Tentang Sebuah Lagu

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
Tentang Sebuah Lagu

............

Te voglio bene assai
ma tanto tanto bene sai
e? una catena ormai
che scioglie il sangue dint? e? vene sai?

Suara Luciano Pavarotti terdengar merdu dari speaker laptop. Carusso, begitu judul lagu tersebut.

Aku yang duduk termenung, tak tau apa yang mau dilakukan, terkenang dengan lagu itu. Berawal dari penggelan syair yang kau unggah; Te voglio bene assai. Aku pun coba memasukkannya ke mesin pencari.

Sebuah lagu yang menceritakan akan kegundahan seorang lelaki. Ditinggal sang perempuannya. Di sebuah rumah tua di dekat teluk Sorrento, jauh di Italia sana. Dengan memandang kilau gemerlap lautan dan hembusan angin sepoi, lelaki itu tak kuasa menahan derai air mata.

Lelaki itu mengenang tentang seorang gadis. Begitu amat dicintainya. Cinta yang membuat lupa akan kata-kata. Kebersamaannya pada malam-malam di Amerika sana, menjadikan lelaki itu terbayang terus menerus, seraya menyanyikan sebuah puisi; te voglio bene assai.

***

Tak harus sama di Amerika. Atau jauh di teluk Sorrento sana. Di dermaga kayu itu, kenangan itu menggenang. Berdua. Aku merangkulmu, kau memelukku. Bercerita, mengambil gambar, membaca buku, dan sesekali merutuki nasib. Dengan kilau mentari pagi yang hempas ombak pantai dan hembus angin sepoi pula.

Saat ini, aku menahan untuk tak menangis seperti lelaki di Carusso itu. Tak semelankolis lagu-lagu klasik Latin itu juga. Aku hanya bisa menghayati kenangan-kenangan itu dengan selaksa aksara. Merajut sehalus mungkin.

Seharusnya, semua kenangan itu mati. Bersama kematian yang senantiasa engkau pekikkan. Apa pasal, kematian sebuah kenang adalah reinkarnasi. Kematiannya adalah kehidupan dalam rupa yang berbeda. Seribu makam telah digali untuk semayamkan kenangan, namun seribu satu persalinan melahirkannya kembali.

Aku tak tahu harus sampai kapan berenang dalam kenangan-kenangan itu. Mengingat ataupun melupakan tak ada beda. Sama-sama menyemayamkan dalam diri. Melupakan sama hal menaruh kenang dalam hati, mengenangnya tak ubahnya menaruhnya dalam pikiran.

Bisa jadi yang engkau katakan benar.

"Cinta dan kematian itu hak preogratif Tuhan," tulismu suatu ketika. "Biarkan saja Tuhan yang membuat kita jatuh cinta, dan Ia pula yang yang akan melupakan akan cinta itu."

Sabar dan teruslah hadapi, begitu engkau nasehatkan. Sederhana, memang.

Tapi, benarkah Tuhan menghendaki demikian? Menghendaki perjalanan kisah yang begitu?

Aku pun tak tahu.

***

Aku teringat suatu percakapan di suatu sore. Tentang Tuhan dan sebuah jodoh. Satu hal yang aku fahami, Tuhan telah genggamkan jodoh kita masing-masing. Tersisa usaha kita untuk mengambilnya. Perlu perjuangan, keberanian, dan tentu kenekatan untuk bisa merengkuh itu.

Tuhan tak sepreogratif yang engkau maksud. Tuhan memberi saham kepada manusia untuk ikut menentukan takdirnya. Termasuk menentukan jodohnya pula. Adakalanya Tuhan sekedar menunjukkan, tinggal kita untuk mengumpulkan setangkup keberanian tuk memetiknya. Kadang Tuhan hanya mengantarkan, ketekunan dan kesanggupan kita lah yang menentukan keabadiaan. Terkadang Tuhan pun melapangkan dan memudah segala urusan. Kita tinggal bahagia.

Bahagia itu butuh perjuangan, mungkin. Tak sekedar kata-kata, tapi pelaksanaan.

Pada titik ini, aku dan engkau, ada pada kebingungan yang sama. Kebingungan yang tak beranjak dari kenangan. Mau disemayamkan dimana lagi kenangan ini? Ataukah tak perlu dikebumikan, tapi harus diperjuangkan?

Aku yakin, kita akan sama menggeleng. Tak tahu. Tak pula yakin.

***

Lamat-lamat suara Pavarotti makin lirih. Tak terdengar lagi. Namun, begitu keras dalam benakku akan arti dari lirik itu;

....................
Aku sangat mencintai mu,
sangat, sangat mencintai mu
seperti rangkaian yang tak pernah putus
yang mencair dan mengalir di seluruh pembuluh darah ini

.........................

?

  • view 178