Melongok Gudang Dolanan Indonesia di di Depok

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Mei 2016
Melongok Gudang Dolanan Indonesia di di Depok

Ketika anak- anak perkotaan semakin asyik dengan berbagai perangkat mainan elektronik, maka aneka permainan tradisional terus tersingkir. Kendati begitu, di Kota Depok, Jawa Barat yang letaknya berdekatan dengan Jakarta, ternyata ada Gudang Dolanan Indonesia (GDI). Berikut penelusurannya.

GDI yang digagas oleh pria asal Kota Salatiga bernama Endi Aras Agus Riyono ini, berlokasi di Komplek Taman Serua Jalan manggis Blok A2 Nomor 3, Bojongsari, Sawangan, Kota Depok. Secara resmi dididirikan tanggal 16 Juli 2006 sepekan  menjelang peringatan hari anak nasional. Tujuannya sederhana namun penuh makna, yakni melestarikan beragam permainan tradisional Nusantara.

Karena mematok target agar permainan tradisional tak mengalami kepunahan, Endi yang mantan wartawan seni,budaya dan hiburan tersebut, kerap mendokumentasikan sekaligus melakukan inventarisasi berbagai mainan (bahasa Jawa : Dolanan) dari seluruh penjuru tanah air. Tidak sebatas itu saja, melalui GDI, Endi juga mengoleksi ratusan permainan yang di tahun 60-70 an kerap dimainkan anak- anak di Indonesia.

Di GDI, terdapat beragam jenis permainan anak- anak tempo dulu seperti bola bekel, egrang, angkong, dakon hingga gasing. Khusus untuk gasing, koleksinya mencapai ratusan jenis yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Gasing memang sangat familiar bagi anak- anak generasi tahun orde lama, sebab, selain murah meriah, konon gasing memiliki filosofi tersendiri.

“ Gasing itu bisa berputar terus menerus dalam jangka waktu cukup lama karena ada keseimbangan. Hal ini sama dengan kehidupan manusia, kalau hidupnya seimbang, maka hidupnya bakal lama,” jelas Endi sembari menambahkan bahwa arti seimbang adalah keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani sehingga tak gampang didera penyakit.

Untuk memburu dolanan tradisional gasing ini, Endi tak sekedar menunggu pemberian rekan atau sahabatnya saja, namun, ia mendatangi berbagai daerah di Indonesia. Melakukan penyigian dari mulai Aceh hingga Papua, ternyata ia menemukan fakta bahwa gasing memiliki nama serta wujut yang berbeda di masing- masing daerah. Sebagai contoh, di DKI Jakarta disebut panggal, di Bali disebut magasing, di kepulauan Riau mempunyai nama gasing sedang di Yogyakarta warga menamainya pathon.

Penjaga Permainan Tradisional

Menurut Endi, gasing mempunyai beragam variasi bentuk, bahan , nama dan cara memainkan. Berdasarkan penelusurannya, di satu daerah, bisa ditemukan varian gasing yang berbeda. “ Di Ambon dan Manado, terdapat 30 jenis gasing. Demikian pula di Jawa Tengah, antara gasing Salatiga dengan gasing kota lain juga ada perbedaan bentuk,” jelasnya.

Perburuan Endi untuk mengumpulkan gasing di seluruh Republik ini, sebenarnya sangat melelahkan. Sebab, selain menggunakan dana pribadi, ia juga harus jeli memilih gasing agar nantinya saat dibawa pulang tidak memiliki kesamaan dengan koleksinya. Hingga sekarang, jumlah gasing yang dikoleksinya sudah mencapai ratusan buah. Celakanya, berdasarkan informasi yang didapatnya, ternyata gasing koleksinya belum lengkap. Masih ada beberapa gasing yang perlu diburunya.

Menyinggung perihal GDI, Endi mengakui, aktifitas para relawan yang tergabung di dalamnya tak sebatas hanya mendokumentasikan sekaligus melakukan inventarisasi terhadap ratusan permainan tradisional saja. Untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan pada anak- anak, pihaknya kerap menggelar event di setiap kesempatan, baik di Jakarta sendiri mau pun tempat lain. “ Kendati minim sponsor, namun upaya mengenalkan permainan ini harus jalan terus,” ungkapnya.

Di GDI sendiri, Endi menyiapkan lahan di belakang rumahnya. Di mana, lahan kosong tersebut didirikan Joglo cukup besar untuk menampung berbagai dolanan tradisional. Biasanya, pada hari libur, anak- anak dari Depok mau pun Jakarta kerap bertandang ke markas besar GDI. Bila Endi berada di rumah, maka ia pun “dipaksa” meladeni pertanyaan- pertanyaan yang dilontarkan anak- anak kota tersebut.

Kadang, Endi merasa kesulitan menjawab pertanyaan anak- anak yang biasa dimanjakan permainan elektronik tersebut. Kendati begitu, ia tetap menikmatinya. Sebab, edukasi yang diberikan nantinya akan bermanfaat bagi kelestarian dolanan tradisional itu. “ Yang namanya anak- anak, kalau bertanya kan harus dijawab secara detail. Kalau hanya dijawab sekilas, mereka akan terus mengejar,” tukasnya.

Di GDI, lanjut Endi, pengunjung sebenarnya tidak didominasi oleh anak- anak saja, sebab, ia sering kedatangan pelajar SMA, mahasiswa, hingga turus manca negara. Semuanya ingin mengerti secara persis jenis- jenis permainan tradisional dan cara memainkannya. Konsekuensinya, Endi pun berulangkali memberikan penjelasan, bahkan kadang juga praktek memainkan beragam dolanan tersebut.

Itulah sedikit gambaran tentang GDI yang berlokasi tak jauh dari ibu kota, bila anda merasa putra- putrinya sudah terlalu larut dicekoki permainan- permainan yang hanya mendalkan otak dan jari, sekali tempo cobalah bertandang ke sini. Selain mampu mengantarkan kenangan masa lalu, anda juga ikut andil melestarikan bagian budaya bangsa. Dan satu hal penting, anda bakal disuguhi keramahan yang belakangan  semakin mahal harganya. (*)

 

 


  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Terima kasih pak udah dibagi info soal filosofi gansing. Baru tau saya gansing ternyata ada maknanya, hehe. Waktu saya kuliah saya juga menulis makalah tentang permainan tradisional dan dapat respons bagus dari pak dosen. Miris sekarang mainan anak2 banyakan elektronik yang cenderung membuat mereka tak peka dengan masyarakat sosial, beda sama zaman dulu. Saatnya bertindak agar anak2 juga bisa belajar bersosialisasi dan falsafah hidup dari mainan tradisional, hehe..

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Wow.. ternyata ada juga di depok? Yang saya tau di Yogya ada museum permaian anak nusantara, dan di Bandung ada komunitas permainan anak sunda tapi saya lupa nama komunitasnya.., oh ya baru inget namanya Komunitas Hong.
    Keren om tulisannya klo boleh tau.. masuknya gratiskah? Trus boleh dimainkan seluruh koleksinya?