KurinduITD - Suara Bedug di Tengah Bunyi Lonceng

Subandri Simbolon
Karya Subandri Simbolon Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 18 November 2016
KurinduITD - Suara Bedug di Tengah Bunyi Lonceng

Saya mehabiskan masa remajaku di satu kecamatan kecil, Kec. Pakkat, Kab. Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Dari segi jumlah, kebanyakan masyarakatnya memiliki suku Batak Toba dan beragama Kristen (Katolik dan Protestan). Kehidupan beragama sangat kuat menyelimuti jalan-jalan kecil di setiap kampung. Lonceng Gereja selalu terdengar di saat-saat tertentu. Suara lonceng  menjadi pengingat bahwa ibadah akan dimulai, penanda orang yang baru meninggal,  atau juga menandakan doa bersama. Pola bunyi lonceng menjadi pembeda untuk setiap kegiatan yang ditandakan. Dari pola itu, masyarakat akan tahu apa pesan yang disampaikan. Bagi orang Katolik, ketika lonceng dibunyikan pkl 12.00 WIB, dan 18.00 WIB, mereka akan berdiam diri sejenak dan mengucapkan doa “Malaikat Tuhan”. Lonceng menjadi suatu tanda pengingat dan bunyi yang sangat penting.

Saya masih ingat ketika suatu siang lonceng dari Gereja HKBP di dekat pasar tradisional dibunyikan. Suaranya terdengar sesekali berjeda beberapa detik. Semua orang di sekitar langsung bertanya, “siapa yang meninggal?”. Tidak lama kemudian, berita meninggalnya salah satu warga pun diketahui oleh semua orang. Sangat unik dan efisien cara itu. Pengalaman lain lagi selalu kuingat ketika masih berada di Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP). Pada jam Olah Raga, kami diberikan izin untuk main sepak bola. Di tengah asyiknya main bola, jam sudah menunjukkan pkl. 11.55 WIB. Bunyi lonceng dari Gereja Katolik St. Yohanes Pembabtis terdengar nyaring, dan semua tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepala sambil berdoa “Malaikat Tuhan”. Semua itu terjadi dengan begitu mengesankan, rapi dan serentak. Saya selalu terkesan dengan pengalaman itu. Pengalaman dimana iman dirayakan tidak hanya di Gereja tetapi juga di tengah lapangan bola.

Setelah saya beranjak dewasa dan tinggal di pulau Jawa, saya tidak mengalami lagi kisah sehari-hari itu. Saya sungguh merindukan ketika sepak bola kalah penting dari doa “Malaikat Tuhan”, dan ketika semua orang datang melayat setelah mendengar bunyi lonceng.  Empat tahun tinggal di pulau Jawa, akhirnya ada kesempatan untuk liburan. Kutemukan kota itu tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ada satu hal yang unik. Siang dan sore hari, lonceng tidak berbunyi sendirian lagi. Di beberapa tempat telah dibangun Masjid. Suara lonceng Gereja dan bedug di Mesjid beberapa kali berbunyi bersama.

Paduan suara antara bedug dan lonceng memberi suasana menyejukkan. Keberagaman semakin menampilkan warna yang indah. Kota kecil itu kini tidak lagi hanya didiami oleh Batak Kristen tetapi juga Batak Muslim. Beberapa tetangga baru hadir memberi warna baru dengan cara hidup baru. Mereka datang dari berbagai daerah setelah kota kecil itu memberikan ruang ekonomi yang semakin besar. Perubahan budaya pun menjadi lebih baik karena wawasan warga tentang keberagaman menjadi lebih terbuka.

Keharmonisan suara bedug dan lonceng tidak hanya sekedar simbol. Di tengah liburan, seorang teman mengajakku untuk menghadiri pesta pernikahan dari seorang teman lama kami. Karena sipemilik pesta adalah orang Batak Kristen, maka daging yang dimasak untuk upacara adat adalah daging babi. Namun, yang datang ke pesta tidak hanya orang Kristen. Di antara mereka ada juga saudara-saudara yang Muslim dan terlihat jelas dari kerudung dan peci yang mereka kenakan. Muncul rasa penasaran dalam benak saya. Apakah mereka akan dipaksa untuk memakan daging babi? Rasa penasaran itu membawaku ke tempat dimana para pelayan pesta menyiapkan makanan. Tiba-tiba saya kaget bercampur kagum. Dulu, saya masih ingat bahwa tungku masak hanya satu. Namun saat itu saya melihat bahwa ada juga “parhobas”(1) khusus bagi mereka yang Muslim. Dan mereka yang dijadikan parhobas untuk masalakan halal adalah juga dari umat Muslim.

Kisah keberagaman mengajari dan menginspirasi saya untuk menerima dan mensyukuri perbedaan. Saya bangga karena ternyata masyarakat di kampung kecil itu juga sangat terbuka pada keberagaman. Suara Bedug dapat juga terdengar di mana lonceng Gereja yang telah lama mewarnai kampung. Daging babi tidak lagi menjadi menu wajib yang harus dimakan oleh semua orang yang menghadiri pesta. Klaim kebenaran tidak menjadi alasan untuk memisahkan. Bahkan, apa yang sudah menjadi tradisi dimodifikasi agar yang lain dapat diterima. Tidak ada lagi alasan untuk menolak perbedaan, melainkan semua mereka terima demi kemanusiaan dan persaudaraan sejati.

Semangat keberagaman seperti ini tidak menuntut suatu studi panjang tentang dialog. Mereka justru telah menghidupi dialog itu, sebuah dialog kehidupan. Sebuah masyarkat yang hidup bersama, belajar bersama dan memiliki mimpi yang sama, Indonesia untuk semua. Mereka mampu menerima yang lain karena mereka mau terbuka untuk belajar. Masing-masing pihak mampu bertransformasi pada sebuah pencapaian yang lebih ramah bagi semua. Semoga damai tetap mengakar di kotaku. Keharmonisan suara bedug Mesjid dan lonceng Gereja terjadi karena ada sebuah keyakinan yang dimiliki secara kolektif:

  "Manusia lebih tua dari agama
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta" [2]

 

[1] Parhobas itu kata dari bahasa Batak untuk orang yang melayani pesta dan yang memasak semua makanan yang diperlukan.

[2] Denny JA, Bunga Kering Perpisahan, Dalam buku "Atas Nama Cinta".

  • view 330