Guru Honorer dan Pendekar Lingkungan dari Lereng Merbabu

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 Maret 2016
Guru Honorer dan Pendekar Lingkungan dari Lereng Merbabu

Pitoyo Ngatimin ,50 tahun, ?warga Dusun Selo Ngisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.? Hanyalah seorang guru (honorer), kendati begitu dirinya dikenal sebagai pendekar lingkungan dari lereng Gunung Merbabu. Berikut sepak terjangnya.

Pria yang biasa disapa dengan panggilan Pitoyo ini, lahir tanggal 10 Oktober 1967 di Kabupaten Semarang. Ia merupakan pendiri Kelompok Tani Tranggulasi yang secara resmi berdiri tahun 2004. Aktivitas kesehariannya, pagi mengajar di SMK Pertanian Dharma Lestari, Kota Salatiga hingga siang hari, selanjutnya waktu yang tersisa dihabiskannya di ladang sayuran atau bertemu rekan-rekannya sesama kelompok tani.

Pitoyo yang bersahaja, nyaris tak bisa melepaskan diri dari kehidupan petani. Maklum, rumahnya di Dusun Selo Ngisor, mayoritas penduduknya merupakan penanam sayur, baik di lahan sendiri maupun lahan milik orang lain. Rutinitas harian tersebut sudah dijalankan selama puluhan tahun, tanpa keluhan sedikit pun. Sementara aktifitas mengajar juga tak bisa dilepasnya, pasalnya, menjadi guru merupakan tugas social yang sulit ia lepaskan.

Seperti galibnya seorang guru yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai petani, Pitoyo juga menggunakan berbagai pupuk kimia untuk menyuburkan tanamannya. Tahun 1998, ketika Indonesia tengah diterjang badai krisis ekonomi, lahan pertanian yang dikelolanya juga didera keterpurukan. Sayuran kubis yang ditanam di ladang seluas 4 ribu meter persegi, hanya mampu menghasilkan Rp 60 ribu. ?Saat itu harga kubis turun tajam menjadi Rp 60 per kilogram,? jelasnya.

Marah ?dengan hasil panen yang menyedihkan itu, Pitoyo langsung banting setir. Ia bertekad tak akan menggunakan pupuk kimia, dirinya langsung beralih menggunakan pupuk kandang. Kebetulan, hampir 90 persen penduduk di Desa Batur, memiliki ternak. Otomatis, ketersediaan pupuk ?kandang tidak bakal kesulitan. Walau beberapa tetangganya mencemohnya, namun, dia bertekad bulat meninggalkan pupuk kimia.

Menanam Sayuran Organik???????????????????????????

Beralih dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida ke pupuk kandang, tak pelak membuat Pitoyo jadi bahan cemohan petani di lingkungannya. Sebab, ulahnya tersebut dianggap tidak lazim. Celakanya, usahanya itu belakangan kurang memuaskan. Setiap panen, selalu menemui kegagalan. Meski begitu, semangatnya terus membara. Dirinya ingin membuktikan bahwa langkahnya bukan suatu tindakan yang ngawur.

?Yang saya anggap gagal panen itu begini, hasil panenan tak jauh berbeda dengan menggunakan pupuk kimia. Yang membedakan, costnya lebih irit 60 persen,? jelas Pitoyo.

Tekad suami Siti Imronah ini untuk menjadi petani sayuran organik terus menggebu, segala cemohan ia abaikan. Dirinya tak berhenti berinovasi dengan mengolah pupuk kandang agar mampu lebih efektif menyuburkan sayuran. Tidak hanya kotoran ternak yang dimanfaatkannya, namun urine ternak (Sapi) juga dimanfaatkan untuk menyiram tanamannya.

Inovasi yang dilakukan Pitoyo bukan hanya sebatas cara bertanam, ia juga membuat formulasi pupuk dan pestisida alami. Dengan bahan sejumlah empon-empon (rempah seperti kunyit, temulawak, jahe hingga lengkuas), usai ditumbuk, bahan tersebut direbusnya sampai mendidih. Setelah dingin, rebusan disimpan dalam wadah tertutup selama dua minggu.

Hampir enam tahun Pitoyo berkutat dengan berbagai hal yang terkait dengan pupuk kandang, hingga akhirnya, keberhasilan mulai direngkuhnya. Hasil panen, ternyata mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dibanding sayuran yang menggunakan pupuk kimia. Sayuran organik di ladangnya, mulai dikenal petani-petani lain. Mereka pun tak malu-malu mengikuti jejak pria religius tersebut.

Sayuran organik made in Desa Batur sejak tahun 2004 mampu menembus super market di beberapa kota di Jawa Tengah. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran mengonsumsi sayuran sehat di masyarakat perkotaan, maka permintaan sayuran dari Kelompok Tani Tranggulasi terus meningkat. Bahkan, selama enam tahun terakhir buncis perancis organiknya sudah rutin diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Dikoordinir oleh Kelompok Tani Tranggulasi hasil panen berupa buncis perancis dijual dengan harga Rp 9 ribu/kilogram ke Singapura. Dari harga tersebut, petani mendapatkan Rp 6 ribu/kilogram. Sebab, selisih Rp 3 ribu/kilogram digunakan untuk operasional yang meliputi pengemasan, menggaji tenaga pengepak, biaya petik hingga sopir yang bertugas mengirim sayuran.

