Indonesia Berharap Pada Cita-cita TGB, Bisa?

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Politik
dipublikasikan 12 November 2017
Indonesia Berharap Pada Cita-cita TGB, Bisa?

Momentum Musabaqah Tilawatil Qur’an yang resmi ditutup di Kabupaten Bima pada tanggal 2 November 2017 merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga Nusa Tenggara Barat. MTQ tingkat provinsi hingga nasional ternyata mampu menelurkan sejumlah generasi baru yang tidak saja cerdas, tapi juga beriman dan berdaya saing tinggi, singkatnya religius dan berprestasi. NTB yang dipimpin oleh Zainul Majdi beberapa kali didaulat sebagai tuan rumah dalam agenda-agenda berskala nasional dan internasional. Paling santer diberitakan belakangan ini adalah disematkannya gelar Pahlawan Nasional kepada Almukarrom TGH. Zainuddin Abdul Majid Zain sebagai tokoh sentral ulama’ yang mendirikan organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Wathon di NTB. Menggeliatnya prestasi-prestasi yang disabet NTB akhir-akhir ini pun rupanya menjanjikan bagi TGB dan menambah dukungan masyarakat kepada beliau.

Tidak kalah ramainya yang diliput media adalah agenda Multaqa Ulama Alumni Al Azhar sekitaran Oktober 2017 lalu dipusatkan di area lingkungan Islamic Centre Mataram. Perhelatan akbar yang mendatangkan berbagai tokoh besar dari kalangan ulama’, umaro’ dan akademisi muslim tersebut melahirkan sebuah keputusan akhir, yakni Gubernur NTB saat ini terpilih sebagai Ketua Perkumpulan Ikatan Alumnus Universitas Al Azhar Mesir. Kembali perwakilan NTB dipercaya mengalmamateri program kerja syiar dan dakwah Alumni Al Azhar yang berada di Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim. Amanah besar yang dimandatkan kepada NTB 1 ini sekaligus menyuburkan nama baik Provinsi ini di hadapan Negara-negara lain.

Kesuksesan NTB menjamu para tamu undangan berdampak pada meningkatknya rasa penasaran banyak orang untuk lebih mengenal pemimpin yang mengepalai Pulau Sumbawa, Bima dan Lombok ini. Tepatnya, Lombok yang telah lebih dulu dikenal memiliki julukan ‘Pulau Seribu Masjid’ sekarang justru lebih serius memacu semangat warganya dalam berlomba-lomba menabung pundi-pundi ruhani mereka. Wibawa NTB lebih diakui sebagai Provinsi berkepulauan yang indah alamnya, ramah warganya, beriman dan berdaya saing masyarakatnya. Dengan begitu NTB layak dijuluki Rumah Belajar Sambil Bermain, sangat cocok dan pas ditunjuk sebagai tempat pengkajian keilmuan maupun sarana berlibur sambil berburu ilmu.

Keberhasilan Tuan Guru Bajang mensyiarkan islam di daerah kelahirannya tak elak memukau banyak kepala. Salah satu indikator yang tampak adalah makin berebutannya masyarakat Gumi Sasak mendukung dan berbondong-bondong mengusung Zainul Majdi maju ke panggung RI 1. Berbagai tokoh politik di pemerintahan mulai ramai diwacanakan menemani TGB sebagai rekan menuju pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 mendatang. Tak jarang beberapa nama dikira-kira dan dipilah pilih rakyat sebagai calon yang kelihatannya tepat mendampingi TGB di kancah Pemilu mendatang untuk mewakili NTB bertarung dalam pesta demokrasi.

Akhir-akhir ini TGB pun aktif melakukan perjalanan berbagi ilmu agama dan menginspirasi masyarakat Indonesia di beberapa tempat. Aktivitas ini didukung oleh makin giatnya media massa meliput perjalanan TGB ke beberapa wilayah Indonesia untuk memberikan motivasi mengenai banyak hal. Peran rekan media dalam memanaskan perjalanan TGB ke beberapa provinsi kenyataannya cukup efektif membuat mayoritas masyarakat Indonesia lebih dekat mengenal sosok Tuan Guru Bajang. Figur NTB 1 ini mulai banyak dibicarakan mulai dari warung kopi sampai ke meja diskusi. Artinya, masyarakat dari berbagai kalangan mulai serius menaruh perhatian pada sosok Gubernur yang diketahui penghafal Al Qur’an dan memiliki wawasan keislaman yang sangat luas sekali.

