Mengatasi Aliran Sesat dan Radikal

Bambang Pranowo
Karya Bambang Pranowo Kategori Agama
dipublikasikan 23 Oktober 2017
Mengatasi Aliran Sesat dan Radikal

Mengatasi Aliran Sesat dan Radikal

 M Bambang Pranowo

 Guru Besar Sosiologi Islam UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten

        Baik aliran sesat maupun aliran radikal, keduanya merupakan penyimpangan dalam Islam. Jika aliran sesat penyimpangannya lebih cenderung pada “ketergelinciran” dari jalur Islam yang benar (ibarat kereta api rodanya keluar dari rel), maka aliran radikal penyimpangannya lebih cenderung pada “kefanatikan” suatu penafsiran sehingga orang yang berbeda pahamnya dianggap kafir. Jika diibaratkan kereta api tadi, aliran radikal mendefinisikan bahwa kereta api adalah kendaraan yang berjalan di atas rel besi dengan jumlah penumpang 1000 orang dan kecepatan maksimalnya 100 km/jam. Bagaimana jika ada kereta api yang jalannya di atas rel bermagnet yang disebut maglev seperti di Perancis yang kecepatannya 350 km/jam dan mampu mengangkut penumpang 2000 orang?

    Orang beraliran radikal menyatakan bahwa   itu bukan kereta api. Lalu apa? Itu kereta api kafir! Itulah cara berpikir orang radikal. Kedangkalan pengetahuannya membuat mereka radikal. Ibarat pepatah, mereka (yang radikal itu) seperti katak dalam tempurung. Mereka merasa paling benar. Padahal salah! Mereka ekstrim, menganggap bahwa yang ajaran yang berbeda darinya harus dihapuskan. Bila perlu pengikutnya dibunuh.

      Dari gambaran tersebut, tentu saja, cara mengatasinya berbeda. Kelompok aliran sesat perlu didekati dengan cara yang “helpful” – bersifat menolong. Ibarat  kereta api yang rodanya tergelincir, maka solusinya bagaimana agar roda tersebut diletakkan kembali pada rel yang benar. Tidak kemudian merusak atau menimpuk keretanya, tapi “memperbaiki” roda tersebut agar menapak kembali pada relnya.

        Dengan demikian, untuk mengatasi aliran sesat, kita (kaum muslimin yang jadi da’i atau pemimpin umat), harus bersikap helpful. Jangan memukul, tapi merangkul mereka.  Jangan menghardik, tapi menarik mereka. Jangan mengusir, tapi mengasuh mereka. Semuanya bertujuan agar mereka “tertolong” dan kemudian menyadari “ketergelincirannya” dari ajaran Islam yang benar.

      Kita mungkin masih ingat kasus Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Gafatar adalah sebuah kelompok “Islam” yang tidak radikal dan tidak ekstrim.  Mereka seharusnya “ditolong” agar kembali ke jalur yang benar. Tidak malah diusir dan rumahnya dibakar. Mereka (anggota Gafatar) telah habis-habisan berkorban tenaga dan harta untuk “hijrah” ke Kalimantan bergabung bersama  kelompoknya, tapi ternyata di sana diusir dan tempat tinggalnya dihancurkan. Ini jelas solusi yang salah untuk mengatasi aliran sesat Gafatar.

     Mereka adalah manusia yang butuh sandang, pangan, dan papan. Kementerian sosial mengembalikan mereka ke kampung halamannya di Jawa, padahal semua aset mereka di Jawa telah habis dijual untuk “kehidupan baru”nya di Kalimantan. Dalam kaitan inilah, kita harus berpikir “bagaimana merangkul dan menarik” kembali orang Gafatar agar kembali ke “rel” agama Islam yang benar. Sungguh tak terbayangkan, ratusan bahkan ribuan orang Gafatar yang notabene adalah orang Indonesia harus hidup di “pengasingan” di negerinya sendiri.

      Di Kalimantan, sebetulnya komunitas orang Gafatar ingin hidup mandiri (bercocok tanam dan beternak), membentuk kampung sendiri dan hidup berdampingan dengan warga setempat (beda dengan aliran radikal Kelompok Santoso yang anarkis dan membunuh orang yang tidak sepaham). Tapi harapan mereka kandas karena perkampungannya diserbu dan dihancurkan orang tak dikenal yang menolak kehadiran mereka. Ini jelas bukan solusi. Tapi tragedi! Sebuah solusi yang tidak menyelesaikan masalah.

       Di pihak lain, untuk mengatasi kelompok radikal, pendekatannya berbeda lagi. Orang-orang radikal itu, dalam melihat suatu kacamata kuda. Mereka menggunakan kacamata yang sudah di “framing” dengan ideologi radikal tersebut. Maka solusinya melalui pendekatan dialog  untuk membuka wawasan mereka.

        Seperti kisah kereta api di atas, bahwa Islam itu luas dan banyak ragam dan mazhabnya. Dalam istilah ulama Ahli Sunnah, Islam itu wasatan atau berada di tengah-tengah. Tidak ekstrim kanan, juga tidak ekstrim kiri. Contohnya Rasulullah yang mendamaikan suku-suku di Quraisy ketika merekonstruksi Ka’bah. Saat itu Rasulullah menjadi “wasit” atau penengah yang adil dengan membentangkan kain yang ujung-ujungnya dipegang oleh para kepala suku, lalu Rasul meletakkan hajar aswad di tengah-tengah kain itu sebelum dimasukkan ke Ka’bah. Dampaknya luar biasa. Semua kepala suku puas karena merasa terlibat dalam rekonstruksi Ka’bah.

      Untuk mengatasi kaum radikal ini, pertama-tama kita harus mengajak mereka berdialog  untuk membuka wawasannya agar    terlepas dari pemikiran radikalnya. Dialog ini harus dilakukan terus menerus sehingga framing radikalitasnya hancur. Tanpa itu, sulit untuk mengubah ideologinya. Ideologi radikal adalah pemicu anak kandung terorisme. Awalnya ekstrim, lalu radikal, kemudian terorisme. Dengan demikian, sebelum menjadi radikal dan teroris, pandangan yang ekstrim ini harus kita cegah kemunculannya. Caranya, dengan dialog yang berkelanjutan sampai mereka tersadar bahwa pemikiran ekstrimnya salah. Tentu saja semua pendekatan tersebut harus umelalui metode dakwah “bilhikmah wal maudhotil khasanah”. Alqur’an telah menunjukkan cara-cara dakwah yang sangat bagus, yaitu pendekatan hikmah dan teladan yang baik  seperti dilakukan Rasulullah.

 

  • view 277