Hutan Larangan

Bangga Surya Nagara
Karya Bangga Surya Nagara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Agustus 2017
Hutan Larangan

Sepi sekali pagi ini. Kicau burung yang biasanya menyemarakkan pagi tidak terdengar. Entah kemana mereka, jangan kau katakan burung-burung itu belum bangun atau masih kedinginan di sarangnya. Biasanya sebelum matahari muncul mereka sudah sibuk berkicau mengucap syukur pada Pencipta, tapi pagi ini begitu berbeda. Sedikitpun suara kicau mereka tidak terdengar, hanya suara batuk emak yang terdengar dari belakang. Ini juga tidak biasa. Kebiasaan emak pagi-pagi bukanlah batuk, tapi memberikan ceramah bagi anggota rumah yang belum bangun saat adzan subuh sudah berkumandang. Aku pun sampai hafal semua kalimat saat emak ngomel padaku kalau belum juga keluar dari selimut.

“Kau tau nak, shalat subuh ini pembeda antara yang muslim sejati sama yang munafik….”
Masih panjang lagi, dan berulang-ulang sampai kami beranjak untuk mengambil wudhu.
Pagi ini berbeda, omelan emak tidak terdengar seperti biasanya. Aku keluar dari selimut, segera menuju dapur mencari emak.
“Uhuk..uhuk..”
“Emak sakit?” Aku bertanya, khawatir.
“Tidak nak, mungkin pagi ini terlalu banyak asap, entah asap darimana. Coba kau buka jendela, pekat sekali kabut seperti ini masih pukul empat saja. Sudah..sudah…shalat sana.”

Aku langsung beranjak dari dapur menuju tempat wudhu yang berada di samping rumah sebelum siraman rohani dari emak memenuhi langit-langit rumah. Ternyata benar apa yang dikatakan emak, kabut pekat membuat mata perih dan nafas sesak. Subuh sebelumnya tidak pernah seperti ini, adzan subuh selalu ditemani embun yang menempel lembut di dedaunan dan membasahi jalanan tanah di depan rumah. Sejuk sekali. Menenangkan.

“Mak Asni….Mak….Mak…hutan larangan terbakar, apinya besar sekali.” Teriakan panic terdengar dari luar. Aku segera bergegas keluar rumah. Emak sudah ada di halaman bercakap-cakap dengan Bu Siti yang tadi berteriak panik.
“Hutan larangan tidak mungkin terbakar Bu Siti, tidak ada yang berani masuk kesana tanpa ditemani tetua kampung ini. Hutan itu berbahaya. Siapa pula yang berani membakarnya.”
“Lihat itu Mak…” Bu Siti menunjuk ke arah hutan larangan.
“Ya Allah..” Emak terperanjat. Asap hitam membumbung tinggi menghalangi cahaya matahari yang baru muncul. Aku segera mengambilkan jaket emak di kamar. Udara pagi masih sangat dingin. Aku, Emak, dan Bu Siti bergegas menuju hutan larangan, memastikan apa yang sedang terjadi. Warga kampung yang lain sudah banyak berlarian menuju hutan larangan.
“Mungkin orang kota yang ke rumah tetua kampung pelakunya.”
“Tapi tidak ada bukti.”
“Iya, jangan asal tuduh. Ujung-ujungnya kita yang kena”

Setiap warga yang kami lewati sibuk menerka-nerka pelaku pembakaran hutan larangan. Menghubung-hubungkan, mengaitkan peristiwa yang satu dengan yang lainnya, lalu mengingat kembali orang-orang asing yang berkunjung ke rumah tetua kampung. Begitu banyak dugaan-dugaan yang aku dengar sepanjang jalan menuju hutan larangan. Mulai dari tamu tetua kampung yang berasal dari negeri tetangga, calon anggota dewan yang beberapa minggu yang lalu tertarik dengan keperawanan hutan larangan, bahkan beberapa anggota lembaga swadaya masyarakat masuk ke dalam daftar kecurigaan mereka, tapi itu hanya sebatas asumsi yang belum bias dibuktikan dengan data yang jelas. Hanya dugaan. Desas-desus sepanjang jalan tanah menuju hutan larangan yang masih perawan.

Lima belas menit berjalan, kami tiba di sebuah padang rumput, perbatasan wilayah kampung dengan hutan larangan. Padang rumput luas yang digunakan oleh warga kampung untuk mengembala ternak mereka. Persediaan rumput untuk ternak di rumah pun diambil dari padang rumput ini. Padang rumput ini adalah salah satu tempat penting bagi warga kampung. Tidak heran jika musim kemarau tiba, semua warga desa dengan sukarela menyirami padang rumput ii pagi dan petang. Bergantian. Tanpa paksaan. Tanpa jadwal, siapa yang menyiram hari ini, siapa yang menyiram besok, tidak ada terdengar rutukan tidak puas karena iri.

