Politik itu Cantik

Sae Sae
Karya Sae Sae Kategori Politik
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Politik itu Cantik

Tulisan ini berawal dari sebuah guyonan dengan seorang teman mahasiswi hukum via Whatsapp. Kala menyinggung pernyataan Adnan Topan Husodo, Koordinator ICW terkait kasus SetNov. “Alasan hakim justru membuat orang-orang tertawa. Makanya banyak joke-joke yang muncul, salah satunya menyebut ‘29 September itu hari kesaktian Setya Novanto”. Dengan bijak teman saya menanggapi, tanpa bermaksud menyudutkan SetNov. Baginya, Politik itu cantik. Selanjutnya tidak diuraikan apa alasan dan dasar pijak pernyataannya. Ya, namanya juga guyonan.


Pernyataan “Politik itu Cantik” adalah hal baru bagi saya. Hal inni mendorongku untuk berpikir lebih lanjut usai menutup obrolan di Whatsapp. Mengapa politik dikatakan cantik? Alasan rasional apa yang seekiranya bisa membantu saya memahami maksudnya? Bukankah persepsi public tentang politik selama ini cenderung buruk, busuk dan negative? Mungkinkah ini suatu transformasi paradigmatic tentang politik?
Sederetean pertanyaan ini sungguh mengusik kenyamanan istirahat saya semalam suntuk. Bayangkan, hanya karena memikirkan alasan kecantikan politik saya “disiksa” tidak tidur semalam. Oh politik…. Seandainya engkau benar menjelma wanita cantik, betapa tersiksanya diri ini. Bisa-bisa istirahat malamku diganti dengan membayangkan pesonamu. Tapi sudahlah. Saya tidak bermaksud mengisahkan romantisme saya dengan seorang gadis cantik berrnama politik di sini. Tidak!


SetNov dan Kecantikan Politik


Setya Novanto cukup tenar di seantero nusantara belakangan ini. Bukan saja sebagai salah seorang petinggi partai, tapi juga karena jabatan dan posisi strategsnya sebagai Ketua DPR-RI. Ya,harus diakui bahwa SetNov merrupakan slah seorang pejabat public penting di Negara ini. Lantas, apa benar jabatan dan posis strategisnya sudah cukup alasan untuk menjadikannya tenar di seantero nusantara?
Hemat saya, ketenaran SetNov juga dipicu oleh sejumlah kasus yang menyertai perjalanan “pengabdiannya” sebagai waakil rakyat. Sebut saja; “drama” Papa minta saham, Kasus dugaan megakorupsi E-KTP dan sederetan persoalan lainnya yang ikut nimbrung. Dan yang paling menghebohkan adalah “proklamasi” hari kesaktian Setya Novanto menjelang akhir September tahun ini.


Dalam sidang putusan praperadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 29 September 2017, hakim tunggal Cepi Iskandar menilai penetapan tersangka oleh KPK terhadap Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi E-KTP tidak sah. Dengannya KPK diminta untuk menghentikan penyidikan terhadap Setya Novanto. Terkait penetapan tersangka, menurut ahli hukum (?) ini harusnya dilakukan pada akhir tahap penyidikan suatu perkara, bukan di awal. Mengenai alat bukti, tidak bisa digunakan untuk menangani perkara selanjutnya sebab sudah dugunakan dalam perkara sebelumnya.


“bebasnya” Novanto dari status tersangka membuat public bertanya-tanya. Permainan secantik apa lagi yang diciptakan SetNov. Mungkinkah ia memiliki kesaktian tertentu? Entahlah. Semuanya kembali pada persepsi public. Biarlah public yang menilainya.


Setelah mencoba mengamati (walau terbatas) perjalanan kasus Setya Novanto, saya lalu mengartikan kecantikan politik itu seperti apa. Penilaian ini terkesan subjektif memang tapi sebagai warga Negara saya sungguh terusik dengan kelakuan dan perlakuan dari dan terhadap SetNov. Boleh dibilang ini sebagai ungkapan kekesalan.”Politik itu cantik, ya secantik permainan para elit politik untuk lolos dari jerat hukuman. Andai saja tidak pandai bermain cantik, pasti sudah lama mendekam dibalik jeruji. Bagi saya, setNov adalah representan kecantikan politik Indonesia.

  • view 136