FUNGSI MAHASISWA

Balqis Syaifia
Karya Balqis Syaifia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Agustus 2016
FUNGSI MAHASISWA

Ditulis oleh: Balqis Syaifia (Pendidikan Bahasa Jepang, UNJ 2016)

Mahasiswa. Pasti kata itu tak lagi asing bagi kita, di mana-mana begitu banyak hal yang dibahas mengenai mahasiswa. Sebenarnya, apa itu mahasiswa? Menurut KBBI, mahasiswa berarti orang yang belajar di perguruan tinggi. Sedangkan jika kita lihat dari kata mahasiswa, kata itu terdiri dari ‘maha’ dan ‘siswa’. Maha, kata yang biasa digunakan untuk mengartikan sesuatu yang sangat atau  teramat dalam suatu hal, dan siswa, yang berarti orang yang belajar. Jadi berarti mahasiswa adalah siswa yang telah mendapat predikat ke-maha-an, yang telah menimba ilmu selama 12 tahun di sekolah dasar dan menengah. Tapi, apakah arti dari mahasiswa hanya sesempit itu? Tidak. Karena mahasiswa memiliki tanggung jawab yang sangat jauh lebih besar daripada siswa yang biasanya. mahasiswa telah memiliki intelektualitas dan kekritisan dalam berpikir, bahkan berkemampuan menyampaikan sesuatu yang berbentuk pemikiran ataupun hal lainnya ke tingkat birokrasi, karena memiliki peran tersendiri dalam masyarakat. Ya, itulah salahsatu fungsi mahasiswa. Sebenarnya begitu banyak fungsi mahasiswa, seperti:

Agent of Change

Mengapa mahasiswa disebut sebagai agent of change? Karena sebagai bagian dari masyarakat dan sebagai siswa, mahasiswa ditinggikan. Diharapkan oleh negeri ini untuk menjadi generasi penerus yang bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi dengan sungguh-sungguh dan mengaplikasikan disiplin ilmunya dalam kehidupan, agar hal yang berjalan tidak semestinya bisa diubah menjadi selaras. Mengapa disebut sebagai agen? Karena mahasiswa sebagai perantara atau perwakilan dari rakyat. Dan dari sini, sudah jelas bahwa mahasiswa jadi subjek, yaitu agen pengubah, dari dorongannya untuk berubah itu muncul semacam rasa patriotisme dalam diri mahasiswa untuk mengubah negeri ini, dan dari rasa itu mahasiswa sebagai objek, yang tergerak untuk melakukan perubahan. Kita sudah sering mendengar pepatah bahwa “Jika ingin mengubah dunia, ubahlah dirimu sendiri terlebih dulu”, dan benar adanya, sebagai mahasiswa, kita harus terus memperbaiki diri dan mengubah diri ke arah yang lebih baik. Mulai dari pemikiran, tata krama, hingga akhlak. Menurut saya, akhlak penerus bangsa yang harus utama diubah, agar dirinya sendiri terutama hati nuraninya tergerak untuk menjadi lebih baik dalam hal lainnya. Dan mahasiswa tak hanya sekedar menjadi seorang penggagas, tapi juga harus mempraktikan apa yang ia pikirkan dan ia gagas. Karena pemikiran tanpa aksi adalah nol besar. Itu sebabnya menurut saya kita harus mengubah negeri dari hal kecil dahulu seperti diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dari perubahan kecil itulah, kita bisa menyebarkan hal yang baik dan mengamalkan segala hal positif ke lingkungan yang lebih luas.

 

Social Control

Mahasiswa sebagai social control, menjaga agar lingkungan tetap kondusif. Dan fungsi tersebut harus didorong dengan kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat, khususnya masyarakat yang masih terbelakang. Dalam hal ini, mahasiswa wajib meluruskan hal yang tidak semestinya terjadi. Seperti misalnya dalam lingkungan sosial sehari-hari, mahasiswa harus menindak tegas dan rasional hal-hal yang telah menyeleweng dari peraturan. Oleh karena itu, mahasiswa harus berjiwa sosial tinggi, peduli terhadap sesama, dan sebagai perantara yang baik antara masyarakat dan pemerintah. Bukan hanya itu, dalam lingkungan birokrasi pun mahasiswa berhak untuk mengadakan kritisi peraturan atau undang-undang yang dibuat hingga tingkat birokrat. Mahasiswa berhak menyuarakan kebenaran yang ada. Tentunya dengan hal yang positif, seperti musyawarah, aksi, bahkan menulis di media.

