Begin again

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2016
Begin again

 

1

 

Uda berapa lama aku engga liburan? 2 tahun?! Ahh…waktu bergerak dengan cepat, dan baru terfikir seperti nya aku butuh liburan, benar-benar liburan, bersenang-senang, menikmati waktu, menyantap makanan yang enak-enak, menikmati alam, menikmati dunia. Kapan terkahir aku melakukan nya? 2 tahun lalu. Bersama si rizal, mantan calon suami ku-sial, berlibur bersama teman-teman ke Bangkok, liburan pertama dan terkakhir kami sebagai pasangan calon manten setelah 6 bulan kemudian kami memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Dan setelah itu, aku tidak lagi menikmati dunia, tidak lagi dapat menikmati tiap detik waktu yang terlewati, terpuruk dan tenggelam dalam pekerjaan ku untuk melupakan atau setidaknya mengalihkan rasa sakit ku, hang out tiap weekend sampai dapat jackpot, menghilangkan kepenatan dengan beberapa teguk alkohol yang sebenar tidak benar-benar membantu, berusaha se-keras mungkin menyembuhkan kesakitan hati ini tapi tidak pernah benar-benar berhasil sampai aku lelah sendiri melalukan hal-hal bodoh, pelampiasan hingga membuat diri ini rusak.

Ya ini keputusan bersama yang seharusnya nya aku engga segitu nya, toh ini keputusan bersama bukan salah satu pihak yang memutuskan. Tapi tetap aja, hati ini hancur, mimpi indah tentang pernikahan sirna, dan dunia ku menjadi suram durjana-ini bukan lagu dangdut. Melihat seserahan yang tersimpan rapih di kamar ku yang di belikan si Rizal saat melamar ku, melihat cincin pertunangan kami yang masih melingkar indah di jari manis beberapa hari setelah kami memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami berhasil menguras air mata ku, berhasil membuat dada ini sesak, dan berhasil membuat aku jatuh sakit, menjadi lemah. Dan semua barang-barang itu aku jual pada teman-teman, dan hasil nya aku sumbangkan ke beberapa yayasan, teman-teman bilang aku gila, aku bilang untuk buang sial, engga baik juga menyimpan barang-barang seserahan dengan manis atau di museum kan sebagai tanda “gw pernah mau nikah lho! Ini bukti nya, seserahan!” engga gitu juga kan?!

Tapi itu tidak membuat ku membatalkan keputusan kami, tidak membuat ku berjalan ke arah nya lagi, dan ber negoisasi supaya pernikahan kami tetap terlaksana karena aku tahu betul dengan hanya bermodal cinta sama tidak pernah cukup untuk hubungan kami, akhirnya kami sadar itu walaupun cinta adalah modal utama sebuah pernikahan, cinta itu buta, ingat!

Aku dan Rizal adalah dua orang yang sama, karakter kami sama, hampir mirip malah. Sama-sama keras, sama-sama egois, sama-sama mudah terpancing emosi. Seperti dua kutub magnet yang sama tidak akan pernah tarik menarik malah saling menolak, juntrung setiap kali memiliki pendapat yang berbeda, engga pernah mau ngalah dan ngerasa diri kami lha yang paling penting. Ini sudah terasa sejak beberapa bulan kami pacaran, tapi kami sama-sama jatuh cinta, di mabuk kepayang sama cinta, si cupid dengan tepat membusur panah cinta nya pada kami, menjadi pasangan yang Mesra, romantis, manis di mana pun, kapanpun, selalu berhasil membuat siapapun iri melihat kemesraan kami-uuek. Sejak semua ini, aku membenci film drama.

Tahu sendiri kan awal hubungan itu adalah hal yang paling manis dan indah, apa yang ada didalam pasangan kita itu sempurna, semua terlihat baik, engga ada celah, engga ada cacat. Pasangan mau apa, mau gimana, kita usahakan mewujudkannya, dan itu lha terjadi pada kami. Saling mengalah karena cinta, kekurangan di abaikan, kesalahan di kesampingkan, masa bodoh, entar juga berubah, kami jatuh cinta, semua terasa indah, bahagia seperti terbang ke langit ke tujuh dan akhir nya kami memutuskan untuk merencanakan, naik ke jenjang yang lebih serius menikah setelah 1 tahun kami pacaran, dan setelah itu lha semua terjadi.

