Merawat Indonesia

Sae Sae
Karya Sae Sae Kategori Politik
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Merawat Indonesia

Pengantar


Sengaja saya memilih judul tulisan ini Merawat Indonesia karena ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Pertama : instabilitas suhu perpolitikan di Indonesia akhir-akhir ini menyedot perhatian publik. Permainan politik oleh para elit politik secara terang-terangan membagi rakyat ke dalam blok-blok tertentu. Rakyat Indonesia “dikapling-kapling” berdasarkan agama, suku, ras dan golongan untuk memenangkan sebuah pertarungan politik. Hal ini tentu berimplikasi pada disintegrasi yang kian menyata. Nasib NKRI ibarat telur di ujung tanduk.


Kedua : arus globalisasi pada sisi tertentu membawa dampak yang cukup buruk bagi Indonesia. Memang kita tidak mungkin bisa menafikkan adanya sisi baik dari perkembangan arus globalisasi. Namun demikian, perlu disadari bahwa akibat globalisasi nilai-nilai luhur kebangsaan kian terpinggirkan dan bahkan mulai ditinggalkan oleh sesama anak bangsa. Sebut saja di antaranya; melunturnya nilai gotong-royong, toleransi melemah, menguatnya isu sara dan sebagainya.


Ketiga : tahun ini (2017) kita merayakan hari jadi bangsa Indonesia yang ke 72. Hal ini jika dianalogikan dengan usia biologis manusia, tentunya bukan lagi termasuk dalam rentang usia yang tergolong muda dan produktif. 72 untuk ukuran usia manusia sudah termasuk usia senja. Pada usia ini produktivitasnya sudah menurun dan tubuhnya sudah beranjak renta. Perawatan intensif agar tak kunjung lekas ke liang kubur merupakan pilihan yang tepat. Sebagaimana layaknya manusia, Indonesia perlu kita rawat. Hemat saya, momen peringatan kemerdekaan ke 72 ini merupakan saat yang tepat untuk kita berefleksi bersama bagaimana merawat Indonesia untuk menjadi lebih baik.


Melihat Indonesia dalam bingkai kebangsaan


Bukan cerita fiktif kalau Indonesi adalah bangsa besar dan majemuk. Berdasarkan sensus tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237.641.326 juta jiwa yang mendiami sekitar 11.000 pulau dari 17.504 pulau di seluruh nusantara. Dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia dibentuk dari beragam suku, bahasa, agama dan ras. Indonesia adalah sebuah negeri yang dibangun dengan kesadaran oleh dan dari berbagai unsur yang beraneka ragam sifat dan karakteristiknya untuk meraih tujuan dan kepentingan bersama.


Di sini menjadi jelas bahwa bangsa Indonesia dibentuk bukan karena kesamaan etnis dan golongan. Kalau kita mempelajari sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini, sangat nampak bahwa terbentuknya Indonesia sebagai bangsa dikarenakan adanya kesadaran kolektif untuk suatu tujuan dan kepentingan bersama atas dasar kesamaan pengalaman dan latar belakang historis sebagai yang terjajah. Kenyataan sejarah sebagai “yang sama-sama terjajah” inilah yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat seantero nusantara untuk berjuang menentang penjajah demi cita-cita kemerdekaan.


Menyimak kenyataan tersebut tentunya kita bakal sepakat dengan konsep bangsa (nation) sebagaimana dijelaskan Ernest Renan dalam karyanya What is a Nation? Menurutnya, bangsa adalah suatu kesatuan solidaritas yang besar. Kesatuan yang terdiri atas manusia-manusia yang merasa bersetiakawan satu sama lain. Bangsa adalah suatu jiwa, suatu alat spiritual yang tercipta oleh perasaan pengorbanan yang dibuat di masa lampau dan oleh manusia-manusia bersangkutan dibuat lagi di masa kini dan masa depan melalui suatu kenyataan yang jelas, yaitu kesepakatan, keinginan yang dikemukakan untuk terus hidup bersama. Suatu bangsa tidak tergantung pada kesamaan asal ras, suku, agama, bahasa, letak geografis dan sejenisnya. Bangsa adalah kesepakatan yang seolah-olah terjadi setiap hari antara manusia-manusia yang bersama-sama mewujudkan cita yang sama.