 

Iron Stock

Dari arti katanya, “iron” yang berarti besi dan “stock” yang berarti cadangan. Mengapa besi dan cadangan? Karena yang dimaksud adalah mahasiswa diharapkan bisa tetap kuat seperti besi, walau ditempa, dipukul, dipanaskan bahkan dipatahkan, mahasiswa harus tetap menjadi sebuah besi yang kuat dan lebih berguna nantinya setelah melewati berbagai hal seperti ditempa maupun dipatahkan. Lalu mengapa cadangan? Karena mahasiswa adalah penerus bangsa yang diharapkan menjadi penerus yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Jadi, mahasiswa sebagai iron stock harus siap menjadi penerus bangsa yang kuat dan bermanfaat bagi negara. Mahasiswa mampu menjadi penanggung jawab nasib rakyat agar menjadi lebih baik lagi. Karena tanggung jawabnya yang begitu besar, mahasiswa harus menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah. Jika mahasiswa saja patah, lalu bagaimana nasib masyarakat, birokrasi dan negara ini kedepannya?

 

Pressure Group

Kelompok penekan adalah salah satu kelompok yang mengatur keadaan lingkungan sosial terutama lingkup birokrasi. Dalam artian secara sosiologis, kelompok penekan adalah lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas atau kegiatannya memberikan tekanan kepada pihak penguasa agar keinginannya dapat diakomodasi oleh pemegang kekuasaan. Sebenarnya, pressure group lebih kepada menekan agar perubahan sesuai keinginan mereka, tapi sebagai mahasiswa, kita adalah salah satu kelompok penekan terhadap birokrasi demi kepentingan umum terutama rakyat biasa, bisa dengan berbagai hal, seperti misalnya yang terjadi pada tahun 1998 yaitu jaman pemerintahan Presiden Soeharto saat itu, banyak bermunculan kelompok cendikiawan, kelompok yang mengkritisi perundang-undangan, kelompok yang bergerak di bidang politik untuk kepentingan masyarakat. Sudah terlihat banyaknya kelompok penekan, sampai akhirnya mahasiswa mengepung atau menduduki gedung MPR/DPR. Karena mahasiswa merasa ada banyak hal yang ganjil terhadap birokrasi saat itu, mahasiswa tergerak melakukan aksi demi keadilan masyarakat. Dari peristiwa tersebut, terlihat jelas bahwa mahasiswa menekan birokrat dengan situasi kritis tersebut. Dari situ, mahasiswa bisa mengubah keadaan birokrasi saat itu. Itulah yang dimaksud dengan kelompok penekan. Kita menekan ketidakadilan demi kepentingan bersama.

Penyebar Akhlak Terpuji

Mengapa saya menyebutnya dengan ‘penyebar’? Karena akhlak baik bisa menyebar dan ‘menular’ dari satu kelompok ke kelompok lainnya, bahkan dari satu orang ke orang lainnya. Dan jika seorang mahasiswa melakukan setidaknya satu kebaikan terhadap satu orang, itu bisa membentuk pandangan yang baik terhadap orang lain, dan malah mungkin orang lain akan melakukan kebaikan setelah ia mendapatkannya. Kita coba ambil contoh tolong menolong, dengan seorang mahasiswa yang mencoba menolong seseorang, orang lain akan tergerak untuk menolong orang lain juga. Dan itu yang saya sebut dengan akhlak baik bisa menyebar. Baiknya hubungan kita dengan manusia, bisa mendorong diri kita untuk terus mencoba berubah jadi lebih baik. Saya juga tak lupa dengan hubungan manusia dengan Tuhan, atau yang biasa disebut dengan spiritual. Keadaan spiritual seseorang amat mempengaruhi dirinya dalam berpikir dan bertindak. Karena spiritual yang baik akan mendorong kita untuk terus menjadi manusia bermanfaat. Kita mengerti bahwa orang yang beriman tahu mana baik dan buruk. Maka selain dengan manusia, perbaikilah hubungan kita dengan Tuhan, karena dengan izin Tuhan pun, kita bisa menjalani keempat fungsi mahasiswa diatas.

Bagi saya pribadi, jelas sekali bahwa semua poin saling berhubungan dan bersifat kausalitas. Dan poin ini malah yang terpenting. Mengapa demikian?  Karena dengan hubungan baik kita dengan Tuhan, kita bisa menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Dari situ kita terdorong untuk melakukan kebaikan mulai dari hal kecil, yang bisa mengubah keadaan lingkungan sekitar bahkan negeri ini, dan dengan waktu yang bersamaan kita menjadi seorang yang mengontrol keadaan sosial atau yang tadi saya sebut sebagai social control, agar sembari kita mengubah keadaan yang menyeleweng, kita juga bisa mengontrol hal yang tidak selayaknya ada. Disitulah kita bisa menjadi iron stock yang siap menggantikan generasi sebelumnya, menjadi generasi penerus yang lebih berkualitas, berpikir jernih, wawasan luas, dan menjadi pemimpin masa depan yang amanah.

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!

  • view 343