[NOL] Kembali Menulis

Bayu Uya
Karya Bayu Uya Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 September 2017
[NOL] Kembali Menulis

Hei, kamu! Akhirnya, aku memberanikan diri untuk kembali menulis.

Kenapa aku sebut memberanikan diri?

Karena melawan godaan hiburan lain mulai dari game onlineaimless browsinghingga social media stalking saat membuka laptop, butuh keberanian. Karena menghadapi layar kosong dengan kursor berkedip-kedip yang menunggu huruf-huruf baru untuk mulai diketikkan, butuh keberanian. Karena mendedikasikan beberapa jam waktu bersantai untuk digunakan berpusing-pusing ria menyusun kata, butuh keberanian. Karena mendamaikan pikiran yang terus hilir mudik lompat ke sana kemari dari satu gagasan ke gagasan lain sepanjang proses menulis, butuh keberanian. Last but not least, karena meredam gejolak diri yang terus berteriak “kamu tidak hidup sebijak yang kamu tuliskan”, juga butuh keberanian.

Aku rasa ada yang salah dengan niat menulisku selama ini, sehingga menulis menjadi proses yang terasa begitu rumit dan melelahkan. Menunjukkan eksistensi diri; menapakkan jejak keabadian; hingga meraih perhatian orang lain hanyalah segelintir niat lemah yang terus membayangi selama ini. Padahal, proses menulis seharusnya bisa menjadi sederhana. Sesederhana seorang anak kecil yang menyukai sesuatu dan melakukannya begitu saja. Tanpa banyak berpikir panjang, tanpa banyak berekspektasi besar.

Atau mungkin juga sesederhana kata cinta. Bukankah cinta yang sebenarnya itu seharusnya begitu sederhana? Kita menerima kehadirannya begitu saja seperti kita menghirup oksigen sehari-hari. Tidak perlu alasan, tidak perlu penjelasan. Dan sedibutuhkannya pun bagi kehidupan, oksigen tetap hadir dengan kadar yang tepat di alam sehingga tidak menyebabkan ketidakseimbangan. Kadar cinta pun seharusnya hadir seperti itu. Tidak berlebihan, memabukkan, apalagi mematikan. Pas.

Begitu pula dengan menulis. Niat menulis seharusnya dilandasi akan kecintaan pada menulis itu sendiri. Sehingga kalau mau menulis, langsung tuliskan saja selama tulisan itu mempunyai nilai kebaikan dan kebenaran. Biarkanlah setiap kata mengalir bersama setiap makna yang hadir setelahnya. Tidak usahlah membebani setiap tulisan dengan harapan-harapan semu yang tidak lebih berarti daripada kepuasan diri karena telah memenuhi panggilan hati untuk menulis.

Pada akhirnya, setiap tulisan layaknya sebuah catatan kecil atas setiap pelajaran yang berlangsung di dalam kelas besar bernama kehidupan. Bahkan, menulis bisa menjadi euforia perayaan akan kehidupan ini. Sebuah perayaan atas setiap momen yang pernah terjadi, setiap harapan yang pernah terbentuk, serta setiap rasa yang pernah terbersit.

Dengan menuliskannya, kita akan bisa membacanya kembali di suatu hari nanti sebagai pengingat untuk diri sendiri. Bahkan, siapa tahu ada kawan yang mau meminjamnya untuk nanti ia baca di rumah atau mungkin ia salin di bukunya sendiri. Untukmu, aku akan dengan senang hati memberikan catatan ini lengkap dengan pena dan tintanya.

Bandung, 27 Agustus 2017

  • view 148