Aku pernah mendengar, Tuhan akan memberikan ujian dari pilihan yang kamu buat, hanya untuk menyakinkan apakah kamu yakin dengan pilihan kamu atau hanya sekedar nafsu. Dan itu yang terjadi, cinta kami makin lama makin berkurang, sering berdebat, perang ego, perbedaan prinsip. Untuk ku perempuan memiliki kebebasan memilih, asal masih tahu batas, tidak melanggar kodrat sebagai perempuan, pekerjaan ku sebagai marketing di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia menuntut ku untuk banyak bertemu klien, nasabah, bagaimana cara nya tersenyum, bagaimana menjadi ramah tapi engga murah, dan aku menikmati itu, aku tidak melanggar kode etik apapun, tidak pernah memiliki hubungan jauh dengan nasabah, dapat mendapat jaga sikap ku selama ini, dan aku suka berteman karena aku yakin koneksi adalah salah satu hal yang dapat mengembangkan diri ku lebih baik. Tapi tidak dengan si Rizal, lama-lama dia semakin protect, posesif, buat dia masalah bagai nya aku harus beramah tamah dengan nasabah, bagi nya aku lebih baik pulang naik kendaraan umum malam-malam dari pada ada temen laki laki mengantar ku sampai depan rumah, bagi nya saat aku harus fokus akan diri nya dan dia harus ada kemanapun aku pergi. What the hell Coba? Belum jadi suami uda segini nya, aku ini perempuan, manusia, bukan boneka atau barbei yang dia bisa atur sesuka nya dan aku bukan lagi anak kecil, cewe SMA yang engga tahu mana yang salah dan bener, yang seneng dikasi perhatian yang membuat aku merasa tercekek, aku ini perempuan, wanita yang lebih butuh dukungan untuk berkembang dengan baik-bukan memamak biak ya, lebih butuh di percaya daripada pada seperti burung dalam sangkar emas. Bagi si Rizal yang pengusaha sukses bukan hal yang sulit mengatur waktu agar sama ritme nya sama dengan ku, membelikan barang-barang branded yang menurutnya bagus untuk ku, mudah bagi nya, maka nya dia kapan pun dan di mana pun dia menjemput ku, merasa aku hak milik nya, membuat aku menjadi ketergantungan, bahagia di awal tapi aku merasa banyak yang hilang dalam diri ku seperti aku kehilangan diri ku. Apa itu sehat ?

Aku merasa tidak siap hidup dengan dia yang seperti, terkekang, terkukung, seumur hidup ku?! Asal aku tidak lupa kodrat ku sebagai perempua kan?! Lagi pula bukan nya menikah itu untuk se-umur hidup? Bukan ajang coba-coba, bukan juga untuk title status, atau bukan cuman untuk menjadi halal dalam hubungan seks. Right? Tapi lebih sakral dari itu, karena pernikahan itu sebuah commitemnt sama Sang Maha Pencipta, bukan lagi janji antar manusia yang saling mencinta.

Lho lho pie iki kok aku jadi bahas masa lalu ku sama si Rizal sih? Ternyata 2 tahun belum cukup untuk kumelupakan semua nya, kayak baru kemarin hari semua terjadi. Sepertinya aku butuh mesin pencuci otak.

Back to vacation…ke mana ya??

“Jogya aja ju” Rini memberikan ide dari sebrang handphone ku, aku sengaja menelepon nya hanya untuk menanyakan liburan ke mana. Penting banget ya nelepon sahabat untuk nanya liburan ke mana yang okay?! keliatan banget kehilangan arah nya.

“Jogya?? Ada apaan disana? Perasaan cuman ada borobudur sama prambanan?!” bingung ku “sejak jaman gw kecil mpe terkakhir pas smp ke sana, bentuk nya gitu-gitu aja”

“hahahaha ya iya kali lu kesana.. siapa tahu kan Miss workholic kita satu ini bosen sama bentuk mall-mall jadi bangunan-bangunan bersejarah bisa menyegarkan mata lu

“Sialan lu” timpal ku “serius gw…ke mana?”

