu kenyataannya. Sometime we need friend like him, apa ada nya, ceplas-ceplos walaupun menyakitkan, tapi tidak memberikan harapan manis hanya untuk membahagaikan kita atau membuat kita puas. Saat itu lha aku tersadar, ya kenapa aku masih sendiri, kenapa masih berdiri di tempat yang sama, “kalau lu uda move on Ju, lu engga akan mikir dan bawa-bawa dia setiap kali ada laki yang deketin lu, lagian lu tahu dari mana sih setiap laki yang deketin lu bakal berakhir sama kayak si Rizal?! Tiap orang tuh beda tapi rata-rata sama buat nunjukin rasa suka nya, cuman dikit beda nya” aku hanya mampu terdiam, mengelakan pun aku engga bisa. “Lu engga bisa kaya gini terus, move on Ju, move on dari rasa sakit lu, rasa kecewa lu, rasa takut lu, engga bagus buat lu, inget umur lu nambah, mau kepala tiga. Mau sampai kapan?!” damn it! Kenapa juga harus bawa-bawa umur jadi inget kalau gw uda tua.

Ya.. sampai kapan? Dan si mantan udah mau nikah! Huuuffttt....

“Hahahaha” gelak tawa dan suara riuh orang-orang mengobrol menyadarkan ku, sadar hanya aku seorang diri di teras depan hostel ini, meja lain di penuhi se-germbolan bule-bule yang tengah asyik mengobrol, menceritakan ke mana saja mereka hari ini dan apa saja yang mereka temukan.

Aku menghela nafas panjang, menatap langit malam, merasakan udara yang cukup panas, dan menatap kebun yang terhampar luas di depan ku, sedikit menyesal aku pergi sendiri ke sini, seharus nya aku mengajak siapapun untuk menemani ku, bahkan aku tidak tahu besok akan ke mana, masa iya, aku menghabiskan waktu di sini, di tambah dengan perasaan kalut ku. Seperti nya minum teh okay.

Dengan langkah lemas, pikiran entah di mana, aku melangkah menuju dapur, rasa nya aku ingin menggali tanah, membuat lubang sebesar mungkin dan masuk ke dalam nya.

Bahkan meja makan penuh, Wildan dan Jack tengah terduduk bersama dengan tamu-tamu asing mereka, membuat aku merasa tidak nyaman untuk membuat Teh, tapi bodoh amat.

“Hi Juni”sapa Jack

“Hi” sahut ku tersenyum tipis terus melangkah mengambil cangkir di lemar tua, maaf ya lagi engga bisa ramah tamah, nyebelin memang tapi ya maaf.

Setelah membuat teh, aku kembali ke teras, untung meja nya masih kosong, jadi aku duduk di tempat semula, seperti zombie yang tidak dapat merasakan apapun aku menggocek teh walaupun aku tidak menggunakan gula. Tapi sama siapa si Rizal cucunguk itu nikah? Jangan bilang sama...

“Rencana nya mau ke mana di jogya?” tanya Wildan yang duduk begitu saja di hadapanku, membuat apa yang tadi pikirkan memudar.

Beberapa detik aku menatap nya dengan tatapan ‘ngapain lu di sini?’ tapi engga mungkin juga kan aku mengeluarkan kata-kata itu.

Sorry sorry ... im not in the mood, aduh jelek banget sih gw, engga baik kali Juni!

“Belum tahu nih dan” jawabku mencoba tersenyum, hal yang paling sulit adalah ketika hati kamu tidak merasa bahagia adalah tersenyum, hanya tinggal menarikan kedua ujung bibir terasa menjadi begitu berat ketika hati sedang tidak bahagia.

Wildan melihat isi gelas ku, “Suka teh ya?”

Engga juga sih, lebih suka kopi. Udah deh Juni, engga baik punya hati sinis gini, si Wildan kan engga punya salah apa-apa sama lu.

“Ya, lumayan”

“Kamu tahu teh kambocha?”

“Teh...teh apa??”

“Kambocha. Teh jamur gitu, jamur yang di frementasi kan” jelas nya

“Baru denger” aku menggelengkan kepala, tapi terdengar menarik.

“Kamu mau coba? Enak lho, ok buat diet”

“Boleh” entah kenapa aku merasa tertarik, perempuan selau tertarik dengan kata bagus lho untuk diet.

