Lima Bulan Cinta

Adzani Rezkyana
Karya Adzani Rezkyana Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 Mei 2016
Lima Bulan Cinta

Pertama kali bertemu denganmu di awal Januari. Aku, seperti biasanya, tidak pernah berusaha mencari tahu latar belakang atau kehidupan seseorang yang baru aku kenal, termasuk kamu.

Tapi, tidak seperti biasanya, entah mengapa kamu seperti punya aura yang berbeda, yang menarikku, yang mengajakku untuk masuk ke duniamu. Tanpa bahasa kata. Entah bagaimana.

Alirnya hari membawaku pada kepingan-kepingan kitab tentang kamu. Dan akupun mulai membaca halaman-halamannya. Entah mengapa aku begitu bahagia ketika membacanya. Ada rasa nyaman, tenang, dan harap ketika mengetahui satu-persatu cerita tentang kamu.

Termasuk harapan, mungkinkah kita berjodoh?

Dan ketika memasuki Februari aku merasakan rasamu, untukku, yang entah apa. Rasa yang menyenangkan, menenangkan, dan memberi semangat untuk hatiku.

Tapi di suatu senja juga di Februari ada kata yang keluar darimu, yang tiba-tiba saja menciutkan hatiku, seperti mematahkan hatiku. Bahwa kamu sudah berjodoh dengan dia, dan sebentar lagi kamu akan melamar dan menikahinya.

Ahhh aku bahkan tidak tahu bagaimana rasa hatiku. Sedih, kecewa, tapi juga berusaha mendoa untuk kebahagiaanmu.

Pernah aku merasa, atau mungkin lebih tepatnya berharap, bahwa mungkin saja kata-katamu hanya sekedar kata. Karena aku merasa ada ruang spesial dihatimu yang kamu khususkan buatku, yang tidak sekedar banyak, tapi juga dalam.

Ahh tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

Hingga di suatu siang di bulan Maret, kamu tidak datang. Dan mereka bilang kamu bersama orangtuamu sedang berkunjung kerumahnya, untuk melamarnya.

Seperti pupus harapan akan jodoh yang sudah dekat, aku menundukkan kepala. Entah sedih, atau berpikir, atau berdoa. Yang pasti aku sudah harus merelakan kamu. Aku harus merelakan jalan Allah ini.

-------------------------------------------------------

Apa yang kamu pikirkan, Sholeh? Apa kamu berfikir kalau kamu lebih mencintaiku daripada dia? Apa kamu berfikir kamu lebih membutuhkanku daripada dia?

Kenapa kamu tidak bisa membanggakan dia kepadaku? Kenapa kamu tertunduk ketika bercerita tentang dia? Kenapa kamu menutup-nutupi segala hal tentang dia kepadaku?

Apa kamu takut jika aku patah hati? Atau sakit hati dan kemudian tidak bisa menerimanya diantara kita?

Mungkin saja. Mungkin aku tidak bisa dengan mudah menerimanya. 

Tapi, sebegitu pentingkah penerimaanku terhadapnya bagimu? Atau kamu sedang menjaga hatiku? Supaya aku tidak sakit hati ketika melihatmu dengannya? 

Kenapa kamu begitu peduli terhadap hatiku?

-------------------------------------------------------

Di April, kamu jadi semakin membuatku berharap terhadap kita. Padahal sudah jelas kamu akan bersama dia. Aku bisa apa? Kita bisa apa?

Aku sudah memasrahkannya. Akupun sudah jujur terhadap diriku. Apa kamu sudah mencoba jujur? Apa kamu sudah rela? Semoga sudah.

Jika kita sudah sama-sama jujur, jikapun kita tidak, atau belum, berjodoh, setidaknya Allah sudah mendengar pinta kita, doa kita, hati kita. Dengan begitu, semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kita, kebahagiaan atas kesabaran kita, kebahagiaan atas jalan yang sudah kita tempuh dengan ridhoNya.

-------------------------------------------------------

Mei ini kita bertemu. Dan seperti kebanyakan sahabat lain, mereka mengira bahwa kita akan berjodoh. Dan seperti sahabat lain sebelumnya, mereka akan mengetahui bahwa kamu sudah berjodoh dengannya. :)

*tapi sepertinya kita masih saling berharap ada keajaiban ya. :)

 

  • view 140