Solidaritas kemanusiaan dari Sabang–Merauke dan dari Miangas hingga pulau Rote telah membentuk Indonesia menjadi bangsa. Kesadaran kolektiflah yang menjadi spirit pemersatu bangsa. Coba bayangkan bagaimana caranya para founding fathers negeri ini mempersatukan rakyat yang sangat beraneka ragam dalam satu bingkai kebangsaan jika tanpa spirit kesadaran kolektif rakyat sebagai yang sama-sama terjajah. Kesadaran kolektif telah menyulut-kobarkan api perjuangan dalam diri sesama anak bangsa untuk keluar dari kungkungan penjajahan.


Singkat kata, kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia bukan karena unsur belaskasihan bangsa penjajah, melainkan oleh pengorbanan manusia Indonesia demi cita-cita kemerdekaan yang sama. Indonesia kini telah merdeka. Kitalah yang menikmati angin segar kemerdekaan. Maka dari itu, tidak ada orang lain selain kita sendiri yang mesti berjuang merawat Indonesia. Kesadaran merawat Indonesia tentu lahir dari kesadaran akan adanya situasi ketidakterawatan, situasi chaos yang melilit bangsa ini. Ada banyak persoalan yang dihadapi akibat tidak terawat secara baik. Beberapa di antaranya sudah saya sebutkan pada bagian pengantar.


Adalah sangat kontradiktif jika kita menyandingkan konsep kebangsaan Indonesia dengan praktek demokrasi oleh para elit politik akhir-akhir ini. Rakyat dipolitisasi untuk tujuan sektarian. Parsialitas kepentingan menjadi rujukan utama para elit politik dalam praktek demokrasi. Mereka “mengkapling-kapling” kesadaran kolektif rakyat berdasarkan agama, ras dan golongan.


Kita tentu masih ingat dua aksi unjuk rasa di penghujung tahun 2016 lalu. Angka 411 dan 212 menunjuk pada sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh para elit (?) ribuan jemaah muslim dikerahkan untuk membela Islam akibat penistaan dari golongan non muslim (baca : Ahok). Sepintas jelas terlihat bahwa aksi ini amat sarat dengan muatan dan permainan politik segelintir orang. Mereka dengan sengaja “menunggangi” agama untuk suatu tujuan terselubung. Imbasnya jelas. Instabilitas suhu perpolitikan memanas. NKRI terancam eksistensinya.
Di level global para pengamat mencatat bahwa dua unjuk rasa itu merupakan gelombang identity politics yang sedang menyapu seluruh bumi, termasuk Indonesia. Dalam aksi ini Islam sebagai Islam menyatakan kehadirannya.

Menurut Franz Magnis – Suseno, protes terhadap ucapan Ahok yang menjadi biang kerusuhan hanya menjadi alasan kaum muslim untuk menyatakan diri sebagai Muslim, yang menuntut diperhatikan, yang siap “membela Islam”. Rupanya kemarahan terhadap Ahok membuka ruang yang melepaskan suatu emosi yang sudah lama terpendam, yaitu dorongan untuk menyatakan diri sebagai muslim.
Akibat arus globalisasi yang kian tak terbendung, nilai-nilai luhur kebangsaan seperti persatuan, kekeluargaan dan toleransi dikesampingkan. Rakyat Indonesia tidak cukup mampu menghayati Pancasila di tengah gempuran arus massa. Pancasila seolah ditinggalkan, spirit persatuan sebagai sesama anak bangsa digadaikan, NKRI diobok-obok eksistensinya. Mereka lebih suka diindoktrinasi dengan paham-paham baru yang pastinya bertentangan dengan nilai-nilai luhur kebangsaan.


