Kekurangan adalah Kekuatanku

Nur Baiti
Karya Nur Baiti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 September 2017
Kekurangan adalah Kekuatanku

Kekurangan adalah kekuatan ku

Aku terlahir disebuah keluarga yang sederhana., dengan seorang ayah dan ibu yang begitu sayang menjagaku. Hari-hariku penuh dengan canda tawa namun kesedihan datang menghampiriku. Aku tahu semua yang sudah Allah takdirkan itu adalah yang terbaik dari-Nya. Termasuk dengan sakit yang ku derita sekarang.

Bermula dari aku SD, seringkali aku melakukan kesalahan salah satunya menabrak gelas, atau barang saat aku berjalan. Hingga membuat ibu ku marah dan melontarkan kata-kata “kalau jalan itu lihat, gunakan mata”, terasa tertusuk ke jantung karena aku tak menerima perkataan ibuku. Aku merasa ketika berjalan aku sudah melihat dengan baik ke depan, namun ketika melangkah ada saja yang ku tabrak. Akhirnya orang tua ku memutuskan agar aku diperiksa ke dokter. Sesampainya disana dokter menyuruhku untuk menggunakan kacamata. Karena aku ternyata minus, yang mengakibatkan kalau jalan itu suka tidak melihat. Aku ingat sekali waktu dimana aku pertama kali menggunakan kacamata saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas VI. Aku pun merasa jika masalahku sudah teratasi dengan menggunakan kacamata minus.

Waktu berlalu aku pun memasuki SMP, saat itu sedang musimnya anak-anak bisa membawa motor, termasuk aku yang juga ingin bisa membawa motor. Aku gak mau jika harus kalah dengan temanku yang bisa mengendarai motor. Temanku lah yang mengajariku mengendarai motor secara diam-diam, hingga akhirnya suatu saat aku kecelakaan saat pulang dari warung bersama temanku dengan gerobak yang mau melintas, peristiwa itu masih sangat berbekas di ingatan dan pada fisik ku. Itu adalah kesalahanku karena aku pergi mengendarai motor tanpa izin dari ayah. Wajar saja jika aku jatuh dan dimarahi.

Kecelakaan itu membuat mata kiri ku terluka cukup parah, aku segera dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Darah terus mengalir tanpa henti, sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk memindahkan aku ke rumah sakit yang lebih canggih alat-alatnya. Ternyata dokter memutuskan untuk mengoperasi mataku yang sobek terkena kaca spion, tetapi masih syukurnya tak sampai pada kornea mataku. Aku dirawat beberapa hari di rumah sakit dengan perawatan yang intensif, mata kiri ku di jahit. Allah masih menyayangiku dengan menjaga penglihatanku. Orang tuaku sangat khawatir, karena aku harus dioperasi saat itu juga. Jika tidak maka akan berbahaya bagi kondisi mataku. Setelah selesai dioperasi aku kembali menjalani aktivitas biasa, namun tak sedikitpun trauma yang aku rasakan. Orang tua ku masih terus merasa khawatir dan tidak membolehkan ku untuk mengendarai motor sendiri. Setelah pulih dari kecelakaan tersebut, akupun tak pernah menggunakan motor lagi. Bukan karena trauma tetapi mematuhi perintah ibu yang tak mengizinkanku mengendarai motor sampai aku benar-benar bisa mengendarainya dengan baik.

Waktu pun silih berganti, aku memasuki dunia SMA. Dunia yang memiliiki banyak rasa keingintahuan, alhamdulillahnya aku bertemu dengan sahabat yang baik. Pergi dan pulang sekolah terkadang aku di jemput dengan mereka. Tetapi kebiasaanku sering menabrak ketika berjalan masih belum hilang. Entah mengapa aku pun tak tahu, aku pikir itu sudah jadi kebiasaan ku dari kecil dan sudah teratasi dengan kacamata minusku. Sehingga hal itu biasa saja aku tanggapi. Tetapi teman-temanku terkadang menertawakan ku, bayangin aja pas aku jalan terus nabrak tong sampah, kursi, meja sampai orang. Hehehe ....

