Reuni dadakan

Bebe
Karya Bebe  Kategori Project
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Imam Murid

Imam Murid


hidup adalah tentang bagaimana kita belajar dan mengajari. hidup dalam keadaan bahagia itu penting, tapi mengajak anak-anak berbahagia itu tidak semudah memasak mie instan rasa ayam bawang.

Kategori Humor

336 Hak Cipta Terlindungi
Reuni dadakan

Pagi-pagi sekali Mamah sudah bangunkan saya dari tidur. Saya diminta untuk pergi kepasar, dengan menggunaan alasan kesetaraan gender, katanya laki-laki tidak apa-apa kalau belanja kepasar. Sementara bagi saya lelaki yang boleh pergi ke pasar untuk belanja itu hanyalah sarimin. Sarimin itu monyet dan monyet itu tidak sekolah dan tidak ikut bimbel.

Dengan berbekal uang belanja dan catatan yang harus dibeli saya akhirnya pergi ke pasar sendiri. Kata Mama, belanja dipasar melatih ketangkasan, skill tawar menawar menjadi meningkat dan bau badan pun akan terasa menyengat.

Di tengah pencarian, saya menemukan sesuatu yang tidak saya niatkan untuk mencarinya. Saya menemukan Randi. Dia adalah manusia dan pernah menjadi kawan sebangku saat SMA selama 1 tahun. Begitulah cara Tuhan bekerja. Memberi lebih dari apa yang dicari hambanya.

Randi adalah kawan saya saat kelas satu SMA. Harus saya sampaikan kepada kalian, kepada Presiden, kepada Mentri Pendidikan, tukang sayur di pasar atau kepada seluruh rakyat Indonesia jika Randi ini adalah seseorang yang pandai matematika? Saya rasa tidak perlu karena kepandaiannya dalam matematika sekarang, tidak membantu bidang pekerjaannya. Dalam hidup saya, peran seorang Randi sangat di butuhkan saat ada tugas, ataupun PR matematika. Catatannya sering saya bawa pulang untuk saya salin atau saya coret-coret halaman belakangnya dengan kata-kata yang norak seperti yang sering kita di jumpai di toilet-toilet yang tidak terawat di Indonesia. 

Randi bertubuh tinggi, dia tinggi bukan karena minum susu ataupun berenang. Dia tinggi karena faktor genetik. Ada dua hal yang tidak disukai Randi dari saya, yang pertama adalah saat saya mengupil didepan dia dan upilnya saya tempelkan di rambutnya dan yang kedua adalah dia tidak suka jika saya panggil dia tiang jemuran, jika saya sampai memanggilnya tiang jemuran dia akan langsung membalas dengan memanggil saya kontet.

“Yo apa kabar ?” kata Randi yang terlihat sangat terkejut saat bertemu dengan saya

“Baik, kamu bagaimana?”

“Selalu baik” jawab Randi

“Kemana aja ?”  kata Randi menambahkan, sambil menepuk pundak saya

“Ada, biasa sibuk ngurus buaya”

“Hahaha, teu baleg ari ditanya teh!” artinya nggak bener kalau ditanya

“Belanja yo?”

“Ah engga, lagi nyari ulet sayur euy”

“Buat apa?”

“Buat cemilan"

 “Sudah jangan ngelantur terus, ke rumah aku yuk ! sekalian kita reuni.”  ajak Randi

“Berdua ? nggak akan disangka ngedate ?”

“Iya, emang mau ajak siapa lagi”

“Jangan pegang-pegang ya !”  kata saya 

“Enggak, aku masih normal”

"Kamu ngak akan ngajak saya untuk jadi downline kamu kan?”

"Enggak, saya nggak ikut MLM"

“Yaudah ayo” kata saya mengiyakan.

Saya putuskan untuk mengunjungi rumah  Randi setelah mengantarkan belanjaan kepada Mama terlebih dahulu.

 Setibanya di rumah Randi saya merasa sedang bernostalgia, sudah beberapa lama tak pernah berkunjung ke rumah teman. Saya masih bertanya-tanya, sebenarnya entah untuk apa saya pergi ke rumah Randi, mungkin untuk sekedar mengobrol mengingat masa SMA sambil meneguk secangkir kopi tanpa sianida.

Reuni dadakan berjalan apa adanya, meski hanya berdua kita sepakat tidak menyebutnya dengan ngedate dadakan. Meski 1 tahun telah duduk sebangku dengannya tapi sejujurnya tidak ada benih cinta diantara kita berdua.