Franz Magnis – Suseno menyebut duo aksi raksasa ini sebagai arus balik terhadap apa yang 88 tahun lalu membawa para pemuda dari jong Java, Jong Sumatra, Jong Islam dan yang lainnya ke Batavia untuk bersumpah bertekad bahwa mereka meski berbeda etnik, budaya dan agama serta bahasa, menjadi satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.
Potret keretakan kesadaran kolektif kebangsaan tidak hanya ditunjukkan oleh sebagian kaum Muslim. Dr. Paul Budi Kleden mencatat bahwa ketika STFK Ledalero bersama beberapa instansi lain melaksanakan kegiatan penggalangan dana bantuan untuk Aceh yang tertimpa bencana Tsunami 2004 silam di Maumere, sejumlah umat Katolik menyampaikan protesnya. Orang-orang Katolik menolak dan tidak mau membantu orang-orang Islam. Mereka hanya bersedia membantu para korban di Nias karena ada banyak orang Kristen di sana. Bayangkan, korban yang jatuh oleh keganasan alam yang tidak pernah menanyakan agama, kini mulai dipilah-pilah oleh para penolong berdasarkan agama. Tidak hanya itu, pertikaian antar etnik pun turut mewarnai keretakan wajah Indonesia sebagai bangsa. Ada banyak kerusuhan-kerusuhan kecil yang tak sempat diliput awak media.


Penutup : Mari Merawat Indonesia


Sudah 72 tahun Indonesia merdeka. Menilik situasi khaostik di atas kita pantas bertanya, benarkah Indonesia sungguh-sungguh merdeka? Di mana letak kemerdekaan yang sesungguhnya bagi Indonesia? Kalau kita mengafirmasi bahwa Indonesia sudah merdeka namun belum sungguh merasakan kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah merawat kemerdekaan agar kita boleh sungguh merdeka.


Kemerdekaan yang perlu kita jaga sekarang ini bukan terkait dengan adanya bangsa-bangsa lain yang akan menjajah kita melainkan terdapat wajah-wajah penjajah baru yang adalah anak negeri sendiri. Para koruptor dan mafia-mafia megaproyek yang kita saksikan setiap saat di layar TV adalah jalinan mata rantai penjajah yang belum angkat kaki dari bumi Indonesia. Merawat Indonesia berarti mengartikulasikan secara benar kehidupan nyata bersadarkan ideologi bangsa. Dengan demikian, bangsa ini bukan saja kaya dengan manusia yang suka berbincang-bincang melainkan yang sanggup berbuat bagi kebaikan banyak orang. Sudah saatnya bangsa ini membutuhkan orang-orang seperti itu.
Dalam rangka merawat Indonesia, perjuangan bersama dalam berbagai bidang perlu ditingkatkan. Suhu politik yang akhir-akhir ini melejit bukan tidak mungkin mempengaruhi cara bertindak warga bangsa. Namun kita tidak mesti terkooptasi dengan pendapat-pendapat yang hendak memecah-bela persatuan bangsa. Menjadikan Indonesia ini sebagai rumah bersama dan dengan itu, setiap warga negara memiliki niat baik untuk tetap bersatu teguh membangun kedaulatan bersama.


Hemat saya, sebagai bahan refeleksi bersama dalam merawat Indonesia kita perlu meneropong langkah Pemerintah pada perayaan peringatan detik-detik proklamasi tahun ini. Berbusana adat Nusantara dalam perayaan seakbar ini tentu baru pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia yang dilangsungkan di Istana Merdeka. Dalam satu momen dan arena yang sama multikulturalitas Indonesia diperjumpakan. Perayaan kemerdekaan kali ini merupakan pula perayaan keberagaman. Meski berbeda namun tetap satu. Bhineka Tunggal Ika. Ini merupakan salah satu langkah konkrit bagaimana merawat Indonesia.

 

  • view 36