Bagian pinggir padang rumput sudah berwarna merah, api menjilat tepian padang rumput. Warga mencegah dengan air dari sungai kecil yang mengalir di sisi lain padang rumput, sebagian memukulkan pelepah daun kelapa agar api segera mati. Bunyi gemerutuk api memakan pepohonan besar terdengar mengerikan, asap membumbung tinggi, burung dan kelelawar berterbangan panik mencari selamat dari amukan api. Beberapa ekor babi terlihat benar-benar lari membabi buta di dalam hutan yang sudah menjadi lautan api. Tetua kampung sibuk memberikan perintah kepada para pemuda agar lekas mengambil air supaya tidak menjalar ke padang rumput. Ah paling tidak warga sudah berusaha agar api tidak menjalar kemana-mana, tapi untuk memadamkan api yang sedang melahap hutan larangan dari subuh tadi sepertinya hal yang mustahil. Teriakan-teriakan tetua kampung kepada para pemuda bercampur dengan tangis dan teriakan histeris ibu-ibu yang menangisi kebun-kebun mereka yang terdapat di sebeang hutan larangan, tumpuan hidup mereka. Pagi ini benar-benar rusuh. Pagi yang biasanya tenang dengan kicauan burung berubah menjadi pagi yang berisi teriakan-teriakan panik di pinggiran hutan larangan, di sebuah padang rumput.

“Habislah semua mak…padahal minggu depan kebun kami sudah panen.” Ujar Ibu Siti sambil terisak.
“Sudahlah Siti, tidak ada yang bisa kita perbuat sekarang. Kita hanya bias berdoa agar api tidak menjalar ke kebun kita di seberang sana. Kebun kami pun entah seperti apa sekarang. Sekarang kita juga tidak bisa datang kesana. Sebelum api benar-benar mati kita belum bisa melintasi hutan larangan, terlalu berbahaya Siti.” Emak mencoba menenangkan. “Tugas kita hanya berusaha, Allah yang akan memberikan kita rezeki.” Emak menguatkan Bu Siti, meski aku tahu emak juga gelisah membayangkan nasib kebun penopang hidup keluarga kami, kebun warisan almarhum ayah, harta yang kami miliki selain rumah yang kami tempati selama ini. Tapi itu lah emak, segelisah apapun, sesempit apapun, emak akan selalu berusaha menjadi penyejuk dan penenang bagi orang-orang sekitarnya. Suatu saat aku akan belajar memiliki sifat seperti emak, menjadi embun untuk yang kepanasan, menjadi matahari bagi yang sedang berada di dalam gelap, sesusah apapun hidup. Meskipun emak hanya tamatan sekolah dasar, kemampuannya memahami masalah yang terjadi dan berpikir dengan jernih membuatku kagum.
“Untuk apa memiliki gelar panjang-panjang jika menghadapi masalah masih meledak-ledak tidak ada bedanya dengan preman pasar.” Ujar emak. “ Tapi kau akan mak sekolahkan setinggi mungkin, belajarlah kau yang rajin.”

Di pinggiran sungai, tetua kampung dan para pemuda sudah keletihan menyiram api yang bisa mereka padamkan. Keringat mereka tidak sia-sia, api yang menjalar di padang rumput berhasil dipadamkan. Paling tidak padang rumput bisa diselamatkan.
Peristiwa itu adalah awal terenggutnya pagi yang tenang dari kami, warga kampung pinggir hutan. Tidak hanya itu, terbakarnya hutan larangan membawa petaka berkepanjangan bagi kampung kami yang awalnya hijau dan sejuk. Cerita-cerita dari tetua kampung akan segera terjadi, begitu pikirku waktu itu, pemahaman seorang bocah kelas lima sekolah dasar. Ya, saat kejadian itu aku baru kelas lima. Bagi bocah seperti aku, cerita tetua kampung adalah kisah yang paling masuk akal.

“Hutan larangan tidak boleh diganggu, dan kalian jangan coba-coba masuk kesana!” Teriakan tetua kampung menyurutkan niat kami untuk mengambil sarang burung di sebuah pohon di pinggir hutan. Ketika itu aku kelas tiga.
“Tapi Pak Tua, kami tidak masuk, Cuma dipinggir.” Aku berkilah.
Tetua kampung mendekat, “Nak, jika kau menyayangi hutan ini, hutan ini akan menyayangi kalian. Hutan ini akan menjadi warisan turun temurun kampung kita. Jangan pernah kalian rusak dengan cara apapun.”
“Memangnya hutan bisa merasakan kalau kita menjaganya Pak Tua?”
“Suatu saat kalian akan mengerti. Sekarang kalian pulang, siap-siap magrib berjama’ah ke mesjid. Kemalaman disini bisa tidak pulang kalian selamanya.”

