Naskah stasiun

Bayu Setiawan
Karya Bayu Setiawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Naskah stasiun

"Aku ini anak dari cucu Tan Malaka..!!"

?

Begitu lah, dengan semangat yang menggelegak terbayang dari urat lehernya yang menegang saat setiap kali si Turmin, anak umur 12 tahun yang tinggal di kolong jembatan Jelambar itu, kesal dengan kawan-kawan yang keterlaluan meledek kekurangan fisiknya.

?

Turmin memang lahir dengan kepala yang ukurannya di bawah rata-rata, microcephaly, ibunya bilang bahwa penyebab hal itu adalah gigitan nyamuk, menurut dokter muda yang tahun lalu singgah ke kawasan kolong jembatan di Jakarta barat itu. ?Menurut penuturan mak Imah, tetangganya yang punya warung di pojok itu, dahulu ibunya berniat untuk membuang Turmin saat masih bayi ke Bantar Gebang, karena kondisinya itu, namun beruntung mendiang ayahnya yang baru pulang dari demonstrasi para tukang becak di Tangerang itu mencegahnya, dia bilang,?

"Surti..!!, istighfar!, dia ini penerus satu-satunya darah pahlawan negeri ini!, kakekku, Tan Malaka..!!"

?

Tidak berlanjut disitu, ayahnya naik ke atas jembatan sambil membawa Turmin bayi dan berseru kepada setiap penghuni kolong jembatan Jelambar itu, "ingat!!, anak ini harus kalian jaga dan sayangi seperti anak kalian sendiri..!!, jabang bayi ini keturunan pahlawan, kalian tahu..!!, Tan Malaka..!!", meski tidak ada seorang pun yang mengenal nama itu, namun jika disebut nama Soekarno, Hatta, Sudirman, mereka tahu belaka sebab bukankah nama-nama jalan memakai nama familiar itu?, bukti mereka adalah pahlawan.

?

Siang itu Turmin berjalan telanjang kaki sepanjang jalan di terminal Grogol, matanya mencari-cari dengan jeli ke arah selokan, berharap ada botol plastik bekas dalam jangkauan matanya, atau pula roti sisa yang terburu-buru dibuang ke tong sampah oleh karyawan yang kesiangan.

?

Cemas, juga hinggap di hatinya, was-was jikalau ada penertiban lagi yang semakin sering. ?Kata cerita orang-orang, gubernur Jakarta yang sekarang bukan darah asli Indonesia, apalagi betawi, tapi orang Cina. ?Dan dia tahu nama gubernur itu, Ahok. ?Kelak jika dia bertemu Ahok, akan dimintanya supaya dihentikan penertiban yang membuat banyak kawan-kawannya enggan mencari botol bekas lagi, memilih untuk pergi ke pasar dan mencopet, atau mengutil.

?

Turmin coba membayangkan dan membandingkan dalam otak mininya itu, gubernur dan pemilik toko beras, yang suka mengusir Turmin dan kawan-kawannya ketika bergerombol di depan toko, mereka sama-sama orang Cina.

?

Atau dia mencoba membandingkan dengan pria cina berkacamata yang ada di depannya sekarang, yang tiba-tiba muncul lalu menghampiri dan mengelus kepala kecil Turmin, lalu bertanya,?

"lu anak siapa?,"

"Anak Surti," jawab Turmin dengan polos,?

?

pria itu tersenyum dan bertanya lagi,

"Nama lu?,"

"Turmin, koh," kata Turmin sambil lamat-lamat memperhatikan wajah pria itu.

?

Pria itu mengukur-ukur ubun-ubun turmin, jengkal demi jengkal, lalu memijit-mijit pundak, lengan, dan betis Turmin. ?Lalu dia mengelus dagunya dan berkata, "tulang lu bagus, mau belajar wushu gak sama gua?,"

"Apaan itu koh?," tanya Turmin terheran,

"Semacam silat, tau silat?," jawab pria itu

?

Turmin tau apa itu silat, mendiang ayahnya itu juga mengajar silat untuk orang di kolong jembatan, sampai tiga tahun lalu ayahnya meninggal selepas adu tanding dengan preman Kalijodo di pinggir sungai Grogol, 1 lawan 7 orang.

?

Turmin mengangguk.

?

"Mau belajar wushu sama gua?" Tanya pria cina itu lagi,

?

