33 Persen

Bayu Uya
Karya Bayu Uya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Mei 2017
33 Persen

“Sudah berapa persen hidupmu saat ini?”

-------------------------

Kalkulator. Siapa yang tidak tahu alat ini? Mulai dari mang tukang sayur di pasar yang perlu menghitung belanjaan ibu-ibu yang bejibun banyaknya hingga ahli nuklir yang harus menemukan jawaban presisi dari rumus hitungan yang super kompleks, semuanya memakai kalkulator. Dari semua jenis kalkulator, barusan aku menemukan ada satu kalkulator yang perlu dicoba oleh semua orang. Apa itu? Kalkulator usia.

Coba googling sebentar. Tinggal masukkan tanggal kelahiran kita, lalu voilaaa…. keluarlah umur kita saat ini juga. Real time! Bukan hanya hitungan tahun, bulan, atau hari saja tapi hingga jam, menit, bahkan detik. Menariknya, bilangan detik itu terus bertambah. Tidak berhenti barang sebentar saja. Melihatnya membuatku tertegun. Tersadar bahwa usia ini terus bertambah. Detik ke detik.

Eh bertambah atau malah berkurang?

Kalau ada yang bertanya, “berapa usiamu?” maka pasti spontan kau jawab sekian tahun sesuai tahun kelahiranmu. Wajar. Namun, menyadari bahwa usia terus bertambah ternyata masih gagal memberikanku urgensi akan berharganya waktu. Seakan angka penanda usia itu tidak memiliki makna lebih. Hanya ada untuk bertambah setiap tahunnya. Seakan akan terus bertambah tanpa ada batas berhentinya.

Agaknya diri ini memang perlu pengingat akan usia yang terus bergerak maju ini. Akan waktu yang telah kita lewatkan selama ini. Atau setidaknya kita perlu sudut pandang lain dalam melihat usia ini.

So, mari kita coba berpikir dengan cara yang lain.

Kita mulai dengan statistik. Berdasarkan data PBB, angka harapan hidup orang Indonesia saat ini adalah 70,1 tahun. Sekarang buka aplikasi kalkulator di hapemu dan hitung usiamu saat ini dibagi dengan 70,1 dan kalikan 100. Hasilnya, kalkulatorku menunjukkan angka 32,81. Agar bisa jadi judul tulisan yang menarik, maka angka itu perlu kubulatkan menjadi 33%.

Apa itu artinya? Artinya aku sudah menjalani 33% dari harapan usia orang Indonesia. Dengan kata lain, jatahku tinggal duapertiga lagi. Itu pun jika memang sesuai harapan.

Bagaimana jika ternyata bahkan hitungan tahun usia ini sudah mentok. Atau tidak perlu jauh-jauh ke hitungan tahun, bagaimana jika hitungan hari, jam, menit, atau bahkan detik dari usia ini sudah waktunya untuk ‘cukup sampai di sini saja’? Tanpa sempat kita antisipasi. Tanpa sempat kita perhitungkan. Tanpa sempat kita sadari. Berhenti begitu saja.

------------------------

“Jadi, sudah berapa persen hidupmu saat ini yang sebenarnya?” tanyamu sekali lagi. Aku terdiam. Tidak yakin dengan jawabanku sebelumnya.

Iseng, aku menatapmu dan balik bertanya, “lantas bagaimana denganmu. Sudah berapa persen lagi?

Kau pun terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

  • view 47