Kembang Gula, Lambang Kisah Kita?

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Kembang Gula, Lambang Kisah Kita?

Senin malam itu begitu berbeda.

Memang, langit tetap legam meski berhias kerlip lintang, pohon-pohon lesu, tak ada angin yang menyapa. Meski tak gemigilkan diri, hawa dingin tetaplah dingin. Tak ubahnya hawa malam.

Di alun-alun kota itu begitu berbeda.

Memang, orang tetap berlalu lalang dengan segala aktivitasnya. Bercanda, bergandengan, makan bersama, menonton parade dan lainnya. Ada pula yang berjaja makanan, mainan dan sebagainya. Berpaut dengan deru kendaraan yang berseliweran.

Jiwa kita, mungkin, yang berbeda.

Ada kebahagiaan yang tak tertera. Jemari yang saling berpagut, senyum yang saling berbalas, sorot mata yang saling tatap.

Berjalan bersama, menikmati malam. Duduk bersebelahan, mengelupas kenang. Bercengkrama karib, mempertaut kesadaran. Memuncakkan romantisme.

Namun, ada satu hal yang tak sempat terurai di malam yang berbeda itu. Malam nan bahagia. Tentang kembang gula. Arum manis, kita menyebutnya. Oh iya, masih ingatkah engkau warna jajanan serupa kapas itu? biru sebagaimana warna favoritmu, ataukah merah jambu yang konon warna romantisme itu?

Kita mencabik kembang gula itu. Sebungkus berdua. Seharusnya, kala itu, aku bertanya padamu.

"Coba jelaskan bagaimana proses kembang gula ini?"

Seraya mengingat-ingat. Wajahnya ditengadahkan ke atas. Tak terlalu. Cukup mendongak. Jemari telunjuk, kamu pukulkan pelan-pelan pada mulut yang agak engkau lincipkan.

"Emh...emh...." gumammu.

"Ini terbuat dari Sukrosa.Sukrosa adalah disakarida, atau gula ganda, yang terdiri dari satu molekul glukosa terkait dengan satu molekul fruktosa. Karena satu molekul air (H2O) hilang dalam reaksi kondensasi menghubungkan glukosa menjadi fruktosa, sukrosa diwakili oleh rumus C12H22O11."

"Ah, apa itu," gumamku protes tak paham. "Sebut saja terbuat dari gula. Simpel kan?"

Kamu tertawa. Baris putih gigi mentimunmu berpendar.

"Kamu tahu nggak?" aku bertanya sekali lagi.

"Pasti, tentang sejarah kembang gula?" kamu menebaknya.

Aku terkekeh.

"Coba ceritakan?" kamu pun penasaran.

"Di luar negeri orang menyebutnya cotton candy atau fairy floss," aku memulai bercerita.

Matamu tajam menyimak gerak bibirku.

"Konon, kembang gula telah dibuat sejak abad ke-15 di Italia. Namun, baru abad ke-19, dua orang penemu, William Morrison dan John C Warthon menciptakan mesin peleleh gula yang bisa membentuk seperti kapas ini."

Aku menyobek sedikit kembang gula itu. Menyuapkan padamu. Kamu melahapnya.

Aku begitu suka memandang merah bibirmu. Meski tanpa gincu.

"Ah, pasti kamu ngarang lagi, kan?" gugatmu.

"Husst...." aku mengelak.

"Gogling lah," aku tunjukkan smartphone.

"Hahaha...." kamu terbahak. "Kabeh yo iso," protesmu.

***

Tinggal tangkai yang terbuat dari bambu di genggamanku. Kembang gula telah lalap dinikmati berdua. Dengan sederet obrolan-obrolan itu.

Kini, kembang gula telah menjadi saksi. Malam yang berbeda itu. Namun, kembang gula tak sekedar mozaik dari serpihan kenang. Kembang gula adalah perlambang. Kisah panjang tentang sebuah rasa manis.

Diproses dari perasan tebu. Melalui serangkaian proses kimiawi dan fisikawi, terbentuklah kristal-kristal gula. Dipanaskan di sebuah tungku khusus, dan berputar dengan kecepatan tertentu. Kristal-kristal gula berubah laksana kapas. Dengan campuran pewarna, kapas-kapas gula tersebut disatukan dengan sebilah batang bambu. Jadilah, kembang gula.

Malam ini, mengingat masa itu, ingin ku berbisik padamu. Semoga engkau mendengar disana.

"Jika kembang gula itu kisah kita, maka kita sedang diperas, disaring, dipanaskan, digiling. Namun semua tak akan merubah rasa manis itu."

Dan, aku berharap engkau balik berbisik padaku.

"Rasa manis itu cinta kita, kan?"

  • view 253