Awal bulan harus bahagia

Bebe
Karya Bebe  Kategori Project
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Imam Murid

Imam Murid


hidup adalah tentang bagaimana kita belajar dan mengajari. hidup dalam keadaan bahagia itu penting, tapi mengajak anak-anak berbahagia itu tidak semudah memasak mie instan rasa ayam bawang.

Kategori Humor

402 Hak Cipta Terlindungi
Awal bulan harus bahagia

Awal bulan selalu membuat saya lebih ceria dari pada biasanya,

Mengapa?,

Karena isi dompet yang semula kosong, akan kembali terisi meski akan kembali kosong dalam waktu cepat.

Gajian adalah suatu momen di mana untuk meraihnya perlu menunggu sebulan. Sementara, menghabiskannya hanya perlu hitungan jam. Sama seperti Senin ke Minggu butuh waktu 144 jam sementara dari Minggu menuju Senin hanya membutuhkan waktu 24 jam.

Sebelum berangkat ke sekolah ada sedikit dialog singkat dengan Mama.

“Tumben berangkat pagi ?” Tanya Mama

“lebih baik kepagian mah, dari pada kesiangan!”

“Hari ini Gajian ?” kata Mama

“Iya, gajian perdana. Mama mau apa ?”  Tanya saya

“Jangan minta cucu” kata saya menambahkan

“Engggaaaaakk!! haha Mama mau Dompet !”

“Dompet yang bisa keluar api?” Tanya saya

“Memangnya Mama mau sulap?”

“Terus dompet yang gimana?, lagipula bulan lalu dompet sekarang dompet lagi!” kata saya 

“Minta menantu! boleh?”

“Jika sudah bahas mantu pasti nanti ujung-ujungnya bahas cucu!”

“Haha, terserah saja” kata Mama

“Nanti mama kirim lewat SMS apa yang mama mau, brangkat dulu ya!” kata saya kemudian pergi dan tidak lupa untuk bersalaman. mencium tangan Mama.

Mencium tangan Mama sebelum pergi  adalah sebuah keharusan, karena tangan itulah yang selalu menegadah meminta doa dan kebaikkan untuk saya. Kamu juga harus begitu, karena itu hal yang mudah dilakukan. Akan menjadi sulit apabila orang tua sudah tidak ada di dunia

***

Pukul setengah tujuh saya sudah sampai di sekolah. Karena masih pagi, saya putuskan untuk berjalan-jalan disekitar sekolah. Didepan kelas V (lima) terdapat murid-murid yang bergerombol. Saat saya berjalan menuju arah mereka, belum saja sampai mereka sudah berdiri, untung saja bukan untuk kabur. Salah satu dari mereka mulai bersalaman pada saya.

Mereka kembali duduk,

“udah?” kata saya bertanya pada murid dan berhasil membuat mereka bengong

“Nggak ada yang sekalian minta tanda tangan ?” kata saya menambahkan dan di ikuti dengan penolakan dan sedikit tawa.

“Bapak mau pergi lagi boleh ?”         

“Boleh pak !” kata mereka dan sebenarnya saya tidak perlu izin kepada mereka karena, merekapun tentu saja tidak perduli dan memang mengaharapkan saya segera pergi sepertinya.

“Jangan lupa bahagia ya!” kata saya lalu pergi

“Iya pak !” jawab mereka kepada saya yang tengah menjauh

Tidak jauh dari tempat itu saya tertabrak, untung saja tidak perlu dilarikan kerumah sakit karena yang menabraknya bukan motor tapi minion eh maaf maksud saya anak kecil yang tingginya setinggi pinggul. Mereka kelas 2.

Untung saja anak tersebut baik-baik saja karena menabrak dari belakang sehingga menabrak bantalan empuk yang sering dikenal orang dengan nama bokong, coba saja jika dia menabrak dari depan, saya tidak akan mencemaskan anak itu, karena yang saya cemaskan adalah masa depan saya.

“kalian sedang apa?” Tanya saya

“Kucing-kucingan pak!” jawab salah satu dari mereka

Saya terharu, karena dizaman sekarang dimana anak-anak lebih senang lari-larian di Gadget (subway, jetpack dll) dari pada didunia nyata. Ternyata masih saya temukan di sekolah ini anak yang masih melakukan permainan itu dan pada akhirnya saya jadi rindu masa lalu, rindu bau badan yang tercipta saat saya kucing-kucingan. Jangan larang anak-anak untuk bermain karena agar mereka bisa bernostalgia suatu saat seperti saya.

