“Bercocok Tanam” Cluster di Persawahan Salatiga

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Lainnya
dipublikasikan 23 Maret 2016
“Bercocok Tanam” Cluster di Persawahan Salatiga

Membenamkan bibit padi di areal persawahan dimusim hujan memang lumrah adanya, namun, yang terjadi di Kota Salatiga belakangan ini, yang ditanam bukan benih padi. Melainkan Cluster yang masa panennya lebih cepat dibanding padi varitas unggul sekali pun.

Cluster atau? perumahan tanpa pagar sudah sejak 10 tahun terakhir tumbuh subur di Salatiga, awalnya dibangun di lahan- lahan kosong seperti kebun milik warga, tanah tandus hingga areal lain yang tidak produktif. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk, belakangan areal persawahan produktif mulai dilirik pengembang. Para pengusaha berduit tersebut, sangat agresif merangsek ke persawahan yang mayoritas berada di pinggiran kota.

Rabu (23/3) sore, saya mencoba berkeliling di Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Memasuki Kelurahan Pulutan, saya agak heran, bulan kemarin persawahan dekat SMP Al Azar yang terlihat hijau, sekarang sudah mulai dibangun Cluster seluas sekitar 1000 meter persegi. Nantinya di lahan itu bakal didirikan sekitar 10 unit rumah dengan harga jual antara Rp 200 juta- Rp 250 juta/ unit.

Masih di Kelurahan ?Pulutan, berjarak sekitar 1 kilometer, terdapat pengembang lain yang juga ?menanam? Cluster di persawahan yang baru saja dipanen. Cluster yang didirikan, lumayan luas, paling tidak terdapat 50 an unit rumah type 45. Kendati lokasinya lumayan menjorok kedalam, namun, hebatnya laris manis sehingga tanpa menunggu berbulan- bulan langsung bisa dipanen.

Begitu juga ketika memasuki Kecamatan Tingkir, wilayah yang saluran irigasinya tak pernah kering sepanjang tahun. Ternyata terdapat beberapa titik persawahan yang ?ditanami? rumah, kios dan Cluster. Bahkan, di Kelurahan Tingkir Lor, nampak salah satu perumahan yang tengah dibangun, terpaksa disegel oleh pemerintah kota karena perijinannya belum lengkap.

Sepertinya alih fungsi lahan, sekarang bukan monopoli kota- kota besar saja. Kota Salatiga yang nota bene memiliki lahan pertanian terbatas, belakangan mulai ikut digerus trend pembangunan rumah. Padahal, sawah- sawah yang disulap menjadi pemukiman sebenarnya merupakan sawah produktif. Entah kenapa, jajaran pemerintah kota enteng saja memberikan ijin dengan mengkesampingkan kelestarian alamnya.

Sawah Tinggal Cerita???????????????????????????????????????????

Sebagai warga Kota Salatiga, saya merasa kecewa dengan mudahnya perijinan yang dikeluarkan oleh dinas terkait pada pengembang. Untuk lahan kering, mungkin tak ada masalah, karena memang kurang bersungsi bagi pertanian. Namun, khusus persawahan yang merupakan sarana vital bagi pemasok beras, kenapa ijin juga sangat gampang turun ? Padahal, yang namanya alih fungsi lahan (konversi), setahu saya rumit prosedurnya.

Bila? sikap agresif? para pengembang dan lunaknya pemerintah kota dalam pemberian ijin terus dibiarkan, tak pelak lagi, dua puluh tahun mendatang, yang namanya sawah nan hijau bakal tinggal cerita. Kuningnya padi serta sosok petani, di mata anak cucu warga Salatiga hanyalah dongeng pengantar tidur karena wujut nyatanya telah tak ada lagi.

Memang, godaan segepok duit yang dipamerkan pengembang kerap memikat anak- anak pemilik lahan persawahan. Terlebih lagi, usia renta petani tak memungkinkan untuk menggarap sawahnya lagi. Ditambah, generasi penerusnya pupus akibat faktor gengsi membajak sawah. Akibatnya, jalan pintas ditempuh. Dijual ke pengembang dan disulap menjadi pemukiman. Tidak peduli persawahan tersebut masuk kawasan hijau, yang penting uang milyaran berpindah tangan.

Di lokasi yang sama, saya melihat banner dari MMT yang menawarkan sawah seluas 3479 meter. Sebagai pemikat, dituliskan bahwa lahan yang akan dijual sudah melalui proses pengeringan. Lantas, bakal dijadikan apa lagi kalau nantinya tidak dibuat untuk ?menanam? cluster ? Sebab, sangat tak mungkin pembelinya memanfaatkan guna pertanian, mengingat hasilnya memang kurang menguntungkan.

Sangat susah membayangkan apa yang akan terjadi 20 tahun nanti, mungkinkah hijaunya persawahan masih tersisa ? Sulit menjawabnya. Sebab, populasi warga Salatiga tiap tahun selalu melonjak, sementara lahan pemukiman terus menyempit. Tanpa ketegasan pemerintah kota, bisa dipastikan sawah- sawah yang saat ini menjadi penopang kebutuhan beras akan lenyap. Hijaunya sawah, tinggal cerita pengantar tidur sibuyung.

Apa lagi gaya hidup konsumtif generasi muda anak- anak petani yang sepertinya lebih suka bekerja di bidang lain, mau tak mau berimplikasi pada raibnya persawahan milik orang tua mereka. Padahal, semisal mereka mau sedikit bersusah payah mempertahankan profesi sebagai petani, mereka tidak akan hidup sengsara. Sayangnya, etos membajak persawahan? itu perlahan mulai luntur digilas jaman. (*)

  • view 441