Berenang Gaya Bapak

Bebe
Karya Bebe  Kategori Project
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Imam Murid

Imam Murid


hidup adalah tentang bagaimana kita belajar dan mengajari. hidup dalam keadaan bahagia itu penting, tapi mengajak anak-anak berbahagia itu tidak semudah memasak mie instan rasa ayam bawang.

Kategori Humor

434 Hak Cipta Terlindungi
Berenang Gaya Bapak

Saya masuk ke dalam kelas dengan membawa kabar bahagia. Sebelum menyampaikannya kepada para murid, saya melempar beberapa senyum pada mereka agar mereka penasaran maksud dari senyuman itu.

"Kenapa Pak?" Tanya seorang murid

"Bapak punya kabar bahagia untuk kalian"

"Yee …. " seisi kelas jadi gaduh karena mendengar kabar bahagia itu, ada yang sampai pukul-pukul meja, ada yang sampai loncat-loncat dan ada yang sampai pukul-pukul orang yang loncat-loncat sambil marah-marah dengan bahasa sunda "diuk atuh maneh teh !" jika diterjemahkan kedalam bahasa inggris menjadi "you, shit down !" kurang lebih seperti itu.

"Kalau kalian masih berisik bapak ganti kabar bahagianya jadi kabar menyedihkan nih?" kata saya. Anak-anak diam semua.

"Bagus" kata saya

"Iya pak" kata seorang anak yang bernama Bagus.

"Bukan Bagus kamu, maksud bapak bagus ……ah sudahlah" 

"Kabar baik yang ingin bapak sampaikan adalah, minggu depan kita berenang" kata saya menambahkan. 

"Di Deri[1] pak ?" Tanya seorang siswa

"Di selokan" jawab saya becanda

"Haha .." anak-anak tertawa  Saya tidak, karena belum ingin.

"Iya kita berenang di Deri, ditempat biasa” kata saya lagi

Anak-anak begitu bahagia saat mendengar berenang, meski ada beberapa orang yang tidak bahagia karena tidak bisa berenang.

"Kaisar kamu bisa berenang?"

"Tidak pak"

"Bisa solat ?" Tanya saya lagi

“Bisa”

"Rajin solat ya, nanti kalau tenggelam berdoa saja sama Allah"

"Iya pak, haha"

"Nanti bapak ajarkan kalian berenang, berenang gaya bapak” kata saya

“Gimana pak?”

“lihat sja nanti”

“Yaaahhh !”anak-anak kecewa

“baik anak-anak kita lanjutkan dengan barang-barang yang harus di bawa saat berenang, siap?”

"Siaaaappp !" jawab siswa kompak

"Bagi yang ingin berenang harus membayar sejuta" kata saya

"Haaaaahh"

"Mahal sekali pak ?"

"Iya, bayar sejuta kalau ingin kolam berenangnya pake air susu atau air zam-zam, Haha" kata saya tertawa dan anak-anak juga tertawa karena tidak saya larang.

"Kita berangkat pukul, 08.00 WIB, pergi dengan berjalan kaki"

"Apa pak ?" kata seorang anak memastikan apa yang didengarnya itu benar atau tidak

 "Jalan kaki sampai gerbang, kemudian nantinya naik angkot”

“Oh !”

"Bapak, alat yang harus dibawa apa ya ?" Tanya salah seorang murid yang dari tadi belum menulis apa-apa dibukunya.

"Pakaian ganti, makanan, kantong keresek, uang, kakak yang cantik kalau punya”

“Haha bapak jomblo”

“Hush ! bapak becand tapi boleh kalau memang ada, ekhem”

“Tambahan ! Ingat jangan membawa barang berharga seperti, handphone, uang semilyar, kulkas, TV, Kipas Angin atau gajah, siap?"

"Siap! haha”

"Bagus" kata saya, syukurlah sekarang Bagus tidak menjawab ucapan saya. 