Tapi kejadian itu tak pernah ku ceritakan dengan orang tuaku, aku pikir jika orang tuaku tahu mereka pasti akan marah lagi padaku. Karena mereka berpikir kenapa aku kalau jalan gak lihat-lihat melulu. Sama sekali aku tak pernah berpikir bahwa ini adalah hal yang serius. Hingga sampai ke bangku kuliah aku terus masih saja suka nabrak di depanku.

Ketika kuliah aku meminta ibu untuk membelikanku motor agar aku bisa menggunakan motor sendiri, karena kasihan sama ayahku jika ia harus antar-jemput setiap hari. Saat itu aku masuk semester 2, itulah awal aku kembali menggunakan motor. Sama seperti hari biasanya aku menggunakan motor dengan hati-hati. Begitu senangnya aku bisa membawa motor seperti kebanyakan orang lainnya. Aku terus berpikir kemana akan aku pergi, karena begitu bahagianya. Saat itu perasaan was-was, khawatir belum muncul didiriku.

Suatu hari aku dihubungi kakak seniorku, kami janjian untuk bertemu karena suatu hal. Akupun bergegas pergi untuk menghampirinya. Dan yang terjadi akupun mengalami kecelakaan yang cukup parah. Wajahku terseret di aspal, layaknya seperti superman (tapi terbangnya di aspal hehe), kaki luka serta motor ku juga cukup parah. Ya Allah.. saat itu aku kaget, nangis karena takut dimarahi ibuku. Tetap saja aku dimarahi, ibu bilang aku mengendarai motor gak hati-hati. Mungkin karena terburu-buru aku jadi gak hati-hati juga. Karena kejadian jatuh akupun mengalami trauma. Selang beberapa hari setelah sembuh aku kembali menggunakan motor, aku merasa jika aku sudah baikkan dan tak ingin merepotkan ayahku untuk mengantar-jemput.

Namun anehnya, tak berapa lama dari kejadian itu aku kembali terjatuh dari motor. Alhamdulillah tidak parah, tetapi badan-badanku juga cukup sakit dan kakiku berdarah kembali. Tepatnya dibagian kaki yang dulu pernah dioperasi saat aku kecelakaan. Akupun bergegas untuk membersihkan luka di kaki ku agar tidak ketahuan orang tuaku. Setelah membersihkan luka akupun bergegas mengobatinya. Sepanjang hari di rumah aku terus menutupi luka dan rasa sakitku.

Awal aku mengetahui sakitku, ketika aku memeriksakan mataku yang selalu berair seperti menangis. Aku diperiksa dokter langgananku seperti biasa, namun ketika aku disuruh membaca di layar aku kesulitan membaca huruf di tengahnya. Kemudian dokter menyuruhku dan ayahku untuk menunggu di luar, selagi dia memeriksa pasien yang lain. Selang beberapa menit kemudian, akupun masuk kembali dipanggil oleh dokter.

Hasil yang mencengangkan, yang tak pernah ku inginkan bahkan untuk mengingatnya terasa sakit saat itu. “Kamu terkena retinitis pigmentosa, gangguan pada mata yang bisa menyebabkan kebutaan padamu. Penyakit ini belum ada obatnya sampai sekarang. Jadi kalau kamu kerja gak bisa di kantoran, karena nanti pandanganmu lama-lama bisa menyempit seperti lubang jarum hingga tertutup” perkataan dokter yang masihku ingat sampai sekarang. Kemudian ia menuliskannya pada selembar kertas dan menyuruhku untuk membaca lebih lengkap.

Begitu mendengar aku merasakan bahwa aku sebentar lagi akan buta, aku tak akan bisa lagi meilhat dunia, wajah ayah dan ibu. Serta aku pastinya akan merepotkan mereka dengan merawatku. Ya Allah.. aku tahan air mataku di depan dokter dan ayahku. Aku berusaha kuat untuk menahannya, impian-impianku terasa retak hancur tak bersisa. Seperti tak kan bisa disatukan lagi. Sakitku bertambah karena aku terus menahan sedihku, rasanya kuingin teriak, marah dan mati saja saat itu. Aku dan ayahku kemudian menuju apotik untuk mengambil resep obat. Derasnya hujan yang turun seperti kesedihanku yang tak terbendung. Sesampainya di apotik aku segera menghapus air mataku, tapi hati tak bisa dibohongi air mataku masih saja berjatuhan. Orang disekeliling memperhatikanku, mungkin mereka mengira aku habis dimarahi atau mereka mengira aku sedang patah hati. Aku tutup kaca helm untuk menutupi mataku yang mulai sembab.