Senang rasanya melepas rindu setelah empat tahun tidak bertemu. jika kita berdua adalah wanita pasti kita akan saling peluk, cium pipi kanan, cium pipi kiri, tapi kami tidak melakukan itu semua, percayalah.

Saya duduk di sofa rumahnya yang nampak baru.

Randi datang dengan membawa secangkir kopi

"Mas, saya kan pesan teh manis, bukan kopi ?" kata saya sambil melotot

"maaf pak, tapi ketika di dapur ini teh manis, ketika nyampe sini sudah jadi kopi"

"HAHA, masih pandai ngeles nih bocah"

"ah biasa saja" kata Randi dan dia segera duduk

Saya meneguk secangkir kopi yang dibuatkan kawan lama saya, sebelum saya meneguk secangkir kopi yang telah dibuatan Randi, tidak lupa saya berterimakasih "Makasih Say" dan Randi menggelinjang kegelian.

Kita sering menduga apa yang akan ditanyakan oleh kawan kita setelah lama tidak bertemu. Jika kita bertemu dengan kawan SMP setelah sekian lama tidak bertemu maka pertanyaan yang akan muncul adalah “eh kamu SMA dimana?” jika kita bertemu dengan kawan SMA setelah sekian lama tidak bertemu pertanyaan yang muncul adalah “kuliah dimana ?” dan setelah sekian lama kita tidak bertemu dengan kawan kita setelah kita lulus kuliah maka pertanyaan yang mungkin muncul adalah “kerja dimana” tapi Randi berbeda. hal pertama yang ditanyakan olehnya adalah.

“Udah nikah ?” Tanya Randi

“Belum” jawab saya seadanya

“Punya pacar?” Tanya Randi

“udah putus”

“Jomblo ? cari lagi dong !”

“Nanti kalau sudah mau” 

“Indah bagaimana ?” Tanya Randi

Indah adalah teman sekelas ketika kelas satu SMA, dia adalah wanita yang pernah saya suka. Meski dia memiliki kembaran yang sangat mirip, tapi saya memilih Indah dari pada kembarannya yang bernama Ayu, alasannya sederhana karena cinta itu tidak butuh alasan, tapi jika kalian tetap memaksa agar saya memberikan alasan maka dengan tegas saya terangkan pada kalian jika alasan saya menyukai Indah karena nomer absennya berada dibawah Ayu. Hmm… cukup masuk akal?

Kembali pada pertanyaan Randi, saya menjawab dengan apa adanya.

“Dia sudah menikah, sudah punya anak” jawab saja

Randi kaget, kemudian melemparkan pertanyaan kembali pada saya

“Kamu kapan ?”

“Kapan apa ?”

“Nikah ?”

“Nanti kalau sudah ingin, kalau sudah mapan dan mampu untuk menikah” 

“Jangan menunggu mapan” kata Randi sambil meneguk kopi kemudian melanjutkan ucapannya  “mapan saat menikah itu lebih menarik dari pada mapan sebelum menikah, coba deh !” kata Randi yang sedang membicarakan teori tanpa pengalaman yang belum diaplikasikannya. 

“Iya nanti setelah ada uang, lagi pula kamu sendiri juga belum nikah kan ?”

“Jangan banyak milih, kamu akan kehilangan orang setia jika terus mencari yang sempurna” kata saya menambahkan dari quotes yang pernah saya baca entah dari mana.

“Sekarang kamu kerja dimana?” Tanya Randi mengalihkan pembicaraan

“Di sekolah”

“Jadi penjaga sekolah ?” kata Randi

“Bukan, jualan ayam gaul”

“apaan tuh?”

“Ayam yang dicat warna warni itu!’

“Hha serius yo ?”

“Ya enggak lah ! sekarang saya jadi wali kelas”

“Gokillll”

 “Oh, kalau kamu kerja dimana ?” Tanya saya

“Pabrik”

“Romusha ?”

“Rodi haha” jawabnya

 “Yakin kamu jadi guru” kata Randi masih tidak percaya

“Jangan kotori mereka dengan fikiranmu Yo” kata Randi berbicara lagi

“Tenang… semua aman terkendali !”

Randi tertawa seakan tidak percaya, tapi itu urusannya jika ingin percaya atau tidak, tapi berubah menjadi diri yang lebih baik adalah urusan saya dengan Tuhan. Jika sudah diberi kehendak untuk menjadi orang yang lebih baik, manusia bisa apa ? bisa komentar.

Saya harus pulang , Setelah meminta nomer teleponnya sayapun pergi dan berharap suatu hari nanti bisa mengobrol banyak hal termasuk mempertemukan istri dan anak-anak saya padanya.

  • view 28