Duhai Pejuang, Seriuslah Membangun Mimpimu

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Duhai Pejuang, Seriuslah Membangun Mimpimu

Pernahkah kita berpikir bagaimana alur cerita dalam mimpi itu bisa tersusun dengan sangat rapi? Runutan ceritanya persis seperti sebuah cerpen atau flash fiction, bukan? Nah, sebenarnya mimpi atau bunga tidur itu adalah kumpulan arketip di alam kesadaran manusia yang ditekan ke alam bawah sadarnya. Arketip ini merupakan peristiwa-peristiwa nyata yang kita alami dan temui dalam posisi sadar 100%. Dampaknya, suatu hal atau peristiwa yang terlalu sering dialami, dirasakan dan dipikirkan tersebut akan te-repress ke alam bawah sadar, kemudian membentuk sebuah cerita singkat saat kamu sedang tertidur. Sederhananya, kalau kita terlalu sering bermain dengan kucing, jangan heran isi mimpi kita pun isinya cuma seputaran kucing.
 
Begitulah ilmu psikologi secara ilmiah menggambarkan alur terjadinya rentetan cerita yang masuk ke fase tidur manusia. Sehingga saat sedang tersadar, gunakanlah seluruh panca inderamu untuk berhadapan dengan hal-hal yang memiliki energi positif. Dengan begitu kita akan terbiasa merunut alur ceritanya secara lebih teratur. Benar juga kalimat penggugah yang mengatakan, Bermimpilah setinggi-tingginya. Karna para pemimpi tidak akan celaka dengan mimpi-mimpinya. Percaya saja. Dalam hal ini, bagi para pejuang pun begitu. Setiap saat mereka menggantungkan mimpinya di tembok dan langit-langit kamar, tak jarang disimpan sendiri dalam sebuah file di android atau laptop-nya. Setiap hari bertemu mimpi-mimpi itu seolah menjadi alarm agar para pejuang ingat dengan impiannya, sehingga tidak mudah lalai dan melupakan mimpi-mimpi yang sedang ia bangun. Itu sebabnya para pemimpi harus memiliki target dan masa tenggang atas perjalanan yang ditempuh menuju impian mereka.
 
Jika hal itu luput dari aktivitas sehari-hari, maka impian kita hanya akan jadi bunga tidur semata. Untuk itulah kita perlu menyusun kerangka atau skema jalan meraih impian. Pikirkan juga rute yang paling efektif sebagai alternatif pencapaian impian itu. Bahkan untuk mengantisipasi hal-hal buruk di masa depan, sikap perfeksionis pun dibutuhkan dalam merealisasikan impian. Sebab tidaklah mungkin seseorang ingin menuntut ilmu ke Turki, sedangkan setiap hari ia tidak berusaha merubah dirinya sedikit lebih perfect, minimal belajar bahasa Turki atau mengurus devisa dan paspor agar bisa sampai disana. Mana mungkin keberuntungan berpihak pada pemimpi yang menjadikan impiannya itu sebatas khayalan. Oleh karena itulah setiap pemimpi memerlukan kesempurnaan dalam urusan niat dan ikhtiar.
 
Apabila mimpi hanya dibawa ke ruang imaji, yang tergambar adalah angan-angan panjang tanpa realisasi. Padahal para pemimpi tidak pernah menginginkan mimpi-mimpi mereka berakhir di kepala, mereka akan terus merajut mimpi itu agar manisnya ia dapati dari buah perjuangan yang tak sebentar. Para pemimpi juga tentunya bagian dari pejuang. Mereka sebut dirinya pejuang mimpi dengan harapan impian-impian tadi tidak sekedar menjadi bunga khayalan dalam benak, melainkan terlaksana secara nyata.
 
Demikian halnya ketika pengemban islam memunculkan mimpi-mimpi itu kedalam ruang kesadarannya, sambil selalu menaruh harap bahwa mimpi-mimpi itu akan mengingatkannya juga saat sedang terlelap. Dan ketika bangun di pagi hari, mimpi mereka telah mengakar kuat dalam diri sehingga langsung bergegas untuk mencapainya.
 
Kreativitas dalam pencapaian impian pun mulai dipraktekkan, kemudian mereka akan semakin gencar berinovasi dan melahirkan usaha-usaha terbaik dalam menggenggam mimpi. Seorang pengemban ideologi islam misalnya, ia akan membesarkan peluang dan kesempatan demi tersebarnya dakwah islam secara merata ke penjuru dunia. Jika ia seorang remaja, dakwahnya diracik lebih segar bergaya anak muda. Jika ia seorang intelektual, ramuan dakwahnya diracik seilmiah mungkin bergaya akademisi. Pun jika ia seorang muslimah negarawan, mustahil pisau analisis yang tajam hilang dari karakter dirinya. Oleh karena itu, jangan pernah takut mengulum mimpi. Terlebih mimpi itu dikhususkan untuk menolong agama Allah, pastinya cita-cita melanjutkan kehidupan islam pun bisa dicapai. Asalkan para pemimpi tidak melupakan ikhtiar-ikhtiar terbaik yang mesti dilalui demi mewujudkan islam rahmatan lil ‘alaamiin.
 
Bermimpilah agar kejayaan dan kemuliaan diinullah tidak lantas berakhir di otak. Realistislah dalam bermimpi, jangan menambah jumlah barisan orang yang hanya senang berkata Mimpimu itu utopis! Dalam bermimpi, kita tidak dianjurkan memikirkan kata orang. Utopis atau tidaknya sebuah mimpi hanya akan tampak setelah bukti didepan mereka jelas rupanya. Demikian halnya mengajak orang untuk bermimpi, apalagi memimpikan hal yang sama, yaitu melanjutkan kehidupan islam. Tentu bukan perkara mudah meminta orang lain untuk berani memimpikan hal yang sama dengan kita. Namun ingatlah kembali teori mimpi di awal. Semakin sering umat mendengar dan menyimak mimpi-mimpi para pejuang islam, bukan tidak mungkin mimpi-mimpi kita pun akan menggerogoti perbaringan mereka diatas kasur. Sehingga saat terbangun, ia akan tersadar dan langsung mendaulatmu sebagai teman mengejar mimpi. Tidak hari ini, esok atau lusa mimpi besar itu akan mewujud dan tampil bak berlian. Kinclong!

  • view 50