”Sini” Wildan berdiri dari duduk nya, dengan bingung aku mengikuti langkah nya yang melangkah menuju samping rumah ini, terlihat hamparan kebun kecil kecil, se ekor anjing putih tengah berjalan menyelusuri kebun seperti mencari tempat aman atau bersembunyi akan sesuatu, sepertinya ada yang salah dengan anjing itu.

Bertemu sebuah dapur kecil di bagian belakang rumah ini, dua buat toples kaca besar tersimpan di atas meja.

“Ini teh nya, lagi di fermentasikan” tunjuknya pada dua toples kaca yang berisi air berwarna kuning ke-emasan seperti warna bir

“Ini jamur ya?” aku menatap lekat-lekat air dalam toples kaca ini, tidak terbayangkan bagaimana bisa jamur menjadi cair seperti ini, bahkan aku baru mendengar Teh kambocha.

“Ya, jamur sama teh hitam” wildan mengambil dua gelas ber ukuran cukup besar “Kamu suka dingin?”

“Suka” aku melihat nya, ia membuka kulkas, mengambil es batu dan memasukan beberap batu es kecil kedalam gelas.

“Teh ini emang paling enak kalau dingin, rasa nya agak kecut asem gitu, tapi seger” jelas nya sambil mengambil teh kambocha dalam toples dengan sendok sayur dari kayu dan setelah itu menambahkan air putih beberapa litter hingga gelas penuh “nih udah jadi” Wildan memberikan gelas yang sudah ber isi teh kambocha.

“Thank you” senang ku tersenyum

“Coba deh”

aku langsung meneguk gelas nya, rasa nya, aseeeemmmm kecuuuttt, “Emmm”

“asem ya?” Wildan tersenyum kecil

aku menganggukan kepala dengan wajah masem menahan asem, “Tapi seger”

“Yup” Wildan menenguk gelas “kalau kamu engga suka, kamu boleh simpan, is okay”

“Oh no no, I like it, aku akan minum sampai habis” senyum ku yakin. Sebenar nya agak takut juga minum teh asem ini, ingat dengan lambung yang bermasalah, tapi aku buang ketakutan ini jauh-jauh. Bukan karena Wildan memberikan teh ini dan bukan cuman aku menghargai pemberiannya, tapi lebih dari itu.

Sekarang gini, pernah dengar engga istilah kesan pertama itu penting di pertemuan awal, otak kita langsung menstimulasi 2 menit pertama di awal pertemuan dan 2 menit itu lha penentu apakah kita mau mengenal orang itu atau tidak. Dan Wildan memberikan kesan baik di awal menit pertama, he’s nice, he’s friendly, he’s good empaty. Walaupun itu engga bisa menggambarkan keseluruh pribadi nya but is okay, karena buat ku tiap orang itu pasti memiliki kekurangannya masing-masing, so do I, jadi lebih baik kita fokus sama kebaikannya. Aku beranggapan ini lha kebaikan yang Wildan kasih untuk ku, membuatkan aku teh, menemani aku yang sendiri di antara orang-orang yang engga peduli, dia berani menyapaku dengan cara yang baik. Jujur yah, aku sudah cukup bosan dengan laki-laki yang menyapa dengan kelebihannya, dan penuh dengan banyak basa basi. Oh please, dont act me like Im a girl, aku ini perempuan yang 2 tahun lagi ber umur 30 tahun. Jadi inti’ nya, laki-laki’ ini berhasil membuat aku tertarik. Misal nya kamu di posisi ku, merantau seorang diri di kota yang entah berantah, engga ada satu orang yang kamu kenal, dan hati kamu dalam keadaan engga baik terus tiba-tiba ada laki-laki yang okay, menyapa kamu dengan ke ramah tamahannya, membantu kamu dan mengajak kamu ngobrol bukan tentang kelebihan dia, bukan tentang dia kepo in masalha pribadi kamu, tapi hanya obrolan kecil yang ringan dan membuat kamu merasa ada teman, merasa di anggap. Apakah itu bukan sesuatu yang menyenangkan? Dan kamu engga akan merasa tertarik? Ya ok ini bisa pelayan di sini, whatever, yang pasti aku merasa membaik sekarang setelah ber jam-jam aku terdiam bengong udah kayak orang bego yang hilang arah dan pikiran nya. Jadi aku akan menghabiskan teh ini sampai titik terakhir membalas kebaikan dan ke-ramah tamahannya pada ku.