Tanpa ba-bi-bu lagi kami langsung terbirit meninggalkan pinggiran hutan larangan. Ketakutan. Kisah-kisah dari orangtua kami sudah cukup membuat bergidik membayangkan jika sampai tersesat masuk di hutan larangan. Hiiii…tidak terbayangkan melihat langsung rupa makhluk yang ceritanya pernah kami dengar.
Begitulah orang-orang tua di kampung memberikan pemahaman untuk menjaga hutan larangan. Seiring berjalan waktu, usia pun bertambah. Pengertian dan pemahaman mulai datang dengan sendirinya, sesuai dengan logika dan akal sehat.

***

Puluhan warga desa berkumpul di depan rumah tetua kampung. Warga meminta agar penebangan hutan larangan dihentikan.
“Abah sedang ke kota, Abah tidak di rumah.” Anak tetua kampung keluar dari rumah.
Memang sejak peristiwa kebakaran di hutan larangan tiga tahun lalu, tetua kampung jarang berada di rumah. Bahkan tidak jarang rumah tetua tidak di huni selama berminggu-minggu, ia ke kota bersama keluarganya.
“Mengapa tetua tidak melakukan timdakan terhadap pembalak liar itu?” Pak Ahmad berteriak dari kerumunan.
Anak tetua kampung tampak panik melihat warga semakin ramai berkumpul di halaman rumahnya. Dia bingung mencari jawaban atas pertanyaan warga, sedangkan kedua orang tuanya sedang ke kota.
“Hei Beni, kau lihat sendiri kan pembalak liar semakin leluasa menghabisi pohon-pohon di hutan larangan, tapi tetua tidak juga bergerak, seperti tidak terjadi apa-apa. Tanah kampung kita mulai gersang, udara berdebu, ini semua karena hutan larangan ditebangi. Bahkan banyak aparat yang mengawal mereka. Jelaskan pada kami yang terjadi.” Pak Ahmad tampak emosi.
Ini kali kelima warga berkumpul di rumah tetua kampung, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Selalu hanya Beni anak tetua kampung yanag menyambut mereka. Orang-orang kampung disini meski tidak ada yang berpendidikan tinggi, mereka sangat paham peran hutan larangan untuk menopang hidup mereka. Bagi mereka, tanah yang subur, dan udara yang segar sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup mereka tenang meski di rumah mereka tidak menyipan emas atau uang yang banyak. Namun sejak pohon-pohon hutan larangan ditebangi, mereka mulai marah. Kenyamanan dan harta mereka satu-satunya perlahan mulai direnggut diam-diam.

“Bapak dan Ibu yang terhormat, mohon tunggu sebentar. Saya akan memberikan penjelasan.” Beni berusaha menenangkan.
Beni bergegas masuk ke rumah, berusaha berfikir cepat untuk memberikan jawaban kepada warga yang semakin banyak berdatangan. Dia mengambil telpon genggamnya, mencari sebuah nomor.
“Tuuut…Tuuut” Nada sambung terdengar.
“Ada apa Pak Beni?” Ujar suara diseberang.
“Jemput aku sekarang, aku tunggu di belakang rumah. Warga sepertinya sudah tau apa yang terjadi.” Suara Beni terlihat panik.
“Ok, saya meluncur Pak.”
Setengah jam berlalu. Beni tak kunjung keluar dari rumah. Warga mulai marah. Beberapa orang masuk ke dalam rumah mencari Beni. Di dalam rumah tidak ditemukan siapapun.

***

Dua tahun setelah hilangnya Beni dan tetua kampung tidak pernah kembali, hutan larangan sudah gundul. Orang-orang semakin banyak berdatangan dengan mobil yang membuat debu-debu berterbangan. Warga sudah bisa menebak apa yang terjadi sejak hutan larangan disulap menjadi lahan sawit dan di setiap sudut desa dipasang plang nama sebuah perusahaan dari negeri tetangga, namun tidak bisa berbuat apa-apa, mereka harus bertahan hidup. Meski dengan terpaksa, mereka harus menjadi buruh sawit demi urusan perut, melupakan hutan larangan yang dulu mereka bela dan pertahankan.
 
Sumber gambar : pinterest.com

  • view 62