Santri dan Bela Negara

Bambang Pranowo
Karya Bambang Pranowo Kategori Agama
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Santri dan Bela Negara

Santri dan Bela Negara

 Oleh M Bambang Pranowo

 Guru Nesar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathlaul Anwar

 

Sejarah santri adalah bela negara!  Guru dan kyai di pesantren sejak dulu punya pegangan hadist:  mencintai negara  adalah bagian dari iman. Karena bagian dari iman, menurut ajaran fiqih, membela negara adalah wajib. Itulah sebabnya, sejarah pesantren dan santri-santrinya sejak dulu pekat dengan perjuangan membela negara.

Ketika Menhan Ryamizard Ryacudu punya gagasan untuk mengkader 100 juta pemuda sebagai pembela negara, kaum santri tentu – secara inherent – niscaya terlibat di sana. Bahkan mungkin akan jadi garda depan bela negara. Ajaran-ajaran agama yang lebih mementingkan kebersihan hati dan perbaikan akhlak manusia pada hakikatnya merupakan inti dari bela negara. Tanpa manusia berhati jernih, berakhlak mulia, dan bermartabat tinggi, apalah jadinya negara ini.

Kita tahu, berdasarkan hadist di atas, Islam mengajarkan umatnya untuk mencintai dan membela negaranya.  Ini artinya, jika  seseorang membela negara maka sesungguhnya ia membela agamanya. Nabi Muhammad menyatakan: hubbul wathan minal iman. Menyintai negara adalah sebagian dari iman. Dalam kehidupan tak ada harta yang lebih tinggi dari cinta. Tak ada tujuan yang lebih tinggi dari cinta. Karena cinta negara adalah bagian dari iman, maka bela negara pun bagian dari iman. Para santri jelas sangat mendalami makna cinta dan bela negara tersebut.

Sejarah perjuangan Nabi Besar Muhammad penuh dengan tindakan dan prakarsa untuk membela negara. Ini terjadi karena negara merupakan lembaga yang harus ada untuk melindungi warga negara dari kejahatan, terorisme, dan pelanggaran hukum. Sebagai Pemimpim Umat dan Rasul Allah, Muhammad diperintahkan Tuhan untuk menyebarkan Iman Islam dengan pendekatan moral dan akhlakul karimah. Karena pendekatannya moral dan akhlak, maka penyebaran Islam bernuansa inklusif. Nabi Muhammad  memang berdakwah menyebarkan Islam sebagai agama baru di Mekah. Tapi Nabi Muhammad sangat menghargai orang-orang yang bermoral baik dan berakhlak karimah tanpa memandang agamanya.    Ini artinya, Nabi Muhammad sangat menghargai kemanusiaan. Pernyataan Al-Qur’an bahwa tidak ada paksaan dalam beragama menguatkan pandangan umat Islam bahwa agama harus dipeluk mengikuti hati nurani. Bukan mulut. Kenapa? Karena di hati nurani inilah bersemayam rasa ketuhanan. Jika agama dipeluk hati nurani, niscaya tidak ada kebohongan dalam beragama. Kebohongan dalam beragama sangat berbahaya. Para pembohong ini menggunakan lidah dan otaknya untuk mengelabuhi manusia. Mereka seakan-akan beriman kepadaAllah, padahal tidak! Mereka seakan-akan membangun negara, padahal tidak. Di hati mereka ada kotoran. Mereka munafik. Allah menggambarkan orang-orang seperti itu dalam Qur’an.

Dan sebagian dari manusia ada yang berkata, kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal tidaklah mereka itu orang­ orang yang beriman. Mereka hendak  mem­perdayakan Allah dan orang­-orang yang beriman, padahal mereka tidak bisa memperdaya­kannya, kecuali diri mereka sendiri dan  mereka tidak merasakannya. Di dalam hati mereka ada penyakit, maka  Allah menambahkan  penyakinya. Dan untuk mereka adalah azab yang pedih karena kebohongannya. Dan apabila dikatakan pada mereka janganlah kamu ber­buat kerusakan di muka bumi, mereka jawab. kami  sedang membangun. Ketahuilah, sesungguh­nya  mereka sedang membuat kerusakan, tapi mereka tidak sadar.(Al-Baqarah 8-12).

Orang-orang yang digambarkan Al-Qur’an tersebut adalah para pembohong, munafik, dan perusak. Manusia seperti itu kini banyak bermunculan di muka bumi, termasuk di Indonesia. Mereka pintar, kerja keras, tapi mencuri dan korupsi. Yang mereka pentingkan adalah hawa nafsunya. Bukan amal jariyahnya. Mereka inilah para pengkhianat agama. Juga pengkhianat negara.

Kaum santri yang belajar agama niscaya tahu apa konsekwensi kaum munafik dan pengkhianat negara tersebut. Para santri, siang malam mengaji berbagai kitab – Qur’an, hadist, fiqih, tasawuf, dan lain-lain – semata untuk memahami dan menyerap ilmu-ilmu agama untuk perbaikan moral dan akhlak. Dengan demikian, kaum santri sejak melangkahkan kakinya ke pesantren untuk belajar agama sesungguhnya mereka sedang mempersiapkan diri untuk bela negara. 

