Mahasiswi Penjual Gorengan, Cum Laude S2 dari IPB

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Maret 2016
Mahasiswi Penjual Gorengan, Cum Laude S2 dari IPB

Bagi Susi Sianturi, mahasiswi program S2 di Intitut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat, keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghambat. Kendati harus menjajakan gorengan saban hari, namun ia mampu lulus dengan predikat cum laude.

Ibarat supporter sepak bola, Susi kuliah di IPB sejak program S1 sudah menjadi bondo nekad (Bonek). Bagaimana tidak, orang tuanya yang ada di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tiap bulan hanya mampu mengirim ?logistik? sebesar Rp 300 ribu perbulan. Padahal, kebutuhannya sehari- hari, jauh berlipat- lipat. Baik untuk makan mau pun keperluan kuliah.

Sebagaimana diungkapkan Susi pada tribunnews.com, Kamis (24/3), agar kebutuhan finansialnya tercukupi, Susi akhirnya melakukan hal yang tak lazim. Yakni, berdagang pisang goreng.? Pagi sekali dirinya harus bangun, menggoreng bahan baku dan selanjutnya menjajakannya ke Asrama Putri IPB. Hasilnya, rata- rata ada uang masuk sebesar Rp 30 ribu / hari.

Satu tahun penuh Susi menyandang status sebagai mahasiswi merangkap penjual gorengan, memasuki semester III, ia mulai menggeluti usaha yang lain. Bersama rekannya sesama mahasiswa, dirinya berdagang perabot. ? Tiap hari minggu, saya dan teman berjualan dengan membuka stan,? ungkapnya.

Hingga memasuki semester IV, peruntungan Susi agak mulai terlihat. Ia diminta menjadi guru les murid SD dan SMP. Penghasilannya cukup lumayan, yaitu Rp 900 ribu perbulan. Artinya lebih besar dari pada berdagang gorengan mau pun perabot. Guna mendukung kelancaran kuliahnya, Susi sempat mengajukan bea siswa bagi mahasiswa tak mampu. Hasilnya ? ? Bea siswa itu saya dapatkan pas akhir kuliah,? jelasnya.

Berkat kolaborasi dagangan pisang goreng, perabot, guru les dan bea siswa itu, Susi berhasil mengantongi gelar Sarjana Peternakan dengan IPK 3,32. Berbekal ijasah yang dikantonginya, ia diterima bekerja di salah satu perusahaan peternakan sebagai karyawan marketing obat ternak. Cukup lama berkutat di bidang pemasaran, hampir tiga tahun dirinya melakoni pekerjaan tersebut.

Nekad Kuliah S2

Kendati sudah bekerja, namun keinginan Susi untuk meneruskan kuliahnya tetap bergelora. Akhirnya, melalui proses seleksi yang ketat, ia diterima di program? Magister ?Jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Pangan (IPTP) Fakultas Peternakan di IPB. Yang menggembirakan, ibu dua anak tersebut berhasil mendapatkan bea siswa dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti), artinya, selama kuliah dirinya tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.

Menerima bea siswa penuh, Susi tak lantas seenaknya menempuh pendidikannya. Di sela merawat anak, ia konsisten belajar dengan target, IPK nya harus lebih baik dibanding saat kuliah S1. Bila saat awal kuliah dirinya pontang panting mencari tambahan uang dan berhasil memperoleh IPK 3,32, maka yang sekarang tekadnya bulat untuk menyabet yang terbaik.

Dua tahun berkutat dengan berbagai diktat, akhirnya jerih payah Susi membuahkan hasil. Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan mengantongi IPK? 3,91 ! Lengkap sudah kebahagiannya. Seperti galibnya para sarjana lainnya, dirinya juga berharap akan jadi PNS di almamaternya untuk mengajar.

Apa yang dilakoni Susi, mungkin saja bisa terjadi di mana pun. Kuliah, mendapatkan titel sarjana dan cum laude adalah hal biasa. Yang luar biasa, dibalik segala keterbatasannya, ia harus ?berakrobat? saban harinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apa yang telah dilakukan Susi, kiranya mampu menginspirasi anak- anak muda lainnya. Paradidma bahwa kuliah harus berbekal ?logistik? yang berlebih, faktanya dipatahkan oleh Susi Sianturi. (*)

  • view 404