“Serius juga gw juni sayang, lu ke jogya, disana tuh banyak yang bisa lu nikmatin, alam nya, kuliner nya, dan mas-masa Jawa nya” sindir nya saat mengatakan bagian mas-mas Jawa penuh dengan tekanan, mentang-mentang gw jomblo akut yang uda lama gak di Balai kasih sayang, seolah haus akan lelaki, jadi sasaran empuk buat di bully. Sialan.

“ya ntar gw culik aja sekalian mas mas Jawa nya terus gw bawa ke bandung terus gw kawin deh tuh mas mas” kesalku

ambeukeun sih orangnya kayak pembuat gw aja lu” sendiri Rini cengengesan “tapi serius deh nih juni sayang, minggu kemarin gw sama si bojo balik dari semarang mampir ke jogya, uda lama juga kita gak sana, dan kita ke pantai nya gitu, keren banget ju, masih bersih, sebenernya banyak tempat yg bisa di Explorer disana bukan cuman prambanan dan borobudur nya aja, wisata kuliner nya ok juga lho” jelas rini detail udah kaya duta pariwisata yang menjelaskan dan menjual tempat wisata sebuah kota.

Aku terdiam beberapa detik, mengingat kapan terakhir kesana, dan seperti apa Jogya dalam benak ku. Malioboro yang crowded, udara yang panas, gudeg yang engga aku suka. Tapi…apa salah nya? Pantai? Kayak apa pantai di jogya? Emang ada ya?

“Ntar gw tanya sama mbah google deh”

“oh jadi lu lebih percaya sama mbah google dari pada?!”

“Ya iyah lah wawasan doi tuh lebih luas daripada lu”

“sialan lu ju”

“eh cewe bunting ga boleh kasar ngomong nya, inget bayi lu bisa denger, malu doi punya emak kayak lu” balas ku puas.

“hahahaha juni ngomong nya manis banget minta di tampol deh” terdengar suara munafik

“uda ye gw mau rapat nih, siap-siap di marahin sama obos nih banyak nasabah nunggak”

“Good luck hon”

“ok..sehat lu ya”

Telepon tertutup

Selama meeting berlangsung dalam ruangan luas dengan suhu ac yang dinginnya cukup menusuk kulit-kulit hingga bulu kuduk merinding, teman-teman sesama team marketing yang uda kayak siap mau di kasih hukuman pancung gara-gara nasabah banyak yang nunggak semakin horor aja dalam ruangan ini, udah mah chief marketing kami yang bertubuh tambun kayak gentong seolah-olah siap malahan kami hidup-hidup dengan kedua mata sipit tajam menusuk kami satu satu. Tapi jauh dalam pikiran ku, entah kenapa aku memikirkan jogya? Mengingat ingat saat aku ke jogya selama 2 minggu penuh liburan akhir semester saat aku masih smp. Waktu itu kakek menjabat di PT KaI sebelum masa pensiunan dan aku menghabiskan masa liburan ku di jogya. Panas dan crowded nya malioboro yang aku ingat, setelah itu aku tidak mengingat apapun. Pantai? Seperti apa pantai di jogya? Setahu aku ada gunung Bromo?! Eh itu kan di Surabaya ya, bodoh.. bodoh. Aku cuman bisa mengingat suku bunga, dan berapa ratus juta lagi target ku untuk tahun ini.

“lu pernah ke jogya, Git?” tanya ku setelah meeting selesai, menyusuluri lorong kantor, aku menatap wajah-wajah temen seperjuangan ku, lemah, lesu, pasi, wajah-wajah pasrah, lunglai.

“Pernah ju” jawab Gita dengan muka lesu nya, laki laki berotot macem dia pun d buat KO sama si kentung.

“Seru? Kata nya ada pantai ya?”

“Seru atau engga mah tergantung sama siapa lu pergi, ya banyak pantai” jawab gita “lu mau ke sana? Sama sapa?”