“Kamu tahu gak kalau teh ini sebulan lagi di diemin bakal jadi alkohol?” ucap nya saat kami tengah menikmati teh kambocha, terduduk bersama di teras hostel, aku tidak sendiri lagi di antara segerombolan orang-orang.

“Oh ya?? Sama kayak peyem ya?”

“what’s peyem??”

“Haha...makanan dari sunda itu, kata nya bisa bikin mabuk kalau makan banyak-banyak

“Oh ok””

aku pikir si peyem udah go internasional.

Jani melintas di samping ku berhasil membangkitkan rasa takut ku, aku terdiam jaim, walaupun rasa nya ingin berdiri dan lari masuk ke dalam rumah.

“Jani sini” panggil Wildan melihat ku tersenyum mengerti, ekpresi ketakutan ku seperti nya terlihat jelas.

Jani melangkah santai menghampiri tuan nya, terjongkok di samping wildan, Wildan mengelus-ngelus bulu nya.

“aku kadang suka kasian gitu sama anjing kalau ada orang yang ketakutan sama mereka padahal anjing itu gak seserem itu” ucap Wildan, Jani tertidur di bawah kaki nya.

Entah kenapa aku menjadi merasa bersalah, ya sih, salah ini anjing apa ya sampai aku ketakutan gini, cuman gara-gara satu anjing, jelek nama anjing se dunia di mata ku.

“Waktu kecil, nenek suka ngerawat anjing, kucing, aku belum takut cuman engga berani megang. Sampai pas SD, di kejar anjing sampai jatuh terguling gitu” cerita ku kemudian meneguk teh kambocha ini, lama-lama ini teh beneran enak deh.

“anjing nya gigit enggak?”

aku menggelengkan kepala, “Enggak”

“anjing itu kalau ngejar kita itu karena menganggap kita ajak main mereka karena kita melakukan banyak gerakan di depan mereka, apalagi kalau ada kontak mata sama mereka, jadi sebenarnya mereka tuh binatang yang ramah. Kalau kita nya diem ya mereka juga diem” jelas Wildan “dulu aku juga takut anjing, apalagi pas kecil, di bilang nya anjing itu serem, udah gitu haram, padahal dalam al Quran tuh engga ada megang aja haram, melihara boleh, tapi engga boleh masuk rumah kan?!” lanjut nya.

Aku terdiam melongo mendengar penjelasannya, aku bisa tahu kalau Wildan penyayang binatang, memiliki kepekaan yang baik.

“Kamu tahu, rasa takut cuman ada di pikira kita” senyum nya mentapaku.

Entah kenapa ucapannya kali membuat aku tercengang, rasa takut cuman ada di dalam pikiran kita?

Sejak aku putus dengan si Rizal, sejak itu juga aku tidak memiliki rasa percaya pada siapapun, khusus nya pada lawan jenis, dan saat ada seseorang mendekati ku, aku takut untuk menyambut nya, aku tidak siap karena bayangan rasa sakit dan kekecewaan yang aku alami masih terasa dengan jelas dalam memori ku, seperti nya laki-laki ini akan membuat ku jatuh cinta dan kemudian dia akan menyakitiku, meinggalkan ku. Sejak saat itu rasa takut menguasai diriku.

“Liat ini” wildan menunjukan layar smartphone nya, menyadarkan ku dari lamunan ku “ini video tentang gimana kita engga takut anjing lagi, nonton aja” ia memberikan smartphone nya.

Jangan-jangan ini anak bener-bener duta anjing, segini nya... tapi bagus, biasa kalau ada orang yang tahu aku takut anjing itu di ketawain, atau di hina-hina, engga malu sama umur, uda tuwa takut anjing. Tuwa??? Zzzzz.... muka gw kan baby face kayak song hye kyu gini

Video yng diberikan pada ku itu dari youtube, acara sarah sechan di net tv tentang phobia anjing, dan aku menyimak, ini beneran menyimak lho. Kepikiran, kenapa ketakutan anjing masih terbawa hingga aku segede ini? Mereka engga pernah gigit, dan sebenernya mereka itu anjing yang lucu, seperti nya enak di peluk dengan bulu-bulu lebat dan badan kokoh nya. Jadi aku benar-benar menyimak, inti nya, ketakutan sama anjing itu emang karena punya pengalaman buruk se waktu kecil, jadi nancep deh tuh di otak kalau anjing adalah bintang yang menakutkan dengan taring yang tajam seolah siap merobek robek kulit kita. Padahal anjing itu engga akan ngejar kita kalau engga ada apa-apa nya, seperti kalau ada anjing, tenang, jangan lakukan pergerakan yang berlebihan karena mereka nyangka kita ngajak main, dan jangan ada kontak mata.

