[SATU] Keluar Sangkar

Bayu Uya
Karya Bayu Uya Kategori Motivasi
dipublikasikan 06 September 2017
[SATU] Keluar Sangkar

Lima September. Tepat setahun yang lalu menandai berakhirnya satu mata kuliah terakhirku di bangku kuliah. Kamu pasti kenal dia, kenalkan namanya Skripsi. Mata kuliah yang sukses memperpanjang status mahasiswaku hingga lebih dari setahun lamanya. Bahkan, saking lama tidak ada kabarnya hingga dikira sudah ‘lulus’ duluan oleh dosen pembimbing sendiri.

Sore itu ketika hasil sidang sudah keluar dengan sebuah kata ‘lulus’ tertera di selembar kertas, kupikir akhirnya aku bisa bernafas lega dan mengucapkan selamat tinggal kepada kelas-kelas dengan segala tugasnya. Ternyata, aku salah. Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya aku sadar bahwa kelas yang sebenarnya baru dimulai semenjak hari itu. Kelas yang jauh lebih besar dan seakan tanpa ujung. Kelas Kehidupan.

Ya, itu memang ungkapan yang klise. Tapi, sesuatu yang klise bukan berarti salah, bukan? Bagi mereka yang sudah terlepas dari bangku pendidikan formal tentu akan memafhumi bahwa hidup bertahun-tahun di sekolah ibarat seekor burung yang tinggal di dalam sangkarnya. Sebuah sangkar yang mengurungnya dengan bambu-bambu yang tersusun rapi nan teratur. Di dalamnya hampir setiap hari burung ini belajar terbang perlahan-lahan secara bertahap. Hingga pada akhirnya tibalah hari ketika pintu sangkar dibuka dan burung ini dipersilahkan terbang keluar dari sangkarnya.

Pada hari itu kita akan melihat sebagian burung yang telah begitu siap dan langsung terbang mengangkasa tanpa menoleh ke belakang. Di sudut lain yang jarang tertangkap mata, ternyata ada seekor burung yang malah diam terbelalak. Ia kaget melihat betapa indahnya langit biru yang terhampar luas. Alih-alih mengikuti burung lain yang sudah terbang tinggi, bahkan sekedar mengepakkan sayapnya pun ia terlupa bagaimana caranya. Seakan apa yang sudah dipelajarinya selama belasan tahun hilang tak berbekas seiring deru angin yang kencang di luar. Tidak seperti sangkarnya yang hangat dan nyaman.

Mungkin burung ini terdiam bukan karena ia tidak bisa terbang, melainkan karena ia belum tahu ke arah mana ia akan terbang. Atau lebih dalam lagi, ia belum tahu buat apa ia terbang. Mungkin juga ia sedang mencoba untuk memahami langit mana yang akan menjadi rumahnya kelak.

Lantas, kamu termasuk yang mana? Jika kamu termasuk burung yang sudah terbang tinggi, maka aku ucapkan selamat kepadamu. Teruslah terbang tinggi menyusuri batas cakrawala. Namun, jika kamu termasuk burung yang masih tergagap dan akhirnya baru bisa terbang rendah perlahan-lahan, tenanglah. Kamu tidak sendiri. Aku pun begitu. Dan masih banyak lagi yang lain.

Percayalah, ini wajar. Bukan sebagai upaya pembenaran, melainkan memahami hal ini sebagai sesuatu yang wajar adalah sebuah kesadaran yang kita perlukan untuk mengusir hantu-hantu pikiran negatif yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Hantu yang senantiasa berusaha mengatakan betapa bodoh atau lemahnya diri kita saat ini. Hantu yang seakan menihilkan apa-apa yang telah kita capai selama ini dan hanya menyisakan pikiran akan betapa tidak bergunanya diri kita. Hantu yang mencoba untuk menghembuskan hawa putus asa di setiap kesempatan yang ada. Hantu-hantu itulah yang perlu kita usir saat ini. Dengan cara apa? Mengutip mantra sederhana dari film Three Idiots, dengan cara ucapkanlah kepada hati kita, “All Izz Well”.

Maka, tenanglah kawan. Kamu tidak sendiri. Tidaklah menjadi soal jika kita butuh waktu sedikit lebih lama untuk terbang tinggi dibandingkan yang lain. Kau tentu tahu ungkapan klise yang lain; hidup adalah perjalanan. Kabar baiknya, ini bukanlah perjalanan pendek melainkan ini adalah perjalanan panjang dengan garis cakrawala sebagai batasnya. Yakinlah bahwa akan tiba saatnya kau bisa mencapai langit yang kau tuju selama kau terus kepakkan sayap-sayap kecilmu.

Lagipula, bukankah ini perjalanan kita sendiri?

Bandung, 5 September 2017

  • view 43