Cegah “Pembunuhan” Anak di Jalan Raya

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2016
Cegah “Pembunuhan” Anak di Jalan Raya

Jalan raya di Indonesia tanpa disadari telah menjadi pembunuh nomor satu bagi penggunanya, tak peduli apa pun kastanya, saban hari diperkirakan ?80 orang/ hari tewas. Celakanya, tidak sedikit anak- anak ikut jadi korban. Akibat kecerobohan orang tuanya, pemilik masa depan tersebut terenggut oleh maut.

Putri (13) warga Setugur, Jetak, Getasan, Kabupaten Semarang yang tercatat sebagai siswi kelas 2 SMP Negeri 06 Kota Salatiga belum lama ini menjadi korban tabrak lari di Jalan Lingkar selatan (JLS). Ia yang mengendarai sepeda motor berboncengan dengan temannya bernama Anisa (13), sepulang sekolah dihantam mobil tak dikenal. Akibatnya, Putri meninggal dunia sedang Anisa terluka parah.

Sebelum kejadian, seperti biasa Putri bersama Anisa berboncengan seusai mengikuti rutinitas belajar. Ia memang tiap hari menggunakan sepeda motor menuju sekolahnya, jarak antara rumah dengan SMP Negeri 06 yang mencapai sekitar 4 kilometer, membuat orang tuanya menyediakan fasilitas kendaraan agar mempermudah perjalanan. Siang itu, ketika memasuki kawasan JLS, keduanya bermaksud memotong jalan untuk menyeberang. Baru dua meteran roda motor bergerak, tiba- tiba melaju mobil berkecepatan tinggi.

Karena jaraknya sudah sedemikian dekat, pengemudi mobil tak dikenal itu sepertinya susah menghindarkan diri dari kecelakaan. Tanpa ampun, sepeda motor yang dikendarai Putri dan Anisa dihantam hingga membuat keduanya terpental. Dua siswi SMP tersebut mengalami cedera parah, sayangnya menjelang mendapatkan perawatan medis, nyawa Putri tidak tertolong. Ia tewas saat usianya belum genap 14 tahun.

Begitu menerima kabar duka tentang meninggalnya sang buah hati, orang tua Putri benar- benar merasa terpukul. Mereka sangat menyesal, kenapa memberikan fasilitas kendaraan bagi anaknya yang belum cukup umur itu. Berbagai sesal, ternyata sia- sia belaka, sebab Putri tak bakal hidup lagi. Disadari atau tidak, mereka telah ?membunuh? putrinya sendiri.

Apa yang menimpa Putri, ternyata juga terjadi di berbagai tempat lain. Banyak orang tua yang dengan dalih kasihan, sengaja memberikan kendaraan roda dua pada anak- anaknya yang belum cukup umur. Giliran terjadi musibah kecelakaan lalu lintas, baru mereka menyesal bukan kepalang. Padahal, sedari awal harusnya mereka sadar bahwa fasilitas untuk anaknya mampu menjadi ?pembunuh? yang efektif.

Biar Cukup Umur Dulu

Saya sendiri merupakan salah satu orang tua yang menolak keras mengorbankan anak di jalanan, sebab mereka adalah asset keluarga. Terkait hal itu, saya tak mau kompromi terhadap keinginan anak- anak untuk mengendarai kendaraan bermotor saat usianya belum genap 17 tahun. Saya memilih meluangkan waktu mengantar anak- anak kemana pun tujuannya. Bukan apa- apa, ini bagian dari proteksi terhadap anak agar tidak terjadi sesuatu yang membuat saya menyesalinya.

Dengan dalih apa pun, ketika anak belum mengantongi SIM C, saya tidak pernah memberikan ijin untuk menggunakan kendaraan bermotor. Alhamdulillah, mereka juga menyadarinya. Salah satunya si bungsu, bertahun- tahun ia harus menahan syahwatnya berkendara. Baru 1,5 bulan usai ?ulang tahunnya yang ke 17, saya mengurus SIM atas nama dirinya dan mengijinkannya mengendarai sepeda motor.

Dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan, khususnya Pasal 281 sendiri jelas tercantum sanksi hukum bagi pengendara yang tidak memiliki SIM. Ancaman hukumannya pidana kurungan ?empat bulan penjara atau denda maksimal Rp 1 juta. Sedang realisasinya, bila dibawa ke persidangan, maka dendanya berkisar Rp 50 ribu- Rp 100 ribu. Artinya, bagi orang tua di mana pun akan mampu membayarnya. Padahal, esensinya bukan itu. Mungkin denda tilang bisa dibayar, lha kalau nyawa melayang ? Mau beli di mana ?

Seperti galibnya anak- anak usia SD, SMP hingga SMA (belum genap 17 tahun), jiwa mereka masih sangat labil. Mereka gampang tersulut libidonya untuk memacu gas kendaraan di jalanan. Kadang, logika dan akal sehatnya kerap tumpul saat berada di jalanan menggunakan sepeda motor. Lantas, bila terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang layak disalahkan ? Jawabnya sederhana, tanggung jawab ada pada orang tuanya masing- masing.

Itulah sedikit gambaran tentang perilaku sebagian orang tua yang disadari mau pun tidak, telah berperan untuk ?membunuh? anak- anaknya sendiri. Akan sangat baik bila kebiasaan tersebut dihentikan. Mari kita lindungi anak kita dari kejamnya jalanan. Sebab, berdasarkan data Markas Besar Kepolisian RI, setiap tahun jalanan di Indonesia sukses merenggut nyawa rata- rata 30 ribu jiwa pertahun. Jangan sampai buah hati kita menjadi korban ?pembunuhan? di jalan raya. (*)

  • view 260