Terlebih masyarakat kita saat ini sedang dihadapkan pada berbagai isu radikalisme yang terkesan selalu menyudutkan ajaran islam, maka kehadiran TGB setidaknya sedikit mampu membawa angin kesegaran di tengah-tengah masyarakat. Isu islamophobia utamanya seolah menjadi monster menakutkan yang membuat masyarakat harap-harap cemas mengkaji islam, hatta berasal dari sumber yang benar sekalipun. Kemunculan TGB di antara masyarakat Indonesia cukup ampuh menjadi antibiotik yang dapat mengurangi rasa was-was dan kecemasan dalam benak masyarakat tentang stigma islam yang negatif.

Terbukti sosok TGB yang karismatik, tegas dan lembut menghipnotis banyak orang untuk datang berkunjung ke NTB dan menikmati langsung hasil pembangunan oleh Gubernurnya yang diteladani dalam perkara agama. Khususnya NTB sebagai Provinsi yang penduduknya mayoritas muslim setidaknya agak bernafas lega dengan kepemimpinan beliau. Lebih-lebih berdirinya Masjid Hubbul Wathon Islamic Centre digadang-gadang sebagai pusat peradaban islam di Mataram berhasil menarik jumlah wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang bertamu ke rumah ibadah itu. Bangunan Islamic Centre di jantung Kota Mataram telah menjadi poros kegiatan-kegiatan keagamaan yang dapat merangkul kalangan anak muda hingga orangtua. Terutama sebagai pusat kajian keilmuan dan wadah berkumpulnya cendekiawan muslim, pemuka agama hingga tokoh-tokoh penting menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk memakmurkan tempat ibadah mereka.

Masyarakat mestinya tetap berterimakasih atas upaya pemimpin daerahnya yang mampu membawa perubahan lebih baik dalam bidang keagamaan, harapannya kedepan NTB semakin terdepan dalam membina akhlak warganya. Dalam hal pembinaan moral atau budi pekerti masyarakatnya, kebijakan-kebijakan otonomi daerah Zainul Majdi dipandang banyak mata bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Ibarat berpeluh keringat di padang pasir yang terik, TGB dianggap datang menawarkan mata air kesejukan dengan mengubah wajah NTB jadi lebih menyejukkan. Sebagai tempat belajar dan berlibur, NTB kembali didaulat sebagai tujuan destinasi halal menandingi beberapa daerah di Indonesia.

Bercermin dari visi besar TGB menyulap NTB Beriman dan Berdaya Saing rupanya tidak mengalami kegagalan dalam mengalihkan kegersangan yang dirasakan masyarakat menuju suasana yang lebih adem. Dengan kata lain tafsir atas arah perubahan yang diinginkan dan sedang diperjuangkan TGB selama ini tidak lepas dari kemauan dan tekad kuatnya melihat NTB tampil lebih bermartabat, bermaruah, serta lebih religius. Diantara kebijakan TGB yang dinilai religius dan islami adalah peraturan bagi pelajar, pegawai sipil dan seluruh instansi yang mempekerjakan wanita diiinstruksikan agar mengenakan busana muslimah bagi yang beragama islam. Selain itu, misalnya program kerja TGB yang dikemas dalam bentuk tayangan program “Belajar Bahasa Arab Mudah” telah ditayangkan LombokTV sampai sekarang.

Kembali dapat kita tafsirkan bahwa visi dan misi kepemimpinan TGB adalah menggembleng, mendidik, dan senantiasa merawat nilai-nilai keislaman agar tumbuh subur di NTB ini. Gamblangnya, visi TGB memang jelas maksudnya yang antara lain untuk mensyiarkan nilai-nilai kebaikan dalam agama kepada warganya secara menyeluruh.

