Maret Di Lereng Ijen

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Maret 2016
Maret Di Lereng Ijen

Tetesan embun membulat di ujung dedaunan cengkih. Aroma bunganya yang semerbak harum, tercium hangat kala pagi. Tanah, bebatuan, rumput masih berselimut air sisa hujan semalam. Udara begitu dingin, khas kaki pegunungan. Uap terlihat mengepul dari tiap mulut yang berbicara. Tipis, seperti orang yang menghembuskan asap rokok yang ketiga kalinya.

Segar dan gembira. Menyusuri jalan yang tak banyak dilalui orang. Pemetik cengkih masih belum datang sepagi itu. Biasanya, masih menjerang air untuk menyeduh kopi atau masih menunggu nasi tanak hingga siap dihidangkan. Disantap bersama keluarga. Tanpa alas, kaki terasa refleksi menginjak batu-batu kecil. Sensasi basah juga terasa dari ulasan rumput-rumput kecil.

"Ayo berjajar," satu-satunya cowok itu mengarahkan tustel abu-abu ke arah beberapa perempuan.

Di atas jembatan kecil yang membelah aliran kali yang gemericik menuruni undakan, gadis-gadis berkerudung itu berpose dengan gaya masing-masing.

"Satu, dua.... tiga," pekik lelaki dari bawah.

Selang beberapa detik kemudian, salah satu gadis itu memekik, "Lagi..lagi..."

Begitu terus, sampai beberapa kali. Beragam pose. Hingga akhirnya ada yang nampak beda dari kerumunan gadis-gadis itu.

"Siapa dia, kok aku gak pernah tahu?" tanya lelaki yang sejak tadi menjadi juru foto itu.

Lelaki itu bertanya ke salah satu gadis-gadis itu, seraya menunjuk seorang gadis berkerudung kuning, berkaos hitam.

"Oh itu, ayo mau apa?" gadis itu malah balik bertanya.

"Ya, sekedar ingin tahu saja. Aku belum kenal," ujar lelaki memakai jumper abu-abu itu.

"Masak, sih?" gadis yang ditanya itu ragu. "Dia itu sedang kuliah di luar kota, jadi jarang kumpul."

"Owalah...." gumam lelaki itu, "siapa namanya?"

"Kenalan sendiri kalau berani," tantang gadis itu pada lelaki itu.

"Ah, kamu,"

***

Kerudung kuning yang engkau kekanakan, kaos hitam yang membalut tubuhmu, dan rok marun itu, membekas dalam gemiricik kenangan lelaki pemoto itu, lelaki berjanggut tipis.

Dengan sedikit kegigihan, didorong rasa penasaran, dan sebuah hal yang tak terdefinisi, akhirnya lelaki berjanggut tipis itu mendapatkan nama dan selusin angka nomor handphonenya.

"Fia, namaya," seorang gadis memberi tahu.

"Sekarang mana?"

"Udah balik ke luar kota. Ada kuliah ntar siang, katanya,"

"Ah, luput," gumam lelaki itu. "Ada nomor HP-nya, gak?"

"Ini..."

Melonjak girang hati lelaki itu. Tampak dari senyumnya yang merekah seketika.

***

"Terima kasih telah hadir dalam kegiatan ini," pesan singkat dilayangkan.

Menunggu berapa lama. Sinyal begitu langka. Maklum, di lereng gunung tak mudah mendapat akses sinyal.

Tak ada balasan. Sejam, dua jam, sehari, sampai pulang, turun dari lereng itu, tak ada balasan.

Si lelaki hanya menunggu kecut.

***

Hari kedua, setelah pesan pertama terkirim, handphone lelaki berjanggut tipis itu berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari Fia.

Komunikasi pun berlanjut. Merangkak lambat, awalnya. Pelan. Cepat dan makin berlari selanjutnya.

***

Maret di lereng Ijen, kisah itu bermula. Entah gimana ujungnya.

***

Aku tak ingat lagi tentang aroma cengkih
butir-butir embun
batu dan rerumputan
gemericik air sungai

Semua sirna
seutas senyum
dan sorot mata jenaka
menyesak dalam kenang

  • view 146