Salah seorang ulama di abad 19 KH Ahmad Rifa’i (1786-1870) dari Kalisasak, Batang, misalnya, mengajarkan santrinya melawan Belanda dalam kondisi apa pun. Dalam salah satu kitabnya KH Ahmad Rifa’i menyatakan bahwa  luwih becik mangan telo ketimbang ngabdi londo (lebih baik makan ketela pohon ketimbang mengikuti Belanda). Tak hanya Belanda yang diserang KH Ahmad Rifa’i melalui puisi-puisi perjuangannya. Tapi juga para priyayi yang tunduk kepada Belanda.  Dalam kitab  Nazham Wiqayah, Ki Ripangi (sebutan akrab Jama’ah Rifa’iyah di Kalisasak untuk KH Ahmad Rifa’i) menyatakan:

       Sumerepbadan hina seba ngelangsur

     Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur

     Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan

     Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

     Maring rojo kafir pada asih anutan

     Haji, abdi, dadi tulung maksiyat

     Nuli dadi khotib ibadah

     Maring alim adil laku bener syareate

     Sebab khawatir yen ora nemu derajat

     Ikulah lakune wong munafik imane suwung

     Anut maksiyat wong dadi Tumenggung

Artinya:

Melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap

Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa

Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar

Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

Kepada raja kafir senang jadi pengikut

Termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan

Kemudian menjadi kadi khotib ibadah

Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat

Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan

Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya

Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung.

 Akibat ajaran-ajaran bela negaranya, Ki Ripangi ditangkap Belanda, kemudian diasingkan ke Menado dan wafat di sana.  Pada tahun 2004, kyai yang  berpolitik tanpa kompromi dengan Belanda itu mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Kalau kita mau jeli meneliti para pejuang kemerdekaan, hampir semuanya adalah orang-orang yang punya keimanan teguh. Diponegoro, misalnya. Meski berasal dari keturunan ningrat, tapi beliau angkat senjata melawan Belanda – mbalelo dari kraton – karena tidak sudi orang kafir Belanda menjajah tanah airnya. Rakyat pun berbondong-bondong mengikuti Pangeran Diponegoro.

Nama asli Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah Raden Mas Ontowiryo. Ia bergelar  Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi. Diponegoro adalah anak Pangeran Adipati Anom (Hamengku Buwono III) dari garwa selir. Ia melawan Belanda ketika  penjajah  mau membangun jalan dengan menyerobot (merobohkan) bangunan masjid dan tanah leluhurnya. Jadi motivasi perlawanan Diponegoro -- tidak seperti dikatakan sejarawan Belanda   hanya membela tanah leluhurnya --  adalah karena  Belanda mau merobohkan masjid. Sekali lagi, motivasi keimanan Islamlah  yang membuat Diponegoro angkat senjata melawan Belanda. Ayahanda Diponegoro sendiri pada masa itu menjadi sasaran kritik Ki Ripangi karena HB III mau kerjasama dengan Belanda. Tapi putranya, Diponegoro, menjadi teman seperjuangan Ki Ripangi. Apalagi ketika keduanya sama-sama diasingkan ke Sulawesi.

          Selain Diponegoro, priyayi kraton yang   hidupnya sangat nyantri adalah Kyai Samber Nyowo. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 – meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan. Julukan Pangeran Samber Nyowo diberikan oleh Nicolaas Hartingh, Gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya. Apa yang diketahui Belanda,  Pangeran Samber Nyowo selalu membawa Al-Qur’an dalam tiap pertempuran. Beliau tak pernah meninggalkan salat dan membaca Al-Qur’an meski dalam kondisi peperangan. Dan tampaknya mu’jizat Al-Qur’an inilah yang menjadikan Pangeran Samber Nyowo dan pasukannya selalu menang dalam pertempuran melawan Belanda. Bahkan dalam setiap pertempuran, Sang Pangeran selalu bisa membunuh tentara Belanda. Jelas, Pangeran Samber Nyowo adalah seorang yang taat agama. Ia seorang santri yang selalu mohon perlindungan kepada Allah dan mohon kemenangan dalam peperangan melawan Belanda.

Sejarah mencatat nama-nama tokoh santri yang menggerakkan perlawanan terhadap penjajah. KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah dan  KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), misalnya, tercatat dengan tinta emas sebagai pembela negara. Keduanya adalah santri dan keduanya mengembangkan dunia pendidikan Islam. Melalui sekolah dan madrasah yang didirikannya, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari telah berhasil mendidik jutaan kader-kader bela negara yang mumpuni dan berkualitas yang kini mengabdi dan berkarya untuk bangsa dan negara. Sejarah telah membuktikan kaum santri tidak hanya menjadi kader bela negara tapi juga mendidik dan menyebarkan kader-kader bela negara ke seluruh nusantara.

  • view 46