Ibu, aku, dan tujuh belas agustus

Bangga Surya Nagara
Karya Bangga Surya Nagara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2017
Corat-Coret

Corat-Coret


Kumpulan Tulisan Gado-Gado. Selamat Menikmati "Gado-Gado" ini.

Kategori Acak

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Ibu, aku, dan tujuh belas agustus

Kabut masih menyelimuti bukit batu putih, bukit kecil di belakang  kediaman kami. Burung-burung berlomba berkicau seakan tak mau kalah dengan kokok ayam jantan yang ingin memberi pertanda pada manusia bahwa sudah saatnya beranjak dari peraduan untuk mengais rezeki. Azan subuh dari mesjid Baburrahmah telah lama berlalu. Satu per satu petani mulai keluar dari rumah mereka dengan cangkul sambil menggiring sapi ke areal persawahan di bawah bukit batu putih. Saat itu padi hampir dipanen, area persawahan di bawah bukit batu putih didominasi oleh warna hijau kekuningan. Sementara bukit batu putih nan gagah baru tampak separo, kabut masih enggan meninggalkan puncaknya. Sesekali terdengar gonggongan anjing milik petani yang meningkahi kesibukan pagi ini di desa tiakar.

Begitulah setiap pagi aktivitas desa kami, sebuah desa yang dibatasi sebuah sungai yang kami sebut sungai Namang. Entah darimana istilah Namang didapat oleh leluhur desa ini dulu, tak ada yang tahu pasti makna dari kata Namang. Para petani pun juga tak mau ambil pusing tentang hal itu, bagi mereka Namang telah memberikan kehidupan pada mereka, Namang yang menjadi sumber pengairan bagi sawah mereka. Sungai itu seolah menjadi urat nadi kehidupan warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun ketika musim hujan, sungai Namang bertingkah, airnya meluap mengaliri badan jalan sehingga akses dari desa kami ke desa sebelah agak terganggu. Anak-anak sekolah harus membuka sepatu mereka agar tidak basah oleh luapan sungai Namang sambil asyik mengusili teman-teman mereka yang lain dengan cipratan-cipratan air dari kaki mungil mereka. Musim berganti, kemarau pun datang, Namang mengikuti perintah alam, perlahan airnya menyusut dan mengering meninggalkan dasar sungai yang kering kerontang, benar-benar kering. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sungai Namang. Para petani mulai bingung mencari sumber air untuk sawah mereka. Semuanya kena imbas, termasuk Ibuku yang hanya pekerja harian di sawah seorang petani yang memiliki beberapa petak sawah. Ibu juga petani. Petani yang setiap pagi selepas shalat subuh sudah bergegas menuju sawah, tapi Ibu tak punya sawah. Ibuku hanya pekerja di sawah dengan upah tak sampai sekarung padi jika sawah telah selesai dipanen.

Kenyataan hidup yang Ibu hadapi membuat aku bertekad untuk mengubah nasib. Nasibku dan nasib keluarga. Aku tak ingin hanya menjadi seorang tenaga harian di sawah orang-orang berada di desaku, meski sebenarnya sudah tradisi di desa kami kalau anak gadis tak jauh seperti Ibunya, tapi aku tak mau, aku akan berusaha berontak pada pandangan masyarakat desa. Nasib ada di tanganku, bukan di tangan mereka yang mencemooh kami yang rela jauh-jauh bersekolah untuk sedikit menaikkan derajat keluarga. Ya, itu tekadku dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Sekarang aku kembali berada di hari bersejarah bagi bagi bangsa ini, bangsa yang besar. Begitu kata para pendiri bangsa ini, tapi mungkin tidak pada kenyataan sekarang. Hari ini seluruh masyarakat tumpah ruah ke lapangan sepakbola kecamatan untuk menyaksikan upacara bendera sekaligus parade marching band anak didikku. Disinilah aku sekarang, berdiri di pinggir lapangan hijau ini bersama anak didikku. Anak-anak didik biasa memanggilku Ibu Gusti. Itulah namaku, Gusti. Hanya Gusti, tanpa embel-embel di depan atau di belakangnya. Mungkin dulu Ibu yang hanya petani miskin tak mau ambil pusing mencari nama untukku, tapi yang pasti aku bangga pada nama ini, nama yang menyiratkan waktu kelahiranku adalah hari yang bersejarah, 17 Agustus 1962.

Bukan hal yang mudah bagiku untuk bisa berdiri disini, berdiri bukan hanya sekedar penonton, tetapi sebagai guru kesenian pelatih parade marching band yang ditunggu-tunggu masyarakat. Begitu banyak airmata yang tumpah, begitu banyak hati ini dilukai. Cuma karena aku adalah anak seorang janda tua yang miskin, aku seolah dipandang sebelah mata. Aku selalu berontak pada perlakuan dunia.

