Wawancara kilat

Bebe
Karya Bebe  Kategori Project
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Wawancara kilat

Bel istirahat berbunyi, tentu saja karena ada yang menekan bel, dan memang sudah waktunya juga anak-anak untuk istirahat. Mendengar bel mereka kemudian berlarian keluar kelas sambil berteriak YEEEEEEE !!!!! mengapa harus teriak YEEE ? apakah mereka saat mendengar bel seperti mendengar seseorang bertanya. Apakah huruf setelah X? Yeeeeee   (ditulis Y).

Karena anak-anak keluar kelas untuk istirahat, tentu saja saya juga harus, karena ngapain saya terus ada dikelas, memangnya saya penjaga tas anak-anak? Tentu saja tidak. Saya harus istirahat juga, harus makan, harus minum, harus jajan dan harus bernafas juga sebagaimana hal itu dilakukan oleh anak-anak.

Kemana lagi saya pergi saat istirahat selain ke warung Mak Imoet untuk merasakan nasi gorengnya yang bisa ngambil semaunya dan bayar seiklasnya dengan catatan harus tahu diri dan tidak merugikan. Mak Imoet itu baik, nanti setelah tulisan ini akan ada bagian khusus yang membahas tentang Mak Imoet.

Saya ambil beberapa kertas yang saya kemudian lipat dan masukkan kedalam saku celana. Tidak lupa saya juga bawa kelomang ke tempat Mak Imoet. Itu kelomang bukan punya saya tapi punya murid saya yang terpaksa saya rampas karena dia mainkan kelomang saat saya sedang mengajar. Setelah pulang sekolah tentu saja akan saya kembalikan, maka dari itu saya harus jaga agar kelomangnya tidak kesepian dikelas kemudian mati. 

Tiba di warung Mak Imoet, seperti biasa anak-anak selalu pindah tempat duduk seakan mereka mempersilahkan saya duduk lebih dekat dengan gorengan dan jajanan yang memaksa saya harus mengeluarkan kertas bergambar pahlawan yang tinggal di dompet saya (maksudnya  : uang).

Saya duduk, Mak Imoet langsung bertanya.

“mau makan apa?”

Saya menggelengkan kepala

“oh lagi ngirit buat biaya nikah ya?”

“jangan bahas nikah Mak, nanti saya lapar”

“Hahaa makan atuh”  (makan dong)

“Iya nanti mau, sekarang mau wawancara Mak Imoe, boleh nggak?!” kata saya sambil mengeluarkan kertas dan bulpoin.

“Hah?”

“wawancara”

“Wawancara apa?”

“Wawancara Mak Imoet”

“Naha di wawancara?” (kenapa di wawancara?)

“Saya mau buat buku mak, nanti saya ceritain Mak Imoet di buku saya, supaya seluruh dunia tahu kalau mak imoet itu baik, suka kasih saya makan pas jam istirahat, yang suka ngasih saya bubuk gorengan klo saya jajan gorengan minimal 2000”

“haha kamu jajan nggak jajan juga Emak kasih bubuk gorenganmah, gratis!!”

“emangnya emak nggak takut rugi?”

“nggak”

“jadi Mak Imoet mau ga diwawancara?”

“iya sok” jawab Mak Imoet yang kemudian senyum-senyum saat saya mulai menulis.

Yes Mak Imoet mau ! hati saya senang. Saya mulai menulis

“nama asli Mak Imoet siapa?” kemudian saya katakan ke mak imoet “Mak baca”

“Naha Mak kudu maca?” (kenapa Mak harus baca?)

“di tes Mak, siapa tahu Mak Imoet lupa caranya baca, kalau Mak Imoet lupa nanti saya tambah kursi di kelas buat Mak Imoet, nanti saya ajarin. Gratis! Klo di bayar juga boleh, pake bubuk gorengan“

“hahaha” mak imoet ketawa  

“Mak bisalah baca, masa nggak bisa !”

“na-ma asli mak imoet sia-pa?” setelah membaca kertas itu kemudian langsung menjawab.

“Eti”

 “Eti saja? Eti hungkul? Eti doang?, Eti only? Just Eti?” kata saya merespon

 “Iya Eti saja”

Saya kembali menulis

“kalau Abah ?”saya menulis lagi

“Nanang Sudarman” jawab Emak Eti

Saya menulis lagi, dan menunjukannya pada Emak Eti untuk dibaca

“Alhamdulilah Mak Imoet masih inget nama suami” kata Emak imot membaca tulisan yang saya tunjukan.

