Pesan untuk Bapak dan Ibu Guru  

Bebe
Karya Bebe  Kategori Renungan
dipublikasikan 25 November 2017
Pesan untuk Bapak dan Ibu Guru   

 

SELAMAT HARI GURU NASIONAL !

Ucapakan selamat yang terlontar dari orang lain padamu, bukanlah sebuah sanjungan yang malah membuatmu terlena. Jadikan segala sanjungan yang mereka berikan sebagai bahan untuk mengevaluasi diri kedepan. Kadang kita merasa sudah melakukan banyak hal saat orang lain menyanjung kita, padahal yang kita berbuat belum banyak.

Sudah sejauh mana usaha kita untuk mencetak generasi penerus bangsa?

Jika kamu hanya mampu membuat muridmu pandai dalam hafalan, pandai dalam hitung-hitungan namun belum mampu memberikan manfaat terhadap sekitarnya maka tugas kita belum selesai.  

Sudahkah menjadi guru Zaman Now yang siap berkembang dengan kemajuan zaman ? atau maasih betah dengan gaya mengajar kuno yang tidak disukai anak-anak zaman sekarang ?  

“kita kan sudah tua, biakan yang muda saja yang belajar”

Balajar itu, tidak mengenal usia. Barang kali rasa malasnya saja yang bertambah, dan parahnya lagi jika kita masih muda namun sudah berhenti untuk belajar. Berhenti belajar sama saja berhenti menjadi seorang guru. Guru itu, belajar 2x lipat. Karena tujuan seorang guru belajar adalah untuk dirinya dan untuk muridnya.

Bu … Pa …

Sudahkah bertindak sebagai teman yang berkualitas dikelas, bukan menjadi seorang komandan apalagi seorang diktatoris dan raja dikte!.

Sudahkah kita menjadi guru yang tidak memperlakukan semua murid sama ? memaksimalkan potensi murid-murid yang ada dikelas bukan sebagai produk yang sama.

Bu … Pa … akan ada dari mereka yang menjadi dokter, tentara, polisi, seorang pemimpin, ulama bahkan menjadi seorang guru, dan apabila kita memberi contoh buruk untuk calon-calon guru yang mendatang, apa jadinya masa depan bangsa ?

Sudahkah kita memberikan hal yang lebih bermanfaat dari sebuah teori yang mungkin kelak tidak mereka butuhkan dalam kehidupannya ? sudahkah kita mengajarkan hal-hal realistis yang lebih bermanfaat bagi mereka ?

Profesi ini bukan main, butuh sebuah profesionalitas penuh.

Karena profesi inilah yang akan menghasilkan profesi-profesi besar kelak.

Mari kita mendalami apa yang diucapkan oleh bapak Pendidikan kita KiHajar Dewantara, sebuah slogan yang harusnya tidak hanya menjadi sesuatu yang dihafal oleh guru, melainkan di implementasikan dalam setiap dedikasinya.

“ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

*maaf bila penjabaran makna katanya salah, sungguh sebuah masukan untuk memperbaiki lebih baik dari pada celaan yang tidak membawa manfaat.

Ing ngarsa sung tuladha : di depan menjadi panutan

Tutur kata ataupun perilaku seorang guru patut untuk dijaga. Manusia memang tidak luput dari kekhilafan dan perilaku yang menyimpang. Namun, perilaku yang sengaja menyimpang jika terus diulang akan menjadi sebuah kebiasaan. Baik ataupun buruknya lisan seorang murid tentu saja karena pengaruh orang yang mereka temui dalam keseharinya. Jika lingkungannya buruk dalam bertutur kata, maka seorang guru sudah sepatutnya untuk menjadi panutan. Lakukan dengan sikap bukan hanya dengan sebuah nasihat yang dirinya sendiri bahkan tidak melakukannya.

Ing madya mangun karsa : ditengah memberi semangat

Bagaimana pendapat kalian jika guru yang masuk ke kelas membawa banyak masalah hidupnya, sehingga kamu bisa melihat tidak ada semangat dalam hidupnya. Sebanyak apapun masalah pribadi seorang guru, maka dikelas dia harus menjadi seseorang yang dapat melupakan itu semua.

Poker face (paham ga? Kalo nggak yaudah skip)  

Semangat hanya dapat tertular dari seseorang yang memiliki sumber semangat. Salah satu sumber semangat dikelas adalah guru. Tidak cukup dengan itu, ciptakan inovasi dikelas agar murid bersemangat dalam pelajaran.

Tut wuri handayani : dibelakang memberikan dorongan atau arahan

Sudah paham ya apa yang dimaksud oleh slogan yang terahir ini. Dari belakang guru memberikan arahan, tapiiii bukan memaksa murid untuk mencapai tujuan yang kita arahkan, melainkan membantu mengarahkan murid kepada tujuannya, memberikan motivasi untuk cita-citanya, bukan mematahkan cita-citanya.

Bu.. Pa…

Saya belum lama menjadi seorang guru, tidak lebih lama dari bapak dan ibu yang sudah mengabdi puluhan tahun, namun jika ibu dan bapak rasa kata-kata yang saya katakan mengganggu mohon maafkan saya. Bahkan jika saya harus menilai kelayakan saya menjadi seorang guru, saya masih merasa belum pantas.

Tapi saya yakin, profesi ini adalah profesi yang Allah Ijinkan saya untuk melakukannya.

*maaf bila banyak kata yang salah, sungguh sebuah masukan untuk memperbaiki lebih baik dari pada celaan yang tidak membawa manfaat.

Selamat hari Guru.

Akhir kata

Mari kita luruskan kembali niat, mencetak generasi gemilang untuk Indonesia yang cemerlang untuk masa sekarang dan masa mendatang.

 

 

  • view 49