Scrolling

Scrolling Scrolling

Seandainya rayuan bauhela tentang cinta itu masih ada, aku mungkin akan memilih menjadi handphone ketimbang menjadi rembulan. Karena setiap saat handphone tak pernah terlepas dari genggaman. Saban waktu jemari ini menyentuhnya. Terkadang mengetuk, terkadang mengelusnya. Lembut. Setidaknya demikian aku memperlakakan handphone-ku. Mulai dari sekedar membalas pesan, mengetik catatan atau debat tak berarti di berbagai laman media sosial. 

Apakah kamu juga sama? saya yakin tidak. Kamu pasti masih sibuk berkutat dengan laporan-laporan praktikum dan hal ihwal perkuliahan yang aku selalu tak habis pikir, "sebegitunyakah?"

Demikianlah, HP benar-benar menjadi kekasih yang selalu mengundang untuk dicumbu. 

Ditengah 'percumbuan' dengan dunia yang konon maya itu, tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan sosok mayamu di lini masaku. Bukankah telah lama semuanya kita akhiri segala jenis perjumpaan kita di kemayaan ini? sudah sekian waktu, bukan?

Tapi, karena tuntutan profesi yang harus mengaktifkan beberapa akun tuk berceloteh ke sebanyak mungkin akun-akun lain, menghantarkan kembali perjumpaan dengan akunmu. Sebuah simalakama tiba-tiba tertelan dalam kerongkongan. Simalakama itu, bernama scrolling.

Taukan kamu apa maksudnya? tak usah tersipu. Ku yakin kau juga sama, kan? ah, mungkin aku yang ke-ge'er-an.

Demikian celotehmu yang terbaca olehku.

Kau memintaku untuk membuka ruang itu
Bagaimana bisa? Ruang abstrak itu, bahkan aku pun tak sanggup menjamahmu

Deb, hatiku berdetak begitu dalam. Lebih dalam dari sekedar twitwar yang merongrong keimanan atau marwah kedirian.

"Ruang abstrak itu" semacam mantra yang membuka kotak pandora berisi serpihan-serpihan kenangan yang terkunci. Kenangan yang tak mati atau basi. Tapi, meminjam istilah dalam bangku kuliahmu, hanya sekedar hibernasi. Ia menggeliat lagi.

Ketika mahluk bernama kenangan itu menggeliat, kata orang bijak merumuskan, pasti akan ada turunannya: mendendam ataukah merindu? Celakanya, pilihan kedua yang menggeliat. 

Dengan penuh kehambaan aku akhirnya menscrolingnya. Tak ingin ku tuliskan disini tentang rasa yang meletup-meletup saat mengelanai lini masamu. Tapi dari penjelajahan itu, aku hanya ingin bercerita.  [Tenang saja, aku tak akan bercerita tentang hal-hal yang menjemukan. Apalagi bercerita tentang Mairose dan Pras di dalam film yang bertitel rindu-rinduan itu.]

Begini ceritaku:

"Sedari puasa yang lalu aku berkutat dengan tumpukan teks. Buku-buku tebal dengan angka-angka tahun serta nama-nama yang harus ku ingat mengakrabiku. Belum lagi sekeranjang berkas-berkas yang harus dikaji dengan segenap ketelitian. Tak berhenti disitu. Menerobos terik mentari  bahkan sampai pulang larut malam menemui orang-orang yang ditanyai ini itu atau sekedar diajak berbincang.

Ya, aku dan beberapa teman yang lain sedang menggarap sebuah buku. Buku sejarah. Suatu tema yang kerap kali menjadi bahan perbincanganku kala bertemu denganmu. Masih ingatkah engkau dengan itu?

Setelah beragam tahapan itu, ada satu tahapan yang tak kalah beratnya. Meski tak seberat menghibernasi kenangan itu kembali. Yaitu merangkainya menjadi paragraf-paragraf yang tersusun. Menjahit fakta-fakta yang terserak menjadi cerita yang utuh. 

Alhamdulillah. Meski berada dibawah tekanan rezim yang bernama waktu, akhirnya bisa terampungkan juga buku itu. Kini sedang tahap proses penerbitan setelah beberapa kali disunting."

Lalu, apa yang ingin aku sampaikan dari cerita diatas?

Jika aku bisa menyelesaikan tugas tentang sejarah itu, berarti kamu juga bisa menyelesaikan tugas akhirmu tentang tetumbuhan atau kebiotaan itu.

Bukankah sekarang kamu sedang skripsi? ingin sekali aku mendengar ceritamu tentang skripsimu itu. Apakah yang akhirnya kamu pilih dari sekian tema-tema yang dulu dengan gugupnya kamu konsultasikan kepadaku itu. 

Sungguh aku penasaran.

Ah, mending aku simpan saja penasaran itu. Aku hibernasikan saja bersama kenangan yang bergeliat diiringi rindu ini. Mungkin, barang tiga hari aku akan bertapa sembari puasa untuk kembali menghibernasikannya.

Dan dalam tapa itu, ku lamatkan doa: Semoga lekas kelar tugas akhirmu dengan memuaskan serta bisa ke Jerman. Dan kita tunggu bersama apakah tangan Tuhan akan bekerja mewujudkan janji yang sempat ku rapalkan di atas kereta itu?

 

Bayu Aksara

Scrolling

Karya Bayu Aksara Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 28 Februari 2017
Ringkasan
Sebuah simalakama tiba-tiba tertelan dalam kerongkongan. Simalakama itu, bernama scrolling.
Dilihat 27 Kali