Turmin mejawab dengan menggeleng sambil menatap arah lain, jauh di belakang pria itu dia melihat keramaian wartawan dan orang-orang berbaju rapi serta beberapa satpol pp menghampiri arah Turmin.

?

Wah penertiban, pikir Turmin panik. ?

Dia lalu bertanya sebelum meninggalkan pria berkacamata itu,?

"nama kokoh siapa?,"

Pria itu tersenyum dan menjawab, "nama gua Basuki,"

?

Turmin lekas lari terbirit-birit menjauh dari gerombolan satpol pp yang kelihatan mendekat ke arahnya. ?Dia juga sempat mendengar jawaban pria cina berkacamata itu.

?

Jauh sudah rasanya Turmin berlari, dia berhenti di depan pagar rumah sakit grogol, terengah-engah. ?Setelah berhenti sejenak, Turmin lalu menuju stasiun melanjutkan mencari-cari. ?Di ujung stasiun dia melihat seorang pemuda membawa ransel besar duduk di bangku yang kosong, sedang memotret ke arahnya. ?Dia menatap pemuda itu, dan menghampiri dengan berlari kecil saat pemuda itu melambaikan tangan ke arahnya.

?

Dari dekat dia mengamati pemuda itu, berbadan gempal, namun tidak bongsor, tingginya sedang, rambutnya ikal, kulitnya sawo matang dan memiliki mata seperti elang, tajam di sudutnya serta bulu matanya yang melengkung dihias alis tebal hitam melengkung ke atas pula, layaknya dilukis.

?

Pemuda itu bertanya, "sudah makan kamu?,"

"Belum om," jawab Turmin

?

Lalu pemuda itu mengeluarkan sebungkus roti bagelen dari dalam ranselnya,?

"nih, buat kamu," kata pemuda itu sambil menyodorkan roti itu kepada Turmin.

?

Tenggorokan Turmin naik turun melihat roti yang disodorkan kepadanya, dia merasa seakan ludahnya menjadi deras di mulut, dan hanya mampu ditelannya saja, lalu berkata,

"enggak om, makasih, ayah Turmin bilang jangan suka menerima pemberian orang lain,"

?

Pemuda itu mengangkat alisnya dan berkata, "oh, jadi namamu Turmin?, orang lain mana?, kita ini satu bangsa, bukan orang lain, terima ini," lalu memberikan roti itu ke tangan Turmin.

?

Saat membuka telapak tangan Turmin, pemuda itu melihat garis tangan pada kedua telapak tangannya. ?Lalu dia menatap Turmin yang kelihatan bodoh dengan kepala kecilnya itu, dan berkata, "duduk lah dulu, sambil makan roti."

?

Turmin lalu menurut saja, dia lalu memakan roti itu dengan lahapnya. ?Pemuda itu tersenyum dan menyodorkan minuman kaleng ketika melihat Turmin kesulitan menelan akibat tergesa-gesa.

?

"Anak siapa kamu?, kenapa berkeliaran di sini?," tanya pemuda itu ramah

"Anak Surti, kolong jembatan Jelambar," jawab Turmin dengan mulutnya yang asik melahap roti

"Nama ayahmu?" Tanya pemuda itu terlihat penasaran

"Abdul Azis, tapi sudah mati," jawab Turmin polos sambil mengunyah

"Coba lihat sini telapak tanganmu," kata pemuda itu sambil berusaha meraih telapak tangan kiri Turmin

Namun Turmin menyembunyikan tangannya dan berkata ketus, "mau apa om?, mau ngeledek tangan Turmin ya?,"

Pemuda itu tersenyum heran dan bertanya, "kenapa gitu?"

?

Turmin mencibir lalu menjawab, "setiap teman Turmin hobi meledek, dari ujung kepala sampai jari kaki sudah sering jadi bahan tertawaan, terutama kepala Turmin yang kecil dan tangan Turmin ini."

?

"Seperti ini?," tanya pemuda itu sambil menunjukkan kedua telapak tangannya dan tersenyum,

Turmin melihat kedua telapak tangan pemuda itu dan tertawa hingga remah roti berterbangan dari mulutnya, "hahaha, om juga pasti sering diejek teman-teman kan?," Turmin lalu menyodorkan telapak tangannya pula.