“skip aja deh kayak nya” Wildan mengambil smartphone nya, menganggu asyiknya ku.

“Eh kok??”

“Takut bosen aja”senyum nya kecil

siapa juga yang bosen? Lagi nyimak juga!

“Kamu tahu, jani tuh kita pungut dari pinggir jalan gitu, dia anjing jalanan gitu, makanan nya dari tong sampah” cerita Wildan

“Oh ya?” aku melihat Jani yang baru saja berdiri dari tidurnya “Terus??”

“awal nya dia takut sama kita, trauma dia sama manusia” lanjut nya, melihat Jani penuh kasih yang tengah berjalan ke samping rumah “dia tuh kalau ada orang asing atau baru gonggong tapi kesana nya sih engga”

aku baru tahu ada ya anjing trauma sama manusia

“Nah kamu udah ketemu scotie?”tanya nya

“Scotie??”

“yang putih, tuh” wildan menunjuk seeokor anjing putih yang tengah menyembunyikan diri nya di balik semak-semak kebun, terdiam memperhatikan kami para manusia yang tengah asyik di sini.

“Oh iya, dia lari gitu pas liat aku, bikin aku drop, seserem itu ya gw mpe bikin anjing lari” cerita menghela nafas kecil, engga cukup apa mantan gw lari.

Wildan tertawa kecil, tawa yang renyah hingga membuat kedua pipi nya mengembang.

“Dia emang gitu, kita juga pungut dia, dia malah lebih parah” lanjut nya

“Lebih parah??”

Wildan menatap scotie yang berdiri disana dengan sorot mata yang sedih, “Dia tuh dulu suka jadi bahan pelampiasa preman-preman, di pukulin pake tongkat, di gebukin gitu, badannya dulu kurus dan pas keisini dia kabur terus, trauma parah. Dia tuh takut sama orang-orang yang badannya gede, brewok kan, terus bau rokok batangan djarum gitu”

Aku menatap scotie, memperhatikan raut wajah nya, di balik tubuhnya yang besar dan kokoh, ada raut kesedihan dan ketakutan di raut wajah nya, aku jadi merasa bersalah tadi udah ketakutan sama dia, dan mikir jelek. Lagian, tega banget deh tuh orang-orang mukulin anjing, mentang-mentang mereka binatang kali ya, tapi kan tetap aja, makhluk hidup, bisa ngerasain sakit kalau di pukul. Entah kenapa aku jadi kesal sendiri.

“Maka nya setiap ada orang baru pasti dia sembunyi, kabur, dan engga mau deket deket sini”

aku hanya mengangguk mengerti

kami terdiam beberapa saat, binatang pun punya hati dan perasasan, kadang kita menyepelakan binatang, merendahkan mereka, padahal sama-sama ciptaan yang Maha Kuasa, ya walaupn manusia tetap drajat nya paling tinggi, ciptaan Tuhan paling sempurna, hanya saja kadang sombong dengan keberadaan dirinya.

“Eh besok udah tahu mau ke mana?” tanya Wildan, anak ini engga kehabisan bahan obrolan ya, tapi bagus, aku yang kaku dan kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dan bertemu dengan orang kayak dia.

