Dakwahkan Islam Kaffah

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Agama
dipublikasikan 07 April 2018
Dakwahkan Islam Kaffah

Islam berasal dari kata salaamun yang berarti keselamatan. Islam menjadi satu-satunya agama paling mulia di sisi Allah, kemuliaan ini harganya mutlak tanpa tawar-menawar. Artinya, hanya islam yang diturunkan sebagai agama terbaik petunjuk jalan keselamatan bagi kaum yang mau berpikir. Sayangnya banyak orang tidak menyadari potensi akal dalam dirinya sehingga tidak digunakan untuk menemukan rahmat dalam islam.
 
Bahkan belakangan viral isu murtadnya seorang wanita diperdaya oleh cinta lelaki kafir. Sebut saja kafir, karena memangi
dalam Al Qur'an tidak pernah ada penyebutan non muslim bagi yang berlainan keyakinan dengan islam. Sehingga, menjadi sangat darurat bagi kita memperbincangkan kerahmatan islam agar terhindar dari tipuan materi, cinta lawan jenis, apatah lagi iming-iming dunia. Padahal bila diibaratkan dengan akhirat, sungguh kenikmatan dunia itu tiada nilainya di hadapan orang yang berakal. Maka kenalilah kebahagiaan kita dalam islam, agar senantiasa beroleh rahmat yang terpancar dari agama nan mulia ini. Insyaa Allah.
 
Seandainya mau mengkaji dengan benar, niscaya kita takjub akan kehebatan dan kedahsyatan islam mengatur segala lini kehidupan. Mulai dari bangun tidur sampai membangun Negara, islam punya solusinya. Sejak masuk kamar mandi hingga masuk surga, islam punya rules yang komplit demi memudahkan jalan meraih jannahNya.

Berbanggalah dan bersyukurlah, sebab Allah karuniakan iman dan islam di jalan yang penuh ujian kala mempertankan islam di akhir zaman. Perlu juga kita yakini bahwa islam akan menjadi mercusuar peradaban dunia yang kelak akan membawa rahmat untuk seluruh dunia dengan pengaturannya yang lengkap dan terperinci. Kalau bukan kita yang yakin, lalu pada siapa umat akan menaruh harapan? Pada para pembenci dan musuh Allah?
 
Ah. Ketahuilah, islam datang dan akan kembali dalam keadaan terasing. Maka beratnya menggenggam syariat hari ini ibarat menggenggam bara api di tengah keterasingan, sudahlah panas mengenggamnya, bahkan tubuh bisa meleleh dengan kobarannya. Begitulah, kita akan merasakan lelehan itu membakar habis raga asalkan syariat islam menancap kuat dalam genggaman. Teruslah mengenggamnya meski kepanasan, tetaplah menerapkannya hingga terbinasa olehnya. Jadi manalah mungkin islam yang rahmat akan mungkin kita nikmati tanpa berjuang mati-matian. Islam rahmatan lil alamin itu tak mungkin kita rasakan dengan guling-gulingan, melainkan sunnatullah nya memang harus diperjuangkan habis-habisan barulah sensasi rahmat kita cicipi sempurna. Lezat dan manis sampai-sampai tak tergiur untuk berpaling.
 
Ada sebuah firman Allah yang harusnya menjadi sandaran ayat bagi kaum muslimin agar sadar akan kewajibannya bahwa ia harus memahami tugas utamanya di atas bumi Allah ini adalah menebar rahmat islam dengan DAKWAH.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran. Sesunggunya mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104) Indikasi dan kalimat penegasan dalam ayat ini jelas. Kita diminta melakukan perbaikan ketika melihat kemaksiatan di depan mata, luruskan dengan kekuatan tangan atau lisanmu. Namun jika tetap memilih diam saat melihat kemungkaran di depan mata, minimal doakanlah. Tapi ingat, diammu dalam doa itu adalah tanda selemah-lemahnya iman. Tentu kita tidak mau dianggap lemah imannya, maka berbuatlah sekarang untuk akhiratmu, bukan untuk dunia semata.
 