Setelah mengambil obat kami kemudian pulang. Di perjalanan itu air mataku tak kuat lagi untuk ditahan, sehingga membanjiri wajahku. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan perkataan dokter, orang tuaku serta impianku untuk membahagiakan mereka. Pikiranku sudah terbang kesegala penjuru, termasuk kemasa depanku. Karena aku seorang wanita, apakah ada pria yang akan tulus menerima kekuranganku. Pikiran itu kembali memuncak, hingga hidup saja aku menjadi tak semangat.

Aku terus merasa kesal, merasa gak adil. Kenapa Allah kasi ini sama aku? Itulah yang terlintas di benakku. Sesampainya dirumah, akupun tak bisa menjawab pertanyaan ibuku mengenai hasil pemeriksaannya. Bibir ini terasa kaku untuk berkata bahwa aku telah difonis menderita penyakit retinitis pigmentosa. Aku hanya menunjukkan kertas yang bertuliskan nama penyakitku yang ditulis oleh dokter. Namun ibuku masih terus saja bertanya, akhirnya dengan tersedu-sedu aku memberitahu sakitku dan menjelaskan kepada ibuku bahwa aku akan buta. Ibu ku sangat marah kepadaku karena menurutnya aku anak yang sholeha, seharusnya aku bisa lebih kuat lagi menghadapinya. Tak seperti itu aku hanyalah manusia biasa yang bisa kecewa serta bisa down dalam hal ini. Aku terduduk di kamar, sambil meratapi sakitku. Aku terus saja mengeluh dan bertanya “Ya Allah kenapa aku, kenapa harus aku, aku tak kuat ya Allah” kalimat itu saja yang selalu ku lontarkan.

Hari-hari ku jalani dengan begitu tak semangat, karena aku hanya tahu bahwa aku akan mengalami kebutaan suatu hari nanti. Aku pun mencari tahu tentang sakit ku di youtube karena aku masih penasaran oleh perkataan dokter. Di pencarian kutulis “Retinitis Pigmentosa” maka banyak yang bermunculan video tentangnya. Kemudian kupilih salah satu videonya, kutunggu beberapa saat karena video tersebut sedang loading. Barulah muncul penjelasan tentang penyakitku serta bagaimana penglihatan orang yang mengalami sakit tersebut. Berawal dari terlihat jelas semuanya, lalu sedikit menghilang di bagian kiri dan kadang, semakin menyempit pandangannya, hingga ketika malam tak bisa memandang karena kurang pencahayaan, maka lama-lama itu semua akan menjadi gelap gulita. Siapa yang siap dengan ini semua? Aku bukanlah termasuk orang siap dikala itu. Air mataku tumpah kembali, ketika aku menjelaskan lebih detail sakitku kepada ayah dan ibu. Ku tunjukkan video tersebut “Ayah inilah sakit yang kuderita, beginilah penglihatan yang kulihat, namun lama-kelamaan aku akan mengalami kebutaan”. Orang tuaku tak berputus asa ia terus menyemangatiku untuk tabah serta ikhlas menerima apa yang sudah Allah tetapkan untuk kita, “karena Allah sayang sama kamu, dan Dia tak akan menguji melewati batas kemampuanmu” begitu kata ayahku. Apakah aku mampu melewatinya? Apakah ini cara Engkau menyayangiku? Ya Allah.. aku mulai memikirkan kata-kata ayahku,

