Rindu Yang Tak Pernah Basi

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Rindu Yang Tak Pernah Basi

Lembut rintik hujan itu. Meski cukup lebat namun seperti melulai membran, tetesan hujan itu terasa halus menyentuh kulit. Hampir tak terasa sentuhannya. Hanya rasa dingin yang mengingatkan bahwa tubuh telah kuyup dengan hujan.

Langit tampak kelabu. Rata. Sejauh mata memandang, seputaran leher menengok langit berwarna sama.

Tak ada bangunan yang menghalangi pandang. Hanya bukit-bukit yang terlihat hijau sepanjang pandang. Itu pun tak jua menghalangi pandang. Karena dua insan itu, berada di puncak salah satu bukit.

"Tidak kah kamu merasakan bahwa rindu ini akan basi?" tanya perempuan itu pada lelaki di sampingnya.

Lelaki tak berujar. Sorot matanya jauh, melihat savana hijau tak bertuan. Tubuhnya disandarkan pada sebatang pohon. Daunnya yang jarang tak cukup memberinya keteduhan. Tetesan air hujan mengalir dari atas alisnya. Meluncur pelan ke samping pelupuk mata, pipi, dan lalu menetes dari dagunya yang ditumbuhi janggut tipis.

"Betapa aku merindu, rindu denganmu yang menjajah imajiku. Lelap dan bangunku telah terpendar cahaya rindu padamu. Tak ada jeda. Sedikitpun. Tapi, kenapa?"

Perempuan yang menahan dingin perbukitan itu, mendekapkan kedua tangannya. Jaket ungu muda itu, sepertinya tak mampu menahan hawa. Kerudungnya telah basah kuyup. Wajah putihnya mulai melayu. Tapi, bibir ranum merah tipisnya masih kokoh meruntuhkan isi hatinya.

"Kenapa engkau acuhkan buncahan rindu itu?"

Perempuan itu terus mendesak. Sang lelaki tetap tak bergeming. Namun, sorot matanya mulai membayang. Berkaca-kaca.

"Tidakkah engkau berpikir bagaimana beratnya aku menanggung rindu? rasa begitu berat mengalahkan semua beban tugas-tugas kuliah, beragam masalah organisasi dan setumpuk urusan harian lainnya."

Meski pelan, namun tekanan nada bicara perempuan itu meledak-ledak. Seperti meriam-meriam Fatahillah kala mengusir Portugis di Jayakarta.

Sesaat kemudian tak terdengar apapun. Suara perempuan itu hening. Lelaki di sampingnya pun masih membisu. Meski sudut-sudut bibirnya terlihat bergetar. Entah kedinginan atau menahan hasrat tuk bicara?

Di keheningan itu, suara angin menghembuskan hujan dan dedaunan terdengar jelas. Semakin menegaskan, tak ada seorang pun selain mereka berdua di savana berbukit hijau itu.

"Kini rindu itu telah basi," gumam perempuan itu. "Tak usah lagi kau berharap untuk menyalakannya. Sudah tak mungkin."

Deru nafas saja yang terdengar. Hening berlanjut kembali. Hujan mulai mereda.

"Sejak kapan rindu itu basi?" lelaki itu mulai menggerakkan lidahnya.

Hitam mata perempuan itu bergeser ke samping. Menengoknya pelan.

"Bukankah kamu pernah mengatakan, hanya yang bernafaslah yang akan basi?" lanjutnya lirih.

Keduanya terdiam kembali. Cukup lama. Dari kerut dahinya, tampak bahwa ada lintasan kenangan yang coba dikoreknya dari laci-laci memori keduanya.

"Rindu juga bernafas, kok," saut perempuan itu kemudian. Tampak jenaka.

"Mana ada?" ledek lelaki di sampingnya, tak kalah jenaka, seraya mencubit lengan perempuan itu.

"Yang merasakan rindu itu manusia. Manusia kan bernafas, jadi rindu pun akan bisa basi," bantahnya sambil menggamit lengan lelaki itu balik.

"Tidaklah. Meski orang itu mati, rindu akan tetap ada. Tak akan basi."

"Basi."

"Tidak"

"Basi, basi, basi..."

"Tidak, tidak, tidak..."

Ketegangan tadi kini hilang. Keduanya berkejaran di puncak bukit itu. Hanya berdua. Bersama hujan yang tak lagi lebat.

Mereka terus berkejaran, menjauhi pohon. Berangkulan. Terguling. Berputar-putar di atas rerumputan.

"Rindu itu buhul, sayang," lelaki itu berujang. Begitu dekat.

"Kenapa kamu masih memanggilku sayang?"

"Karena cinta itu rindu. Selama masih merindu, selama itu masih cinta."

"Rindu itu abadi, ya?"

"Iya. Entah itu selamanya bersemayam dalam hati atau terpaut dalam relung-relung savana berbukit hijau ini,"

Dekapan itu makin erat. Bibir yang terkatup itu berpagut. Sekejap!

  • view 187