Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 2 Oktober 2017   05:50 WIB
Warung Mak Imoet

Setelah minum Energen  yang tanpa sengaja diseduh dengan air yang  kebanyakan sehingga membuat rasanya menjadi tidak enak saat meminumnya, akhirnya saya teringat akan sesuatu. Teringat Mak Imoet yang beberapa waktu lalu telah saya wawancara untuk saya buat ceritanya.

Segera saya pergi menemui Laptop dikamar yang sedang menyanyikan lagu-lagu Rita Sugiarto di playlistnya. Berharap akan mendapatkan ide yang banyak ketika mengingat kenangan bersama Mak Imoet. Namun yang terjadi adalah saya tidak dapat memulai tulisan saya.

Entah saya harus mulai dari mana, namun beberapa menit kemudian saya paham apa yang harus saya tulis yaitu dimulai dari sini, ….

Waktu yang berlalu telah banyak mengubah hal-hal disekitar kita, tapi  tidak dapat mengubah ingatan yang pernah kita lalui bersama seseorang. Dulu ketika saya kelas 4 SD Sejak Mak Imoet masih belum terlalu tua seperti sekarang, waktu usianya sekitar 30 tahun dan masih kuat mengangkat gallon dan waktu Mak Imoet  masih sebagai aktor penting dalam lomba tarik tambang diperayaat HUT RI. Lihatlah sekarang, karena usia sekarang kerutan diwajahnya semakin terlihat tenaganya kini tak sekuat dulu.  

Berpuluh-puluh tahun saya tidak pernah melihat Mak Imoet, akhirnya disuatu pagi di bulan Juli 2015,

“Mak imoet ! SHOBAAHUL KHOIR !!!!” (selamat pagi dalam bahasa arab)

“EITSS si raden menak  gening !!!!”  kata mak Imoet histeris. Raden menak adalah sebutan untuk anak yang manja kata dia, sementara gening artinya bisa disamakan dengan ternyata.

“sekarang udah  bujangan, ada kumisnya, pake kemeja rapih  mirip agen penjual panci!”  tambahnya

“Hahaha !!! Mak SHOBAAHUL KHOIR !!!!” saya mengulang ucapan tadi seraya mengangkat tangan memberi salam seperti yang dilakukan pejabat Negara

“SHOBAAHUNNUUR !” dijawab Mak Imoet yang artinya selamat pagi juga. 

Mak imoet, nama aslinya Eti. (hanya ETI, ETI DOANG, ETI ONLY, JUST ETI !” lalu mengapa namanya menjadi Mak imoet ?

Semua bermula sejak saya masih kelas 4 SD dulu. Ketika itu di warungnya ada sebuah tulisan yang katanya di tulis oleh anak SMP tulisannya “warung mak imoet”

Maksud anak SMP itu adalah IMUT namun entah mereka mempelajari bahasa apa sehingga imoet malah menjadi imoet. (mungkin bahasa alay ya?). karena saya yang waktu itu masih SD dan tidak mengerti bahwa imoet itu seharunya dibaca Imut, maka sejak saat itulah saya memanggilnya Mak Imoet  dan di ikutilah oleh kawan-kawan yang lain.

Mak Imoet pernah bekerja di Arab maka dari itu saya menyapanya dengan bahasa Arab yang masih saya ingat saat mempelajarinya kelas 2 SMA. Waktu saya Tanya apakah dia akan kembali Ke Arab Saudi, dia bilang tidak ! karena dia lebih betah tinggal di Indonesia.

Mak Imoet selalu berjualan bersama abah. Abah Nanang namanya!

Mak imoet dan Abah adalah gambaran keluarga cemara versi lain yang lebih harmonis apalagi bila mereka sedang berdagang dan berbagi tugas dalam melayani pelanggan.     

Mak imoet tidak pernah marah apabila saya mengacau atau mengganggunya saat sedang berjualan.