Orang tuaku memutuskan kembali untuk membawaku ke dokter yang lainnya, agar kami bisa memastikan apakah itu salah atau benar. Ibuku mencari tahu dokter mata yang lainnya lewat teman kerjanya dulu. Setelah kami membuat janji dengan dokter lalu kami pun bertemu dengannya. Ia adalah seoranag dokter wanita yang sangat baik serta cantik. Saat memeriksakan sakitku dia memberiku semangat serta motivasi. Dokter itu berkata bahwa aku memang terkena retinitis pigmentosa. Penyakit ini adalah bawaan dari sejak aku lahir, bisa jadi faktor keturunan dari ayah atau ibu. Tetapi kebanyakan ini adalah faktor dari ibu. Dan ternyata itu benar, lagi-lagi aku mendengar penyakit itu. Rasanya sakit, karena siapapun mungkin tak akan menginginkan hal yang buruk pada dirinya. Namun dokter tersebut terus memberikanku semangat dan menyarankanku untuk cekup lebih lanjut. Keesokan harinya aku kembali menjalani cekup lanjutan untuk mengetahui sudah seberapa parah sakit yang kuderita ini. Beberapa tahap pemeriksaan sudah kujalani termasuk tes lapang pandangan. Pada tes ini aku memfokuskan pada satu titik, dan jika dalam satu titik itu aku melihat ada lampu lain yang berkedip maka aku harus memencet tombol yang sudah ku pegang. Kurang lebih 1 jam aku menjalani tes tersebut, namun hanya beberapa titik yang kutemui. Ya Allah, apakah sudah begitu parahnya sakitku ini. Kenapa aku tak banyak melihat titik itu, aku khawatir bahwa hasilnya akan buruk. Kemudian aku dan orang tuaku menunggu hasilnya di ruang tunggu, selang beberapa menit, karyawannya menyuruh kami untuk pulang saja karena hasilnya belum keluar. Salah satu karyawan di sana adalah tetanggaku, dia akan mengantarkan hasilnya nanti ke rumahku. Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Waktu berlalu, aku mendapati hasil tes yang kujalani. Tapi aku tak paham dengan hasil tersebut. Akhirnya aku dan ayah memutuskan untuk kembali bertemu dokternya demi mendapatkan penjelasan. Sesampainya di sana aku pun berjalan penuh hati-hati aku takut ketika aku berjalan aku menabrak sesuatu atau bahkan aku yang akan di tabrak. Kamipun menunggu beberapa saat, dokter pun datang. Ayahku memberikan hasil tes kepada dokter, kemudian dokter menjelaskan tentang hasil tes tersebut. Ternyata penglihatanku memang sudah banyak tertutup, dan itu berwarna kehitaman. Sementara putihnya hanya sebagian kecil. Kaget mungkin itu adalah hal yang wajar kurasakan. Namun dokter tak pernah membuatku down dengan penjelasannya, ia menjelaskan dengan kata-kata yang lembut. Dokter pun menyampaikan bahwa aku tak diperbolehkan menggunakan motor selama aku masih sakit, agar terhindar dari hal yang tak diinginkan. Jadi aku harus diantar jemput selama aku masih sakit. Aku sadar karena sakitku ini menurut dokter tak ada obatnya, akupun tak berharap banyak untuk bisa sembuh.

Tak sampai disitu orang tuaku mencari tahu pengobatan alternatif. Begitu semangatnya orang tuaku agar aku bisa sembuh dari sakitku. Namun aku tetap saja merasa tak ada semangat dan sudah pasrah akan keadaanku. Setiap pagi ayah menemaniku untuk menjalani pengobatan alternatif. Kelelahan ayah yang setia menemaniku membuat ku kasihan melihatnya, kenapa tidak? Mengorbankan jam kerjanya demi aku.

Setiap bangun dari tidur, aku selalu khawatir jikalau aku tak bisa melihat lagi. Diriku membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan yang telah terjadi. Memang aku sangat sedih, kecewa dengan kondisiku. Ternyata Allah mempunyai rencana indah dibalik ujian yang Dia berikan, yang tak pernah ku sangka. Nikmat yang luar biasa, ayah dan ibuku menjadi lebih dekat kepada-Nya. Kami bangun bersama di sepertiga malam untuk melaksanakan ibadah bersama, sangat terasa karena kami menjadi lebih dekat kepada Sang Khalik. Aku pun terus menginstropeksi diri, “Kita harus terus bersyukur, karena masih ada orang yang sudah cacat dari lahirnya” ayahku terus memberiku semangat tanpa hentinya.

