SASTRA Kok SARA?

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 April 2018
SASTRA Kok SARA?

Buya Hamka mengulang-ulang kalimatnya di hape Nisa, “Jika diam ketika agamamu dihina, gantilah pakaianmu dengan kain kafan.” Melepas pakaian dunia ini saja ia masih enggan, sebab baginya memperjuangkan agama Allah masih membutuhkan nyawa. Seketika ia teringat pesan seorang sastrawati tua penghafal kalam Tuhan, “Penulis harus melek fakta, harus mampu menolong agama ini, bahkan jika diperlukan penulis harus turun ke jalan demi menegakkan kebenaran,” Petuah heroik itu menyelamatkannya dari kemalasan. Ia kemudian bangun dan bangkit menarik layar 14 inci yang sudah apek karna berdebu.
 
Pesan sang maestro terus mengerubungi pikiran Nisa, “Menulislah dari hati.” Nisa tak tau hendak menuliskan apa, sebab hatinya telah remuk menyaksikan perdebatan dunia hari ini. Jiwanya berontak, ia sebetulnya marah mengapa dunia sastra diperlakukan sehina itu di hadapan Ibu Indonesia. Sayang, kemarahannya tak bertuan. Sampai habis kekesalan di kepala, ia tak juga mulai menarikan jemari di ujung pena. Sampai detik-detik terakhir di pertengahan ashar, barulah ia munculkan sekelebatan angin membawa pesan andalan yang seringkali ia keluarkan saat kemalasan menghantui. Pesan sederhana beberapa tahun lalu itu membuat nyalinya bangkit. Setiap hendak hengkang dari literasi, pesanan itulah yang selalu ia tarik keluar dari alam bawah sadar. Nisa menghadirkan sosok Almarhum yang telah lama tiada menghadap pemakaman, ia rekam ulang pribadi tegap dan inspiratif yang berharap banyak padanya. Guru sekaligus Kakak yang paling sastrawan melebihi seluruh penyair abad ini, begitu penilaiannya.
 
“Menulislah, atau kau akan mati!” Benar, kaum muslimin memang wajib menulis sebagai bentuk pembelaannya terhadap ajaran islam yang dinista. Berkaryalah untuk menghidupkan dakwah, atau kau malah akan mati tanpa sempat bersyiar.
“Astaga! Kemana aku beberapa hari ini?” kesal Nisa tertunduk malu. Dipandangnya monitor beberapa detik, dikumpulkan seluruh frasa dalam sebuah kotak pemahaman. Ia menulis bukan karna sok tau atau pura-pura tau, tapi ia menulis hanya karna tau dan ingin menyampaikan hatta sehuruf. Ya, menulis itu adalah jalan pintas menyampaikan kemuliaan islam.
 
Apakah ia akan berakhir sebagai Soe Hok Gie yang menderita karna tulisannya membela hak rakyat? Ataukah, ia akan ditertawakan si nasionalisme yang masih datang meneror naskahnya? Padahal sebelumnya, mereka berdua teman berbagi cerita di atas kertas. Tapi kini, si jurnalis itu menjauh akibat kemarahannya pada kampanye Nisa yang dianggap tak berkesudahan.
 
“Aku tak menyangka kau sebegitu fanatik pada pikiranmu, Nis..” protes sang reporter dengan nada ketus.
“Aku hanya menunjukkan kebaikan agamaku pada dunia, agar mereka lebih rindu pada Khalifah, bukan malah rindu pada Dilan..” sahut Nisa yakin.
“Ah, kau memang selalu begitu. Dari dulu kefanatikanmu tak pernah berubah,”
Nisa lama menimbang-nimbang, kemudian ia berujar dengan sedikit gumul, “Aku tak paham maksudmu, memangnya ada istilah kefanatikan dalam agama? Atau mungkin yang kau sebut itu semacam ketaatan?” celoteh Nisa makin tak terima.
 
Tut. Tut. Tut. Perbincangan dua orang itu terputus oleh pemblokiran pemerintah yang dilakukan sepihak. Sudahlah mendaftar ulang SIM Card tak berhasil, menyampaikan argumen pun terhalang oleh kebijakan dzholim yang mengada-ada. Nisa menghela nafas, ia nyalakan televisi dan kembali pikirannya dikacaukan oleh aksi demonstrasi para pedagang, mereka menuntut penguasa mencabut kebijakan registrasi SIM Card. Sungguh program ngawur itu hanya merugikan rakyat banyak. Nisa semakin geram dengan ulah pemimpin boneka hari ini. Dimatikannya telepon genggam, ditutupnya monitor laptop, disunyikan volume tivi, lalu ia mulai menggerutu ini itu di balik kertas-kertas putih tak bersuara.
 
Ada apa dengan dunia sastra hari ini? Belakangan Nusantara dihebohkan oleh prediksi penulis novel Ghost Fleet, anehnya semua netizen dibuat percaya tanpa mikir. Indonesia mungkin bubar tahun 2030, begitu komentar kilat berseliweran di berbagai media yang ditonton Nisa. Padahal, itu hanya novel. Yang Nisa pahami, novel cuma seperangkat genre bernuansa fiksi, bisa jadi benar atau bisa jadi hanya mainan imajinasi penulisnya. “Tapi, novel itu ditulis oleh para ilmuan dan peneliti..” batin Nisa berdiskusi seorang diri. “Lalu sekarang puisi, dan mereka semua tau bahwa karya ini bergenre fiksi. Kenapa harus panik?” Nisa semakin bingung mendudukkan derita pribumi hari ini. Sebagian  pihak menyebut Puisi Ibu Indonesia itu tak terlalu penting, sebagian lagi latah memviralkannya setengah matang. Bagi Nisa, tak ada yang boleh luput dari pandangan. Sekecil apapun fakta yang menyerang dunia sastra hari ini, baginya itulah buah dari diterapkannya kebebasan berekspresi tanpa batasan.
 