Iya ya sama siapa? Baru kepikiran pergi sama siapa.

“Belum tahu, nanya-nanya aja dulu”

“kirain mau berlibur sama cowo baru lu”

“cowok baru dr mana?”

“oh masih jomblo?! Betah banget atau engga bisa move on?!” sindir Gita cengengesan.

“Apa sih?!

“move on dong ju, uda dua tahun juga, betah banget sendiri “

“lebih baik sendiri ya daripada ngabisin waktu sama orang yang engga tepat” lengos ku berjalan mendahului gita, uda malas deh bahas yang kayak beginian

“Hahaha cantik-cantik gampang ngambek”

“bodo”

“Tunggu gw di kantin ya”teriak Gita.

Sambil nunggu Gita yang entah kenapa belum datang, aku mengarungi Mbah Google mencari tahu tentang Jogya dengan smartphone ku, terduduk anteng di kantin sambil menikmati nasi liwet kantin kantor yang enak nya pake banget.

“Sendiri aja neng? Jomblo ya?”ejek Gita yang kemudia terduduk di sampingku dengan wajang puas mengejek ku.

“Eh hati-hati lho keseringan ngejek jomblo, ntar jadi ikutan jomblo?!” ucapku penuh dengan ancaman doa.

“Hehehe piss deh, maaf yang mblo, eh neng ...jangan dong” Gita tersenyum lebar.

“Makan apa lu?” tanya ku melihat isi piring yang di bawa Gita

“Baso tahu!”

aku mengangguk kepala, “Git, keren juga ke jogya, gw baru liat-liat nih di mbah Google”

Gita mengunyah baso tahu yang baru di lahap nya, “Jogya tuh lagi naik daun. Bulan kemarin gw baru ke sana sama cewek gw, pantai nya masih bersih, lu search deh gunung kidul”

“Sama cewe lu? Bulan madu? Mau buat anak?” sindir ku

“Enak aja, belum halal toyiban! Main aja sama keluarga”

“Iya ya. Gw uda cek gunung kidul, seru kayak nya” aku melihat Gambar salah satu pantai “Jauh gak dari Jogya nya?”

“Lu nginep nya di daerah kota gede aja, gw ada hostel langganan di sana, tempatnya keren” Gita kembali menusuk baso tahu, menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai

“Hostel? Apaan tuh? Motel gitu?” tanya ku kemudian menyuap satu sendok nasi liwet, sumpah deh ini nasi liwet enak banget pake asin teri.

“Kayak homestay gitu, khusus untuk backpacker” singkat Gita kemudian mengambil smartphone nya “Nama nya Bhumi, kota gede, lu seacrh aja, kalau lu suka, lu book aja langsung, murah kok, lumayan lha” lanjut nya dengan tangan satu nyan mengetik keyword smarphone nya.

“Ok” aku mengangguk mengerti “Tapi kota gede bukannya jauh ya dari jogya?”

“Setengah jam nyampe”

aku mengangguk kepala mengerti

“Lu berangkat sama siapa? Kapan?” tanya Gita akhir nya menatap ku.

“Dua minggu lagi kayak nya” jawab ku kemudian meneguk teh hangat “Sendiri mungkin”

“Sendiri? Lu ada temen di sana?”

aku menggelengkan kepala, “Engga ada”

“Keluarga?”

“Engga ada, di semarang ada”

“Berani?”

aku menatap Gita, “Setelah apa yang terjadi sama gw, setelah apa yang gw lalui, lu masih nanya gw berani sendiri ke jogya?!”

“Heheh..ya ya, gw percaya lu berani, mandiri, gw kan khawatir aja, cewe se cantik lu, se menarik lu, di kota asing yang lu engga kenal satu orang pun, siapa tahu kan ada yang nyulik?!”

“Talk to my hand!”

“Hahaha...tapi bener deh ju, hati-hati!”

