Satu Babak Baru

Bangga Surya Nagara
Karya Bangga Surya Nagara Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Januari 2017
Corat-Coret

Corat-Coret


Kumpulan Tulisan Gado-Gado. Selamat Menikmati "Gado-Gado" ini.

Kategori Acak

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Satu Babak Baru

Dua bulan lalu, resmi sudah saya dipanggil Bapak. Bukan Bapak Guru, Bapak Menteri, atau Bapak Presiden, tapi Bapak dari seorang anak laki-laki. Bahagia? Tentu. Senang? Oooo pasti. Lalu sebuah babak baru pun dimulai. Babak ini adalah sebuah episode kehidupan yang penuh warna, warna yang banyak tentunya warna kuning, karena setelah kelahiran putra pertama kami, saya bertugas mencuci popok bekas eek si bayi. Saya bahagia? Tentu.

Saat menatap bayi mungil itu –sekarang sudah gendut-, saya masih seolah tidak percaya sudah berstatus sebagai seorang bapak yang memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Semakin hari saya semakin sadar, tanggung jawab saya bukan hanya memberi makan, membesarkan, dan memberikan perlindungan kepadanya. Ada tanggung jawab kepada Tuhan yang harus saya pikul. Tanggung jawab yang sebenarnya saya sendiri yang meminta agar Tuhan limpahkan kepada pundak saya.

“Ya Allah ya  Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami anak-anak keturunan yang sholeh dan sholehah yang berguna bagi Agama dan Bangsa” Begitu doa saya ketika baru menikah.

Ya… doa itu artinya saya minta tanggung jawab kepada Tuhan. Tanggung jawab untuk (berusaha) menjadikannya anak yang berguna bagi orang banyak. Tanggung jawab yang berat? Oooh iya…Lalu saya bahagia? Saya bahagia.

Saat anak kami usianya masih berbilang hari, hati seluas Gelora Bung Karno harus saya miliki. Saya yang kurang tidur, istri yang masih belum pulih, dan bayi yang rewel merupakan kolaborasi sempurna untuk memancing emosi, emosi saya maupun emosi istri. Ketika rasanya ingin marah, cepat-cepat saya ingat kembali bagaimana beratnya perjuangan istri saat proses persalinan dan hati kembali dingin.

Kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa semenjak kelahiran si bayi mungil nan tampan ini, menjadi pembelajaran seumur hidup dan menjadi perenungan bagi saya tentang bagaimana Tuhan memberikan pendidikan kepada kita sepanjang hayat dikandung badan.

Ah istri, episode ini adalah satu babak baru dalam skenario hidup kita. Mari kita jalani dengan kualitas sabar yang tinggi, dengan keluasan hari yang tiada tara. Semoga tanggung jawab yang kita minta kepada Tuhan mampu kita pertanggungjawabkan kelak saat hari perhitungan.

-Suami, dengan penuh cinta-  

  • view 147