Ayat di atas jelas menerangkan bahwa setiap muslim diminta berjamaah agar tugas dakwah menjadi ringan. Adanya jamaah adalah rahmat, dan berpecah belah justru menimbulkan masalah. Tanggungjawab dakwah itu harusnya kita pahami sebagai kewajiban umat islam seluruhnya yang tidak bisa dijalankan seorang diri, kecuali wajib berjamaah. Setiap Nabi dan Rasul pun memiliki umat, melalui jamaahnya para sahabat dan generasi pertama islam itulah dakwah jadi lebih ringan dan cepat sampainya. Jika untuk hijrah saja kita butuh teman, begitu juga dengan dakwah yang senantiasa perlukan pendamping.
 
Dakwah tidak semata-mata bisa dikerjakan sendirian karena kamu mampu, ini bukan ajang lomba lari siapa yang paling rajin dakwahnya maka dia yang dapat surga. Tidak begitu. Dakwah ibarat kapal yang membawa seluruh penumpang, kita akan menuju ke titik dermaga bernama kejayaan islam. Disanalah surga menanti. Semua orang di atas kapal harus bekerja bersama dan bekerja sama memastikan bahwa kapal akan sampai ke tujuan. Tidak boleh ada yang ketiduran, apalagi bersenda gurau. Kita sedang melewati pegunungan es yang membeku, terjangan ombak dahsyat sampai melukai bagian dek kapal. Kalau tak serius melabuhkan kapal ini, kita semua akan tenggelam di lautan tak bertuan. Maka kencangkan kembali jamaahnya, masing-masing bekerja pada posisi untuk memastikan dakwah selamat sampai ke target yang disasar. Kita menyeru orang banyak untuk masuk ke dalam islam. Kita serukan umat islam agar mereka bersedia menerapkan islam dalam dirinya, keluarganya dan Negaranya. Kita memahamkan setiap orang tentang kebaikan islam, keutamaan dakwah, kerahmatan yang akan mereka dapat asal mau taat menerapkan islam secara totalitas tanpa tebang pilih. Marilah naik ke atas kapal ini, kita akan selamatkan banyak orang dari keterlenaannya pada dunia yang fana.
 
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara kaffah (keseluruhan)." (QS. Al Baqaroh: 208)
 
Yang namanya kaffah atau totalitas, diwajibkan untuk mengambil islam semuanya. Kalaulah masih mengerjakan perintah sholat tapi pacaran, itu artinya memang belum paham tentang larangan mendekati zina dalam QS. Al Isra' 32, "Dan janganlah sekali-kali kamu mendekati zina," Mendekatinya saja diharamkan, apatah lagi mengerjakan, sudah pasti ada ancaman tercela bagi pelakunya. Ada lagi yang puasa dan berhaji, tapi masih mengambil harta dari jalan riba. Padahal jelas ditegaskan "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba," (QS. Al Baqarah: 275) Berarti kita memang tidak bisa menerapkan islam separoh-paroh. Ibarat makan tanpa minum, dijamin keselek. Atau seharian cuma minum tanpa makan, bisa dipastikan daya tahan tubuhnya perlahan melemah karena kurangnya asupan. Mendakwahkan dan menerapkan islam pun seperti itu, harus menyeluruh dari akar sampai ke daun. Tidak bisa kita sampaikan hanya perkara fiqih, tapi tidak menerangkan perkara pernikahan di dalam islam. Sebaliknya, tidak bisa melulu bicara hijab syar'i dan terlupa menasehati perkara muamalah. Padahal, muamalah ini justru yang lebih banyak porsinya dalam Islam. Sehingga tugas kita sekarang menjadi lebih sederhana, "Mendakwahkan Islam secara Total." Berdakwahlah dari terbit pagi sampai terbenam matahari, datangi dan hampiri umat agar mereka tak lengah dari islamnya.
 
Mari berharap ada kecintaan bertambah terhadap langkah perjuangan menegakkan kemenangan bagi islam. Di jalan hijrah yang sudah teman-teman lalui, tidak cukup hanya mengurung diri pada kesholihan pribadi. Agar menjadi rahmat, islam harus disebarkan ke seluruh dunia dan kita semua adalah lentera umat yang akan menerangi bumi Allah dengan syiar dakwah nan mempesona. Mulai sekarang, putuskanlah bahwa kita akan menjadi pionir kebaikan untuk Allah dan menjadi pemuda-pemudi tangguh yang setia memperjuangkan kejayaan islam sampai ia tegak atau kita sendiri dibinasakan dengannya. Yakinlah, justru dengan komitmen di jalan yang istimewa ini, Allah akan berikan balasan nikmat yang setimpal atas upaya kita menolong agamaNya.
 
"Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan menegukan kedudukannya kelak." (QS. Muhammad: 7)
 
Ini adalah janji Allah yang wajib kita letakkan di depan dahi. Janji yang telah Allah ikrarkan kepada para penolongNya pasti berbuah ketepatan, sebab mustahil Sang Khalik mengingkari janjinya. Tidak demikian halnya dengan makhluk yang bisa saja mem-PHP-kan janji kepada saudara, lantas tak dipenuhi karna kemampuan mereka lemah juga terbatas, masih tetap butuh kepada Dzat yang lebih tinggi dari dirinya. Berbeda dengan Allah Maha Pemilik daya dan upaya, sudah seharusnya keimanan kita diletakkan kepada perintah dan ganjaranNya saja. Cukup.
 
Ingat, menolong agama Allah adalah instruksi langsung tanpa sekat. Ketika seorang pimpinan mengamanahkan sebuah tugas nan besar lagi tehormat, artinya kita memang dianggap mampu mengemban amanah mulia. Amanah langit yang begitu besar harusnya segera kita tangkap, bukan malah disia-siakan dan terlena dengan perintah manusia yang tiada berkesudahan. Sambutlah tanggungjawab ini dengan penuh kerelaan, tolonglah agama Allah niscaya DIA akan teguhkan kedudukanmu dan mengeluarkanmu dari setiap kesulitan. Allah akan ringankan urusan kita dan membukakan semua pintu agar tercapai segala hajat. Insyaa Allah. Aamiin.
 
Untuk itu, kita perlu memahami dengan apa hendak menolong islam. "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At Taubah: 111)
 
Tuh, Allah udah tunjukkan caranya. Sesungguhnya kita sedang melakukan perniagaan (transaksi jual beli dengan Allah). Elo jual diri dan harta untuk agama, Gue beli semuanya dengan bayaran seharga surga! Kurang lebih begitu bahasa simpelnya, oleh karena itu berikanlah semua yang melekat pada diri kita hari ini hanya dan demi untuk Allah. Serahkan waktu, tenaga, harta, ilmu, pengorbanan di jalan dakwah, jangan pernah ragu menjual semuanya untuk membuat islam memimpin panggung dunia. Ingat, semua yang Allah berikan pada kita hari ini adalah titipan, toh semua itu Allah yang punya. Dan ketika Allah memintanya untuk digunakan di jalanNya, harusnya tidak ada keraguan sedikitpun untuk mengorbankan seluruh jiwa raga demi membuktikan bahwa kita layak menjadi penghuni surgaNya. 
 
Lebih-lebih saat ini islam dijadikan titik utama penyerangan di atas meja makan. Dari berbagai sudut, musuh Allah melakukan makar dan menembak islam dengan kesombongan. Muslimah bercadar dan berjilbab dilarang, suara adzan dan masjid mulai banyak dikriminalisasi, belum lagi para ulama' habis teraniaya dan mati terbunuh di tangan musuh-musuh islam, seluruh kajian dan para asatidz dibubarkan paksa dari majelis ilmu mereka. Adakah lagi kelalaian yang membuat kita absen dari jalan dakwah? Padahal sewajibnya sholat, dakwah dan jihad adalah seruan kewajiban yang status hukumnya paling darurat melebihi puasa dan menikah. Tapi kok masih ada yang sibuk ngebaper ketika Palestina meradang, masih ada di antara kita yang sibuk mantengin bioskop ketimbang bergerak menyerukan persatuan islam, masih ada juga yang lebih senang nonton film Korea daripada mikirin nasib saudaranya di Ghoutah dan Rohingya. Sungguh miris.
 
Saat kita melihat semua fakta menyakitkan itu dan terdiam saja, mungkin akal kita belum tergerak untuk menyambut seruan Allah. Kita lebih dipusingkan dengan urusan makan ketimbang akidah, lebih puyeng mengagendakan ajang reunian sekolah daripada menyatukan umat sedunia. Wah, ini pekerjaan berat memang, tidak akan mungkin bisa dipapah seorang diri oleh orang-orang yang lemah akalnya. Maka seruan ini diperuntukkan untuk kita semua agar segera taat syariat, terjun ke medan dakwah, ambil tongkat estafet dan lanjutkan misi suci Nabi. Jadilah anshorullah, penolong-penolong agama Allah. Tumbuh besarlah dalam aktivitas Ngaji dan Dakwah, berjihadlah dengan segala kemampuan yang kau miliki untuk tegaknya diinul islam.
 
