Marah dan Memposisikan Diri

Bangga Surya Nagara
Karya Bangga Surya Nagara Kategori Project
dipublikasikan 31 Juli 2017
Corat-Coret

Corat-Coret


Kumpulan Tulisan Gado-Gado. Selamat Menikmati "Gado-Gado" ini.

Kategori Acak

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Marah dan Memposisikan Diri

Suatu ketika seorang sahabat ingin mengadu kepada Amirul Mukminin Umar Bin Khattab tentang istrinya yang selalu ngomel-ngomel dan marah-marah. Bergegas ia menuju kerumah khalifah dengan hati dongkol. Sesampai di rumah khalifah, ia tertegun. Apa yang disaksikannya membuat ia urung untuk mengadukan masalah yang sedang dihadapi kepada khalifah. Ada apa gerangan?

Kisah ini mungkin sudah sangat sering kita baca, sudah sangat sering kita niatkan untuk dipraktekkan di rumah ketika istri mulai ngomel. Tapi kisah tinggal kisah, saat istri ngomel banyak dari kita juga ikut menimpali sehingga suasana semakin panas, lalu kata-kata yang keluar bisa jadi akan menjadi pisau tajam yang akan melukai hati. Dan syaitan pun bergembira.

Lalu apa yang salah? Bagaiman menyikapinya?

Saya bukanlah ahli tentang psikologi rumah tangga, jadi tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman saya dalam berumah tangga, pengalaman yang baru seuprit.

Solusi untuk meredam emosi ketika rasanya ingin marah menurut pengalaman saya adalah memposisikan diri. Emosi akan meledak menjadi marah berkekuatan besar jika semua dinilai dari posisi kita berdiri. Marah akan terjadi jika semua dipandang dari kacamata kita. Marah akan berubah menjadi suara dengan intonasi tinggi jika kita melihat dari lelahnya kita sebagai suami.

Seorang teman mengeluh, “Kita kan capek, nyampe rumah butuh istirahat, butuh makan. Tapi rumah berantakan, makanan belum siap, wajar dong emosi.”

Lalu saya tanya,”Istrimu kerja?”

“Nggak” Jawabnya enteng.

Halo Para Bapak dan Para Suami, mohon disimak bagi yang merasa istrinya di rumah saja dan dianggap tidak bekerja. Istri saya pernah marah, bersyukur tidak pakai ngomel atau banting-banting piring. Marahnya dengan diam membisu seribu bahasa. Anak dibiarkan main sama saya, istri diam sambil sibuk beres-beres di dapur. Setengah jam pertama anak saya yang baru berumur  tujuh bulan BAB.

“Mi, Abid ‘eek...”

Istri diam. Saya berinisiatif mengganti pampersnya. Selesai.

Lima belas menit kemudian, Abid menangis. Saya gendong tapi masih tetap nangis. Saya gendong keluar rumah, masih nangis. Dikasih mainan, masih nangis. Anak umur tujuh bulan berkomunikasi hanya dengan menangis, masalahnya kita sebagai orang tua tidak paham apa maksud tangisnya. Saya angkat tangan, menyerah, kalah. Lalu ke dapur.

“Belum juga sejam...” Istri saya tersenyum, cantik sekali dan hati saya ngilu. Dalam hati saya berjanji, akan belajar menjadi suami yang mengerti dan belajar untuk menilai sesuatu dari posisi istri, bukan dari posisi kaki saya berdiri.

Pelajaran hari itu saya jadikan pengingat jika rasa ingin marah itu datang. Di kantor, masalah yang dihadapi hanya urusan kantor. Istri di rumah menghadapi masalah yang kompleks seorang diri. Menjaga anak sambil masak di dapur, belum lagi minyak yang membandel yang nempel di panci, dan ketika suami pulang dari kantor , senyum manisnya masih menghiasi wajah lelahnya dengan daster bau pesing campur bau bawang.

Jadi, masih ingin marah? Jika masih ingin marah, silahkan dicoba ambil alih kerja rumah tangga selama seminggu.  Seminggu? Ah kelamaan. Tiga hari deh...

Para bapak dan Para suami, Umar saja diam ketika diomeli istrinya, Khalifah, Amirul Mukminin, presiden...Lah..Elu siapa?

Palembang, 27 Juli 2017, 00.55 dini hari

  • view 71