Molekul Cinta

Bayu Aksara
Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2016
Molekul Cinta

"Aku tak kan pernah jatuh cinta lagi," Ujar gadis berkerudung putih itu, "Cinta hanya membuatku terikat dalam rasa yang tak terurai. Membalut penderitaan dalam senyuman. Menggoreskan luka laksana kebahagiaan."

"Cukup sudah aku merasakan jatuh cinta. Aku akan membuat cinta itu sendiri. Cinta yang membungakan suka dengan siraman bahagia. Cinta yang tak munculkan duri nestapa. Mengalir pada lajur nurani dengan semerbak mewangi." Gadis berkerudung putih itu terus merontakan rasa hatinya dipekat malam.

Berdebur deru ombak menemani gelombang jiwa gadis berkerudung putih itu. Gelombang yang menghempaskan kepanikan dan keputusasaan. Entah rasa apa yang menyeruak masuk ke pori-pori hatinya. Lantas membakar dan meluluhlantakkan singgasana cinta yang bermahligai ditiap sanubari manusia.?

Mungkin ada semacam pisau tajam yang tertelan jiwanya. Atau bara yang menggumpal bak bulatan telur puyuh yang tertelan. Gadis berkerudung putih itu menyorotkan matanya. Tajam laksana pedang.

"Buatlah cinta itu, mungkin cinta yang engkau maksud itu tersembunyi di sudut-sudut laboratorium," Ujar lelaki berjanggut tipis yang sejak tadi menguntit gadis berkerudung putih itu, "Atau mungkin cintamu itu terserak di tabung-tabung reaksi." Lanjutnya.

"Siapa engkau?"

"Tak perlu engkau tahu siapa aku."

"Aku tak kenal engkau."

"Tak semua yang engkau tak kenal bukan berarti tak ada padamu."

"Apa maksudmu?"

"Tahukah engkau ada banyak hal yang engkau rasakan namun tak pernah benar-benar engkau sadari?"

"Apa itu?"

"Cinta. Ya, cinta."

"Persetan dengan cinta."

"Cinta bisa engkau ciptakan sebagaimana yang engkau kehendaki tadi." Lelaki itu melemparkan pandang jauh ke rembulan yang tersipu kecut.

"Cinta itu emosi jiwa. Pada emosi jiwa itulah hormon bereaksi."

"Jangan ajari aku dengan itu semua." Sela gadis itu.

Gadis berkerudung putih itu menghembuskan nafas panjang dan berat. Menatap jauh. Melompat pada kenangan panjang. Tumpukan buku diktat tebal dan berdebu. Berserakan memenuhi meja, tempat tidur, dan hampir disetiap sudut kamarnya. Sudut mata yang terus dipincingkan menggerayangi huruf-huruf di lembaran buku. Merangkai pengetahuan untuk membelah misteri. Mengakrabi pintu-pintu besi yang berdentam kencang tiap kali ditutup. Tak kenal mentari atau rembulan diluar sana. Hari-harinya dihabiskan dikamar dan ruang laboratorium tak berpendingin itu.

"Aku sudah membeliak semuanya. Memproses semuanya." Gumam gadis itu.

Sudah ditelusurinya apa itu dopamine. Zat yang tak ubahnya kokain. Membuat candu yang terus menerus menagih. Ibarat dedaunan yang terus mendamba sinar matahari untuk berfotosintesis. Sudah ditelisik bagaimana?fenythelamin bekerja. Memompa jantung untuk berdebar lebih kencang dan nafas berhembus lebih cepat. Sudah pula bagaimana itu?adrenalin? bereaksi membuat nafsu makan tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Gadis itu pun telah mengakrabi bagaimana?endorpin?yang tak ubahnya morfin pada tubuh yang muncul pada saat sakit, gembira dan juga cinta. Gadis itu juga telah bertaruh waktu untuk menjejak?oxytocine?pada?hipotelamus otak.

"Aku sudah mempelajarinya bagaimana kerja otak untuk menghasilkan cinta." Gadis berkerudung putih itu menghela nafasnya.

"Aku bermimpi untuk menemukan semacam molekul cinta. Molekul yang dapat tumbuhkan cinta dengan penuh bahagia. Tak lagi namanya sakit hati karena cinta. Tak ada lagi patah hati dan beragam derita cinta lainnya."

Lelaki berjanggut tipis itu masih terdiam. Menatap gadis itu penuh rasa.

"Tak kunjung aku temukan molekul cinta itu." Lirihnya.

Gadis itu habiskan semester demi semester untuk menyusuri molekul cinta. Seraya berharap kelak skripsinya mendapat nilai A plus dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik berkat penemuan tentang molekul cinta. Gadis yang menempuh salah satu jurusan sains itu mendedikasikan kerja ilmiahnya untuk itu. Kerja yang merupakan kesumat masa lalunya. Masa lalu pahit akan perihnya ditinggal seseorang yang konon menanamkan cinta dihatinya.

Sejak itulah gadis itu bertekad untuk menemukan molekul cinta. Molekul yang tak lagi membiakkan cinta yang berujung perih, namun cinta yang terus menebar bahagia. Dengan serangkaian kerja ilmiah, mimpi tentang molekul itu akan diwujudkannya. Menyemai kembali hati-hati yang gersang terbakar cinta laksana dirinya dulu.

"Molekul itu ada." Gumam lelaki berjanggut tipis itu.

Gadis itu hanya diam. Membuang pandang pada horison tipis diselimuti malam.

"Aku adalah molekul cinta itu."

"Akulah jelmaan huruf dari referensi-referensimu. Akulah tetesan dari retak tabung reaksimu. Akulah letupan, desisan, goresan bahkan cabikan dari setiap eksperimenmu."

"Lihatlah."

Gadis berkerudung putih memalingkan pandang pada lelaki berjanggut tipis itu.

"Dari bawah lentik bulu mataku memancar molekul cinta itu. Dari hembus nafas menggelinding molekul cinta itu. Dari bait-bait kata ini terpelesat molekul itu. Dari tiap belai tangan tercecer molekul itu."

"Lihatlah."

Semakin tajam gadis itu menusukkan pandangnya.

"Lihatlah."

"Masih butuhkah engkau microskop untuk melihat semua itu?"

Gadis itu tak kedipkan mata sekalipun. Tatapan mematung.

"Lihatlah."

"Molekul cinta yang engkau cari kini telah hadir."

"Rasakan kehadirannya dan hirup. Hirup lebih dalam. Satukan dengan semua jiwa dan ragamu."

Lelaki berjanggut tipis itu membulat kecil-kecil disekujur tubuhnya. Bergerak menyatu membentuk bulatan besar. Semakin memadat dan terus memadat. Mengeluarkan pendar cahaya yang menyilaukan. Kilau itu makin terang. Seperti tumbukan partikel, cahaya itu sekejab menyusup di dada gadis berkerudung putih itu.

"Nikmatilah molekul cinta ini." Lirih gadis itu.

  • view 267