“Disini ada makam raja mataram, ada tempat makan kayak cafe gitu, jawi, enak makanannya, atau ullen sentalu” cerocos nya memberikan ide

“Ok, ntar aku liat mbah google”

“Ok”

“Eh wait ya jun” Wildan berdiri dari duduk nya

“Oh ok”

aku terdiam, mendadak menjadi hening, sadar, ternyata di teras ini sejak tadi banyak orang bukan hanya ada aku dan Wildan. Engga kebayang deh kalau engga ada tuh orang, gw udah kayak obat nyamuk aja kali ya, diem,bengong, duduk seorang diri ,dan bersedih sendu mikirin kok mantan gw uda mau nikah? Lha giliran gw kapan? Jangan-jangan tuh laki lagi ketawa dengan bangga nya, Hi Juni gw mau nikah lu, akhir nya gw dapat perempuan yang jauh lebih baik dari lu, udah ada yang mau sama gw. Kamu?? memikirkan nya sudah membua ku kesal. Lagian ngapain juga si gelo ngundang Rini? Maksud nya apa coba? Pengumuan gitu buat gw? Mau bikin gw nangis darah karena membatalkan pernikahan? Bikin gw nyesel? Keliatan banget sengaja nya ngundang Rini? Tapi sapa cewe nya? Ada juga yang mau di kekang sama dia habis-habisan? Atau gw nya aja yang berlebihan? Terlalu pake ego? Tapi...

“nih” sebuah kartu nama tersodor di hadapanku, membuat semua pikiran bodoh ku tadi buyar, terima kasih untuk Wildan yang menyadarkan ku “kartu nama ku”

aku tersenyum kecil, dia benar-benar lucu, gemas ku dalam hati.

“Ok, thank you” aku menerima nya, tertulis nama dia, denga posisi Opration Manager, wow, membuat aku penasaran berapa umur nya, tapi engga sopan juga sih nanya. Terus penting apa mau tahu umur dia berapa? Terus kalau tahu mau apa? Lu ajak nikah?! LOL.

Wildan kembali duduk di tempat semula, di hadapaku, baru saja dia duduk, baru saja dia muncul, aku tidak lagi merasa sepi, menyembunyikan senyum lega ku. Ini pertama kali nya aku bertemu dengan dia, tapi semakin aku melihat wajah nya seolah ini bukan pertemuan pertama kami, aku seperti sudah mengenalnya lama, seperti dia adalah temen lama yang sudah lama tidak bertemu. Ok jun, dont play drama ya! Jangan rusak situai ini dengan perasaan engga penting deh!

“Kamu kuliah di mana??”

seperti nya wajah ini langusng glowing dengan senyum merekah, satu pertanyaan berhasil membuat jutaan kebahagian di hati ku. See?? Muka baby face gw engga bisa di pungkiri!

“Uda kerja aku”

“Oh ya?” Wildan tampak terkejut “di?”

“Bank”

“Udah lama??”

“Mau lima tahun?!”

“Hahaha lama dong”

“Gini-gini juga, dua tahun lagi kepala tiga” ucapku pelan.

“Whats???”

aku menahan senyum ku, “Kamu kuliah?”

“Ya, di jogya, harus nya sih tahun kemarin lulus, tapi sampai sekarang kkn aja belum orangtua udah bawel aja hahahaha”

“How older you??” akhir nya pertanyaan ini keluar begitu saja.

“Tahun ini mau dua dua”

“Whats???” kali ini aku yang terkejut

“Keliata lebih tua ya?”bisiknya

“Iya” aku menganggukan kepala, dan langsung menghitung perbedaan umur kami, dan entah kenapa aku merasa tuaaaa.

Cukup lama kami menghabiskan di teras ini sampai teh kambocha berhasil aku habiskan, dan aku memutuskan untuk masuk kamar karena rasa kantuk mulai menyapa.

“aahh peer banget deh” keluh ku saat melihat letak kasur ku berada di ketinggian, aku memanjat nya penuh hati-hati karena lampu kamar di matikan, sesampainya di atas, mengcek smartphone ku, panggilan terjawab dari Rini dan Mamah, pasti mereka khawatir, kekhawatiran yang berbeda. Mama pasti menunggu kabar ku atau sekedar menanyakan sudah makan atau belum, sudah shalat atau belum, kayak anak kecil ya, tapi aku mengerti, aku anak satu-satu nya dan aku bersyukur aku mempunyai Ibu yang begitu memperhatikan ku namun tetap membebaskan ku, seberapa banyak nya umur kita, kita tetap lha anak di mata orangtua kita, nikmatin aja, mumpung masih di kasih waktu untuk memilikinya. Dan Rini, pasti dia ngira aku lagi mewek-mewek engga karuan, bersedih hati. Dan ada beberapa chat di Wa, sebelum aku membuka wa ku, aku menyimpan nomor Wildan dengan melihat kartu nama yang dia berikan pada ku.