Azzamkan dalam diri mulai hari ini, kita akan menjadi penolong Allah. Sungguh status hijrah yang sedang kita jalani hari ini masih belum cukup, kewajibanmu adalah mengembalikan maruah islam dan melanjutkan kehidupan umat dengan syariat Allah. Ingat, hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah kala itu bukan sekedar rihlah (jalan-jalan) dari satu negeri ke negeri lain. Tiba di Madinah, mereka semua langsung menyiapkan segala perbekalan untuk kemaslahatan umat, menyusun kembali strategi baru agar wilayah islam makin luas dan terekspansi sampai ke depan rumahmu hari ini.

Ah, bayangkan sendiri jika dulu Nabi tidak berdakwah dan para sahabat tidak diutus membuka jalur baru demi menyebarluaskan islam, saat ini bisa jadi kita masih dalam keadaan paling kafir dari bangsa Yahudi atau Majusi. Tanpa dakwah, hidupmu bagai tujuan dan terombang-ambing di lautan lepas. Maka dengan dakwah, umat akan tercerahkan, islam akan memancarkan rahmatnya bagi semesta dan seluruh isinya. Mustahil islam rahmatan lil alamin akan terealisasi selama kamu masih diam di atas kasur dan tidak bangkit mengetuk pintu umat untuk kembali pada syariatNya yang nyata. Lihatlah, hari ini umat sangat amat membutuhkan pertolongan dan dakwahmu agar mereka bisa keluar dari jeratan hidup di bawah bayang-bayang pemerintahan yang anti islam. Saatnya pemuda bangkit, menyongsong perubahan dunia dengan islam! Allaahuakbar!
 
"Dan tidaklah Aku mengutus Engkau (Wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS. Al Anbiya': 107)
 
Setelah kita yakin islam adalah rahmat yang diturunkan perantara Nabi Muhammad, maka mulai saat ini ikrarkanlah dalam hati dan pikiran bahwa kita akan betul-betul menjadikan islam rahmat bagi seekor semut sekalipun. Tunjukkanlah akhlak dan kecerdasan islammu, dengannyalah dulu banyak orang berbondong-bondobg memeluk islam setelah melihat adab dan ilmu para pemeluknya. Tali memang tidak cukup dengan adab yang yang baik saja untuk membuat orang lain terpesona dengan islam, cerdaskanlah dirimu dengan ilmu islam yang tiada bandingannya dengan ilmu dunia. Bahkan ilmu Alah ini hanya sedikit sekali kita dapatkan di bangku sekolahan, tidak mungkin memahami islam kaffah jika tidak berada dalam majelis-majelis taman surga. Disanalah berceceran ilmu Allah yang akan membuatmu beberapa langkah lebih pandai melebihi Profesor. Sebab islam mengajarkan semua cabang ilmu, ini mutlak dibutuhkan seorang pengemban dakwah hatta dia hanya mengaku dirinya baru hijrah.
 
Yuk! Pahamkanlah dirimu dengan islam, lalu sampaikan hatta seayat yang kamu ketahui dari Al Qur'an. Beritakan kepada siapa saja yang kau temui tentang kebenaran islam dan syariat-syariatnya hatta hanya satu huruf yang kita hafalkan, ajarkanlah. Dan harusnya kita bangga mengemban amanah dakwah ini, dakwah yang belum tentu mampu dikerjakan orang selain kita. Menyampaikan kewajiban dakwah ini pun semata karena rasa cinta pada umat semua, agar kita bersegera dalam ketaatan di atas jalan dakwah yang kaffah. Sampaikan salam dan rahmat untuk semesta, sebab sedunia telah sangat merindukan islam menjadi rahmat dari Merauke hingga tanah Maroko. Insyaa Allah sebentar lagi islam kembali bangkit, tentu dengan dakwahmu dan pertolonganmu untuk agama Allah ini, rahmat islam akan tersebar dari Timur ke Barat. Wallaahu'alam bisshowab.
 

  • view 117