Kemudian, duduklah saya  disebuah kursi dan mengarahkan pandangan jauh kedepan, dari sudut itu saya bisa menyaksikan beragam kehidupan anak-anak yang menyenangkan, menyaksikan anak-anak yang berlarian dilapangan, mengobrol, ataupun jajan. Dunia anak-anak, membuat iri saja. Mereka dengan bebas menjalani pilihan hidup dan selalu berbahagia,  menghadapi setiap menit berlalu dengan senyuman, tanpa harus bingung memikirkan isi dompet, pacar, ataupun galau karena harus move on dari mantan.

Mereka, setiap hari tidak lupa caranya tersenyum, tertawa dan menghabiskan waktu dengan kawan-kawan hanya untuk bermain sehingga kecemasan yang tersisa pada diri mereka hanya matematika.

Rasanya saya tidak perlu bilang kepada mereka “jangan lupa bahagia” karena mereka semua akan senantiasa bahagia walau di akhir bulan.

Kadang kita sebagai orang dewasa harus berfikir seperti anak kecil untuk bisa menjadi lebih dewasa, menjadi anak kecil yang tidak terlalu serius dan perhitungan kadang perlu, menikmati apa yang dikerjakan tanpa takut hasil yang akan muncul supaya meski tujuan yang kita inginkan meleset, kita tidak akan pernah merasa gagal.

Bel akhirnya berbunyi. Karena hari Senin semua siswa harus pergi menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Guru juga harus ikut melaksanakan upacara agar tumbuh jiwa nasionalisme seperti yang dijelaskan dalam pelajaran PPKN.

Upacara menjadi salah satu alasan lain mengapa senin begitu membosankan bagi anak-anak, bagi saya tentu tidak, karena hari ini saya gajian. Saya berdiri dibarisan guru dan melihat para murid yang terlihat bosan berdiri dan tidak bisa berlari kesana kemari.

Setelah upacara selesai seluruh siswa masuk kelas dan melanjutkan dengan berdoa.

Jam petama dimulai. Pelajaran Matematika.

“Anak-anak, hari ini kita akan mempelajari tentang operasi hitung campuran”. Kata saya

Matematika menjadi pelajaran yang membosankan bagi anak-anak meskipun sudah menggunakan berbagai macam cara agar disukai, nyatanya jika anak masih tidak tertarik apa boleh buat. Setiap orang tidak perlu pandai matematika, yang harus dimiliki setiap orang adalah satu kepandaian dalam bidang yang disukainya. Albert Einstein pernah berkata setiap anak jenius kalau kamu menilai seekor ikan dari cara dia memanjat pohon seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh.

Ditengah pelajaran perhatian anak-anak teralihkan dan mulai tertuju pada kucing yang tiba-tiba masuk kelas tanpa permisi, tanpa busana, dan tanpa wawasan.

“Rifki !”  

“Ya pak !”

“Sini kedepan!”

Rifki berjalan kedepan kelas mengikuti perintah saya

“Kamu tahu kenapa bapak panggil kamu kedepan ?”

“Tidak pak”

“kenapa ngeliatin kucing, sementara bapak sedang menjelaskan”

Rifki merasa bersalah,

“sudah paham dengan ini ?” kata saya menunjuk papan tulis

“belum”

 “boleh bapak hukum ya ?”

Rifki diam dan saya anggap itu jawaban boleh, kemudian saya berfikir untuk memikirkan  sebuah hukuman.

Menghukum adalah hal yang paling saya tidak suka, karena ribet. Harus banyak pertimbangan (jangan sampai melukai agar tidak bermasalah dengan polisi, harus mendidik agar tidak kena omel kak seto dan anehnya saat guru melakukan hukuman pada anak maka orang tua menjadi yang paling bersemangat untuk menuntu pada guru, menyalahkan guru sebagai sumber masalah saat anaknya tidak bisa apa-apa, Padahal dalam undang-undang no 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan mengatakan bahwa pendidikan adalah tangung jawab pemerintah , orang tua dan masyarakat ikut andil dalam kegagalan tersebut.

Menghukum bagi saya harus membuat saya senang dan anak tidak jadi menyimpan dendam.

“Nyanyi pak !” anak-anak memberikan saran

“nggak ah, paling nanti anak-anak malah nyanyi lagu cinta-cintaan” kata saya dalam hati.

“Membersihkan WC” usul anak-anak

“nggak ah, nanti takut anak mendalami peran dan merasa nyaman berada di WC” kata saya lagi di dalam hati

Setelah lama berfikir dan melupakan semua usul anak-anak, maka diputuskanlah hukuman yang tepat untuk Rifki..