Hal yang wajar ketika TGB didorong-dorong ikut meramaikan Pemilihan Umum mendatang sebagai Pemimpin Indonesia. Untuk memegang amanah dengan skala yang lebih besar, tentu ini merupakan tantangan yang lebih berat bagi TGB. Jika sebelumnya memimpin Provinsi saja dipandang mampu menganugerahi NTB yang Beriman, demikian juga kedepan TGB harus tetap mengingat visi misi yang melekat dalam dirinya untuk membangun Indonesia Beriman dan Berdaya Saing. Analisa semacam inilah yang dilihat oleh masyarakat dapat menyelamatkan Indonesia dari efek modernisasi dunia barat, gaya hidup hedonis, perilaku apatis, individualis dan sebagainya yang telah meracuni kehidupan generasi kita di negeri ini.

Harapan masyarakat semestinya dapat dipegang sebaik mungkin dengan kembali pada titah karakter dirinya sebagai seorang penjaga dan pemelihara Al Qur’an, yakni menjadikan Indonesia negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur. Negeri yang dipenuhi kebaikan dan senantiasa diampuni tentunya menjadi doa dan cita-cita mulia bagi pemimpin muslim seperti TGB. Untuk meraih predikat negeri yang didalamnya bertabur rahmat dan ampunan pun tidak mudah, mesti panjang dan tidak sebentar proses yang dilalui. Tidak sedikit negeri Barat yang rela menukar penjagaan ketat terhadap akhlak rakyatnya dengan agenda lain Negara yang dirasa lebih menguntungkan. Padahal tolak ukurnya, apabila rakyat di suatu negeri beriman dan berdaya saing secara totalitas bisa dipastikan negeri itu akan dipenuhi orang-orang yang cerdas secara akal, hati dan tindak tanduknya. Dengan demikian negeri tersebut akan melahirkan para pemuda yang gigih menuntut ilmu untuk terus-menerus mengembangkan inovasi-inovasi baru bagi bangsa mereka dengan tetap sehat bebas dari racun berupa narkoba, hedonisme, dan gejala buruk lainnya yang hanya akan menjangkiti negerinya.

Sebuah cita-cita tidaklah mungkin bercokol di kepala orang-orang yang dungu, membenci perubahan dan tidak mencintai negerinya. Oleh karena itu, cita-cita mulia TGB yang telah tampak arahnya itu tentunya dapat dicapai berkat kerjasama semua pihak yang juga seirama visi misinya. Untuk mewujudkan Indonesia yang beriman dan berdaya saing, pastinya tidak ada pihak yang boleh berpangku tangan dengan hanya menitipkan cita-cita mereka kepada TGB lalu tidak ikut menyumbangkan pemikiran atau yang lainnya. Sehingga, memberikan sumbangsih sekecil apapun terhadap arah visi TGB tersebut menjadi kewajiban kita bersama untuk menyokong tegaknya tujuan yang senada. Terakhir, mencita-citakan Indonesia sesuai keinginan TGB harusnya menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Bangsa yang beradab dan berbudi luhur mustahil akan lahir dari pemimpin yang tidak memiliki cita-cita jelas, demikian halnya Indonesia membutuhkan sosok pemimpin muslim yang sungguh-sungguh total memperjuangkan visi misinya menjadikan negeri ini baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

Tidak cukup bermodal komitmen, dibutuhkan kekonsistenan dalam menjaga idealisme TGB agar cita-cita tersebut bermuara pada tempatnya. Ringkasnya, idealisme itu lahir dari pemikiran yang terus mengalami kebangkitan sehingga terpacu untuk mengasah langkah demi langkah agar lebih berhati-hati dalam mengaplikasikan visi dan misi tersebut.

NTB dan Indonesia boleh saja mendambakan sosok pemimpin seperti TGB. Tetap perlu diingat bahwa seorang pemimpin sepatutnya memiliki idealism yang kuat, berulang-ulang membangkitkan pemikirannya untuk mengubah wajah Indonesia sehingga kembali pada titah awal kemerdekaannya, yakni terbebas dari penjajahan kolonial asing baik secara fisik, pemikiran, budaya, dan seterusnya. Indonesia yang Beriman dan Berdaya Saing mesti diseriusi, sungguh-sungguh beriman secara sempurna. Indonesia berharap melalui TGB, bisa?

Penulis adalah: Mahasiswa Ma’had Khalid bin Al Walid, Universitas Muhammadiyah Mataram

Diterbitkan: https://kicknews.today/2017/11/12/indonesia-berharap-pada-cita-cita-tgb-bisa/

  • view 32