***

Seminggu kemudian,

Saya pergi terlebih dahulu ketempat berenang karena naik motor, anak-anak naik angkot yang sudah di pesan, keadaan kolam berenang masih sepi, hanya ada penjaga yang terlihat seperti manusia padahal memang manusia dan dia berjenis kelamin wanita. Rambutnya panjang dan basah. Penjaga kolamnya baru, saya senang karena penjaga sebelumnya adalah seorang ibu-ibu tapi sekarang gadis muda dengan rambut yang basah dan make up yang secukupnya.

"Teh kolamnya sudah dikuras ?" Tanya saya

"Sudah" jawab si teteh penjaga yang sibuk dengan handphonenya

"Ini pintunya masih ditutup, boleh saya buka?" kata saya menunjuk pintu masuk kolam berenang

"Iya tinggal di tarik saja a"

"Gak apa-apa teh saya buka?" Tanya saya

"Gak apa-apa, sok aja" sok aja artinya silahkan

"Ah Engga ah teh, nggak enak sama teteh"

"Nggak apa-apa a, silahkan buka saja" jawab si teteh yang merasa terganggu ketenangannya, saya berjalan kesana kea rah pintu dan sebelum masuk saya bertanya lagi.

"Teh masuknya kaki kanan dulu ?" Tanya saya, dia diam, sepertinya kesal

"Assalamualaikum" si teteh masih saja diam, sibuk dengan HPnya. Saya berikan dia uang dan daftar nama siswa yang akan memasuki pintu kolam berenang.

"Teteh udah berenang teh, kok rambutnya basah ?"

"Oh, tadi udah mandi a" jawab si wanita itu santun

Beberapa menit kemudian anak-anak datang.

"Ayooo !! buat barisan seperti bebek. Buat dua baris yang tertib, kalau tidak tertib nanti bapak suruh kalian berenang di rumput.

“Haha”

Anak-anak berbaris dan gadis penjaga kolam itu beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri didekat saya untuk mulai menghitung jumlah anak agar tidak ada yang lebih atau kurang.

"Teh kenapa harus di hitung lagi ?"

"Standar proses nya a"

"Oh ia ya teh harus di periksa juga, siapa tau ada anak yang jatuh di angkot ya?" kata saya. si tetehnya tidak menanggapi

"Ayo anak-anak yang punya wudhu silahkan masuk" kata saya

"Kalau yang nggak punya Wudhu?" Tanya salah seorang anak

"Masuk juga"

"Haha"

Satu persatu anak masuk, saya masih berdiri didekat teteh penjaga kolam berenang.

"Pak Marwan!" kata saya memanggil guru olahraga yang sedang berjalan menuju kearah saya.

"kenalin ini teh ……" saya memperkenalkan teteh penjaga kolam yang namanya saja saya tidak tahu, saya menatapnya hingga dia bilang Susi.

"Oh ya, kenalin pak, ini teh Susi, dia perempuan dan sudah menikah"

"Belum a"

"Oh belum katanya pak"

Dan begitulah cara saya mengetahui informasi tentang seseorang yang tidak boleh anda tiru dirumah karena bisa jadi tak akan sesuai dengan apa yang anda harapkan.

Dengan tidak berlama-lama saya segera meninggalkan penjaga kolam berenang. Kemudian selesai ganti pakaian saya segera melakukan pemanasan.

Setelah selesai pemanasan, saya juga ikut berenang. Di kolam yang dangkal.

"Yuk bapalapan, siapa yang terakhir sampai lebih dulu di ujung itu juaranya"  ajak saya dan yang berpartisipasi dengan saya sekitar 5 orang dan semuanya laki-laki.

“Ayo !”

“Yang juara nilai matematikanya 100”

“Yeess !”

“Siap ya ! kalau hitungannya sampai dua puluh kita mulai berenang!”

“Kelamaan !” anak-anak protes

“Eits, nggak boleh protes” kata saya dan anak-anak setuju.

“Siaaaapppp !!!!! hitung bergantian !” kata saya

“Siaaaapp !!!” kompak.

“satuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!” kata saya

“Duaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak anak-anak kompak

“Puluh …” kata saya yang langsung menyambung dan segera berenang menuju garis finish yang telah dijanjikan

“Juara !!!!!”  kata saya setelah sampai finish.

“Bapak curang !”

“Curang? kan tadi bapak bilang kalau hitungannya sampai dua…puluh kita mulai berenang! Coba bapak ulang… satu..dua…puluh… tuh kan?”

Anak-anak tertawa, saya juga. Renang itu harus begitu ! jangan hanya gerak-gerak di air, tapi kita juga harus tertawa, harus bahagia, harus basah dan harus bernafas. Kalau hanya main air dan basah-basahan, kucing tenggelampun bisa, kudanil juga bisa, Deni manusia ikan bisa, angota DPR juga bisa.

“Ganti permainan ! sekarang perlombaannya menahan nafas didalam air, peraturannya nanti di dalam air tidak boleh tidur, tidak boleh ngobrol, tidak boleh makan roti, tidak boleh memukul, dan mata harus di tutup”

“Ayoo !!!” jawab mereka kompak setelah mengetahui peraturannya begitu mudah untuk dilakukan.

“Siap, hitung mundur dari tiga ya?” kata saya

“Siaaaaap !!”

Hitungan mundur dimulai 3,2,1 ….

Semuanya memasukan kepalanya kedalam air, tentu saja saya tidak. Beberapa menit kemudian satu persatu mereka kembali bermunculan dari dalam air dengan waktu yang nyaris berdekatan. 

"Bapak nggak ikut nyelam ya ?" kata Izal salah seorang anak yang bertanya 

"Ia, tadi bapak nggak kuat ingin pipis. Jadi pipis deh disini"

"Ih …. "

"Haha becanda"

Saatnya mengajar ! main-mainnya udahan. Untuk 15 menit pertama mereka diberikan teori dan 15 menit berikutnya praktek oleh guru olahraganya. Setelah selesai, mereka kembali berkumpul lagi.

            “Ajarin renang pak!” kata salah seorang anak pada saya

“Anak-anak ini namanya gaya dada” Anak memberikan tepuk tangan setelah selesai saya beri contoh.

“Ini namanya gaya bebas” Anak memberikan tepuk tangan setelah selesai saya beri contoh.

“Ini namanya gaya punggung” Anak memberikan tepuk tangan setelah selesai saya beri contoh.

Kemudian gaya terakhir saya bergerak asal-asalan seperti meronta-ronta didalam air, “ada yang tahu itu gaya apa?

“Gaya tenggelam pak !”

“Gaya bapak!” kata Izal

“betul !”

“Oh ya masih ada gerakan lainnya dan ini gerakan yang tidak boleh di tiru”

“Gaya anjing” kata saya yang kemudian mencontohkan

Anak-anak tertawa,

“Gaya batu !” kemudian saya mencontohkan

“Babari !” (gampang) kata salah seorang anak

 

Waktu sudah menunjukan pukul dua. Kulit sudah keriput karena terlalu lama berada di air. Semuanya segera bersiap-siap untuk pulang. Sebelum pulang saya harus memberikan sentuhan akhir. Dengan mengeluarkan 1 buah teh celup yang saya bawa dari warung Mak Imoet dan memasukkannya kedalam air kolam, tentu saja saya harus sangat berhati-hati melakukannya. Jangan sampai ada yang tahu kecuali Allah dan para malaikatnya yang mencatat. Ampuni keisengan ini.

 

Berikut adalah daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat berenang yaitu :

  1. Pipis di kolam
  2. Minum air pipis di kolam
  3. Menelepon di dalam air
  4. Tidur didalam air
  5. Minum susu didalam air
  6. Mengerjakan PR
  7. Main UNO
  8. Pura-pura tenggelam
  9. Mengobrol
  10. ……………………..(isi sendiri)

 

[1] Tempat berenang

  • view 44