Dari Salatiga “Motor” Lawas ini Menembus Manca Negara

Bambang Setyawan
Karya Bambang Setyawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 Maret 2016
Dari Salatiga “Motor” Lawas ini Menembus Manca Negara

Melihat gambar kendaraan roda dua lawas yang berjajar ini, maka orang akan menyangka bahwa motor- motor jadul tersebut milik para penggemar barang kuno yang tengah diparkir di lahan terbuka. Namun, bila dicermati, sebenarnya beragam sepeda itu hanyalah miniatur yang dibuat oleh? Agit Sasongko warga Jalan Tlogo Tirto, Pancuran, Kutowinangun, Tingkir, Kota Salatiga.

Agit pria berusia 45 tahun tersebut sangat sadar benar, ia hidup di Kota Salatiga yang kecil dan memiliki keterbatasan lapangan pekerjaan. Untuk itu, bila tak cerdas mensiasatinya, maka bakal repot sendiri. Sejak lama dirinya enggan mencari kerja, dia lebih suka menciptakan lapangan pekerjaan dibanding harus keluar masuk perusahaan sekedar mengantarkan berkas lamaran. Meski hanya menjadi pengrajin alat mancing, tetapi statusnya bukan pengangguran.

Untuk menjaga periuk nasi di rumahnya tetap mengepul, Agit sejak lama menjadi pengrajin peralatan pancing. Nyaris saban hari ia berkutat dengan lembaran timah, spon? dan kawat alumunium ( tenol). Benda- benda tersebut memang merupakan bahan baku pembuatan alat pancing. Hingga tiga tahun yang lalu, ketika lagi sepi order, otaknya berfikir keras agar mampu berinovasi tak hanya menekuni peralatan memancing. Melihat barang- barang bekas yang merupakan limbah pembuatan alat pancing, mendadak terbersit untuk memanfaatkannya.

Enggan berlama- lama gagasan itu hanya mengeram di pikirannya, Agit langsung bereksperimen. Melalui kejelian serta berkolaborasi dengan kesabaran, dalam tempo tiga hari tercipta miniatur sepeda motor jenis Harley Roundtank tahun 1915. Merasa memiliki kemampuan, ia kembali membuat miniatur lainnya. Celakanya, hasil produksinya ternyata diminati oleh para penggemar motor klasik. Padahal, harga yang dipatok tidak murah. Satu unit miniatur pembeli harus merogoh kantong sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 800 ribu, tergantung tingkat kesulitannya. Semakin rumit, harganya makin mahal.

Karena produksi miniatur motor lawasnya direspon positif oleh pasar, Agit pun mantap menekuni bisnis tanpa pesaing ini. Melalui sistem penjualan online, dalam satu bulan ia mampu membuat 20 an miniatur.Agar konsumennya terpuaskan, dirinya juga menerima pesanan berbagai type sepeda motor. Kendati begitu, mayoritas pembeli lebih suka memilih sepeda motor lawas untuk dijadikan pajangan di rumahnya.

Dalam pengamatan saya, miniatur sepeda motor produksi Agit, memang mempunyai tingkat kemiripan yang tinggi. Dari mulai body hingga mesin dibuat sangat detail sehingga saya yakini tanpa ketelatenan dan kesabaran, tak bakal mampu mewujutkannya. Seluruh jenis miniatur, nyaris dibuat sama persis dengan? aslinya.

Laku di 3 Negara

Dengan dibantu oleh salah satu tetangganya, produksi miniatur Agit praktis beredar dipasaran tanpa kendala yang berarti. Maklum, bisa dikata minim pesaing. Untuk membuat satu unit miniatur, ia membutuhkan waktu sekitar 3 hari. Namun, bila pesanan konsumen rumit, biasanya pengerjaan miniatur molor hingga lima hari. ?Yang sulit membuat detail mesin dan asesoris. Karena bentuknya kecil, meleng sedikit ya harus mengulanginya,? jelas Agit.

Dalam membuat miniatur, ketelatenan Agit memang layak diacungi jempol. Salah satunya saat saya bertandang ke rumahnya,ia tengah merakit Yamaha RX King. Mulai dari ruji, shock beker, cakram hingga mesin dibuat sangat mirip aslinya. Begitu pun dengan roda motornya, ban yang dibuat dari spon, terlihat ada guratan selayaknya ban motor beneran.? ?Sengaja saya buat semirip mungkin demi kepuasan konsumen,? ujarnya.

Selama tiga tahun bergelut dengan miniatur sepeda motor antik,Agit mengaku kesulitan mendongkrak omzet. Pasalnya, ada kendala pada sumber daya manusia yang terbatas. Semuanya harus ia kerjakan sendiri, meski memiliki anak buah, tetapi belum mampu merakitnya. Implikasinya, angka produksinya stagnan. Hanya 20 unit perbulannya. Padahal, umpama mempunyai SDM yang cukup, pesanan miniatur? ini selalu mengalir.

Menurut Agit, konsumen yang memesan miniatur buatannya berasal dari berbagai kota di Indonesia. Biasanya, calon pembeli memberikan foto detail sepeda motor , setelah dihitung dan ada kesepakatan harga baru Agit menggarapnya. Melalui jaringan pemasaran online, belakangan order juga datang dari berbagai negara seperti Thailand, Philipine serta Malaysia. Untuk pesanan jenis ini, biasanya ongkos kirimnya ditanggung pembeli. Anda berminat?

? Yang paling susah, packingnya untuk pengiriman. Sebab, kalau packing tidak kuat, maka barang pesanan akan rusak. Untuk itu, saya menggunakan bahan kayu untuk memproteksi miniature saat akan dikirim,? tukas Agit.

Apa yang sudah dicapai oleh Agit, kiranya perlu diapresiasi. Ia tak mau merengek meminta agar pemerintah memberinya pekerjaan, namun, kendati masih bersifat kecil, dirinya mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.Sepertinya, Agit bukan type orang yang suka mengumbar kata- kata tetapi tanpa usaha apa pun. Dia memilih miskin kata dan terus berkarya. Memang, bila kita piawai berinovasi, sebenarnya apa pun bisa kita ubah jadi uang. Satu kata untuk Agit : Inspiratif ! (*)

  • view 533