 “Rifki!”

“Iya pak”

“Tangkap kucing yang tadi !”

“Iya pak” Rifki lekas keluar kelas mengejar kucing tadi dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan mambawa kucing itu. kucingnya tidak senang. Saya memberikan contoh bagaimana dia harus memegang kucing itu, yaitu memegangnya dengan kedua tangan dan wajah kucing itu harus berhadapan dengan wajah kita.

“Ikuti kata-kata bapak ya ! kamu harus ngobrol sama kucing” kata saya

“Haha!” anak-anak yang lain tertawa dan perhatian semua mengarah kedepan.

“Kucing !” kata saya namun Rifki diam.

“Ulangi !” kata saya

Saya mengulangnya lagi dari awal.

“Kuciiiiing !” kata saya dan kemudian diulang oleh Rifki “Kuciiiiiiing”

“Saya  tidak memperhatikan pak guru saat menjelaskan” kata saya dan Rifki mengulang.

“Harusnya saya memperhatikan” Rifki mengikuti sambil sesekali melihat saya dan kucing di tangannya menunjukan perasaan tidak senang.

“Kamu suka matematika nggak?” Tanya saya dan kemudian dia mengulangnya seolah dia sedang bertanya kepada kucing apakah kucing suka matematika atau tidak.

“Eh!!! Bapak nanya kamu!” kata saya sambil sedikit tertawa

“Oh, nggak suka pak, saya nggak suka matematika” jawab Rifki

“Ulangi lagi ya!” kata saya

“Iya pak!” kata dia

“Harusnya saya memperhatikan, meskipun saya tidak suka matematika” Rifki mengulang.

“Kucing” Rifki mengulang kata-kata saya.

“Aku ingin bisa matematika, agar aku tidak seperti kucing yang tidak bisa matematika”

Anak-anak tertawa, Rifki tetap mengikuti setiap yang saya katakan. Saya memintanya untuk melepaskan kucing itu karena tampaknya dia sudah nyaman lagi dipegang-pegang manusia dan tampaknya kucing itu jantan sehingga saya berfikir bahwa selanjutnya harus kucing betina.

“Anak-anak, jika kalian tidak menyukai salah satu pelajaran, bukan berarti kalian menjadi acuh saat pelajaran tersebut, paling tidak kalian harus memiliki niat untuk bisa, jika memang tetap tidak bisa kalian jangan patah semangat, karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Kamu tidak harus menjadi seseorang yang pandai dalam matematika, yang terpenting adalah rajin belajar dan jauhi rasa malas! Imam syafi’I pernah berkata, bila kamu tak tahan lelahnya belajar, bersiaplah menanggung perihnya kebodohan, paham ?”  Tanya saya

“paham !”  jawab mereka kompak

“Bagus!”

“Iya Pak?” sahut bagus

“Maksud bapak bagus ini” saya mengacungkan jempol

Pelajaranpun berlanjut sampai pada akhirnya ketika hari sudah siang, dan amplop sudah ada ditangan, saya memutuskan untuk segera pulang.

Di rumah, Mama sedang menonton TV.

“Mah, jadinya mau apa ?” Tanya saya

“Sudah gajian ?”

“Sudah dong ! Mamah mau apa ?”

“Apa saja boleh, yang penting bermanfaat dan kamu ngasihnya ikhlas”

“Yaudah, Apa aja kan?”

“Iya” 

Saya lekas pergi, tanpa mengatakan akan membelikan apa untuk Mama.

Beberapa menit kemudian.

“Beli apa ?” Tanya Mama setelah saya datang

“Kartu Perdana + kuota internet”

“Kok itu ?”

“Ini kan gaji perdana, bagusnya dibelikan kartu perdana biar sama-sama perdana. Lagian ini kuota internetnya kan bisa dipake Mama download video Lesti dan Stand up comedy”

“Oh iya, ide bagus”

Sambil menemani Mama nonton saya bercerita tentang yang terjadi disekolah. Lalu Mama memberikan saya nasihat, salah satu nasihatnya mengutip dari seorang ulaman : 

“KH Maemun Zubair beliau mengatakan jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. masalah murid kelak jadi pintar atau tidak serahkan pada Allah, di doakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”

Meski tak sepandai Mario Teguh dalam berkata-kata, tapi perkataan seorang ibu memang lebih bisa diterima dari pada kata-kata dari seorang motivator di acara-acara seminar.

“Mah !” kata saya

“Apa ?”

“Jangan lupa bahagia !” nasihat dari saya ini membuat kedudukan menjadi satu sama.

“iya”

  • view 43