Suatu hari,

Sekitar jam sembilan di hari sabtu. Saat anak-anak dikelas sedang sibuk menggambar, saya keluar untuk mendatangi Mak Imoet yang sedang bakar sate. Mak imoet sibuk menusuk potongan daging ayam yang sudah dipersiapkannya, dibantu oleh bi Iis yang juga merupakan seorang pedagang. Abah sedang mengipas-ngipas sate dan membolak-baliknya di tempat pembakaran.

“Selamat pagi Abah, selamat pagi Emak” kata saya

“Mau sate ?” Tanya si abah langsung

“Enak ga bah ?”

“Enak dong !”jawab Abah yang masih saja membolak balik sate

“Coba mana yang bisa di cicip gratis ?”

“Di colok ku tusuk sate cikgera !” kata Mak imoet sambil mengacungkan tusuk sate, pura-pura marah dengan bahasa sunda yang artinya “saya tusuk kamu pake tusuk sate” kira-kira begitu. Saya tahu tentu saja mak Imoet hanya membalas candaan saya dengan candaan lagi yang bersifat mengancam dan saya sendiri harusnya tidak boleh merasa terancam karena itu hanya candaan.

“Sini Abah, saya bantu” saya ambil alih

“Laina ngajar, malah nongkrong didieu !” (bukannya mengajar, malah nongkrong disini)  kata Mak imoet

“Bukan nongkrong yee!! Ini lagi bantuin si abah” kata saya sambil mengambil mengipas-ngipas sate.

Saya meletakan kipas sebentar dan mengambil spidol disaku celana.

“Abah sekarang ngajar dikelas empat, gantiin saya. Tukar nasib bah sehari !”

“Haha Gelo !” (haha gila) kata ma Imoet di ikuti gelak tawa.

“Jangan, nanti abah marah-marah di kelas, terus nanti darah tinggi” jawab Abah sambil menolak mengambil spidol

“Yah si abah”, “Sebentar aja atuh bah, tukar nasib”  tambah saya

“Nggak mau” Abah menolak

“Yaudah kalau nggak mau, saya beresin ini sate dulu ya mak”

“Kop” (silahkan)

Mak imoet terkadang selalu menceritakan kepada murid-murid saya ketika saya dulu menjadi murid SD yang masih imut, masih menggemaskan, masih ganteng, dan masih begitu sampai sekarang.

“Dulu pak Tiyo kalau jajan di warunng emak itu sering pukul-pukul piring sambil nyanyi”

“Mak nggak boleh buka-buka aib”

“Haha” Mak Imoet tertawa

“Pak Tiyo pernah nangis, seragamnya kesiram saos  terus teriak manggil-manggil Emak”

“Yaiya mak, masa manggil penghulu”  “mak ceritain yang bagus-bagus mak” saya menambahkan.

Anak-anak tetap mendengarkan khitmat, kisah masa lalu gurunya yang di ceritakan lewat lisan Mak Imoet yang mereka kenal sekarang sebagai mak Eti yang derwamawan dan sedikit galak apalagi jika ketahuan DARMAJI yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah makan lima mengaku satu.

“hmm… apa ya ?” Mak Imoet  berfikir megingat masalalu

“oh ya, Pak Tiyo dulu pernah jadi asisten Mak”

“Divisi keuangan ya mak ?”

“Bagian pamulangan” (bagian kembalian)

“Ada anak jajan 2000, uangnya 5000 terus dikasih kembalian 2000, terus dia bilang 1000 lagi buat bayar zakat”

“Haha, itu saya kelas 6 ya mak ?”

“Nggak tau, lupa emak”

Begitulah Mak Imoet dalam ingatan saya, jangan terlalu panjang tentang mak Imoet, nanti kamu bisa-bisa ingin bertemu dengannya atau menculiknya dan dijadikan sebagai tukang nasi goreng pribadi. Itu tidak boleh. Karena Mak Imoet adalah milik anak SD, salah satu pedagang nasigoreng terbaik versi saya, asset penjual nasgor bangsa Indonesia yang suatu saat kelak akan diteruskan oleh anaknya apabila dia sudah pensiun sebagai pedagang nasigoreng dan gorengan. Semoga selalu dilimpahkan kesehatan padanya . amien.

Karya : Bebe