Ternyata aku salah, karena aku kurang bersyukur terhadap pemberian Allah. Allah sangat menyayangiku, karena Dia ingin aku selalu bisa lebih dekat dengan-Nya. Dengan memberikan orang tua serta sahabat yang sayang padaku. Hampir setiap malam aku, ayah dan ibu bersama-sama melaksanakan qiyamullail. Ya Allah begitu sedapnya nikmat yang Engkau berikan. Sebelumnya aku tak pernah merasakan bahagia seperti ini. Memang benar bahwa Allah tak akan menguji seorang hamba-Nya di luar kemampuannya dan di balik setiap musibah ada hikmah yang begitu besar. Perhatian orang tua semakin lebih besar kepadaku. Pribadiku menjadi lebih dekat dengan-Nya, aku merasa bahwa Allah sangat menyayangiku. Dengan memberiku sakit ini Allah membuatku belajar menjadi lebih bersyukur atas segala keadaan. Walaupun kelak aku tak bisa bekerja sebagai orang kantoran.

Setiap hari ayah mengantar-jemputku ketika ada perkuliahan dikampus, serta mengantarku untuk menjalani aktivitas lainnya. Tanpa lelah ia terus berusaha memberikan semangat kepadaku. Di kampus aku juga memiliki teman-teman yang begitu menyanyangiku hingga mensupport ku untuk terus semangat dalam menyelesaikan perkuliahanku. Hingga akhirnya aku merasa lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Heningnya malam membuatku terpikir mengenai seseorang tapi ku tak tahu siapa dia, seseorang yang kelak akan menemaniku. Dialah jodohku yang sampai sekarang masih Allah jaga. Aku berpikir bagaimana seorang lelaki akan bisa menerima aku dengan kekurangan yang ku bawa. Aku khawatir jika ia tak akan sanggup untuk menerimaku, merawatku jikalau nanti aku tak bisa melihat lagi. Kata dokter jika aku menikah, kemungkinan sakit ini akan bisa mengenai anakku. Ya Allah hatiku kembali gundah memikirnya kembali. Bagaimana bisa aku melihat kelak anakku akan merasakan apa yang aku rasakan. Ya Allah biarlah kusaja yang merasakan sakit seperti ini, janglah kau timpakkan kepada keturunanku. Dan aku selalu berharap agar engkau mempertemukanku dengan seseorang yang bisa menerima kekurangku serta bersedia merawat ku kelak.

Enam bulan telah berlalu, aku kembali memeriksakan keadaanku ke dokter mata. Akupun diperiksa seperti biasa dengan tes yang sudah biasa kulakukan. Akupun menunggu kembali dengan ayahku untuk bertemu dengan dokter dan dijelaskan hasilnya. Alhamdulillah dokter berkata bahwa aku tetap dalam keadaan stabil, tetapi pada kasus yang lain biasanya bisa berdampak dua atau tiga tahu bisa juga saat sudah memasuk usian 50an. Akupun sedikit lega dengan hasil yang kuterima. Waktu cekup kumemang diharuskan enam bulan sekali, agar bisa mengetahui perkembangan sakitku. Seperti biasanya dokter menyuruhku untuk tidak mengendarai motor apalagi jika malam hari, karena khawatir aku akan terjatuh karena tidak melihat yang ada di sampingku.

Dimalam-malam yang kulalui kupanjatkan doa-doa kepada-Nya. Salah satu yang kuinginkan adalah Allah berkenan memberikan kesembuhannya padaku atau memberikan yang terbaik untuk mataku. Karena aku kasihan kepada ayahku yang terus mengantar jemputku, sampai temanku pernah bertanya kenapa aku tak mengendarai motor sendiri. Dia bukan teman dekatku, maka tak kuceritakan hal yang menurutku terlalu sensitif. Aku tak ingin orang-orang memiliki rasa iba, kasihan kepadaku, aku hanya menjawab bahwa aku sedang mengalami trauma karena terus jatuh hingga membuatku setiap membawa motor hanya ada rasa takut serta sugesti bahwa aku akan jatuh.