Ia teringat wajah polosnya di bangku kelas 3 Aliyah. Saat itu bertepatan Hari Guru, Nisa tertantang mengikuti kompetisi menulis yang diadakan sekolah. Semua pelajar diminta menuliskan puisi, tak terkecuali Nisa. Pesan hormatnya hampir tak ada, nihil. Nasehat hormat-menghormati guru tak ia tuangkan sebagaimana teman-temannya berterimakasih lewat secarik puisi. Nisa malah sibuk berpikir ke luar sekolah, ia terbang melesat ke depan gedung parlemen yang entah letaknya dimana, ia tak tau. Mungkin di Senayan, atau mungkin di Istana Negara. Ia aspirasikan semua kemarahan yang seharusnya belum ia rasakan, sebab memanglah belum berprofesi sebagai seorang guru. Apa yang dia tau kecuali tugasnya sebagai seorang murid.
“Tahta Guru. Turunkan uang SPP, naikkan gaji guru!” bait demi bait lantang dibacakan oleh Pak Yusuf, beliau guru Pembina komunitas ilmiah di sekolahnya. Nisa melongo, teman-teman berebutan menyenggol tubuhnya. “Nis, itu puisimu kan?” Bergantian para guru menoleh ke arah Nisa, semuanya melemparkan senyum penuh tanda tanya sekaligus haru. Pasalnya, penderitaan mereka telah terwakilkan oleh bahasa kekanak-kanakan Nisa. Sejak kapan ia suka marah pada puisi-puisinya?
 
“Entahlah. Aku hanya berpikir kemuliaan seorang guru. Tahtanya itu tak bisa dibandingkan dengan apapun, tapi sayangya gaji mereka kecil.”
“Kamu tau dari mana?” sergah seorang siswa.
“Mungkin keseringan baca koran atau nonton berita,” batinnya melucu.
 
Sampai di rumah, karya itu dikritik habis-habisan. Mamak bilang, “Ini apanya yang bagus? Kok bisa diapresiasi, kok dapet juara? Oh, mungkin jurinya gak ngerti sastra,” semenit kemudian nyali Nisa menciut. Kritik demi kritik selalu datang dari orang yang sama, padahal dunia luar begitu terwakilkan isi pikirannya. Sejak saat itulah Nisa selalu suka marah-marah dalam setiap tulisannya. Ia marah ketika para pengidap sastra merusak syariat Tuhannya dengan membolak-balik frasa. Ia geram ketika novel dan puisi dijadikan ajang pertaruhan ideologi negeri ini. Nisa menggolongkan mereka itu ke dalam kotak kosong yang berbunyi nyaring. Sudahlah bicara tanpa arti, tak paham syariat islam malah kencang menelanjangkan kebodohannya. Ah, sastra kok SARA?
 
Sastra tak boleh bawa-bawa suku, adat, ras dan agama. Sastra tak diperbolehkan keluar dari jalurnya, begitu syarat orang-orang sok pintar yang menusuk lidahnya sendiri. Mereka sebut sastra itu bahasa kalbu, bukan frasa amarah. Kata mereka, sastra itu bahasa jiwa dan bukan penggalan politik. Namun sayang, hari ini sastra itu bak sebuah kebenaran ilmiah yang dipercaya semua orang. Mereka anggap keunggulan sastra itu melebihi kebenaran Al Qur’an. Oh, tidak. Sastra hanyalah dunia khayalan para pengetiknya, itu yang Nisa sepakati.
Sejak mengkaji islam dari akar hingga ke daun, ia mulai takut bersastra. Sebenarnya ia gelisah menghadirkan puisi, cerpen, apatah lagi novel. Aneh, saat Nisa mulai menghilang dan menjauh dari permainan otak-atik imajinasi itu, semua orang malah latah berpuisi. Terheran-heran, tentu saja. Nisa tak habis pikir demam apa yang sedang melanda Indonesia akhir-akhir ini? Ayat sucinya dinistakan mereka marah, cadarnya diolok-olok mereka gerah, lantunan adzan diejek saja mereka masih bisa berceloteh menghardik sana-sini. Orang Indonesia kok hobinya marah? Bukankah sastra itu suatu karya yang ramah?
 
“Bukan, Nisa. Sastra itu adalah karya ilmiah, lebih valid dari hasil skripsimu. Lebih absah dari penelitian dan studi kasusmu,” Nisa masih beradu argumen dengan pemikirannya. Lalu lalang berbagai konsep menakjubkan ia putar keluar masuk dari pikiran. Benarkah satra harus menyerang agamanya? Ya, sastra itu memang layak diadili jika mulai berebutan memborbardir syariat Tuhan. Janganlah bersastra jika tak paham kode etik bersastra. Tak perlulah para Ibu mengetik naskah nan mengusik jika tak tau aturan berpuisi. Hah, Nisa mulai muak dengan drama negerinya yang menarik-narik sastra sebagai seni berpolitik dan seni menyerang islam. Artinya benar, sastramu patut dibungkam jika mata pedangnya telah diasah untuk menyudutkan keyakinan orang lain. Diam sajalah, atau simpan saja energimu untuk bersastra dengan kebodohan. Jangan bangga berpuisi, tapi nyara!