Ada Cinta Di Matamu

Bangga Surya Nagara
Karya Bangga Surya Nagara Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Maret 2017
Ada Cinta Di Matamu

Awal Maret Palembang  diguyur hujan di pagi hari. Terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Basah. Tanah basah, gedung-gedung basah, pepohonan pun basah. Dalam dingin yang menyelimuti tubuh ini, sosok itu melintas di pikiranku membuat hati ini ikut basah. Pikiranku melayang ke tempat yang jauh disana, beribu kilometer dari tempat aku duduk sekarang. Sebuah daerah tempat aku dibesarkan dan dididik. Bukan tanahnya yang aku rindukan, bukan sama sekali, tapi sosok yang berdiri menunggu di depan pintu dengan mata berkaca-kaca. Sosok itu yang sangat aku rindukan. Kerinduan yang melebihi apapun.

Beberapa tahun lalu, jauh sebelum aku menjadi seperti ini, sepasang tangan lembut membelai rambutku dengan cinta. Kala itu, badanku terkena panas tinggi, persendianku terasa ngilu. Ah, sakit itu membuatku hampir putus asa. Seminggu aku tak masuk sekolah. Sakit ini memaksaku untuk istirahat total di rumah, di tempat tidur tepatnya. Di balik sakit yang aku alami, Sang Khalik menunjukkan kasih sayangNya. Ya, kasih sayang melalui seorang Ibu, seorang yang aku panggil Mama.

Seandainya tak ada mama, mungkin hanya keluh yang keluar dari mulutku, mungkin aku akan berteriak kesal karena ngilunya persendian. Kali ini berbeda, sosok mama membuatku lebih bersabar menghadapi ini. Semua pekerjaan ia tinggalkan, makan pun ia berada di sampingku. Beberapa hari mama tidak masuk kantor, itu semua untuk mendampingi aku yang sedang sakit.

Mukanya pucat, matanya sayu karena tidur yang kurang. Sebentar ia terpejam, kembali terbangun ketika mendengar aku merintih sakit. Sesekali kulihat ada Kristal di matanya, berlinang tapi tak jua pecah. Berusaha tak terlihat sedih olehku.

Seminggu aku terbaring sakit, perlahan keadaanku membaik. Mama bisa istirahat. Tidurnya pun lelap. Saat bangun, kesayuan matanya belum juga berkurang, efek kurang tidur selama seminggu membuat matanya seperti kurang cahaya, tapi meski demikian, ada satu hal yang tak pernah hilang dari matanya. Baik mata itu sedang lelah, ataupun tidak, selalu ada cinta di mata mama. Kalau Jamrud bilang, Ada Pelangi Di Matamu, kalau saya bilang, Ada Cinta Di Matamu, Ma.

Itu hanya sebuah kisah dari ribuan kisah selama 24 tahun aku terlahir ke dunia. Satu kisah itu saja mampu membuatku gemetar menahan kerinduan pada Mama. Ah, sedang apa sekarang Ma? Namamu selalu kuselipkan di setiap alunan do’a yang ku rangkai di sepertiga malamku. Semoga kau sehat dan bahagia disana. Tak sabar rasanya aku ingin pulang, memelukmu. Aku berharap Allah memberikan kesehatan padamu karena aku ingin memberikan setitik kebahagiaan padamu, di hari tua. Mungkin tak ada nilai apa yang akan ku beri padamu kelak dibanding pengorbananmu padaku.

Ma, sekali lagi aku ucapkan terimakasih untuk semua pengorbanan dan cintamu. Hari ini rinduku begitu membuncah.

  • view 125