Terlihat jelas kedua orang itu memiliki garis tangan yang sama dan aneh, satu garis tegas membelah lurus telapak tangan ditambah satu garis melengkung di bawahnya, yang jika dilihat, seperti huruf "V" terbalik saja, hanya memiliki dua garis nyata, simian line.

?

"Siapa kakek atau kakek buyutmu?," tanya pemuda itu

"Kata ayah, dia adalah cucu dari pahlawan Indonesia, Tan Malaka, namun teman-teman tidak ada yang kenal, pula, ada yang bilang kakek buyutku itu seorang penjahat negara, teroris, komunis." Kata Turmin

?

"Mereka itu kalau bercanda keterlaluan om, tapi Turmin tahu mereka hanya bercanda," lanjut Turmin sambil mengayunkan kaki

?

"Ahhh..." desah pemuda itu mendengar penuturan Turmin, sambil menatap ke arah langit-langit stasiun, ada ekspresi kecewa dari roman mukanya

"Kakek moyangku juga dikenal sebagai pemberontak," kata pemuda itu sambil menyisir rambut dengan tangan

"Siapa namanya om?" Tanya Turmin penasaran

"Arya Penangsang, di buku-buku dongeng dan sejarah ada kok, kamu bisa baca?," jawab Pemuda itu

Turmin menggelengkan kepalanya sayu,?

"Gak sekolah?" Tanya pemuda itu kembali

?

Turmin hanya menjawab dengan anggukan pasrah

?

"Banyak temanmu yang gak sekolah?," tanya pemuda itu, lagi

?

Lagi, Turmin hanya menjawab dengan anggukan sambil menggigit roti

Pemuda itu mengangguk,

?

Lalu Turmin bertanya, "om, kenapa orang Indonesia tidak diperintah bangsa sendiri?,"

?

"Maksudmu?," pemuda itu heran dengan pertanyaan Turmin

"Gubernur kita itu katanya orang cina, kenapa gak orang Indonesia saja?" Jawab Turmin

?

Pemuda itu memberi senyum lebar dan bertanya, "aku ini kelihatan seperti orang Indonesia bukan?,"

Turmin mengamati lagi pemuda itu, bingung maksud pertanyaannya.

"Yaiya lah om," jawab Turmin

?

Pemuda itu tertawa

?

"Kok ketawa om?," Turmin jadi heran melihat pemuda ini

"Padahal nenek moyangku itu dari Cina, haha," jawab pemuda itu

"Masa sih om?, kok kulitnya hitam?" Tanya Turmin tidak percaya

"Namanya sudah berbaur lama sekali, entah sudah berapa puluh generasi, haha" jawab pemuda itu, lalu dia bertanya kepada Turmin, "dan kamu masih menganggap gubernur kita bukan orang Indonesia?"

"Ya kata orang begitu, namanya saja masih cina, Ahok," jawab Turmin sekenanya

?

Pemuda itu lalu memandang bocah berkepala kecil itu sejenak, lalu berkata, "apakah yang disebut orang Indonesia itu, apakah karena suku bangsa dan warna kulit serta bahasa apalagi nama, apa karena identitas dalam KTP, apa karena mencintai Indonesia atau sudah hidup sekian ratus tahun di Indonesia, jadi bisa disebut orang Indonesia?,"

?

Turmin hanya diam dan mendengarkan pemuda itu sambil mengunyah roti bagelen.

?

"Lantas apakah yang disebut dengan pemberontak dan pahlawan Indonesia itu, apakah orang Indonesia ini hanya yang baik-baik dan satu golongan tertentu, dan yang dianggap jahat serta di luar golongan bukan Indonesia, definisi kita tentang hal-hal semacam ini cuma berdasarkan untung rugi semata, jika menguntungkan, mengenakkan, disebut orang Indonesia, jika tidak, dibuang dari ke'Indonesia'annya,"

?

Pemuda itu menggelengkan kepalanya

?

Turmin hampir menghabiskan seluruh roti itu ketika kereta datang dan pemuda itu beranjak setelah memberinya beberapa buah album foto.

Sebelum kereta itu berangkat, pemuda itu berkata dari jendela kereta,?

"Ahok itu sebenarnya bernama Basuki Cahaya Purnama, dan beliau orang Indonesia tulen!,"

?

Turmin hanya berdiri di bibir stasiun di tengah lalu lalang,

?

"Basuki...," ucap bibir kecilnya itu.

?

***

  • view 106