Terkadang rasa sedih itu hadir kembali, membuatku tak kuasa menahan tangis. Jika melihat orang disekitar ku yang bisa menggunakan motor. Sedangkan aku tak bisa lagi menggunakan motor, motorku hanya terdiam di rumah, sesekali ayahku menggunakannya untuk mengantarku. Aku juga sering merasakan bahwa susahnya ketika aku tak bisa membawa motor seperti dahulu. Astaghfirullah.. aku terus beristighfar memohon ampun pada-Nya. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman bahwa setiap kesulitan ada kemudahan sebanyak 2 kali. Kenapa aku masih ragu-ragu? Lagi-lagi aku terus mengintropeksi diriku, aku ingin belajar ikhlas dan belajar menerima kekurangan ku dengan sebaik-baiknya. Memang kebahagian dunia hanyalah sesaat. Jika mataku buta tetapi hatiku akan terus bisa meliha kebesaran-Nya.

Saat ini aku sudah masuk semester akhir, menuju ke tahap untuk mempersiapkan skripsiku. Memang aku banyak berpatokan menggunakan laptop, handphone setiap hari. Ibuku masih saja terus mengingatkanku untuk menjaga kesehatan mataku dengan meminum vitamin mata, makan sayur, jus serta mengontrol waktu ku dalam penggunaan layar hp dan laptop. Kekhawatiran ku terkadang muncul, jika aku harus setiap hari meilhat ke layar. Aku takut efeknya akan menimbulkan sesuatu hal pada mataku, atau mempercepat penyakitku. Tapi aku kembali pada-Nya, karena aku punya Allah yang akan selalu bersamaku. Memang berdoa saja tidak cukup karena harus diimbangi dengan ikhtiar dan usaha.

Aku pun bergabung diberbagai komunitas, mereka juga sangat mensupport aku untuk bisa sembuh. Karena desakkan orang tua bahwa aku tak boleh terlalu intensif dengan hp, maka aku pun mengundurkan diri di salah satu jabatan organisasi online yang aku ikuti. Sedih dan berat untuk melepasnya, tapi itu adalah yang terbaik untukku.

Hari berlalu dengan begitu cepat, perlahan aku pun bisa menjalani kehidupanku dengan normal kembali. Sekarang aku bisa lebih bernafas lega, walaupun pada kenyataannya penyakitku tak ada obatnya. Namun yang lebih terpenting adalah jika kematian yang datang itu sudah pasti tetapi jika sakit yang diderita in sya Allah akan Allah berikan jalan keluar yang terbaik.

Jika suatu saat nanti, mataku ini tak bisa melihat lagi seperti sekarang. Maka itu adalah ketetapan yang terbaik dari-Nya. Namun karyaku haruslah tetap berkibar menjadi terang. Dan impianku adalah bisa membawa ayah dan ibuku untuk umroh bersama. Karena aku tak ingin membuat mereka bersedih, aku rela memberikan kebahagianku demi orang tuaku. Termasuk sakitku ini adalah ujian untuk mendekatkan diriku pada-Nya.

Janganlah khawatir untuk rasa sakit yang Allah berikan, percayalah bahwa akan ada hikmah di balik semuanya. Yakinlah pada ketetapan Allah, karena menurut kita terbaik belum tentuk terbaik untuknya, tetapi menurut Allah terbaik in sya Allah sudahpasti terbaik.

                                                                       

Penulis : Nurbaiti

  • view 36

  • Ikhsan Baehaqi
    Ikhsan Baehaqi
    14 hari yang lalu.
    Bagaimana aku bisa jatuh cinta padahal belum pernah berjumpa? Seakan aku tak peduli rupamu seperti apa, potongan rambutmu bergaya apa, caramu menyampaikan cerita semenarik apa.
    Bagiku kau sempurna. Terkadang aku iri kepada setiap mereka yang bisa berjumpa denganmu di setiap kesempatan. Mereka bisa melihat kekuranganmu– yang bagiku adalah senyata-nyatanya kata sempurna.

    • Lihat 1 Respon