Memang berat kurasakan, apalagi posisiku sebagai anak pertama dengan dua adik laki-laki. Segala sesuatu keperluan di rumah harus aku yang mengatur, dengan segala sesuatu yang serba terbatas dan kekurangan. Ibu tak mungkin diharapkan untuk melakukan semua tugas rumah, pekerjaan yang begitu berat membuatnya langsung tertidur pulas ketika malam mulai bergerak naik, dan saat fajar datang Ibu sudah bergabung kembali dengan kubangan sawah. Namun sedikitpun tak terdengar keluhan dari mulut tuanya. Begitulah Ibu, wanita tegar yang pernah aku kenal.

Cuma sesekali Ibu bercerita padaku tentang masa mudanya, tentang saudaranya, dan tentang almarhum bapak. Ibu paling bersemangat ketika bercerita tentang perjuangan kemerdekaan. Saat itu Ibu  masih kelas 3 Sekolah Rakyat ketika Belanda menyerang desa kami, Ibu dan keluarganya mengungsi ke pucak bukit batu putih menunggu suasana di desa kembali tenang. Makanya Ibu tak pernah absen menonton pelaksanaan upacara bendera karena baginya kemerdekaan begitu berharga, meski keluarganya belum merdeka secara ekonomi, namun Ibu tak mengerti itu, baginya ketika merah putih berkibar, itulah merdeka, sangat sederhana. Dan yang paling membuat aku semakin mencintai Ibu karena ia selalu membangga-banggakan hari kelahiranku pada teman-temannya di sawah. Ibu bilang begini,” Si Gusti anakku itu, lahirnya pas sekali saat Bung Karno membacakan proklamasi meski bukan tahun 45, tapi anakku itu calon orang sukses, yang jelas tidak ke sawah seperti kita.” Itulah Ibuku, menyimpan harapan besar padaku anak gadis satu-satunya yang tinggal di rumah papan milik kami.

Pernah suatu siang ketika Ibu tidak bekerja, Ibu berkata padaku,” Gusti, kamu itu lahir di hari besar, kamu harus buktikan, kamu bisa jadi orang besar. Banyak wanita-wanita sukses terlahir dari keluarga miskin seperti kita nak, Ibu tak tahu namanya, tapi banyak sekali.” Ibu bercerita sambil menerawang memandang ujung pohon kelapa tempat tupai mengajari anaknya melompat. Sejujurnya aku tak habis pikir, Ibu yang hanya tamat Sekolah Menengah Pertama mengetahui tentang wanita-wanita besar dari keluarga miskin, meski Ibu tak ingat nama-nama mereka. Ketika aku bertanya pada Ibu kenapa dia begitu yakin kalau aku akan jadi orang sukses, sampai Ibu tak pernah bosan bercerita di sawah kepada teman-temannya. Ibu hanya menjawab sederhana,” Nak, Allah itu Maha Mendengar, Maha Tahu, kalau kita yakin, InsyaAllah dikabulkan. Masalah jalan, Allah yang ngatur. Tugas kita hanya berusaha, berdoa, dan percaya, itu saja.”  Sungguh kagum aku pada keyakinan Ibu pada Allah, benar-benar menghujam dan tak goyah karena tekanan ekonomi.

Impian Ibu tentang anak gadisnya yang sukses karena lahir pada 17 Agustus selalu ku pegang,dan selalu ku ingat. Tak ingin aku mengecewakan wanita tua yang tumitnya pecah-pecah dan kulitnya yang terpanggang sinar matahari demi menghidupi kami anak-anaknya. Aku kira itu juga yang menjadi semangat Ibu hingga tak sempat mengeluh, Ibu ingin melihat anak-anaknya jauh lebih baik darinya. Ibu ingin melihat anak-anaknya berhasil. Ah, Ibu…entah jadi apa kami tanpamu. Semangatmu yang membara bersama hitam legam kulitmu, meski sorot matamu layu karena beban hidup yang begitu berat, namun dadamu dipenuhi keyakinan pada Allah. Sungguh aku bangga bu, sangat bangga padamu.

 Ibu, aku, dan 17 Agustus, akan selalu jadi cerita bagiku kelak, yang akan kukisahkan pada anak-anakku, cucu-cucu Ibu.

Ibu, aku, dan 17 Agustus tak akan habis diceritakan dalam beberapa malam, tak akan lekang oleh waktu, tak akan hilang dimakan zaman.

Begitu dalam dan melekat makna 17 Agustus bagiku dan Ibu.

  • view 105