Melawan UNESCO,Buruh Bangunan ini Membuat Perpusjal

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Melawan UNESCO,Buruh Bangunan ini Membuat Perpusjal

Jangan menganggap remeh keberadaan status sosial seseorang,  salah satu contohnya adalah Robianto, warga Desa Bayalangu Lor RT 12 RW 03, Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia yang hanya seorang butuh bangunan, ternyata memiliki semangat tinggi merealisasikan Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) selama setahun terakhir ini.

Robianto yang  biasa disapa Robi, menangkap besarnya hasrat membaca di kalangan anak-anak. Selama setahun, getol mengumpulkan berbagai buku bacaan anak-anak hingga dewasa. Setelah terkumpul sebanyak 200 judul serta beragam mainan tradisinal seperti dakon, halma, ular tangga serta alat menggambar, dirinya berkeliling seantero desa sekedar menyajikan buku- buku tersebut secara gratis.

Awalnya Robi sempat kebingungan, pasalnya untuk merealisasikan Perpusjal, harus ada sarana pendukung berupa kendaraan roda dua. Celakanya, ia tak memilikinya. Beruntung, sahabatnya yang bernama Emik Street mempunyai motor tua yang bersedia meminjamkannya. “ Sepeda motor itu akhirnya saya modifikasi berbentuk mirip perahu,” kaya Robi sembari menunjuk motor hasil kreatifitasnya.

Dengan dukungan motor antiknya, Robi saban hari berkeliling di Desa Bayalangu Lor hingga  lapangan Gegesik, untuk menggelar ratusan buku koleksinya. Tanpa sungkan, dirinya meladeni anak-anak yang ingin meminjam buku bacaan secara gratis. Ada yang membacanya di lokasi, namun tak sedikit yang membawanya pulang.

Menurut Robi, ia mengaku memiliki empati terhadap keberadaan anak-anak yang kesulitan mendapatkan buku bacaan secara gratis. Kendati di Kabupaten Cirebon terdapat Perpustakaan Daerah (Perpusda), namun, pelayanannya belum mampu menjangkau pedesaan. Akibatnya, orang yang ingin menikmati buku bacaan harus menempuh perjalanan lumayan jauh.

Hal itu tentunya sangat wajar, sebab Kabupaten Cirebon yang berpenduduk sekitar 2 juta jiwa, mempunyai 40 kecamatan , 412 desa plus 12 kelurahan. Jadi, semisal Perpusda membuat unit perpustakaan keliling, ya tetap saja keponthal- ponthal. “Celakanya Perpusda juga belum memiliki unit perpustakaan keliling,” jelas Robi.

Dirikan Rumah Baca

Melihat fenomena tersebut, Robi yang berumur 30 tahun merasa tergugah. Ia enggan berdiam diri, baginya virus literasi harus ditularkan pada anak-anak sedini mungkin. “ Saya juga ingin mematahkan hasil survey United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menyebut minat baca  di Indonesia sangat rendah. Faktanya, setiap saya berkeliling, anak- anak setia menunggu kedatangan saya,” ungkapnya.

Respon positif yang Robi rasakan, membuat ia semakin menggebu.  Setiap motor perahunya tiba, anak- anak langsung mengerumuninya untuk memilih berbagai buku bacaan. Dampak aktifitasnya yang kurang lazim tersebut, setiap kali jalan, dompetnya terkuras antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. “Uang Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu itu, kadang saya keluarkan dari kantong pribadi. Tapi tak jarang dibantu rekan-rekan yang bersimpati atas gerakan saya ini,” ungkap Robi serius.

Menurut Robi, di wilayah kabupaten Cirebon sendiri, terdapat sekitar 10 unit Perpusjal yang dikelola oleh orang- orang seperti dirinya. Mereka memiliki tujuan sama, yakni menularkan virus literasi secara pribadi. Kendati tak menampik adanya bantuan pihak lain, namun, Robi mengaku perjuangannya enggan disangkut pautkan dengan pemerintah. Prinsipnya, segala keterbatasan yang ada tidak menghalangi anak bangsa berinovasi.

Ada satu cita- cita mulia yang tengah dirintis oleh Robi, yaitu berdirinya rumah baca  (Ruba) di desanya. Secara swadaya, ia bersama rekan-rekannya sudah mulai membuat bangunan sederhana dari papan. Selama sepekan terakhir, akhirnya dua unit Ruba berhasil didirikan. “ Total biaya yang dikeluarkan Rp 1,8 juta, itu pun merupakan bantuan dari para donatur,” jelasnya.

Keberadaan dua Ruba di Desa Bayalangu Lor, belakangan menimbulkan persoalan tersendiri. Koleksi buku miliknya yang hanya berjumlah 200 eksemplar, tidak memungkinkan terbagi – bagi antara dua Ruba dan Perpusjal. Ternyata, keberuntungan tetap berpihak pada dirinya. Beberapa rekannya bersedia mengirimkan berbagai buku bacaan. “ Berkat pak Faiz (Yogya), pak Nirwan (Jakarta), mas Eko Sanyoto (Salatiga), ibu Dewi, ibu Ririn (Cirebon) dan masyarakat setempat, sekarang jumlahnya jadi 300 eksemplar,” jelas Robi serius.

Begitulah gambaran tentang sepak terjang Robi asal Cirebon, pejuang literasi yang tak mengenal kosa kata berhenti hanya karena situasi. Sebelum mengakhiri perbincangan, ia menegaskan bahwa dirinya setiap saat siap menerima donasi buku bacaan anak- anak. Tidak harus baru, buku bekas sangat dinantinya karena tetap bermanfaat bagi perkembangan anak- anak Indonesia. Apakah anda tertarik ? Bila berminat membantunya, kirimkan koleksi anda ke Robianto, Desa Bayalangu Lor RT 12 RW 03, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. HP : 0896 7097 5429. Ayo lawan UNESCO ! (*)

  • view 328