“Iya” jawab ku kesal “gw sempat ragu sih untuk pergi sendiri, apa kabar gw nanti ya di sana, gimana gw disana, atau hal-hal seperti itu. Tapi ... gw memang membutuhkan hal ini, pergi ke suatu tempat yang di mana engga ada orang yang kenal gw, berpetualangan, menemukan hal-hal baru, ya cuci otak setelah semuan yang terjadi. Gw pikir ini waktu nya gw mengambil nafas, menikmati hidup gw, berhenti sejenak dari kerjaan gw yang menguras segala waktu, tenaga, dan pikira gw. Right?”

Gita tersenyum, “Right! Lu pantas mendapatkan itu!”

“Thank you”senyum ku senang

Yup! Aku pikir ini waktu nya untuk melepaskan segala kepenatan, ini waktu nya aku menemukan sesuatu yang baru, karenan selama dua tahun ini hidup ku flat, melalui kegiatan yang sama di tiap hari nya, bahkan aku sudah hafal benar apa yang terjadi esok hari, berpacu dengan waktu. Kini giliran, aku menikmati waktu.

 

***

 

“Guk! GUK GUK GUK!!!” terdengar suara gonggongan anjing dari dalam sebuah rumah tempat di mana Taksi yang aku naiki terhenti, baru saja aku membuka pintu Taksi langsung terdengar suara anjing menggongong dari rumah yang mungkin menjadi tempat penginapan ku, aku langsung menutup kembali pintu taksi, aku takut anjing!

“Kenapa toh mbak?” tanya Bapak Taksi bingung “salah rumah toh mbak? Tapi ini bener kok mbak, bhumi hostel, itu ada plang nya”cerocos bapak taksi, semakin membuat aku panik kebingungan.

“Saya takut anjing pak, kayak nya di situ ada anjing pak” aku melirik keluar kaca, teringat kembali kenangan buruk tentang anjing di masa kecilku, di kejar hingga aku terguling membuat aku nangis histeris.

“Oalah piye toh mbak? Emang engga di cek dulu sebelum pesen?”

Si bapak malah bawel lagi tapi emang salah ku sih engga nge cek detail, cuman gara-gara suka sama bentuk rumah nya yang terlihat nyaman bagi ku dengan tempat tidur bergaya dorm yang terkesan keren aku langsung memesan seminggu penuh tanpa mengecek yang lain nya.

Tepat 1 jam yang lalu aku sampai di jogya, langsung di sambut dengan terik matahari kota Jogya, panas seperti terbakar namun entah kenapa aku begitu bersemangat langsung mencari taksi untuk pergi ke tempat penginapan, merasa diri begitu berani. Namun semangat dan keberanian ku sirna saat mendengar gonggong anjing yang terdengar seperti membentakku, menolak kehadiran ku.

“Jadi gimana ini, mbak??”

“Ntar ya pak, saya mikir dulu ya pak?!” aku memutar otak, berusaha menenangkan diri, menghadapi Chief Marketing yang galak nya minta ampun aja aku berani, liat-liat tunggakan nasabah engga pernah bikin aku nelangsa, tapi kenapa cuman anjing aja berhasil bikin aku jiper, pengecut, dan penakut gini sih?!

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara kaca taksi terketuk, membuat ku terkejut.

Seorang laki-laki berwajah asing terlihat di balik kaca, melihat ku dan kemudian melempar senyum kecil pada ku, aku terdiam beberapa saat melihat laki-laki berwajah manis ini, dengan ragu membalas senyumannya dengan senyuman kecil. Siapa??

Dia memberikan aku isyarat untuk membuka kaca, aku membuka nya.

“Iya, mas?” tanya ku bingung karena dia terlihat muda jadi aku pikir memanggilnya denga mas. Tubuh yang berbalut kulit coklat terlihat dari kaos tanpa lengan dengan otot-otot kecil di lengan nya, wajah yang terlihat ramah, tersenyum hangat menatapku, seolah aku bukan orang asing bagi nya.

“Juni ya?” tanya nya akrab menyebut nama ku

siapa ya? Kok tahu nama ku? Aku se terkenal itu sampai kepolosk Jogya?! Mikir apa sih lu, ju?!

“Iya, saya Juni”

“Kita udah nunggu kamu dari tadi” senyum nya lega menatapku dari wajah nya yang...cakep!

“Hah?

  • view 236