Dengan jadual pengiriman ke Singapura pada hari Minggu, Selasa, dan Kamis, Pitoyo selaku sesepuh petani berupaya melakukan pola tanam agar saban hari selalu ada yang dipanen. Yang menarik, para petani hingga sekarang tak pernah tergiur menjual hasil panennya ke pasar tradisional. Alasannya sederhana, harga di pasar tradisional selalu berubah dan celakanya berada di bawah harga ekspor.

Demikian pula dengan sayuran organik lainnya seperti kentang, wortel, kubis semuanya dilempar ke supermarket baik di Jawa Tengah maupun DIY. Harga yang dipatok, bisa tiga kali lipat dari harga sayuran yang menggunakan pupuk buatan pabrik. ?Kita mampu mematok harga tinggi karena ada embel-embel organiknya. Meski begitu, kita juga menjaga kualitas sayuran,? kata Pitoyo yang selalu santun terhadap siapa pun ini.

Pendekar ?Lingkungan

Langkah Pitoyo yang mengharamkan pupuk kimia, sebenarnya merupakan salah satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan hidup yang selama ini memberinya kehidupan. Ia sangat paham dampak penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang. Untuk itu, meski berjuang sendirian (pada awalnya), dirinya tak mengenal kosa kata menyerah. Baginya, pupuk kandang manfaatnya melebihi pupuk kimia buatan pabrik mana pun. Setelah bertahun-tahun, segala jerih payahnya telah dinikmati warga di seluruh Kecamatan Getasan.

Seharusnya, Pitoyo yang mampu mendongkrak in come petani di wilayah Kecamatan Getasan ini, sekarang telah menikmati hasilnya. Bisa saja ia duduk manis di rumahnya sembari menunggu panenan. Sayangnya, laki-laki tersebut bukanlah sosok yang betah berdiam diri. Usai mengajar, begitu sampai di rumah, sepatunya langsung diganti dengan sepatu boot, mengenakan kaos lengan panjang dan berangkat ke ladang.

Sore sepulang dari ladang, setelah membersihkan diri dan beristirahat selama dua atau tiga jam, biasanya rumah Pitoyo mulai didatangi rekan petani. Mulai yang sekedar berbincang ringan hingga membahas pertanian, semua ia ladeni. Terkadang diskusi nonformal juga membahas masalah lingkungan, pasalnya pria ini dikenal sebagai aktivis lingkungan di lereng Gunung Merbabu. ?Ini juga bagian pembelajaran tapi tidak di kelas,? jelasnya.

Gara-gara kepeduliannya terhadap lingkungan, Pitoyo bersama puluhan petani lainnya pernah berurusan dengan polisi. Akar persoalannya, di Desa Batur terjadi pengerukan tanah yang berpotensi merusak lingkungan. Karena diperingatkan berulangkali tak juga menghentikan kegiatannya, warga merasa jengkel hingga berujung pada perusakan kendaraan milik perusahaan yang melakukan penggalian tanah. Akibatnya, warga dilaporkan ke polisi.

Kendati begitu, Pitoyo tak merasa jera. Baginya, kelestarian lingkungan harus dijaga dengan risiko apa pun. Sebab, bila dibiarkan, nantinya anak-cucunya bakal menuai kerusakan parah. ?Kami tidak langsung bertindak represif. Biasanya kami peringatkan lebih dulu, kalau diperingatkan berulangkali tetap mengabaikan. Ya jangan salahkan warga bila mereka emosi,? jelasnya datar.

Segala jerih payah Pitoyo selama bertahun-tahun bukannya tak mendapat apresiasi dari pemerintah, berbagai penghargaan pernah diterimanya. Mulai Anugerah Ketahanan Pangan nasional Tahun 2006, penghargaan Budidaya Sayuran Organik tingkat nasional Tahun 2006, Kalpataru Perintis Lingkungan tingkat Kabupaten Semarang Tahun 2007 hingga Adhikarya Pangan Nusantara tahun 2011 sempat diterimanya.

Penghargaan-penghargaan itu tak membuat Pitoyo jumawa, ia tetap rendah hati, santun, dan bersahaja. Yang menarik, profesinya sebagai guru tetap dipertahankan, padahal honor yang diterimanya sebenarnya tidak seberapa. Jadi, meski saban pagi harus menempuh perjalanan sekitar 10 kilo meter, dirinya sangat menikmatinya. Baginya, guru adalah profesi yang mulia. Walau mengajar di sekolah swasta yang kurang dikenal oleh masyarakat Kota Salatiga.

Itulah catatan mengenai pendekar lingkungan dari lereng Gunung Merbabu, selalu bersahaja, hidup dalam kesederhanaan, namun mampu mengangkat derajat para petani. Di Republik ini, pastinya terdapat ribuan Pitoyo- Pitoyo lainnya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Yang jadi masalah, keberadaan mereka kerap diabaikan oleh para pemangku kebijakan sehingga terabaikan. Salam lestari ! (*)

????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  • view 304