 

 

Wildan

Juni

Ceklis satu

Ceklis dua

Faldi

Gimana jogya? Nemu laki engga lu?

Aku tersenyum kecil, “dia pikir gw mau cari laki apa di sini”

Faldi

Nemu dong, bradley cooper berhasil gw pelet

Ceklis satu

Seperti nya tuh preman uda tidur, dari sore tadi dia nge chat aku.

Aku terkejut melihat nama yang tertera di chat wa ku

Tommy

Juniii ...

Gw di bandung.

Whats ?? dia di bandung?! Kebiasan deh ini laki satu !

Se nyebel-nyebelin ini laki, he’s still or always maybe my favorite man setelah bradley cooper tentu nya. Senior ku waktu di kampus dulu, kami berkenalan saat ada project film indie, dia aktor dan aku menjadi penulis skanario nya. Aku menyukai sosoknya, laki banget pokok nya, kulit coklat, wajah lonjong tegas, kedua alis tebal dengan sorot mata tajam. Gaya nya cuek, dan little arogant sih, pertama kami ketemu, aku sedikit engga suka, karena berasa so cakep aja dengan gaya elegant nya, tapi emang pantas sih dia kayak gitu, mungkin karena dia sadar banget ya diri nya tampan dan penuh daya tarik, tapi pas kenal, nice, ramah, dan pintar. Walaupun tetap aja nyebelinnya, dan jail, hilang deh sisi elegant nya, but he’s still cool one di mata ku.

Tommy

Kebiasaan deh ini laki satu ! engga suka ya sama kejutan-kejutan nyebelin gini, tiba-tiba udah di bandung, engga mungkin engga di plan dulu. Dan gw lagi jogya. ;(

Ceklis satu

Ceklis dua

Mamah sayang

Lagi apa sayang? Udah makan? Udah shalat?

Aku tersenyum kecil, “Mom always be a mom

Mamah Sayang

Maaf ya mam baru balas, ketemu temen baru dan asyik ngobrol. Udah makan dan shalat.

Ceklis satu

Ceklis dua

My Preman

Eh kunyuk kenapa lu engga angkat telepon gw? Lu masih hidup kan ? awas aja ya kalau tahu-tahu di berita di temukan jasad seorang perempuan lompat dari candi borobudor gara-gara di tinggal nikah sama mantan calon suami nya

“Hahahahahaha” stupid thing banget deh ini preman satu

My preman

Somplak lu, ri! Gw masih hidup sehat walfiat, alhamdulillah, iman gw kuat, dan masih pingin meniikmati dunia ini, dan masih yakin bakal ada laki se keren bradley cooper atau song jo ki ngajak gw kawin.... im okay, dear, really. ;*

Ceklis satu

Ceklis dua

Dan sebuah nomor tanpa nama

+682135689...

Boleh aku telepon, Ju??

Rizal

Aku terdiam kaget melihat nama nya, perasaan kesal terasa di hati ku, emang dia pikir dia siapa? Mau sombong sama gw? Mau nge cek seberapa terpuruk nya gw atas pernikahannya? Damn it!!

Piip! Aku menscrool ke atas, melihat siapa yang membalas chat ku

Wildan

Ok jun...If u need anything or something else, let me know yap

Aku tersenyum kecil                                                     

Wildan

Ok, I will ... thank you

Ceklis satu

Ceklis dua

Biru

Ku rebahkan tubuh ini, I’m not okay.

Tuhan, biarkan aku menikmati liburan ku, bantu aku melupakan perasaan yang menyebalkan ini, bantu aku hapus dia dalam ingatan ku.

Dada ini terasa sesak, kesedihan dan kesakitan terasa kuat di hati ini dan aku tidak lagi bisa menahan air mata yang sudah jatuh dari ujung kelopak mati ini. Perasaan-perasaan yang sejak tadi aku tahan, aku abaikan, kini terasa kuat, tak bisa aku bendung, pecah saat aku sendiri. Selimut yang tersedia, aku tarik untuk menyembunyikan seluruh tubuh ini, dan bersembunyi di dalam nya, memeluk diri ku sendiri. Im not okay.

Dan dalam tangis ku, terdengar suara pesan-pesan masuk, ku abaikan

  • ••

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 147