Kala Dopamin Bersua Enzim

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2016
Kala Dopamin Bersua Enzim

Percakapan-percakapan itu tak pernah menguap. Tertelan angin laut atau semacamnya. Percakapan itu menyangkut di ujung lidah, di pangkal-pangkal ingatan atau di tapak jemari kala mengetik.

Seperti percakapan kita. Percakapan yang engkau tuliskan itu. Izinkan pula aku mengabadikannya. Membacanya berulang tak ubahnya menyiangi rimbun kenangan di relung yang abstrak itu...

***

Dopamin, begitu engkau berikan judul tulisan itu.

"Dopamin, tujuh huruf yang pernah kau kenalkan padaku dulu, sekarang aku benar-benar mempelajarinya, bukan sekedar cerita sejarah yang kau karang atau definisi ilmiah yang aku diskripsikan secara asal," lanjutmu.

Aku tersipu membaca kalimatmu. Sejarah, bagiku, mungkin adalah seberapa cepat aku merangkai berbagai data untuk diceritakan sefaktual mungkin. Aku suka itu, melatih imajinasi, menurutku. Begitu juga dengan dirimu yang tertatih mengingat-ingat keterangan dosen-dosenmu yang konon menyebalkan itu tentang semua pertanyaan-pertanyaan konyolku.

"Dopamin. Aku tak mengenal kata itu sebelumnya, alasanku karena aku masih semester awal kala itu. Alasan sesungguhnya karena aku tak pernah suka membaca sepertimu."

Aku teringat sesuatu, enam tahun yang lalu, mungkin. Aku menemukan sebuah novel dengan judul "Mekanika Quantum". Entah siapa pengarangnya dan bagaimana ceritanya. Aku lupa. Yang aku ingat dari buku itu adalah bagaimana hal-hal eksakta, yang kaku, yang ilmiah itu, terangkai menjadi kata-kata indah yang romantis. Tentu, juga puitis. Mengenalmu, betapa aku terobsesi demikian. Sayang saja, aku tak kuasa menirunya. Jadi, yah ala kadarnya.

"Dopamin itu, suatu hormon yang membuat suatu rasa suka pada seseorang, seperti kokain. Dopamin juga bisa membuat kecanduan."

Terdengar wagu kan? iyalah, aku mencomot hal itu juga asal-asalan dari internet lalu coba memahaminya dan aku cocok-cocokkan. Hehehe.

Tapi setidaknya itu kan membuatmu mengenal satu kata yang belum pernah kau dengar? hehehe

Dan tentang enzim itu, aku teringat guru biologi semasa SMA ku. Teman-teman memanggilnya Pak Enzim. Bahkan, anak pak guru itu, yang sekelas denganku, juga turut serta menyandang gelar itu. Apa pasal? konon, pak guru itu, suka sekali ngomong enzim. Tak sekedar suka, tapi aksenya tampak berbeda dengan mengatakan kata lain. Begitu menjiwai dan seperti ada penekanan. Khas!

Tapi, bukan karena itu aku memanggilmu demikian. Ini semacam doa. Dopamin, yang kala itu, aku memahaminya sebagai "penjelasan ilmiah" tentang sebuah cinta haruslah perlu adanya katalisator untuk bisa mereaksikannya. Katalisator itu, sepengetahuanku, adalah enzim. Jadi, simpulku sederhana, dopamin yang aku punya, itu terkatalisatori oleh dirimu. Dengan kata lain, engkau adalah katalisator rasa cintaku.

Ah, konyol kan?

Sebenarnya aku malu, takut ketahuan kalau aku sok tahu. Tapi, sejatinya, hanya ingin memancing rasa ingin tahumu. Setidaknya, suatu saat nanti, kamu akan mempelajarinya. (Ah, ngeles aja :-D )

Benar dugaanku. Beberapa bulan kemudian, engkau pun mempelajarinya.

Ada tiga tahapan 'ilmiah', tulismu, dari seseorang yang merasakan cinta: lust, attraction, dan attacment.

Lust adalah tahapan yang memunculkan hormon testosteron dan estrogen. Keduanya, menghasilkan rasa ketertarikan. Begitu ungkapmu.

"Dari tahap itu, meningkat ketahap attraction. Yaitu tahapan "fight or flight response", dimana akan meningkatkan hormon adrenalin dari ujung syaraf, mengakibatkan percepatan denyut nadi, aktivasi kelenjar keringat, dan mengambat salivasi," lanjutmu.

Pada tahap ini, dopamin makin meningkat. Menimbulkan efek yang menyerupai efek kokain. Energi meluap-luap, kebutuhan tidur dan makan berkurang, dan perasaan fokus hanya pada rasa senang. Di tahap ini pula, hormon Serotonin berkurang. Pada saat demikian, akan memicu sikap obsesif. Lantas, timbul gejala menyeruai 'obsesive compulsive disorder' suatu gejala yang terus berulang untuk meraih sesuatu yang diobsesikannya.

Kita pernah, dan mungkin sampai saat ini, berada dalam posisi demikian. Kita terobsesi dengan diri kita sendiri. Setiapmu, adalah setiapku. Apakah engkau demikian?

Pada tahap ketiga, kita sama-sama memproduksi hormon oksitosib dan vasopresin. Ada ikatan kuat di ruang abstrak itu. Meski tak memungkinkan bagi kita untuk menampakkannya. Entah, suatu kapan, dalam relung abstrak itu, aku melihat seperti detak jam digital yang berjalan mundur. Semacam bom waktu. Yang, mungkin, akan meledakkan ruang abstrak tersebut.

Sekali lagi, entah apa yang akan terjadi. Ruang abstrak itu akan hancur dan mewujud realita ataukah hancur sehancur-hancurnya.

Namun, sampai aksara ini aku rangkai. Aku masih sama dengan apa yang engkau simpulkan.

"Dopamin itu tidak pernah hilang. Ia selalu ada dalam tubuh seseorang. Juga dopaminmu dalam kenanganku."

?

  • view 143