“Hahaha”  Emak  imoet ketawa setelah membaca apa yang saya tulis itu. mungkin di benak Mak Imoet bertanya-tanya “kenapa sih anak ini?” sebenarnya saya nggak enak sama Mak Imoet karena harus menyuruhnya seperti itu, tapi nggak apa-apalah sesekali, lagipula Emak imoet juga tidak keberatan dan tidak berniat mengutuk saya jadi jajanan rentengan.

“Kenapa Mak Imoet bisa suka sama abah ?” tulis saya

“Jadi dulu, ketika abah sedang bangun jembatan di Baued (deket rumah Mak Imoet), Mak sering ngeliat si abah, dan si abah waktu itu suka sama mak imoet karena rambut Mak yang panjang”  jawab Mak Imoet sambil melayani anak yang jajan.

“Oh jadi dulu Mak Imoet rambutnya panjang mirip Rapunzell gitu,” saat saya menulis kemudian saya coret lagi, mana mungkin Mak Imoet tahu siapa itu Rapunzel, yang dia tahu cuman Rita Sugiarto, Heti Kusendang dan Bang Haji Roma Irama.

“Emak ingin nasi goreng” tulis saya

Emak imoet langsung memberikan satu piring nasi goreng dan ceker ayam, dan memberikan makanan itu seraya berkata “tah ieu Raden, hayang nasi goreng  meni kudu di tulis” (ingin nasi goreng sampe harus di tulis)

Nggak apa-apa Mak , biar Mak capek kata saya didalam hati yang membuat si Mak tidak bisa mendengar tapi dia masih bisa melihat saya tersenyum karena hal yang telah saya lakukan itu. 

Setelah memakan nasi goreng Emak Imoet.

“Emak saya bisa ngomong lagi, setelah makan nasi goreng emak! Ajaib !”

“Teuing ah !” (nggak mau tahu ah!)

“Ih si emak, sombong”

“Udah wawancaranya?”

“Udah, wawancara kilat jangan banyak nanya, jangan lama-lama, nanti emaknya males dagang”

“Terserahlah”

“Mak Imoet”

“Apa?”

“Tulisan saya jelek ya?” kata saya sambil melihat tulisan hasil wawancara dengan Mak Imoet

“Bener! haha”

“Pasti gara-gara sering makan ceker ayam Mak Imoet?”

“Teu nyambung!” (nggak nyambung) maksudnya, mana mungkin ada kaitannya kualitas tulisan seseorang dengan apa yang dia makan.

“Nggak enak yah jadi ayam, selalu di fitnah!”

“Maksudnya?”

“Iya, kalau tulisan jelek pasti disebut ceker ayam, kalau mahasiswi yang murahan suka di bilang ayam kampus, terus ayam suka di mutilasi, kepalanya dimakan, pahanya, dadanya, sayapnya, cekernya, bulunya di pake kemoceng kasian yah ayam. Padahal ayam juga pasti ingin seperti tikus”

“Teuing ah” artinya “nggak tau ah’

“Mak, goreng nih !” kata saya sambil memindahkan kelomang yang tadi saya simpan di kursi dan sekarang saya simpan di meja agar Mak Imoet liat.

“Naon eta?” (apa itu?)

“Kumang” di daerah saya, kelomang disebut kumang.

“Maenya makan nasi goreng jeung goreng kumang, aya-aya wae!” (masa makan nasi goreng dengan goreng kelomang, ada-ada saja!”

“Kan mak yang duluan nyoba”

“Emung teuing” itu adalah kalimat penolakan dalam bahasa sunda yang artinya -“Nggak mau”

“Dipepes atuh!”

“Mak baru denger kumang di pepes!”

“Yaudah saya pergi ah, berapa mak?”

“7000”

Saya mengeluarkan uang 10.000

“Mak kembaliannya buat emak!”

“Kemarin gehu, sama goreng tempe kan belum dibayar” kata emak imoet sambil menodongkan telunjuknyapada saya supaya ingat kejadian kemarin bahwa karena tidak bawa uang saya terpaksa harus membayarnya kemudian hari, tentu sebenarnya saya ingat tapi pura-pura saja lupa biar menguji Emak Imoet

“Oh iyah, itu emak tahu, tapi jadi pas kan?”

“Iya, harus di kasih terigu kamumah, biar mak nanti goreng”

“Jangan mak, belum nikah”

Tring * saya hilang. Tentu saja bukan karena kekuatan gaib. Itu karena saya berlari.

Ya Tuhan, berikan kesehatan pada Mak Imoet yang sekarang sudah jarang dagang oleh karena kesehatannya yang mulai terganggu.

  • view 120